Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP

Beberapa hari terakhir ini, kampus kembali menggeliat. Para insan kampus yang tergabung dalam berbagai komunitas mahasiswa berbondong-bondong... (Baca lanjutannya!)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik

Harus diakui, Ahmad Tohari terbilang sastrawan yang cukup produktif. Novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan... (Baca lanjutannya!)
Setahun Usia Blog dan Kontes Review Cerpen

Seharusnya tulisan ini saya posting pada 5 Januari yang lalu, tepat ketika blog ini berusia satu tahun. Namun, lantaran ada tulisan... (Baca lanjutannya!)
Pesona dari Puncak Gunung Kelir

Hasrat untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabat bloger yang selama ini baru saya kenal secara maya, akhirnya terkabulkan juga. Minggu,... (Baca lanjutannya!)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5)

Kisah ini merupakan bagian ke-5 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji... (Baca lanjutannya!)
View blog authorityView blog reactionsSanthet
Cerpen: Sawali Tuhusetya Kang Jolodot marah besar. Darahnya berdesir deras. Kabut duka menyumbat dadanya. “Pasti ada yang nggak beres!” berangnya menyaksikan ayam jagonya dihantam telak lawannya. “Jagoku ini sudah tiga kali jawara! Mustahil, mustahil!” pekiknya. Kang Jolodot menjadi gusar. Batinnya menerawang jauh. Tenggorokannya panas. Sementara, matahari membakar bumi dengan dahsyat. Menambah beban arena semakin panas. Penonton sabung ayam jingkrak-jingkrak tanpa irama. Rasanya Kang Jolodot ingin menyumbat mulut mereka. Namun, kini benar-benar... (Baca lanjutannya!)
Bhismaaa…!
Suasana alun-alun negeri Kasi bagaikan suara lebah cari sarang. Onar. Seluruh penduduk tumpah ruah di tanah lapang yang berada di jantung kota itu. Sinar matahari yang membakar kulit bukan halangan bagi mereka untuk berdesak-desakan. Bau keringat, suara batuk, aroma parfum murahan yang mulai luntur, berbaur dengan aroma bau mulut dan gas asam orang yang kencang berhembus dari lubang anus. Makin siang, alun-alun seperti bergetar, digoyang ribuan kaki yang hendak menyaksikan sebuah sayembara. Berkali-kali terdengar suara pekik yang membahana. Bersambung-sambungan. Tak... (Baca lanjutannya!)














