Kontroversi di Balik Pengesahan RUU BHP

Beberapa hari terakhir ini, kampus kembali menggeliat. Para insan kampus yang tergabung dalam berbagai komunitas mahasiswa berbondong-bondong... (Baca lanjutannya!)
Kekuasaan dan Seks dalam Novel Belantik

Harus diakui, Ahmad Tohari terbilang sastrawan yang cukup produktif. Novel triloginya, Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan... (Baca lanjutannya!)
Perempuan Bergaun Putih di Bukit Cokrokembang

Senin, 29 Desember 2008, saya kembali didaulat oleh komunitas STESA (Studi Teater dan Sastra), sebuah kelompok studi yang diakrabi... (Baca lanjutannya!)
Pesona dari Puncak Gunung Kelir

Hasrat untuk bisa bertemu dengan sahabat-sahabat bloger yang selama ini baru saya kenal secara maya, akhirnya terkabulkan juga. Minggu,... (Baca lanjutannya!)
Menyiasati Kecamuk Separatisme di Negeri Kelelawar (5)

Kisah ini merupakan bagian ke-5 dari serial “Negeri Kelelawar”. Yang belum sempat membaca, silakan nikmati dulu kisah Menagih Janji... (Baca lanjutannya!)
View blog authorityView blog reactionsGoyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender
(Tiba-tiba saja saya jadi teringat senam poco-poco yang pernah melanda negeri ini. Banyak instansi yang menggelarnya sebagai ajang lomba. Tak sedikit kaum ibu yang menggandrunginya. Berikut ini sekelumit kisah fiktif tentang “Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender” dengan ragam bahasa santai dan “slengekan”; sekadar “jampi sayah” daripada ikut-ikutan mikir hiruk-pikuk bursa saham Asia yang jatuh terguling-guling. Haks, apa hubungannya?) *** Pak Bodro geleng-geleng kepala menyaksikan ulah istrinya. Belakangan, Bu Bodro giat berlatih senam... (Baca lanjutannya!)
Dunia Pendidikan, Realitas Sosial, dan Ujian Nasional
Sudah bertubi-tubi dunia pendidikan di negeri ini menuai kritikan tajam dari para pakar, pengamat, dan pemerhati pendidikan. Salah satu persoalan mendasar yang gencar dikritik adalah terlepasnya dunia pendidikan dari realitas sosial yang seharusnya menjadi persoalan inheren yang mengakar dan membudaya dalam ranah dunia pendidikan kita. Imbas yang muncul dari praktik pendidikan semacam itu adalah lahirnya output pendidikan kita yang dinilai berjiwa kerdil, tidak responsif, mau menang sendiri, keras kepala, dan kehilangan sifat-sifat kemanusiawian... (Baca lanjutannya!)














