<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Sawali Tuhusetya</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 18:32:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Imazonation, Phantasy Poetica, dan Potret Kebhinekaan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/09/03/imazonation-phantasy-poetica-dan-potret-kebhinekaan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/09/03/imazonation-phantasy-poetica-dan-potret-kebhinekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 18:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[antologi cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[antologi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4648</guid>
		<description><![CDATA[Untuk kedua kalinya, rekan sejawat saya, Pak Riyadi, guru SMP 15 Purworejo yang kreatif itu, kembali mengirimi saya sebuah buku. Buku yang didesain “bilah dua”, separuh bunga rampai cerpen (Imazonation) dan separuhnya lagi bunga rampai puisi (Phantasy Poetica) ini sungguh menarik disimak. Ia tidak saja mendedahkan kreativitas penulis yang tergabung dalam komunitas penulismuda Indonesia, tetapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">U</span>ntuk kedua kalinya, rekan sejawat saya, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://riyadiwp.wordpress.com/" title="Pak Riyadi">Pak Riyadi</a>, guru SMP 15 Purworejo yang kreatif itu, kembali mengirimi saya sebuah buku. Buku yang didesain “bilah dua”, separuh bunga rampai cerpen (Imazonation) dan separuhnya lagi bunga rampai puisi (Phantasy Poetica) ini sungguh menarik disimak. Ia tidak saja mendedahkan kreativitas penulis yang tergabung dalam <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://penulismuda.com/" title="komunitas penulismuda Indonesia">komunitas penulismuda Indonesia</a>, tetapi juga menunjukkan keberagaman gaya tutur dan latar budaya para penulis. Bahkan, juga menunjukkan keberagaman tema yang dengan amat sengaja diangkat dan dieksplorasi para penulis sebagai wacana literer “kebhinekaan” melalui persoalan-persoalan kontekstual kebangsaan dan kemasyarakatan. </p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://penulismuda.com/" title="penulismuda.com"><img class="expando" src="http://penulismuda.com/images/stories/buku/antologi_cerpen_dan_puisi.jpg" width="300" /></a>Komunitas penulismuda Indonesia yang digawangi Pak Wardjito Soeharso yang juga salah seorang pembina Agupena Jawa Tengah agaknya amat serius dalam menjaring para penulis muda yang bertalenta dan berbakat. Meski digarap secara “maya”, mereka yang tergabung dalam komunitas ini mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara intens, sehingga bisa saling asah dan asuh dalam mendedahkan pemikiran-pemikiran kreatif melalui teks. Pola asah dan asuh semacam ini menjadi penting ketika banyak penulis muda sedang berupaya memburu jati diri kepenulisan yang acap kali gagal tertuntaskan di dunia nyata. Sekali lagi, komunitas penulismuda Indonesia bisa menunjukkan bukti bahwa pada era digital dan virtual seperti saat ini media maya bisa menjadi wadah alternatif untuk menyemai dan menumbuhsuburkan potensi dan talenta kaum muda. </p>
<p>Sungguh, di tengah penerbitan yang mulai “menghamba” pada kekuatan industri, tidak mudah untuk melahirkan buku-buku sastra. Perhitungan untung-rugi selalu dijadikan alasan utama. Konon, buku-buku sastra dianggap kurang memiliki “nilai jual”, sehingga tak sedikit penerbit besar yang “membuang muka” ketika disodori naskah-naskah bergenre sastra. Oleh karena itu, pm-publisher Semarang layak diberikan apresiasi tersendiri ketika punya “nyali” besar untuk menerbitkan bunga rampai karya para penulis muda. Semoga langkah dan terobosan visionernya untuk melahirkan penulis-penulis muda bertalenta tidak “sekali berarti sesudah itu mati” setelah terbitnya bunga rampai ini, tetapi sebaliknya, justru makin terpacu untuk mengumpulkan penulis-penulis muda, untuk selanjutnya mengabadikan karya-karya mereka menjadi sebuah buku. </p>
<p>Harus diakui, buku dalam versi cetakan masih menjadi “mainstraim” dalam khazanah literer kita, meski kini juga telah menjamur penerbit-penerbit digital yang tak pernah berhenti menerbitkan ebook digital. Buku masih mampu menjalankan fungsinya sebagai “pencerah peradaban” untuk mengabadikan teks-teks yang berserakan hingga akhirnya sampai ke tangan publik. </p>
<p>Saya ucapkan selamat kepada para penulis muda yang karya-karyanya, baik yang bergenre puisi maupun cerpen, telah terabadikan ke dalam sebuah buku. Semoga bisa menjadi pemacu “adrenalin” untuk terus melahirkan teks-teks kreatif yang mencerahkan, “liar”, dan mencengangkan. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada rekan sejawat saya, Pak Riyadi, yang telah berkenan memberikan saya sebuah buku yang amat berharga untuk menambah “pundi-pundi” literer di ruang perpustakaan pribadi saya. Nah, salam budaya dan salam kreatif! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/09/03/imazonation-phantasy-poetica-dan-potret-kebhinekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh</title>
		<link>http://sawali.info/2010/09/01/ketika-dewi-kunti-harus-memilih-jodoh/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/09/01/ketika-dewi-kunti-harus-memilih-jodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 17:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[wayang slengekan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4641</guid>
		<description><![CDATA[Dalang: Sawali Tuhusetya Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang tak pernah mau “berselingkuh” dengan politik dan kekuasaan. Konon, handphone pemberian sang guru besar itu memiliki jaringan khusus dengan kehidupan para dewa. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dalang: Sawali Tuhusetya</strong></p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">D</span>ewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas <em>handphone </em>pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang tak pernah mau “berselingkuh” dengan politik dan kekuasaan. Konon, <em>handphone </em>pemberian sang guru besar itu memiliki jaringan khusus dengan kehidupan para dewa. Hanya dengan menekan nomor tertentu, Dewi Kunti bisa menjalin kontak secara langsung dengan para dewa, sosok yang selama ini hanya sekadar bisa dipahami lewat dunia mimpi dan imajiner. Lantaran penasaran, dia pun menekan sembarang tombol. </p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://dewikunthi.dagdigdug.com/files/2009/11/ym-multiple.jpg" width="287" alt="Dewi Kunti" /><br />Dewi Kunti</span>Sungguh di luar dugaan, begitu nomor <em>handphone </em>itu ditekan, mendadak langit berubah gelap. Mendung tebal bergulung-gulung ditingkah gelegar guntur yang membadai. Bersambung-sambungan. Dari balik gumpalan mendung tebal itu mendadak muncul sosok perkasa dan wibawa dengan wajah diselubungi cahaya berpendaran. Dewi Kunti tersentak. Dadanya yang sintal turun-naik. Napasnya tersengal. Tiba-tiba saja dia seperti berada di dunia lain yang belum pernah dijamahnya. Anehnya, dia seperti merasakan kenikmatan yang luar biasa. Seumur-umur belum pernah dia merasakan kenikmatan eksotis semacam itu. Sekujur tubuhnya gemetar. Keringat dingin meleleh di antara pori-pori dan bulu-bulu lembutnya. </p>
<p>“Kunti, kamu tidak usah khawatir, Sayang. Ini aku, Bathara Surya, datang dari alam kadewatan untuk memenuhi panggilan lewat <em>handphone </em>saktimu!” kata sosok misterius yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Kunti dengan segenap pesona kegagahan dan keperkasaannya. Wajahnya yang tampan tak henti-hentinya memancarkan cahaya lembut. Cahaya lembut itu, lantas tak henti-hentinya menggerayangi pusat kepekaan syaraf Kunti dengan getaran yang membuai dan melenakan. Kunti tergeragap.</p>
<p>“Mmm &#8230;maaf, apa yang telah Tuan lakukan terhadap saya hingga membuat tubuh saya bergetar tak karuan?” kata Kunti dengan wajah malu-malu. Menunduk. “Mohon maaf, saya telah berlaku lancang hingga membuat Tuan datang kemari. Saya hanya iseng saja menekan tombol<em> handphone </em>pemberian Prof. Durwasa,” lanjutnya terbata-bata.</p>
<p>“Tidak apa-apa Kunti, Sayang. Aku suka melakukannya, kok?”</p>
<p>“Memang apa yang telah Tuan lakukan?”</p>
<p>“Sudahlah, Kunti, Sayang! Peristiwa ini berlangsung amat singkat, di luar kendali saya, dan semua telah terjadi. Saya telah menaburkan benih kejantanan ke dalam rahimmu dan kelak kamu akan melahirkan anak saya!”</p>
<p>“Hah? Jadi, saya sudah tidak suci lagi dan akan melahirkan anak dari hubungan gelap ini?”</p>
<p>“Ya. Anggap saja ini takdir hidup yang mesti kamu jalani. Dan kamu tidak usah khawatir. Meski  hamil, kamu tetap gadis yang suci. Kamu masih tetap virgin!” Usai berkata demikian, tiba-tiba saja langit kembali gelap ditingkah dengan guntur yang membadai. Lantas, tubuh Bathara Surya tenggelam dan lenyap di balik gugusan awan tebal yang bergulung-gulung.</p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://wayangprabu.files.wordpress.com/2008/06/surya_solo.jpg?w=400&#038;h=539" width="287" alt="Bathara Surya" /><br />Bathara Surya</span>Dewi Kunti hanya bisa melongo. Kedua bibir mungilnya seperti terkunci. Tubuhnya lemas seketika. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa setelah mengetahui kalau dia baru saja melakukan hubungan gelap dengan lelaki yang sama sekali tak pernah dikenalnya. Haruskah dia membunuh janin yang ada dalam kandungannya? Atau tetap merawat dan membesarkannya dengan risiko harus menanggung aib seumur hidup? Tanpa terasa, dari sudut matanya mengalir air bening yang meleleh di sela-sela pipi ranumnya. Dia menyesal telah iseng menekan tombol <em>handphone </em>pemberian Prof. Durwasa itu. Ingin sekali dia membuang benda yang menjadi sumber malapetaka itu jauh-jauh. Namun, dia juga sangat paham atas kebaikan sang guru besar itu. Mustahil Prof. Durwasa menghadiahi benda yang sangat berharga itu kalau hanya ingin menjerumuskannya ke dalam kubangan aib. Sungguh, dia sama sekali tak punya keberanian untuk menolak pemberian itu, apalagi membuangnya. </p>
<p>Tiba-tiba saja, Dewi Kunti merasakan rasa sakit yang luar biasa dari balik janin yang dikandungnya. Rasa sakit itu terus menjalar hingga ke pusat syarat telinganya. Mendadak, dari telinganya keluar sesosok janin mungil yang menenteng seperangkat senjata seperti matahari. Karena lahir dari telinga, bayi mungil itu diberi nama Karna yang konon kelak akan menjadi senapati perang yang mahasakti. Lantaran bingung dan tak mau menanggung aib seumur hidup, diam-diam Dewi Kunthi memasukkan Karna ke dalam sebuah kotak yang tertutup rapat, lantas menghanyutkannya ke sebuah sungai.<br />
***</p>
<p>Tak ada yang tahu kalau Dewi Kunti telah mengalami sebuah peristiwa tragis dan tak mungkin bisa dilupakan seumur hidup, termasuk orang tua angkatnya, Kunthibhoja. Dewi Kunti juga tak ingin larut ke dalam peristiwa tragis dan penuh aib itu. Biarlah kehidupan terus mengalir mengikuti kehendak sang takdir. Kalau toh suatu ketika aibnya terbuka seiring dengan pertumbuhan Karna yang makin besar dan dewasa, biarlah kelak sang waktu yang akan “menghukum”-nya. Dewi Kunti tak ingin terjebak ke dalam perangkap masa lalu yang justru akan terus menelikung kehidupannya sendiri. </p>
<p>Walhasil, Dewi Kunti pun bisa melalui masa-masa yang pahit itu dengan “sempurna”. Hubungan dengan teman-temannya masih cukup terjaga dengan harmonis. Aktivitasnya juga terus padat mengalir. Undangan talk-show di berbagai stasiun televisi juga bisa diatur dengan baik. Dewi Kunti juga tahu kalau diam-diam banyak cowok tampan dan kaya yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak cowok yang jujur dan terus terang menyatakan perasaan cinta kepadanya. Namun, belum satu pun yang berkenan di hatinya. Dengan cara yang halus dan santun, perempuan semampai yang selalu berbau wangi itu bisa menolaknya. </p>
<p>Sikap Dewi Kunti yang dingin dan selalu menolak berpacaran justru membuat resah orang tua angkatnya, Kuntibhoja. Meski bukan darah dagingnya sendiri, Kuntibhoja merasa memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dan menikahkannya, hingga kelak anak saudara sepupunya itu bisa membangun bahtera rumah tangga yang bahagia, lahir dan batin. Sudah berbagai cara Kuntibhoja membujuk Dewi Kunti agar memilih salah satu cowok idamannya, siapa pun dia. Namun, dengan berbagai cara pula, Dewi Kunti selalu sanggup menolaknya. </p>
<p>“Kunti, jujur saja, ayah sangat mendambakan kamu segera menikah dan punya keturunan. Sudah bertahun-tahun lamanya rumah ini kosong, tidak ada suara celoteh dan tangis bocah. Aku sangat merindukan suasana semacam itu, Kunti!” kata Kuntibhoja pada suatu senja yang gerimis.</p>
<p>“Maafkan saya, Ayah! Bukannya saya menolak keinginan Ayah, tetapi sampai saat ini belum ada cowok yang sreg di hati. Saya takut nanti salah pilih. Yang lebih saya takutkan lagi, cowok pilihan saya tidak sesuai dengan keinginan Ayah!” sahut Dewi Kunti sambil menunduk.</p>
<p>“Hmm &#8230;,” Kuntibhoja mengambil napas. “Sesungguhnya lelaki seperti apa yang kamu inginkan, anakku?”</p>
<p>“Aduh, Ayah! Saya sulit menjawab pertanyaan semacam itu. Yang jelas, suami Kunti tidak hanya cerdas, tetapi juga harus peduli pada nasib rakyat kecil. Satu lagi yang Kunti inginkan, kalau jadi pejabat, dia harus punya track-record yang bagus, belum pernah dan tidak akan pernah korupsi atau tersandung persoalan hukum.”</p>
<p>“Aha! Ini dia yang Ayah suka! Ayah setuju dengan tipe lelaki idolamu itu. Tapi, jujur saja, memilih tipe lelaki semacam itu pada zaman sekarang bukan hal yang mudah. Hmm &#8230; bagaimana kalau kita gelar audiensi? Semacam<em> fit and proper test </em>begitu, hehe &#8230;. agar cowok yang terpilih benar-benar sesuai dengan keinginanmu?”</p>
<p>“Aduh, Ayah! Apa itu tidak terlalu berlebihan? <em>Fit and proper test </em>hanya sekadar untuk memperebutkan Kunti?”</p>
<p>“Eit, jangan lupa, Kunti! Kamu memang layak diperebutkan dengan superketat! Selain cantik, kamu juga cerdas dan keturunan keluarga baik-baik. Kamu tidak usah khawatir, semua serahkan kepada Ayah untuk mengaturnya. Bagaimana?”</p>
<p>“Aduh, Ayah! Kunti jadi malu, nih! Semua terserah Ayah, deh!” sergah Kunti malu-malu.<br />
***</p>
<p>Walhasil, audiensi dan <em>fit and proper test</em> pun digelar. Cowok dengan berbagai tipe mengajukan lamaran. Berkas menumpuk di meja Panitia Pelaksana (Panpel). Penguji yang dilibatkan dalam kepanitiaan juga bukan sosok sembarangan. Mereka direkrut dari berbagai kalangan yang benar-benar kredibel dan berintegritas tinggi. </p>
<blockquote><p>Seleksi yang superketat pun dimulai. Seleksi yang berlangsung lebih dari sepekan itu pun makin mengerucut. Banyak lelaki kaya dan tampan berguguran hingga akhirnya hanya tinggal satu lelaki yang dinilai Panpel memenuhi syarat untuk menjadi pendamping Dewi Kunti, yakni Pandu. Berdasarkan penilaian Panpel, lelaki yang satu ini, selain berasal dari keluarga baik-baik, juga cerdas dan memiliki track-record yang bagus. Dia berasal dari trah alias keturunan Bangsa Bharata yang termasyhur. Perjalanan kariernya tak pernah dinodai perilaku busuk dan sarat intrik. Dia tak pernah terindikasi melakukan korupsi. Dia juga sangat peduli terhadap nasib rakyatnya. Selama menjadi pejabat teras di Hastinapura, rakyat hidup dalam suasana yang penuh kedamaian, toleran, dan sangat menghargai perbedaan. Seluruh rakyat merasa terlindungi. Tak ada ledakan “bom elpiji”, teror, konflik berbau SARA, atau konfik di daerah perbatasan. Juga tak ada Ormas yang suka mengumbar arogansi dengan menenteng pedang dan pentungan di ruang-ruang publik. Semua persoalan bisa diselesaikan dengan penuh kearifan tanpa meninggalkan sikap tegas dan wibawa.</p></blockquote>
<p>Dewi Kunti mengembangkan senyumnya. Diam-diam, dia mengagumi lelaki yang dinyatakan lolos <em>fit and proper test</em> itu. Tak ada pilihan lain baginya, kecuali menerimanya dengan penuh ketulusan dan kebesaran hati. Demikian juga ayah angkatnya, Kuntibhoja. Berkali-kali, lelaki tua itu melemparkan senyum kebahagiaan ke wajah anak angkatnya, Dewi Kunti. </p>
<p>Maka, tibalah hari pernikahan itu. Dewi Kunti dan Pandu duduk di atas pelaminan dengan penuh kemegahan dan pesta. Berbagai stasiun TV menayangkan moment itu secara langsung. Rakyat dari berbagai penjuru menahbiskannya sebagai pesta pernikahan terbesar abad ini. Meski demikian, Dewi Kunti tak sanggup menepis kegundahan hatinya. Tiba-tiba, dia ingat Bathara Surya, sosok lelaki misterius yang pernah menjalin hubungan gelap dengannya. Dia juga ingat nasib anaknya, Karna, yang kini entah berada di mana. </p>
<p>Kuntibhoja juga tak sanggup menekan kegelisahan yang terus mengusik ketenangan batinnya. Di tengah ratusan tamu yang mengucapkan selamat kepadanya, pikirannya menerawang. Usai pernikahan itu, rumahnya yang besar dan megah akan kembali sepi. Kerinduannya akan celoteh bocah mustahil bisa terwujud, sebab Pandu akan memboyong putri angkat semata wayangnya itu ke Hastinapura. (Tancep kayon). ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/09/01/ketika-dewi-kunti-harus-memilih-jodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OSI dan CT-BSI: “Investasi Sastra” Masa Depan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/28/osi-dan-ct-bsi-%e2%80%9cinvestasi-sastra%e2%80%9d-masa-depan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/28/osi-dan-ct-bsi-%e2%80%9cinvestasi-sastra%e2%80%9d-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 19:23:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerdas tangkas berbahasa dan bersastra]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade sastra]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4635</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, setelah melalui Rapat Koordinasi (Rakor) I dan II, akhirnya usai sudah seleksi naskah peserta Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) Siswa SD Tingkat Nasional Tahun 2010 untuk menentukan 30 nominator yang layak mengikuti babak final yang rencananya akan berlangsung di Surabaya, 11 s.d. 15 Oktober 2010. Proses seleksi naskah yang berlangsung 23-25 Agustus 2010 di Hotel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">A</span>lhamdulillah, setelah melalui Rapat Koordinasi (Rakor) <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://sawali.info/2010/01/21/membangun-pendidikan-berbasis/" title="Rakor I">I</a> dan <a href="http://sawali.info/2010/08/20/osi-upaya-mengokohkan-basis-pendidikan-karakter/" title="Rakor II">II</a>, akhirnya usai sudah seleksi naskah peserta Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) Siswa SD Tingkat Nasional Tahun 2010 untuk menentukan 30 nominator yang layak mengikuti babak final yang rencananya akan berlangsung di Surabaya, 11 s.d. 15 Oktober 2010. Proses seleksi naskah yang berlangsung 23-25 Agustus 2010 di Hotel Patra Jakarta, Jalan Jendral Ahmad Yani No. 2, Jakarta Timur, itu sendiri berlangsung ketat dan maraton, bahkan tak jarang disertai debat untuk menentukan naskah terbaik yang layak menjadi nominator. Memang belum semua daerah terlibat dalam event “bergengsi” ini. Namun, sebagai sebuah program rintisan, <a href="http://www.ditptksd.go.id/" title="Direktorat Pembinaan TK/SD">Direktorat Pembinaan TK/SD</a> Kementerian Pendidikan Nasional layak diberi apresiasi tersendiri. Pihak direktorat cukup responsif dalam mengakomodasi masukan dari kalangan sastrawan, pemerhati, dan pengamat sastra, hingga akhirnya program OSI ini bisa digelar. Bahkan, rencananya, OSI akan menjadi agenda tahunan, hingga akhirnya sastra di negeri ini benar-benar “membumi” sejak dini.</p>
<div style="padding:15px;"><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THeqlUgBKdI/AAAAAAAABpc/KXYX5qLWYG0/P7300004.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THeqllWXTcI/AAAAAAAABpg/2GEa6jYd0To/s576/P8010011.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THeql7YudrI/AAAAAAAABpk/kYgtjF_uEPY/s576/P8010010.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THeqmMDlhzI/AAAAAAAABpo/---Zj568KvM/s576/P7300003.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" /><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THeqmaIlqvI/AAAAAAAABps/dGJpkI64Jlo/s576/P7300006.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" /><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/THgNIG0JoVI/AAAAAAAABqE/8UWtP6v8HYo/P7300005.JPG" width="280" height="230" alt="OSI dan CT-BSI" />
</div>
<p style="font:bold 11px arial;text-align:center">Suasana ketika Rapat OSI dan Lokakarya CT-BSI berlangsung.</p>
<p>Usai seleksi naskah, di tempat yang sama, Kamis, 26 Agustus 2010, digelar lokakarya untuk mendesain Program Cerdas-Tangkas Berbahasa dan Bersastra Indonesia (CT-BSI) yang akan diagendakan tahun 2011. Selain dihadiri dewan juri OSI (Suminto A. Sayuti, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://mahayana-mahadewa.com/" title="Maman S. Mahayana">Maman S. Mahayana</a>, Dendy Sugono, Zaim Uchrowi, Sawali Tuhusetya, dll.), D. Kemalawati, penyair dari Aceh yang juga seorang guru yang diundang secara khusus, lokakarya juga dihadiri oleh pejabat Direktorat Pembinaan TK/SD, di antaranya Dr. Utju Sumarsana, M.Si., Drs. Palogo Balianto, M.Pd., dan beberapa pejabat yang lain. Dalam lokakarya tersebut dibahas tentang rencana kegiatan Cerdas-Tangkas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Siswa SD Tahun 2011, mulai penyusunan proposal, tahap-tahap kegiatan, penjadwalan, substansi CT-BSI, panduan, hingga teknis pelaksanaan, yang akan dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan TK dan SD.</p>
<p>Baik OSI maupun CT-BSI, dalam pandangan awam saya, merupakan “investasi sastra” masa depan yang akan mampu menguatkan karakter dan kepribadian anak sejak dini. Diakui atau tidak, selama ini dunia pendidikan kita hanya menjadikan sastra sebagai “pelengkap penderita”. Ia ada dalam kurikulum pendidikan, tetapi (nyaris) belum ada sentuhan perhatian yang layak dan memadai. Sastra cenderung hanya dipahami sebagai sebuah teori dan hafalan, belum menyatu secara emosional ke dalam karakter dan kepribadian peserta didik. Akibatnya, anak-anak masa depan negeri ini (nyaris) tak pernah mampu mendapatkan “nutrisi sastra” yang cukup. Mereka memang menjadi generasi yang cerdas, tetapi kehilangan kepekaan dan “tumpul” nuraninya, sehingga gampang kalap dan marah ketika menghadapi masalah. </p>
<p>Dalam konteks demikian, sungguh diperlukan sebuah terobosan program visioner yang mampu “membumikan” sastra sejak dini, sehingga kelak akan terlahir generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kepribadian yang kuat, dan karakter yang tangguh, sehingga mampu menghadapi problem-problem yang dihadapi masyarakat dan bangsanya secara cerdas, kritis, kreatif, terhormat, beradab, dan berbudaya. OSI dan CT-BSI sejatinya memang diarahkan sebagai agenda tahunan yang mencerdaskan dan mencerahkan di tengah tantangan peradaban yang kian rumit dan kompleks. Melalui dua event tersebut, sejak dini diharapkan anak-anak negeri ini memiliki –meminjam istilah Prof. Suminto A. Sayuti&#8211;ruang bertegur sapa secara kreatif yang mampu mengasah wawasan bersusastra, menumbuhkan sikap apresiatif, memiliki daya kreasi, dan memiliki semangat untuk berekspresi. </p>
<p>Nah, selamat bertemu di ajang OSI dan CT-BSI. Salam peduli anak bangsa!***</p>
<p><strong>Catatan:</strong><br />
Saya mohon maaf kepada sahabat-sahabat bloger kalau dalam beberapa hari ini belum bisa blogwalking atau merepson komentar secara intens. Terima kasih! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/28/osi-dan-ct-bsi-%e2%80%9cinvestasi-sastra%e2%80%9d-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapresiasi Gerakan Perlawanan terhadap Keyword &#8220;SMP&#8221;</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/23/mengapresiasi-gerakan-perlawanan-terhadap-keyword-smp/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/23/mengapresiasi-gerakan-perlawanan-terhadap-keyword-smp/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 17:10:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan SEO Positif]]></category>
		<category><![CDATA[siswa SMP]]></category>
		<category><![CDATA[SMP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4619</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat-sahabat bloger yang baik, upaya “pemulihan” citra pelajar SMP perlu terus dilakukan agar kaum pelajar kita yang bertalenta besar untuk membangun masa depan negeri ini tidak terus-terusan dimarginalkan dan ditenggelamkan ke dalam citra buruk di dunia maya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">J</span>ujur saja, sebagai seorang guru, saya sangat terharu ketika membaca postingan sahabat-sahabat bloger yang demikian bersemangat dalam melawan “penyalahgunaan SEO” yang memanfaatkan keyword “SMP, siswa SMP, atau anak SMP” yang sarat dengan citra negatif berbau seronok dan mesum. Postingan terkait dari sahabat-sahabat bloger selengkapnya bisa dibaca di blog <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://manajemenemosi.blogspot.com/2010/08/gerakan-seo-positif.html" title="Gerakan SEO Positif">manajemenemosi.blogspot.com</a>. Saya terharu, lantaran di tengah tantangan peradaban yang makin rumit dan kompleks, sehingga makin banyak pihak yang abai terhadap persoalan moral dan budi pekerti, muncul “Gerakan SEO Positif” untuk melakukan perlawanan terhadap citra “SMP&#8221; yang serba-seronok, vulgar, dan tak senonoh. Sebuah gerakan dan ide kreatif yang layak didukung dan diapresiasi. </p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://manajemenemosi.blogspot.com/2010/08/gerakan-seo-positif.html" title="Gerakan Seo Positif"><img class="expando" src="http://1.bp.blogspot.com/_OwIJCgRqiGg/TGzdqngQ93I/AAAAAAAAAtI/X2xotCxkk8Y/s320/Gerakan+Seo+Positif.png" alt="Gerakan Seo Positif" width="300" /></a><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.google.com/search?hl=en&#038;q=siswa+smp&#038;aq=f&#038;aqi=g-p1g1g-m8&#038;aql=&#038;oq=&#038;gs_rfai=" title="google.com"><img class="expando" src="http://farm5.static.flickr.com/4114/4917138564_0587debd42_m.jpg" alt="Gerakan Seo Positif" width="300" /></a>Kata kunci “SMP&#8221; yang serba vulgar yang terpampang di SERP, baik di google.com maupun google.co.id, merupakan realitas dunia maya yang sulit terbantahkan. Terlepas apa pun motifnya, menaikkan “nilai jual” sebuah web/blog dengan memanfaatkan kata kunci ini, disadari atau tidak, telah memberikan imaji negatif yang belum tentu sesuai dengan realitas yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Taruhlah anak-anak SMP belakangan ini makin akrab dengan tindakan anomali sosial yang bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai keluhuran akal-budi.  Namun, sesungguhnya yang terjadi hanyalah sebuah “sinekdok totem pro parte” yang mengangkat kasus anomali semacam itu secara berlebihan. Realitas yang sesungguhnya, kalau kita mau jujur, masih jauh lebih banyak anak SMP yang mampu menunjukkan prestasi hebat, berperilaku santun, kreatif, dan masih memiliki benteng religi yang kokoh. Mereka masih memiliki talenta sebagai generasi masa depan yang “paripurna”; cerdas intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. </p>
<p>Yang jadi persoalan, “nilai jual” kata kunci “SMP” yang sarat prestasi dan membanggakan justru kalah pamornya oleh kata kunci yang vulgar itu. Yang lebih parah, kata kunci semacam itu berhasil diterapkan dengan jitu oleh para netter yang kebetulan sangat paham tentang seluk-beluk SEO. Walhasil, jadilah search-engine jadi penuh taburan link-link vulgar dan tak senonoh.</p>
<p>Saya pikir, keterharuan saya tidak berlebihan karena ide kreatif ini justru dimunculkan oleh sahabat bloger yang (nyaris) tidak langsung bersentuhan dengan ranah pengambilan kebijakan yang notabene menjadi salah satu pemangku kepentingan dalam meningkatkan akhlak dan budi pekerti pelajar. Sebuah bukti bahwa bloger pun sanggup beraksi positif dengan mengekspresikan pemikiran-pemikiran kreatif dan bermakna dalam ranah pendidikan melalui dunia maya. Secara pribadi, saya memberikan penghargaan dan apresiasi yang tulus kepada sahabat <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://manajemenemosi.blogspot.com/" title="Manajemen Emosi">Manajemen Emosi</a> atas ide kreatifnya, dan juga kepada sahabat-sahabat bloger yang telah berpartisipasi, men-support, dan mendukung “Gerakan SEO Positif” ini. Semoga ide kreatif ini bisa memberikan inspirasi kepada banyak pihak dalam ikut serta membebaskan kaum pelajar kita dari belenggu perilaku anomali yang membelitnya.</p>
<blockquote><p>Di tengah peradaban yang makin rumit dan kompleks, kaum remaja-pelajar kita memang menghadapi tantangan zaman yang kian berat dan sulit. Nilai-nilai keluhuran budi yang ditanamkan dan ditumbuhsuburkan di dunia pendidikan acapkali tidak diimbangi dengan perilaku yang “sehat” di tengah-tengah lingkungan sosialnya. Mereka tak hanya berguru di sekolah, tetapi juga belajar langsung dari lingkungan tempat mereka bersosialisasi dan berinteraksi. Persoalan jadi makin bertambah rumit lantaran mereka telah kehilangan figur yang layak dicontoh dan diteladani. Sungguh tidak adil kalau anak-anak SMP yang tengah menghadapi tantangan berat semacam itu justru makin kita bebani dengan citra negatif di dunia maya. </p></blockquote>
<p>Sahabat-sahabat bloger yang baik, upaya “pemulihan” citra pelajar SMP perlu terus dilakukan agar kaum pelajar kita yang bertalenta besar untuk membangun masa depan negeri ini tidak terus-terusan dimarginalkan dan ditenggelamkan ke dalam citra buruk di dunia maya. Mereka harus diselamatkan dari “keganasan” mesin pencari yang terus mengangkat perilaku-perilaku tak senonoh anak SMP yang sejatinya hanya ibarat nila setitik yang jatuh di tengah lautan susu. Kini, tiba saatnya bagi kita secara kolektif untuk melakukan perlawanan terhadap penyalahgunaan SEO “SMP&#8221; sekaligus ikut serta memberikan pencerahan dan membangun imaji positif dengan mendukung “Gerakan SEO Positif”. Salam Peduli Anak Bangsa! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/23/mengapresiasi-gerakan-perlawanan-terhadap-keyword-smp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>78</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delete-Revision: Plugin “Wajib” untuk WordPress</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/22/delete-revision-plugin-%e2%80%9cwajib%e2%80%9d-untuk-wordpress/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/22/delete-revision-plugin-%e2%80%9cwajib%e2%80%9d-untuk-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 17:05:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[database]]></category>
		<category><![CDATA[delete-revision]]></category>
		<category><![CDATA[plugin]]></category>
		<category><![CDATA[wordpress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4614</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat-sahabat bloger yang mengelola blog dengan domain dan hosting berbayar seringkali direpotkan dengan banyaknya jumlah revisi postingan di bawah text-editor. Kalau jumlah postingan belum begitu banyak mungkin tak berdampak terhadap kinerja server. Kita bisa menghapus postingan yang sudah disunting secara manual melalui dashbor. Namun, sebaliknya, kalau jumlah postingan sudah bejibun, sementara setiap kali memosting tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>ahabat-sahabat bloger yang mengelola blog dengan domain dan hosting berbayar seringkali direpotkan dengan banyaknya jumlah revisi postingan di bawah text-editor. Kalau jumlah postingan belum begitu banyak mungkin tak berdampak terhadap kinerja server. Kita bisa menghapus postingan yang sudah disunting secara manual melalui dashbor. Namun, sebaliknya, kalau jumlah postingan sudah bejibun, sementara setiap kali memosting tulisan kita seringkali menyuntingnya, agaknya akan memberikan dampak yang kurang bagus terhadap kinerja database blog kita. Loading jadi lebih berat, bahkan bisa jadi akan menimbulkan error dan tak bisa diakses. Agaknya akan banyak menguras energi apabila kita harus menghapus postingan yang sudah tak terpakai tersebut secara manual.</p>
<p><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG_xv1SkyjI/AAAAAAAABo4/e1et-qfb0sQ/Delete-Revision2.png" alt="DR" width="300" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG_xv1EIagI/AAAAAAAABo0/iO_uEE48HXk/delete%20revision3.png" alt="DR" width="300" />Kini, kita tak perlu khawatir. Kondisi seperti itu bisa dengan mudah diatasi dengan menggunakan plugin delete-revision. Dengan mengaktifkan plugin tersebut setelah ter-instal, kita bisa menghapus revisi postingan yang sudah tak terpakai berapa pun jumlahnya dengan amat mudah. Hanya dengan meng-klik tab ﻿&#8221;check redundant revision”, kita akan diperlihatkan jumlah postingan revisi yang sudah jadi “sampah”. Postingan “sampah” tersebut bisa terhapus dengan cepat hanya dengan meng-klik tab “Yes, I would like to delete theme!” Nah, postingan “sampah” pun tidak lagi membebani database blog kita.</p>
<p><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG_xv2Xj8VI/AAAAAAAABow/1ln1P-TA7YE/delete%20revision1.png" alt="DR" width="300" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG_xv3CE2GI/AAAAAAAABos/-DKRKzbHSbY/delete%205.png" alt="DR" width="300" />Plugin ini tak hanya digunakan untuk menghapus postingan “sampah”, tetapi bisa juga digunakan untuk mengoptimalkan fungsi database blog. Caranya, cari menu setting yang ada di dashbor, kemudian klik kembali “Delete-revision”, sehingga kita akan dibawa pada halaman “Delete-revision Manager”. Silakan klik tab “Database optimization”, sehingga akan terlihat entry database blog kita. Entry database yang error ditandai dengan warna merah. Silakan klik tab “Optimize DataBase” untuk membersihkannya. Dengan cara seperti ini, kita tak perlu lagi masuk ke “ruang” php-myadmin pada cpanel blog kita jika ingin mengoptimalkan fungsi database blog kita.</p>
<p>Nah, Sampeyan tertarik untuk menggunakan plugin ini? Silakan unduh <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://wordpress.org/extend/plugins/delete-revision/" title="delete-revision">di sini</a> atau sahabat bloger yang sudah meng-upgrade mesin wordpress versi 3, cukup memanfaatkan fitur pencarian plugin dengan mengetikkan kata kunci “delete-revision” pada tab search. Atau, mungkin Sampeyan punya pengalaman yang berbeda ketika memanfaatkan plugin ini? Mangga, silakan di-share! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/22/delete-revision-plugin-%e2%80%9cwajib%e2%80%9d-untuk-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>70</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>OSI: Upaya Mengokohkan Basis Pendidikan Karakter</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/20/osi-upaya-mengokohkan-basis-pendidikan-karakter/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/20/osi-upaya-mengokohkan-basis-pendidikan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 10:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Olimpiade sastra]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4602</guid>
		<description><![CDATA[Leaflet OSI.Dr. Mudjito AK, M.Si (Direktur Pembinaan TK SD) dan Drs. Husaini Wardi, M.Pd. Kasubdit Program. Maman S. Mahayana, Suminto A. Sayuti, dan Dendy Sugono.Zaim Uchrowi.Intan Savitri.Pejabat Direktorat Pembinaan TK/SD. Rabu, 18 Agustus 2010, Direktorat Pembinaan TK/SD Dirjen Mandikdasmen Kemendiknas kembali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) untuk Siswa SD/MI tingkat nasional tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PkS3MIPI/AAAAAAAABn4/zMAwCUg5am0/s512/osi6.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Leaflet OSI.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PkJrrloI/AAAAAAAABno/XEEQr4lI9Lw/osi1.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Dr. Mudjito AK, M.Si <br />(Direktur Pembinaan TK SD) <br /> dan Drs. Husaini Wardi, M.Pd. <br /> Kasubdit Program. </span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PkA8JJTI/AAAAAAAABns/K-VFgT1h9fA/osi3.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Maman S. Mahayana, Suminto A. Sayuti, <br /> dan Dendy Sugono.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PwCvsC1I/AAAAAAAABn8/LE5bHD-AI2g/osi7.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Zaim Uchrowi.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PkI5LQ3I/AAAAAAAABn0/9AF4w5RvISc/osi5.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Intan Savitri.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TG5PkL89vQI/AAAAAAAABnw/cCIKID4uzfo/osi4.jpg" width="287" alt="OSI" /><br />Pejabat Direktorat Pembinaan TK/SD. </span>Rabu, 18 Agustus 2010, Direktorat Pembinaan TK/SD Dirjen Mandikdasmen Kemendiknas kembali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) untuk Siswa SD/MI tingkat nasional tahun 2010. Rakor kali ini khusus membahas persiapan seleksi naskah olimpiade yang masuk yang rencananya akan berlangsung 23-25 Agustus 2010 di Jakarta. Selain dihadiri oleh para pejabat Direktorat Pembinaan TK/SD, Rakor juga dihadiri sejumlah “begawan” Bahasa dan Sastra Indonesia, antara lain ﻿Dendy Sugono (mantan Kepala Pusat Bahasa yang kini menjadi peneliti ahli Pusat Bahasa), Suminto A. Sayuti (guru besar Sastra Universitas Negeri Yogyakarta), dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://mahayana-mahadewa.com/" title="Maman S. Mahayana">Maman S. Mahayana</a> (Dekan Fakultas Ilmu Budaya UI yang kini bermukim di Korea Selatan). Selain itu, juga hadir Zaim Uchrowi dan Intan Savitri dari Penerbit Balai Pustaka. Sementara, Taufik Ismail dan Helvy Tiana Rosa yang juga diundang batal hadir lantaran kesibukan yang tak bisa mereka tinggalkan.</p>
<p>Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) agaknya benar-benar serius dalam upaya mengokohkan basis pendidikan karakter. Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) bisa dibilang sebagai salah satu terobosan visioner untuk mengokohkan dan menguatkan basis pendidikan yang ditengarai kini tengah berada di titik nazir peradaban itu. Tanpa bermaksud latah untuk mengikuti jejak Olimpiade Matematika dan Sains yang lebih dahulu lahir, OSI memang perlu digelar sebelum pendidikan karakter di negeri ini benar-benar hancur. Melalui olimpiade semacam ini diharapkan sejak dini para siswa terpacu untuk melakukan olahrasa, penalaran, dan kreativitas, sehingga kelak mampu menjadi generasi pemikir yang berbudi pekerti baik dan kreatif dalam membangun peradaban Indonesia. </p>
<p>Secara khusus, OSI bertujuan untuk: (1) menumbuhkan kepedulian siswa pada lingkungan di sekitarnya, sehingga segala tingkah laku dan perbuatannya selalu mempertimbangkan keharmonisan dalam menjaga lingkungan masyarakat, alam, dan tata kehidupan secara keseluruhan; (2) menciptakan generasi yang kreatif, toleran terhadap perbedaan dan keberagaman, dan membangun tradisi membaca sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari; (3) memberi motivasi kepada siswa untuk meningkatkan budaya baca dan budaya tulis sejak dini. Melalui event semacam ini, kelak para siswa diharapkan mampu mengembangkan kemampuan otak kiri (logika) dan otak kanan (emosi) secara seimbang, sehingga mampu melihat setiap fenomena hidup dan kehidupan secara utuh dan multidimensi. </p>
<p>Mungkin lantaran baru pertama kali digelar dan kurangya sosialisasi/publikasi agenda, OSI 2010 belum diikuti oleh semua daerah di Indonesia. Dari 33 provinsi yang ada, tak ada 50%-nya yang mengirimkan naskah OSI kepada panitia. Meski demikian, para peserta Rakor yang hadir memberikan apresiasi tinggi terhadap digelarnya agenda ini. Hal yang wajar terjadi apabila OSI I masih sepi peminat. Menurut penuturan Prof. Suminto, lomba menulis cerpen dan mengulas karya sastra yang kini dibanjiri ribuan guru SLTA dari berbagai daerah, juga mengalami nasib serupa. Namun, toh akhirnya memberikan hasil yang “manis” juga. Mudah-mudahan OSI 2010 akan memberikan efek “bola salju” yang akan terus menggelinding dari tahun ke tahun hingga akhirnya menjadi aktivitas rutin tahunan yang mendapatkan perhatian banyak kalangan. </p>
<p>Upaya Kemendiknas untuk mengokohkan basis pendidikan karakter agaknya tak hanya sebatas OSI. Jika tak ada aral melintang, usai seleksi naskah juga akan dilanjutkan dengan workshop dan merancang agenda Cerdas Cermat Bahasa dan Sastra Indonesia (CCBSI). Melalui CCBSI, siswa diharapkan akan memiliki kemampuan mengapresiasi, berkreasi, dan berekspresi, sehingga mereka makin peka terhadap nilai-nilai keluhuran akal-budi yang penting peranannya dalam upaya membangun karakter dan kepribadian yang kuat. </p>
<p>Semoga upaya mulia itu benar-benar mampu mengokohkan basis pendidikan karakter yang selama ini nyaris tak pernah diberi sentuhan perhatian yang cukup akibat kebijakan penguasa yang cenderung abai terhadap upaya pengembangan nilai-nilai seni, budaya, dan kemanusiaan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/20/osi-upaya-mengokohkan-basis-pendidikan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Friends Award Tak Terduga</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/18/friends-award-tak-terduga/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/18/friends-award-tak-terduga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Aug 2010 17:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[blogger guru]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[tag award]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4590</guid>
		<description><![CDATA[Sungguh tak terduga, saya mendapatkan Friends Award dari Pak Mumun Surahman, rekan sejawat dari Baturajeg Majalengka yang kini mengajar di SMPN 2 Bantarujeg, Jalan Desa Salawangi No. 11 Bantarujeg Majalengka. Terima kasih atas pemberian award-nya, Pak, semoga makin menambah kekuatan silaturahmi melalui dunia maya. Mudah-mudahan suatu ketika kita bisa dipertemukan di dunia nyata, hehe &#8230;. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: right; margin: 0px -8px 0px 5px;"><img class="expando" src="http://3.bp.blogspot.com/_k_hpnnZWrWQ/TGlJEv7tFeI/AAAAAAAAAt4/Nhb4272Abfo/s320/award.png" alt="award" /></span><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>ungguh tak terduga, saya mendapatkan Friends Award dari <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://smpn2bantarujeg.blogspot.com/" title="Pak Mumun Surahman">Pak Mumun Surahman</a>, rekan sejawat dari Baturajeg Majalengka yang kini mengajar di SMPN 2 Bantarujeg, Jalan Desa Salawangi No. 11 Bantarujeg Majalengka. Terima kasih atas pemberian award-nya, Pak, semoga makin menambah kekuatan silaturahmi melalui dunia maya. Mudah-mudahan suatu ketika kita bisa dipertemukan di dunia nyata, hehe &#8230;. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Friends Award yang kebetulan saya terima bertepatan dengan momentum peringatan yang ke-65 hari kemerdekaan Republik Indonesia ini bisa saya maknai sebagai “kado khusus” buat “kebangkitan” dunia pendidikan, dengan harapan semoga jalinan silaturahmi antarguru lintasdaerah, lintasmapel, atau lintasbudaya bisa terjalin lebih erat. Berkaitan dengan hal tersebut, izinkan saya mempersembahkan Friends Award ini untuk tujuh blogger yang juga berprofesi sebagai seorang guru, yakni:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Sungkowoastro" href="http://sungkowoastro.blogspot.com/">Pak Sungkowoastro</a><br />
2. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Bayuputra" href="http://www.bayuputra.com/">Pak Bayuputra</a><br />
3. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Budi" href="http://budies.info/">Pak Budi</a><br />
4. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Marsudiyanto" href="http://marsudiyanto.info/">Pak Marsudiyanto</a><br />
5. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Fendik" href="http://alwathaniyah.wordpress.com/">Pak Fendik</a><br />
6. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Riyadi" href="http://riyadiwp.wordpress.com/">Pak Riyadi</a><br />
7. <a rel="nofollow" target="_blank" title="Pak Yussa" href="http://yussami.wordpress.com/">Pak Yussa</a></p>
<p>Mohon maaf kepada sahabat-sahabat blogger yang bukan guru atau blogger guru tetapi tidak sempat saya beri award ini. Bukan bermaksud diskriminatif, melainkan semata-mata keterbatasan saya yang tidak memungkinkan untuk mempersembahkan award ini kepada semua sahabat blogger tercinta.</p>
<p>Sebagai sebuah Friends Award, dengan sendirinya saya harus mengikuti “aturan main” yang telah didesain oleh sang penggagas yang konon award ini bermakna ganda. Selain untuk persahabatan juga sangat bermanfaat untuk mendapatkan backlink. Maka, dengan segala kerendahan hati <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> saya mengajak sahabat-sahabat penerima Award untuk menjalin persahabatan dan per-Backlink-an dengan meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel masing-masing:</p>
<p>1. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.duniaguardian.co.cc/" title="Dunia Guardian">Dunia Guardian</a><br />
2. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.tenshi-yousei.co.cc/" title="The Other Side of Me">The Other Side of Me</a><br />
3. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://ekagurunesama.blogspot.com/" title="Eka Guru Nesama">Eka Guru Nesama</a><br />
4. <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://smpn2bantarujeg.blogspot.com/"  title="SMPN 2 Bantarujeg">SMPN 2 Bantarujeg</a><br />
5. <a href="http://sawali.info/" title="Catatan Sawali Tuhusetya">Catatan Sawali Tuhusetya</a></p>
<p>Adapun caranya sebagai berikut: hapus Link nomor 1 dari daftar, semua Link dinaikkan 1 Level ( Link nomor 2 jadi nomor 1, yang nomor 3 jadi nomor 2, yang nomor 4 jadi nomor 3, yang ke-5 naik jadi ke-4, dan yang paling bawah kosong). Kemudian Isi tempat nomor 5 dengan Link sahabat penerima award ini. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya, maka jumlah backlink yang akan didapat adalah:</p>
<p>Posisi 5, jumLah backLink = 5<br />
Posisi 4, jumLah backLink = 25<br />
Posisi 3, jumLah backLink = 125<br />
Posisi 2, jumLah backLink = 625<br />
Posisi 1, jumLah backLink = 3.125</p>
<p>Meski demikian, saya tidak mengharuskan sahabat-sahabat blogger guru yang namanya tercantum sebagai penerima award ini harus melanjutkannya secara “berantai” kepada sahabat-sahabat yang lain, hehe &#8230; <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/lmao.gif' alt='(lmao)' class='wp-smiley' /> Anggap saja ini sebagai persembahan dari seorang sahabat yang telah lama tenggelam dalam mimpi-mimpi dunia pendidikan yang hingga kini belum juga terwujud.</p>
<p>Semoga kita tetap memiliki spirit dan semangat untuk meningkatkan mutu pendidikan di negeri ini. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga kita tidak lagi hanya bisa berteriak setengah merdeka! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/18/friends-award-tak-terduga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>107</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/17/gumam-asa-ala-ali-syamsudin-arsy/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/17/gumam-asa-ala-ali-syamsudin-arsy/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Aug 2010 17:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas penulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4582</guid>
		<description><![CDATA[Sekadar catatan: (Saya belum pernah bertemu langsung dengan Bung Ali Syamsudin Arsy. Sepanjang yang saya tahu, Bung Arsy –kalau boleh saya menyapanya demikian&#8211; menjadi salah satu pelanggan feed/rss blog saya. Uniknya, Bung Arsy selalu tidak lupa memberikan catatan dan apresiasi tersendiri melalui email tentang tulisan-tulisan saya yang masuk ke inbox email-nya. Sebuah “perilaku” unik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sekadar catatan:</strong><br />
(Saya belum pernah bertemu langsung dengan Bung Ali Syamsudin Arsy. Sepanjang yang saya tahu, Bung Arsy –kalau boleh saya menyapanya demikian&#8211; menjadi salah satu pelanggan feed/rss blog saya. Uniknya, Bung Arsy selalu tidak lupa memberikan catatan dan apresiasi tersendiri melalui email tentang tulisan-tulisan saya yang masuk ke inbox email-nya. Sebuah “perilaku” unik yang jarang saya temukan, hehe …. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/grin.gif' alt=':-D' class='wp-smiley' />  Tidak jarang, Bung Arsy yang kini bermukim di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyertakan catatan-catatan kecilnya untuk saya dan juga beberapa teman lain yang kebetulan memiliki minat yang sama di ranah sastra. Saya sangat menyukai dan apresiatif terhadap “perilaku” unik Bang Arsy ini.</p>
<p>Sebagai wujud apresiasi, berikut saya publikasikan tulisan Bung Arsy yang terangkum dalam lirik “Gumam Asa”. Lirik yang dalam amatan awam saya sungguh indah untuk dinikmati dan sungguh sayang apabila dilewatkan begitu saja. Terima kasih atas kiriman tulisannya, Bung Arsy! <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' /> )</p>
<p><strong>Melintas Tipis</strong></p>
<p><span style="float:right;margin:0px -8px 0px 5px"><img class="expando" src="http://ratihkumala.com/wordpress/wp-content/uploads/cakrawalasastra3.JPG" alt="cakrawalasastra" width="250" /></span><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">H</span>ujan yang hadir di telapak tanganmu sejak sore hari sampai di ujung bulu-bulu mata sekian banyaknya umat dan setiap itu pula datang berganti antara gerimis hingga tak dapat lagi diperkirakan perubahan cuaca, sungguh tak mampu dibaca ke mana arah mata angin melangkah di puting-puting ranting, “kelelatu,” katamu, sambil melintas di bentangan selendang yang tipis menembus bayang-bayang; berkelebat seketika. Aku semakin mabuk, mabuk dalam rupa-rupa warna, mabuk dalam jerat-jerat akar gantung di ujung tembaga, mabuk dalam getar-getar syaraf dan segala macam kenangan purba. Batu ada di antara kerikil ada di antara pasir ada di antara Lumpur ada di antara deras ada di antara percik ada di antara bias ada di antara curah ada di antara mendung ada di antara lengkung pelangi. Wahai, kini salam bertaut di antara debur ombak dan ringkik satwa di belantara; lebatnya hutan rimbunnya daun adalah warna warni pemikiran, melintas tipis-tipis.</p>
<p>Lautmu semakin dalam; masuk ombak masuk karang masuk udara masuk cahaya masuk luka-luka, selalu saja ada mata memandang saat sinar terang itu tenggelam di sela-sela bayangan daun di kaki bukit, selalu saja, tetapi. Benarlah adanya, kekuasaan tak bertepi. Rahasia tetap tersimpan rapi. Selalu ya selalu saja. Hingga kita temukan sebuah dermaga perhitungan, dalam detak keabadian. Menyebut namamu, semakin tipis di belahan kedua bibir, kelu kaku tak lagi fasih hanya tatap mata nanar ke satu titik putar; cahaya cahaya cahaya. Perjalanan panjang itu akhirnya bertemu jua di titik nol; sekian kali sungai bergelora lumpurnya terus menggumpal, udara itu terus saja menderu menggiring kawanan awan ke segala penjuru di luasnya angkasa. Dalam cermin besar, nampak melintas tipis tubuhmu melayang dengan selendang. Perlahan ada melintas. Perlahan ada. Engkau bersiap menjemput. Selama itu pula penantian bertaut di luasnya teras rumah sendiri. Telapak tanganmu yang tengadah penuh kasih penuh saying penuh belai kesetiaan, sabar yang maha sabar.</p>
<p>Gerimis lurus dan gerai rambutmu serta lentiknya bulu matamu. Ingin aku jelajahi bersama rindu bergumpal-gumpal, selangkah demi selangkah titian batang usia menjalar ke seluruh persendian; tubuhku mulutku kulitku jantungku hatiku tulangku, sebatas apa aku mampu berlari menghampiri, maafkan segala yang telah terjadi, dan sampai sejauh apa sejarah menggoreskan catatan tentang sepi itu menjalar-jalar tentang senyap itu mengepung-ngepung tentang dingin itu melingkup-lingkup. Sekian kali pula keberpihakan yang ditunjukkan dengan segala kemampuan dan perasaan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya, sejauh itu pula segala daya segala upaya segala potensi mencuatkan nyali ke ketinggian menara cahaya, ya menara cahaya. Naik perlahan, halus lembut penuh perasaan. Bertemu dengan sampai, berjumpai dengan gapai; dekap erat, Wahai. Ada tulang di ranting bulan di remang awan-awan.</p>
<p>( banjarbaru/ 11 Juli 2010 )</p>
<p><strong>Puncak Capaian</strong></p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">K</span>atanya pikiran itu lahir dalam cuaca mendung di penghujung tahun lalu, bahkan ketika ditelusuri masih saja ada yang mengatakan bahwa umur dari pikiran itu berabad-abad silam telah ada telah dicetuskan oleh orang-orang yang mereka kenal sebagai nenek-moyang peradaban, zaman belum ditemukannya batu sebagai alat, di genggam telapak tangan; kita tidak akan berhenti di sini menelusurinya. Dalam perjalanan akan didapat pemahaman yang seutuhnya bila memang mau memikirkan segala sesuatu bahwa disimpulkan harus ada yang melakukan aturan-aturan, tertulis bahkan tidak dituliskan, itu ketentuan alam dan berlaku secara meluas ke semua sudut perncaharian, ke semua sudut kerinduan, tanpa diam sejenak tanpa henti seketika tanpa mematung senja tanpa menutup mata. Tapi, perlu juga diingat, bila telah mampu menuju ke titik sampai, maka akan turun dengan sendirinya, tanpa harus diturunkan oleh siapa pun juga. Menggelinding. Tanpa tanpa tanpa, tanpa apa-apa.</p>
<p>Sejarah dari percik-percik darah pembunuhan pertama dan adanya kisah seekor burung yang menggali kubur untuk sesuatu yang diam tak bergerak adalah sebagai cermin nyata dari peristiwa penting dan terus berlangsung sampai peradaban itu mengalami sendiri perubahannya. “Engkau boleh saja mengalirkan air mata dari sudut kelopak matamu, tetapi ada yang berkelebat di juntai-juntai akar gantung pikiranmu sendiri, enyahkahlah enyahkanlah enyahkanlah, sampai tak ada lagi berkas merah darah di jalanan; sepi menelan kabut lereng bukit. Sejarah telah tertulis di garis-garis lengkuk telapak tanganmu, sejarah akan melepaskan jebaknya akan membebaskan jeratnya dan sejarah tidaklah mudah dihapuskan karena tulisannya terpampang di kanvas tanpa bingkai tanpa batas tanpa tekanan.</p>
<p>Sampai akhirnya berjuta puncak demi puncak kerangka beton dan baja menyibak ketenangan awan di langit biru. Sampai akhirnya garis-garis udara penuh sesak oleh berpuluh-juta-ribu-juta-juta-berkali juta pula; tak ada celah untuk sembunyi, tak ada celah, tak ada. Pikiran kita pun menari-nari dan terus menari, hingga tak tampak lagi sebagai tarian yang dulunya hening yang dulunya lengang yang dulunya damai. Kosong kembali menuju hampa. Dalam kekosongan itulah puncak capaian sebenarnya, sebab sebelum itu adalah riak-riak belaka, seperti mimpi yang teramat sulit untuk dilanjutkan ketika sadar bahwa sebenarnya kita telah menemukan mimpi. Pembangunan peradaban. Peradaban itu sendiri bermula dari desah, peradaban itu sendiri bergejolak dari gelisah, peradaban itu sendiri bermula dari awal keberanian melangkah; tanpa itu akh akh akh tanpa itu walau walau walau tanpa itu alina alina alina tanpa itu aum aum aum tanpa itu kucing kucing kucing tanpa itu telingkung telingkung telingkung tanpa itu debur debur debur tanpa itu; Wahai datang dengan sejuta kehendak. Apa yang telah manusia dapat.</p>
<p>( banjarbaru/ 11 Juli 2010 ) ***</p>
<p><strong>Tentang Penulis:</strong><br />
Ali Syamsudin Arsy, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan pada tahun 1964. Kini menetap di kota Banjarbaru. Sering menulis puisi, cerpen, esei juga terkadang naskah drama.</p>
<p>Puisi-puisinya juga ikut meramaikan buku-buku kumpulan puisi bersama, dari yang ada di wilayah Kalimantan Selatan, sampai pulau Jawa dan Sumatera, diantaranya: (1) Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), (2) Komunitas Sastra Indonesia, catatan perjalanan (Kudus, 2008), (3) Kenduri Puisi, buah hati untuk Diah Hadaning (Yogyakarta, 2008), (4) Tanah Pilih (Jambi, 2008), (5) Pedas Lada Pasir Kuarsa (Bangka Belitung, 2009), (6) Mengalir di Oase (Tangerang Selatan, 2010).</p>
<p>Bukunya yang telah terbit adalah berupa tetralogi gumam asa, yaitu (1) Negeri Benang pada Sekeping Papan (2009), (2) Tubuh di Hutan Hutan (2009), dan (3) Istana Daun Retak (2010).</p>
<p>Sebagai editor, telah pula menerbitkan buku-buku; (1) Bahana (kumpulan puisi, 2002), (2) Darah Penanda (antologi sastra, cerpen dan puisi hasil lomba, 2008), (3) Taman Banjarbaru (kumpulan puisi penyair Forum Taman Hati Banjarbaru, 2005), (4) Di Jari Manismu Ada Rindu (kumpulan puisi Hamamy Adabi, 2008), (5) Bertahan di Bukit Akhir (kumpulan puisi penulis Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 2008), (6) Bunga Bunga Lentera (kumpulan puisi siswa SD dan SMP kota Banjarbaru, 2009).</p>
<p>Tahun 1999 menerima penghargaan sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru. Tahun 2005 menerima penghargaan sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Tahun 2007 menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Banjarmasin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/17/gumam-asa-ala-ali-syamsudin-arsy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruang Jingga: Memadukan Kreativitas melalui Jejaring Sosial</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/16/ruang-jingga-memadukan-kreativitas-melalui-jejaring-sosial/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/16/ruang-jingga-memadukan-kreativitas-melalui-jejaring-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 20:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[antologi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[apresiasi puisi]]></category>
		<category><![CDATA[facebooker]]></category>
		<category><![CDATA[penyair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4564</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari Pak Riyadi, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan mengharu-biru kepekaan nurani. Namun, baru kali ini saya sempat menikmati beberapa puisi yang merupakan “bunga rampai” dari sejumlah penyair yang tergabung dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">B</span>eberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman sebuah antologi puisi “Ruang Jingga” dari <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://riyadiwp.wordpress.com/" title="Pak Riyadi">Pak Riyadi</a>, seorang sahabat dan rekan sejawat dari Purworejo, yang piawai merawi kata-kata seperti menjadi “mantra” yang mampu “menghipnotis” dan mengharu-biru kepekaan nurani. Namun, baru kali ini saya sempat menikmati beberapa puisi yang merupakan “bunga rampai” dari sejumlah penyair yang tergabung dalam sebuah group jejaring sosial Facebook bertajuk “Pencinta Puisi” yang dibidani kelahirannya oleh <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://riniintama.wordpress.com/" title="Rini Intama">Rini Intama</a> ini.</p>
<div style="text-align:center"><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TGg8ApcHaHI/AAAAAAAABmg/SKa1IHk2Eyc/ruang%20jingga.jpg" alt="ruang jingga" width="250" height="278" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TGg89yqtC0I/AAAAAAAABms/rivDCby59fM/ruang%20jingga3.jpg" alt="ruang jingga" width="315" height="278" /></div>
<p>Ada 12 penyair yang karya-karyanya terkumpul dalam antologi ini, di antaranya Rini Intama (Jakarta), Ki Gambuh R. Basedo (Rembang), Riyadi (Purworejo), Lendy Soekarno (Blitar), Restu Hariyanto (Medan), Nanang Rusmana (Kuningan), Iin Syah (Padang), Bening Hati (Riau), Anna Althafunnisa (Singapura), Hozaini Geresis (Malang), Afrizal (Mojokerto), dan Banyu Segara Pantura (Cirebon). Dari 12 penyair tersebut, yang kebetulan saya kenal dekat hanya Pak Riyadi, hehe &#8230;. yang juga salah seorang pengurus “teras” Agupena Cabang Purworejo. Ada 8 puisi karyanya yang dimuat dalam antologi yang diterbitkan oleh <strong>Q Publisher </strong>ini, yakni “Senandung Risau” (hal. 18), “Pohon Imaji” (hal. 19), “Jeruji Kematian” (hal. 20), “Serambi Senja” (hal. 21), “Kidung Minggu Pagi” (hal. 22), “Ketika Diri Tak Mampu Memilih” (hal. 23), “Desak Sunyi” (hal. 24), dan “Saksi Alami” (hal. 25). </p>
<p>Agar Sampeyan tak penasaran, silakan nikmati salah satu karya Pak Riyadi berikut ini!</p>
<blockquote><p><strong>﻿﻿Serambi Senja</strong></p>
<p>serukan beban ke bumi tanam<br />
membujuk mawar malu terkapar<br />
bukan sesat jalan pikiran<br />
semata rindu hati berdebar</p>
<p>betapa sayup-sayup cahaya siang berbondong<br />
pada guratmu cakrawala memudar<br />
tanya mengapa sebagian darimu omong kosong<br />
hanya untuk menyesatkan diri kian lapar terkapar</p>
<p>senja merah bertabur amarah<br />
kelam membumi menebing sunyi<br />
birahi sukma melautkan sajadah</p>
<p>ranting pemanjat tak bergeming<br />
lembut udara mengintai masa<br />
soneta rasa menahan lengking<br />
***</p></blockquote>
<p>Lirik yang indah, bukan? Terbitnya “Ruang Jingga” makin membuktikan bahwa jejaring sosial semacam Facebook bisa dijadikan sebagai media untuk memadukan kreativitas banyak orang dari berbagai latar belakang. Sungguh, sebuah upaya kreatif yang layak diapresiasi. Selamat buat Pak Riyadi, dkk., semoga derajat kepenyairannya makin eksis dan terus terpacu untuk melahirkan karya-karya puisi kreatif yang indah dan eksotis. </p>
<p>Yang tidak kalah penting, semoga terbitnya “Ruang Jingga” makin inspiratif dan terus mengilhami para penyair muda yang kini mulai eksis menemukan jati diri kepenyairan lewat blog atau facebook untuk menerbitkan karya-karyanya dalam bentuk buku. Ayo, siapa menyusul? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/16/ruang-jingga-memadukan-kreativitas-melalui-jejaring-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tenggelamnya Gebyar Agustus-an di Balik Kesyahduan Ramadhan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/15/tenggelamnya-gebyar-agustus-an-di-balik-kesyahduan-ramadhan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/15/tenggelamnya-gebyar-agustus-an-di-balik-kesyahduan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 18:58:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Religi]]></category>
		<category><![CDATA[dirgahayu]]></category>
		<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>
		<category><![CDATA[patriotisme]]></category>
		<category><![CDATA[proklamasi kemerdekaan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4542</guid>
		<description><![CDATA[Saya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang publik. Spanduk, slogan, atau papan reklame (nyaris) tak bersentuhan dengan HUT ke-65 kemerdekaan RI itu. Semoga ini bukan pertanda kalau nilai-nilai nasionalisme telah luntur di negeri ini. Toh, spirit kepahlawanan dan nilai patriotisme tak semata-mata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: right;margin:0px -10px 0px 5px"><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.indonesia.go.id/" title="banner"><img class="expando" src="http://www.indonesia.go.id/id/images/hut_ri_65.gif" alt="banner" /></a></span><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>aya merasakan gebyar Agustus-an tahun ini tenggelam di balik kesyahduan Ramadhan. Hampir tak ada grengseng Agustus-an yang meruyak di ruang-ruang publik. Spanduk, slogan, atau papan reklame (nyaris) tak bersentuhan dengan HUT ke-65 kemerdekaan RI itu. Semoga ini bukan pertanda kalau nilai-nilai nasionalisme telah luntur di negeri ini. Toh, spirit kepahlawanan dan nilai patriotisme tak semata-mata diukur dari banyaknya umbul-umbul, slogan, atau spanduk yang bertaburan di tepi-tepi jalan atau gapura masuk kampung. Juga tak sebatas disimbolikkan dengan berbagai seruan dan retorika seperti yel-yel politisi yang sedang berada di atas mimbar kampanye.</p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" title="pejuang kemerdekaan" href="http://www.titiw.com/2009/08/28/buka-puasa-bareng-veteran-pejuang-kemerdekaan-ri/"><img class="expando" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs189.snc1/6333_135654088352_713483352_2358863_1319568_n.jpg" alt="pejuang kemerdekaan" width="300" /></a>Nilai nasionalisme atau patriotisme lebih tepat diukur dengan hati. Tidak kasat mata, tetapi bisa dirasakan getarannya. Seorang lelaki keriput yang tinggal di sebuah pelosok dusun, tetapi rela berjuang bertahun-tahun mencari sumber air demi menghidupi orang-orang di sekitarnya yang selalu menjerit dan tersekap dalam derita kekeringan berkepanjangan dari masa ke masa, bisa jadi lebih kuat nilai kecintaannya terhadap negara ketimbang seorang politisi yang gencar berkoar tentang nasionalisme, tetapi selalu mangkir bersidang. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/doh.gif' alt='(doh)' class='wp-smiley' /> Meski si lelaki keriput tak bisa menafsirkan apa makna nasionalisme yang sesungguhnya, dalam kacamata kaum nasionalis sejati, potret nasionalisme-nya bisa jadi lebih gagah ketimbang mereka yang fasih bersilat lidah dan mengumbar retorika politik di atas podium atau forum-forum seminar, tetapi tak pernah memiliki sikap responsif terhadap nasib kaum dhuafa yang terus didera kepahitan dan derita hidup.</p>
<blockquote><p>Maka, saya pun tak terusik ketika tradisi “Jalan Sehat”, berbagai jenis lomba, panjat pinang, karnaval, atau berbagai event Agustus-an yang biasanya rutin digelar, tahun ini (nyaris) tenggelam dalam kesyahduan Umat Islam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Toh seandainya gebyar lahiriah semacam itu terpaksa digelar, tak seorang pun yang bisa menjamin kalau nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme yang acapkali didengung-dengungkan itu dengan sendirinya bakal menyatu secara emosional ke dalam hati dan nurani bangsa.</p></blockquote>
<p>Bahkan, bukan tidak mungkin malah bisa menjadi penghambat ke-khusyu’-an para pelaku ibadah puasa yang notabene tengah berusaha <a title="menemukan nilai kesejatian diri" href="http://sawali.info/2010/08/10/menemukan-nilai-kesejatian-diri-di-bulan-ramadhan/">menemukan nilai kesejatian diri</a> di tengah merajalelanya gaya hidup konsumtif, materialistik, dan hedonis. Kita juga mesti merelakan berlalunya moment tirakatan atau seremonial mengenang romantisme para pejuang kemerdekaan, meski tak harus melupakan jasa-jasa besar mereka yang telah membebaskan negeri ini dari cengkeraman kaum kolonial.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Nah, Dirgahayu Bangsaku, semoga pada HUT ke-65 kemerdekaan ini tetap memiliki spirit untuk melanjutkan perjuangan reformasi gelombang kedua guna mewujudkan kehidupan berbangsa yang makin sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Merdeka! </strong>***</p>
<p><strong>Keterangan:</strong><br />
Banner dikutip dari <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.indonesia.go.id/" title="www.indonesia.go.id">www.indonesia.go.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/15/tenggelamnya-gebyar-agustus-an-di-balik-kesyahduan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
