Dirgahayu Negeriku!
63 tahun sudah masa-masa heroik itu berlalu. Meski kini tampak sempoyongan menanggung beban, kau masih kokoh dan perkasa. Kini, musuh yang tampak di depan mata adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Presiden boleh berganti, para menteri boleh datang dan pergi menduduki kursi, para anggota dewan boleh terus berkoar di atas mimbar kampanye mengobral janji-janji, para koruptor boleh bersilat lidah dan menyembunyikan bukti-bukti, tetapi aku yakin, warna merah darah dan putih tulangmu akan terus menjadi saksi peradaban dari generasi ke generasi. Seiring... (Selanjutnya bagaimana?)
Balada Gadis Kecil Berambut Ekor Kuda
(buat para pejuang yang tak tercantum dalam sejarah, tanpa nama dan prasasti) Seorang gadis kecil menenteng foto kakeknya yang kusam tanpa bingkai Kepada para tetangga, dia selalu bilang “Ini foto kakekku! Seorang pejuang yang gagah berani!” Para tetangga membuang muka dan meludah Kebencian menyeruak dari wajah-wajah yang sinis Gadis kecil berambut ekor kuda tak putus asa Dia bawa foto kakeknya yang kusam itu dari desa ke desa, dari kota ke kota Wajah gadis kecil berambut ekor kuda itu selalu ceria, tapi menyunggingkan senyum kegamangan Tak... (Selanjutnya bagaimana?)
Spam Karma Memang Sadis!
Ketika memutuskan untuk “merumahkan” Akismet yang saya anggap sudah terlalu tua sehingga tak sanggup lagi menghadapi serangan komentar SPAM bertubi-tubi, saya berharap Spam Karma 2 mampu menggantikan tugas itu dengan baik. Setidaknya, gubug ini bisa nyaman dan terbebas dari “teriakan-teriakan” tamu tak diundang yang tak jelas maksud dan tujuannya. Pada awal-awal menjalankan tugas, si Spam Karma 2 memang mengundang decak kagum. Saya tidak rugi merekrutnya sebagai Satpam penjaga gubug. Dengan sigap, si Spam Karma 2 langsung... (Selanjutnya bagaimana?)
Membangun “Jalan Tol Peradaban” Berbasis Kerakyatan
Kemerdekaan RI yang diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini, Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 (tahun Masehi), atau 17 Agustus 2605 (tahun Jepang), atau 17 Ramadan 1365 (tahun Hijriah), sejatinya merupakan tonggak bagi bangsa untuk menancapkan sebuah perubahan. Ya, berubah dari situasi tertekan, tertindas, beku, dan stagnan, menjadi situasi merdeka dan berdaulat untuk mewujudkan cita-cita luhur dan mulia sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat. Ya, ya, ya! Situasi pun berubah ketika vokal Soekarno yang... (Selanjutnya bagaimana?)
Tulisan Terbaru
Kearifan Lokal Menghadapi Kemungkinan Krisis Global (94 pembaca)Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender (183 pembaca)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional (199 pembaca)
Mencermati Pembusukan Penggunaan Bahasa Indonesia (392 pembaca)
Makna Kekerabatan di Balik Mudik Lebaran (392 pembaca)
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H (491 pembaca)
Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup (376 pembaca)
Refleksi Menjelang Lebaran (233 pembaca)
Di manakah Allah ? (128 pembaca)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam” (266 pembaca)














