Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP

Beberapa hari terakhir ini, kampus kembali menggeliat. Para insan kampus yang tergabung dalam berbagai komunitas mahasiswa berbondong-bondong... (Baca lanjutannya!)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik

Harus diakui, Ahmad Tohari terbilang sastrawan yang cukup produktif. Novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan... (Baca lanjutannya!)
Perempuan Bergaun Putih di Bukit Cokrokembang

Senin, 29 Desember 2008, saya kembali didaulat oleh komunitas STESA (Studi Teater dan Sastra), sebuah kelompok studi yang diakrabi... (Baca lanjutannya!)
Pesona dari Puncak Gunung Kelir

Hasrat untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabat bloger yang selama ini baru saya kenal secara maya, akhirnya terkabulkan juga. Minggu,... (Baca lanjutannya!)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5)

Kisah ini merupakan bagian ke-5 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji... (Baca lanjutannya!)
View blog authorityView blog reactionsElegi Pasca-Perang
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Sisa perang dahsyat masih menyengat. Bau bangkai busuk dan anyir menebar ke segala penjuru; diterbangkan angin dan mengabarkan berita maut lewat jaringan internet, televisi, koran, dan majalah. Dunia gempar. Para penonton dan pembaca di seluruh lapis dunia terharu. Para pengamat hanya bisa mengangkat bahu sambil bilang, “Dunia telah memasuki era bar-bar. Nyawa manusia tak lebih berharga daripada nyawa binatang.” Peperangan, dalam fase zaman yang paling purba sekalipun, telah menafikan dan mengebiri nilai kemanusiaan.... (Baca lanjutannya!)
Slank, Wakil Rakyat, dan Budaya Antikritik
Heboh lirik “Gosip Jalanan” yang diluncurkan Slank agaknya mulai mereda setelah Badan Kehormatan (BK) DPR yang semula kebakaran jenggot telah “tiarap” dan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menyikapinya. Jadi geli. Bisa jadi benar apa yang pernah disinyalir oleh Gus Dur ketika masih duduk di atas tahta RI 1 bahwa pola pikir para penghuni senayan yang terhormat itu selevel dengan anak-anak TK. Emosi gampang terpancing dan tidak konsisten. Sebagai produk budaya, lirik Slank seharusnya perlu diapresiasi sebagai... (Baca lanjutannya!)














