<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Sawali Tuhusetya</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 09:06:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong</title>
		<link>http://sawali.info/2010/03/12/cara-kreatif-mendidik-anak-ala/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/03/12/cara-kreatif-mendidik-anak-ala/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 09:01:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[dunia anak]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan anak]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan karier]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3269</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia parenting, nama Melly Kiong bukanlah nama baru. Dia sudah cukup lama dikenal sebagai perempuan karier yang sukses menerapkan pola pendidikan dan pengasuhan anak berbasis karakter. Seminar-seminarnya cukup mencerahkan, terutama bagi kaum perempuan yang ingin sukses menjadi sosok androgini; sukses di sektor publik sebagai perempuan pekerja sekaligus sukses di sektor domestik sebagai ibu rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">D</span>alam dunia <em>parenting</em>, nama Melly Kiong bukanlah nama baru. Dia sudah cukup lama dikenal sebagai perempuan karier yang sukses menerapkan pola pendidikan dan pengasuhan anak berbasis karakter. Seminar-seminarnya cukup mencerahkan, terutama bagi kaum perempuan yang ingin sukses menjadi sosok androgini; sukses di sektor publik sebagai perempuan pekerja sekaligus sukses di sektor domestik sebagai ibu rumah tangga. Demikian juga ketika dia tampil dalam acara <em>talkshow</em> di beberapa stasiun TV. Pandangan-pandangannya cukup mencerahkan. Kedekatannya dengan dunia anak-anak juga sungguh mengagumkan, termasuk ketika dia dengan amat sadar memberikan sentuhan perhatian dan pemberdayaan kepada anak-anak yang dinilai sedang menghadapi masalah sosial. Bahkan, Mbak Melly, di tengah kesibukannya yang menumpuk, masih bisa berbagi waktu dengan anak-anak asuhannya, dengan memberikan bekal keterampilan yang cocok dan pas dengan dunia mereka. <a href="http://sawali.info/2009/07/14/pola-pengasuhan-dan-pendidikan-anak-ala-melly-kiong/" title="seminar mbak melly">Ketika bertemu di Semarang beberapa waktu yang lalu</a>, Mbak Melly memberikan saya oleh-oleh hasil keterampilan anak-anak asuhannya yang sebagian besar menghadapi masalah sosial itu. </p>
<p><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S5nwWg0duqI/AAAAAAAABNw/T8zFLcQSbzc/s512/melly%201.jpg" alt="buku Mbak Melly" width="290" /><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S5nwW-A46iI/AAAAAAAABN4/fkllR8F-Yb0/s512/melly3.jpg" alt="buku Mbak Melly" width="290" /><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S5nwWxUhktI/AAAAAAAABN0/rBjBLYBVPGY/s576/melly2.jpg" alt="buku Mbak Melly" width="290" />Mbak Melly –demikian saya biasa menyapanya— tak hanya beretorika, tetapi benar-benar membuktikan apa yang dia katakan. Sangat beralasan kalau dia mendapatkan mendapatkan penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) untuk Ibu Rumah Tangga Penulis Buku Pedoman Parenting. Buku pertamanya <a href="http://sawali.info/2008/04/30/melly-kiong-dan-bukunya/" title="buku I Mbak Melly">“Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?”</a> yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo, Jakarta, bisa dibilang sukses membuka ruang kesadaran bagi kaum perempuan karier yang juga ingin sukses hidup berumah tangga.</p>
<p>Kini, buku kedua Mbak Melly “Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong” telah diterbitkan oleh Progressio Publishing, Jakarta, pada bulan Januari 2010. Dalam kacamata awam saya, buku kedua Mbak Melly setebal 118 halaman ini makin melengkapi eksistensi Mbak Melly dalam dunia parenting yang agaknya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan dan dinamika hidup Mbak Melly. </p>
<p>Lantas, pengalaman menarik seperti apa yang dituangkan Mbak Melly dalam bukunya ini? Simak saja kutipan berikut ini!</p>
<p>Secara umum proses keseluruhan pendidikan yang saya lakukan dapat disederhanakan meliputi 4 kelompok proses yaitu dialog, memuji, peraturan, dan pendampingan (coaching). Masing-masing proses tidak berdiri sendiri atau dapat diwakili oleh satu aktivitas saja melainkan bisa beberapa atau sekaligus. Contohnya dalam kegiatan jasa sebuah tong sampah, saya melakukan proses komunikasi, menegakkan peraturan, dan pendampingan melalui demonstrasi.</p>
<p><strong>1. Berdialog dan tulisan</strong><br />
Banyak sekali manfaat dialog (komunikasi dua arah) dengan anak-anak. Misalnya hubungan kita lebih dekat, akrab, tukar pikiran, berbagi perasaan, mengajarkan pengalaman, menambahkan pengetahuan, mengetahui masalah yang dihadapi anak, dan lain-lain. Seperti yang sering saya lakukan dengan Matthew dan Julian, saya menanamkan nilai-nilai moral pada saat berdialog. Cara lain berkomunikasi adalah melalui tulisan. Saya membiasakan diri menulis memo kecil atau menuliskan hal-hal penting di buku penghubung, kertas pesan tempel, atau papan tulis. Salah satu manfaat yang sangat saya rasakan besar adalah kedekatan. Matthew dan Julian selalu merasa dekat dengan saya walaupun saya sedang di kantor karena mereka bisa membaca pesan-pesan saya melalui tulisan-tulisan di memo. Pasti anak-anak akan senang membacanya berulang-ulang saat di sekolah. Jika di rumah, saat anak-anak melewati tulisan di papan tulis atau pesan tempel, pasti dia akan teringat saya. Selain itu, metoda komunikasi tertulis membuat anak tidak akan mudah lupa akan pesan kita.</p>
<p><strong>2. Memuji perilaku baik </strong><br />
Ketika di kantor atau tempat kerja, saya akan menjadi sangat bersemangat jika pekerjaan saya diapresiasi baik oleh atasan, apalagi jika dipuji. Nah, demikian pula dengan anak-anak. Kebiasaan baik di kantor dalam menghargai hasil pekerjaan saya terapkan di rumah. Jika Matthew atau Julian melakukan hal-hal baik saya akan memuji dan memeluknya walau mungkin bagi orang lain hal-hal itu sangat sepele. Mereka menjadi bersemangat dalam melakukan tugas-tugas rutinnya seperti mempersiapkan perlengkapan sekolah, mengerjakan PR, merapikan meja belajar, dan lain-lain. Karena kita tidak bisa setiap saat melihat pencapaian-pencapaian baik mereka, maka kita harus merancang sistem penghargaan yang kreatif. Misalnya dengan memberikan stiker pada jadwal yang dapat mereka laksanakan dengan disiplin. Tidak lupa saya memberikan iming-iming hadiah pada pencapaian jumlah stiker tertentu. Hal ini dapat lebih memacu mereka untuk lebih berdisiplin dalam melakukan hal-hal baik untuk kepentingan mereka kelak.</p>
<p><strong>3. Peraturan </strong><br />
Konon dahulu kala, ketika jumlah orang sangat sedikit di suatu negara tidak diperlukan peraturan lagi karena raja dapat mengawasi semua warganya setiap saat. Namun ketika jumlah rakyat semakin banyak dan wilayah semakin luas, raja kewalahan melakukan pengawasan. Maka disusunlah peraturan-peraturan untuk memastikan rakyat mematuhi kebijakan raja. Demikian pula jika kita selalu dapat mengikuti seluruh kegiatan anak-anak, dari mulai bangun tidur hingga saat mau tidur lagi. Tetapi saat waktu kita di rumah sangat terbatas serta anak-anak semakin besar, maka sudah tidak memungkinkan lagi mengandalkan pengawasan kita seorang diri.</p>
<p>Kita memerlukan bantuan orang lain dan anak-anak itu sendiri untuk turut mengawasi atau memastikan semuanya berjalan sesuai harapan bersama. Saat kita mendelegasikan tugas-tugas kita pada pengasuh atau pembantu di rumah, maka cara yang paling tepat adalah membuat peraturan tertulis yang harus ditaati oleh anak-anak kita sehingga pengasuh dapat memastikannya. Selain itu, adanya peraturan tertulis juga memastikan pengasuh menjalankan tugas yang kita delegasikan. Demikian pula dengan anak-anak. Dengan cara yang demokratis kita bisa menyusun peraturan-peraturan unik untuk setiap anak dengan cara mendiskusikannya dengan mereka. Selain lebih realistis untuk dapat dijalankan anak-anak, peraturan yang disusun bersama akan mengundang rasa tanggung jawab dan rasa bangga karena terlibat dalam menentukan hak-hak dirinya. </p>
<p>Ada hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam penegakkan peraturan yaitu ketegasan dalam melaksanakan sanksi. Seringkali orang tua merasa iba atau tidak tega melihat buah hatinya menjalani hukuman akibat pelanggaran peraturan. Jika hal ini dilakukan, maka anak-anak akan belajar mengenali kelemahan peraturan. Maka hampir dapat dipastikan peraturan itu menjadi tidak efektif. Cobalah untuk menguatkan diri untuk mengorbankan perasaan demi kebaikan semua. Dengan peraturan yang tegas, anak-anak belajar menghormati setiap peraturan baik di sekolah, di masyarakat, jalan raya, atau bahkan dalam bernegara. Anak-anak akan memiliki kepribadian jujur, taat asas, disiplin, dan adil.   </p>
<p><strong>4. Coaching </strong><br />
Mendidik anak-anak di rumah tentu harus berbeda dibandingkan dengan pendidikan di sekolah. Selain perbandingan jumlah guru dan anak yang tidak memungkinkan efektif, sebagai orang tua kita memiliki hubungan emosi berupa kasih sayang yang tulus. Untuk itu sangat memungkinkan jika kita dapat mendampingi secara intens pada setiap proses pembelajaran hal-hal baru. Kita harus membangun kedekatan secara fisik dan psikologis terutama dalam pembentukan mental atau moral anak. Nah, metoda pembelajaran dengan mengutamakan kedekatan fisik dan emosi tersebut dinamanakan pendampingan (coaching).</p>
<p>Dalam proses pendampingan, kita harus mengenali kondisi sebenarnya anak. Misalnya pada saat saya mengajari cara mengupas buah salak, saya menanyakan terlebih dahulu kepada Matthew apakah dia sudah bisa membuka sendiri. Langkah selanjutnya adalah memberikan contoh secara konkret apa yang sedang kita ajarkan. Setelah itu bertanya, apakah anak sudah mengerti dan ingin mencoba. Jika belum berani mencoba, berilah dorongan yang positif. Kemudian beri kesempatan anak untuk mencoba tanpa intervensi kita. Biarkan anak melakukan kesalahan atau mengalami sedikit risiko yang tidak sangat membahayakan. (hal. 15-20)</p>
<p>Sebuah model pendidikan yang benar-benar kreatif dan mencerahkan. Ketika orang tua makin disibukkan oleh berbagai persoalan di tengah persaingan hidup global yang makin kompetitif, buku &#8220;how to&#8221; yang praktis dan tak terlalu banyak mengumbar teori, agaknya sangat diperlukan. Oleh karena itu, jauh sebelum buku ini diterbitkan, saya dengan senang hati memberikan endorsment berikut ini. </p>
<blockquote><p>Sebuah buku inspiratif yang menunjukkan bagaimana orang tua mesti bersikap dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak. Sang penulis tak hanya berteori, tetapi benar-benar disarikan berdasarkan bukti-bukti empirik dan kepekaan intuitifnya sebagai sosok aktivis yang sudah lama bergerak dalam aksi-aksi kemanusiaan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menjelajahi dan mengakrabi dunia anak-anak, sehingga anak-anak masa depan negeri ini bisa tumbuh dan berkembang secara wajar; bukan melalui cara-cara indoktrinatif dan dipaksakan. Model-model semacam inilah yang selama ini hilang dalam dunia pendidikan kita, baik dalam ranah formal maupun non-formal. Ketika nilai-nilai modern dan global demikian deras menggerus sendi-sendi peradaban bangsa, buku ini mengingatkan kita bahwa nilai-nilai humanis itu belum mati. Kita masih memiliki cara untuk bisa berkiprah menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa dengan membangun fondasi pendidikan karakter yang kokoh. (Sawali Tuhusetya, seorang pendidik dan blogger).</p></blockquote>
<p>Nah, buku ini juga dilengkapi endorsment dari beberapa figur publik yang sudah amat kita kenal, di antaranya Jaya Suprana (budayawan dan pendiri MURI), Nining W. Permana (Managing Director Tupperware Indonesia), Fidelis Waruwu, M.Sc. Ed. (pendidik, pedagog, dan dosen di Fak. Psikologi Universitas Tarumanegara, Jakarta), Jansen H. Sinamo (Guru Etos Indonesia), Asteria Maria S. (Kepala SMP Permai), Yindry Huang (pengusaha muda), Munif Chatif (pakar Multiple Intelligence, penulis buku best-seller Sekolahnya Manusia), Edy Zaqeus (penulis best-seller, Writer Coach, Trainer, dan konsultan), Dra. Anita L. Tobing (Kepala SD Tiara Kasih), Prasetya M. Brata (narasumber”Provokasi” Smart FM Network), Anthony Dio Martin (Direktur HR Excellency), Soraya Haque (presenter TV dan tenaga penyuluh), Dr. Ponijan Liaw (penulis buku best-seller), dan Shahnaz Haque-Ramadhan (Indonesia Siesta Delta FM).  </p>
<p>Ya, ya, begitulah sekilas sosok dan peran Mbak Melly yang tertuang dalam buku barunya ini. Pada bagian penutup, Mbak Melly tak lupa menyisipkan pesan moral yang layak direnungkan buat para orang tua seperti berikut ini.</p>
<blockquote><p>Jadi, yang memegang peranan terpenting adalah kita sebagai orang tua. Mengutip perkataan Ayah Edy, “Kalau kita lengah, maka lingkunganlah yang akan mengambil alih pendidikan anak-anak kita. </p>
<p>&#8220;Kalau bukan kita siapa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau bukan sekarang kapan lagi?&#8221;</p>
<p>Mari kita bersatu mendidik dengan kreatif mulai dari rumah. Kita saling berbagi dan saling  mengingatkan. </p>
<p>Akhir kata, saya mengucapkan banyak terima kasih. Dengan membeli buku ini, sudah membuktikan bahwa bapak-bapak dan ibu-ibu setuju untuk menjadikan generasi anak-anak kita menjadi generasi yang berbudi luhur, berdaya juang, serta berbudi pekerti. Tentunya kita berharapan besar bahwa anak-anak kita akan menjadi generasi pengubah dunia. </p></blockquote>
<p>Nah, seiring dengan tantangan peradaban global yang makin rumit dan kompleks, pendidikan anak agaknya tak hanya cukup diserahkan kepada institusi pendidikan formal semacam sekolah <em>an-sich</em>, tetapi juga perlu ada sinergi dan komunikasi efektif dengan orang tua sebagai pendidik utama di rumah. Kaum perempuan sebagai &#8220;pusat peradaban&#8221; sang anak agaknya juga perlu menemukan pola pengasuhan dan pendidikan yang lebih efektif dan kreatif sehingga anak-anak tidak kehilangan perhatian dan kasih sayang, meskipun sang ibu sibuk berkarier di luar pagar domestik. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Tuesday, 14 July 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/07/14/pola-pengasuhan-dan-pendidikan-anak-ala-melly-kiong/" title="Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak ala Melly Kiong">Pola Pengasuhan dan Pendidikan Anak ala Melly Kiong</a> (113)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/03/12/cara-kreatif-mendidik-anak-ala/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik</title>
		<link>http://sawali.info/2010/03/09/ujian-nasional-mengebiri-potensi/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/03/09/ujian-nasional-mengebiri-potensi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 12:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Permendiknas]]></category>
		<category><![CDATA[POS UN]]></category>
		<category><![CDATA[potensi siswa]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3261</guid>
		<description><![CDATA[Jika tak ada aral melintang, para siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK akan menempuh Ujian Nasional (UN) utama pada 22 – 26 Maret 2010. Sedangkan, siswa SMP/MTs dan SMPLB pada 29 Maret – 1 April 2010. Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN tahun ini ada UN ulangan yang diperuntukkan bagi siswa yang tidak lulus. Itulah sebabnya, jadwal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">J</span>ika tak ada aral melintang, para siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK akan menempuh Ujian Nasional (UN) utama pada 22 – 26 Maret 2010. Sedangkan, siswa SMP/MTs dan SMPLB pada 29 Maret – 1 April 2010. Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN tahun ini ada UN ulangan yang diperuntukkan bagi siswa yang tidak lulus. Itulah sebabnya, jadwal UN tahun ini dipercepat, sehingga siswa yang mengikuti UN ulangan masih memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan jenjang berikutnya. UN ulangan untuk siswa SMA/MA, SMALB, dan SMK berlangsung 10 – 14 Mei 2010, sedangkan untuk siswa SMP/MTs dan SMPLB berlangsung 17 – 20 Mei 2010.</p>
<p><img src="http://school-magz.com/wp-content/uploads/2009/12/tolak-ujian-nasional.jpg" alt="UN" width="300" /><img src="http://seandanan.files.wordpress.com/2009/12/1240231219f-20-un_sman_1_lhokseumawe-idris-bendung.jpg" alt="UN" width="300" />Momen-momen semacam itu, diakui atau tidak, telah membuat banyak pihak cemas dan khawatir. Guru mengerahkan sekian jurus untuk memberikan trik terbaik buat siswa didiknya, orang tua terus memberikan ruang dan waktu kepada anaknya untuk ikut les sana-sini, siswa dengan segala keterbatasan dirinya dipaksa harus memasuki dunia yang sarat persaingan, pejabat pun tak kalah sibuk menggelontorkan sejumlah kebijakan agar institusi dan daerahnya bisa terangkat citranya lewat hasil UN yang bagus. Dengan kata lain, UN telah menciptakan situasi yang memaksa para pemangku kepentingan beradu strategi untuk mendapatkan hasil terbaik. Sepanjang strategi yang dipilih mengedepankan nilai kejujuran, sudah pasti UN bisa menjadi momen yang tepat sebagai “starting point” peningkatan mutu pendidikan. Namun, persoalannya menjadi lain ketika banyak pihak yang menempuh cara-cara curang untuk meluluskan siswa. Ironisnya, itulah realitas sosial yang terjadi dari tahun ke tahun. UN selalu diwarnai kecurangan, tetapi (nyaris) tak ada tindakan tegas. UN yang seharusnya bisa menjadi “starting point” peningkatan mutu, justru telah menjadi awal pembusukan proses pendidikan. </p>
<p>Kecurangan UN yang terjadi, baik secara terselubung maupun terang-terangan, dalam jangka pendek mungkin bisa menolong siswa dari ketidaklulusan. Namun, dalam jangka panjang, justru akan berdampak buruk terhadap kualitas generasi masa depan. Anak-anak akan belajar dari lingkungan dan situasi yang membentuknya. Ketika kecurangan dibiarkan, cara-cara instan ditempuh untuk menggapai sukses, maka yang terjadi kelak adalah lahirnya generasi yang memuja gaya hidup instan, nihil apresiasinya terhadap budaya proses dan kerja keras, dan merajalelanya sikap hidup pragmatis yang membahayakan masa depan bangsa. </p>
<blockquote><p>Pendidikan pada hakikatnya merupakan investasi masa depan. Buahnya baru bisa dipetik dalam kurun waktu antara 15 hingga 25 tahun mendatang. Kalau sejak dini anak-anak masa depan negeri ini sudah “diracuni” strategi potong kompas dalam meraih sukses semu, jangan salahkan mereka kelak kalau menjadi generasi bebal yang miskin nurani, menjadi pewaris semangat Machiavelli yang menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan, bahkan bukan mustahil kelak mereka akan menjadi generasi yang mau menang sendiri dengan menerapkan strategi ilmu permalingan yang tega menjual nilai kebenaran dan kejujuran demi memenangkan ambisi dan keserakahan. </p></blockquote>
<p>Dalam konteks demikian, UN yang salah urus setidaknya telah memiliki andil terhadap merebaknya  budaya instan lengkap dengan segala asesoris kecurangannya. Pendidikan yang seharusnya menjadi kawah candradimuka peradaban justru dianggap telah menjadi altar persembahan buat para dewa kebohongan dan kecurangan yang menghancurkan nilai-nilai luhur baku. Anak-anak jadi kehilangan semangat dan etos belajar. Buat apa belajar keras kalau pada akhirnya terkalahkan dan terkebiri oleh cara-cara curang dan ketidakjujuran. </p>
<p>Negeri kita memang sudah memiliki pengalaman cukup matang dalam penyelenggaraan UN. Namun, kebijakan pemerintah yang selalu abai terhadap berbagai kritik yang selama ini mengemuka dari para pengamat dan pemerhati dunia pendidikan, UN yang salah urus tetap jalan terus. Penentuan kriteria kelulusan dengan nilai terendah, misalnya, disadari atau tidak, telah mengebiri potensi siswa didik. Mereka yang memiliki talenta dan potensi majemuk diseragamkan dan dikerangkeng dalam proses homogenitas kompetensi. Agar dapat lulus, seorang siswa, misalnya, harus memenuhi kriteria “memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan, dengan nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya”. Ini artinya, seorang siswa yang mendapatkan nilai kurang dari 4,00 pada satu mata pelajaran, mustahil bisa lulus, meskipun nilainya bagus untuk mata pelajaran yang lain.</p>
<p>Saya mempunyai sebuah ilustrasi seperti ini. Si A, misalnya, mendapatkan nilai UN Matematika = 3,90, IPA = 7,50, Bahasa Indonesia = 9,60, dan Bahasa Inggris = 8,80, sehingga jumlah nilainya mencapai 29,80 dengan nilai rata-rata akhirnya mencapai 7,45. Dengan perolehan nilai seperti itu, si A jelas tidak akan lulus. Bandingkan dengan si B, misalnya, mendapatkan nilai UN 5,50 untuk semua mata pelajaran yang diujikan. Meskipun dengan jumlah nilai 22,00 dengan nilai rata-rata hanya 5,50, si B tetap bisa lulus dengan mulus. Dari sisi talenta dan potensi, seharusnya si A jelas memiliki kompetensi lebih jika dibandingkan dengan si B. Si A hanya memiliki kelemahan di satu bidang, yakni Matematika, tetapi memiliki banyak kelebihan di bidang yang lain, sedangkan si B memiliki kelemahan yang merata di seluruh bidang. Jika mau jujur, seharusnya si A yang lulus, sedangkan si B yang masih perlu dipertanyakan kompetensinya. Namun, akibat sistem UN yang salah urus dan mengebiri potensi siswa didik, banyak siswa hebat dan bertalenta yang mengalami nasib tragis. </p>
<p>Karena sudah diputuskan lewat Permendiknas dan diperkuat dengan Prosedur Operasi Standar (POS) oleh BSNP, mau atau tidak, kriteria kelulusan yang tidak berpihak kepada keberagaman potensi siswa didik semacam itu akan tetap digunakan sebagai acuan penentuan kelulusan tahun ini. Itu artinya, pelaksanaan UN tahun ini agaknya juga masih sulit menghindari kecurangan dan kebohongan. </p>
<p>Kita berharap, ada perubahan sistem UN secara signifikan untuk tahun-tahun mendatang. Kriteria kelulusan yang menggunakan nilai terendah idealnya dihapuskan dan cukup menggunakan nilai rata-rata sebagai penentu kelulusan. Dengan cara demikian, keberagaman talenta dan potensi siswa didik terakomodasi dan terhindar dari upaya sistematis untuk “membunuh” siswa hebat dan bertalenta. </p>
<p>Nah, selamat menempuh ujian nasional. Gunakan semboyan, “Saya tak peduli orang lain melakukan kecurangan, yang penting saya jujur dan ksatria.” ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Friday, 4 December 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/12/04/ujian-nasional-pasca-keputusan-ma/" title="Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA">Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA</a> (144)</li><li>Friday, 20 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/20/ujian-nasional-quovadis/" title="Ujian Nasional, Quo Vadis?">Ujian Nasional, Quo Vadis?</a> (116)</li><li>Wednesday, 17 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/17/geger-ujian-nasional-di-negeri-kelelawar/" title="Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar">Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar</a> (108)</li><li>Monday, 1 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/01/prahara-kembali-mengintai-dunia-pendidikan/" title="Prahara Kembali Mengintai Dunia Pendidikan">Prahara Kembali Mengintai Dunia Pendidikan</a> (134)</li><li>Wednesday, 17 December 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/12/17/terompet-ujian-nasional-itu-telah-ditiup/" title="Terompet Ujian Nasional Itu Telah Ditiup">Terompet Ujian Nasional Itu Telah Ditiup</a> (147)</li><li>Saturday, 30 August 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/08/30/ujian-nasional-un-jalan-terus/" title="Ujian Nasional (UN) Jalan Terus?">Ujian Nasional (UN) Jalan Terus?</a> (56)</li><li>Sunday, 22 June 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/06/22/refleksi-pasca-ujian-nasional/" title="Refleksi Pasca-Ujian Nasional">Refleksi Pasca-Ujian Nasional</a> (23)</li><li>Friday, 2 May 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/05/02/benarkah-dunia-pendidikan-kita-sedang-sakit/" title="Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &#8220;Sakit&#8221;?">Benarkah Dunia Pendidikan Kita Sedang &#8220;Sakit&#8221;?</a> (39)</li><li>Monday, 22 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/22/dari-lcc-hingga-bedah-skl-2010/" title="Dari LCC hingga Bedah SKL UN 2010">Dari LCC hingga Bedah SKL UN 2010</a> (71)</li><li>Friday, 5 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/05/ujian-nasional-dan-robotisasi/" title="Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik">Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik</a> (147)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/03/09/ujian-nasional-mengebiri-potensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>120</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Workshop Nasional Pembuatan Blog bagi Guru</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/26/workshop-nasional-pembuatan-blog/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/26/workshop-nasional-pembuatan-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 11:45:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[aktivitas menulis]]></category>
		<category><![CDATA[blog guru]]></category>
		<category><![CDATA[profesionalisme guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3256</guid>
		<description><![CDATA[Dalam upaya membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru, Agupena Cabang Purbalingga bekerja sama dengan Agupena Prov. Jawa Tengah, akan menggelar sebuah Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi dengan mengusung tema “Membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog”. Pelaksanaan workshop tersebut dilandasi oleh sebuah pemikiran bahwa di tengah pesatnya perkembangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">D</span>alam upaya membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru, Agupena Cabang Purbalingga bekerja sama dengan Agupena Prov. Jawa Tengah, akan menggelar sebuah <em><strong>Workshop Nasional Pembuatan Blog untuk Peningkatan Profesionalitas Guru dan Eksistensi Organisasi </strong></em>dengan mengusung tema <strong>“Membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog”</strong>. Pelaksanaan workshop tersebut dilandasi oleh sebuah pemikiran bahwa di tengah pesatnya perkembangan teknologi internet seperti saat ini, sudah saatnya guru mengoptimalkan fungsi internet sebagai media virtual yang mampu menunjang aktivitas dan budaya menulis yang sangat besar manfaatnya dalam upaya mengembangkan profesionalisme guru. Ini berarti, blog dapat dijadikan sebagai media sekaligus sumber belajar yang interaktif, aktif, inovatif, kreatif, efektif, menarik, dan menyenangkan.</p>
<p><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-hal-1.jpg" width="590" alt="workshop nasional" /><img src="http://agupenajateng.net/wp-content/uploads/2010/02/Brosur-Hal-2.jpg" width="590" alt="workshop nasional" /></p>
<p>Akan tetapi, kenyataan menunjukkan masih banyak guru yang belum memanfaatkan blog sebagai media untuk mengembangkan aktivitas dan budaya menulis. Wilayah tugas dan kinerja guru semata-mata hanya dibatasi empat dinding ruang kelas sehingga belum mampu memberikan inspirasi kepada siswa didiknya untuk menjadi generasi masa depan yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual. Dalam konteks demikian, perlu ada langkah konkret yang bisa menggugah semangat, memberikan inspirasi, dan meningkatkan kemampuan guru dalam membuat blog dan mengelolanya  melalui workshop nasional pembuatan blog. </p>
<p>Workshop ditujukan untuk guru-guru di Jawa Tengah, dengan harapan dapat memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan profesionalitas guru dan eksistensi organisasi, serta menyosialisasikan pentingnya pemanfaatan blog sebagai media untuk mengabadikan dan memublikasikan pemikiran-pemikiran kritis, cerdas, dan kreatif. Adapun tujuan workshop, di antaranya: (1) mengembangkan kompetensi profesional guru dengan memanfaatkan blog sebagai media untuk mengembangkan aktivitas dan budaya menulis; (2) menambah informasi dan memperluas wawasan keilmuan para guru tentang media virtual sehingga dapat digunakan sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri sesuai bidang keahliannya; (3) membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru melalui blog sehingga guru dapat berkiprah dalam meningkatkan kualitas pendidikan; dan (4) mengeksiskan organisasi melalui pemanfaatan blog.</p>
<p>Workshop dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Maret 2010 pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB di Andrawina Convention Center Owabong Cottage, Jalan Raya Owabong Nomor 1, Bojongsari, Purbalingga, Jawa Tengah. Tempatnya cukup representatif dalam ruangan ber-AC, hotspot-area, luas, aman, dan nyaman, serta inspiratif untuk pembuatan blog. Tampil sebagai Keynote Speaker adalah Heny Ruslanto, SE (Kepala Dinas Pendidikan Purbalingga) dengan narasumber: Dedi Dwitagama (trainer dan motivator bidang pendidikan, TIK, ICT Blogs, Public Speaking, dll.) dari Jakarta dan Sawali Tuhusetya (guru, blogger, penulis buku) dari Kendal. Biaya kontribusi setiap peserta sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah). Teknik pendaftaran selengkapnya bisa dilihat pada brosur atau melalui Ibu Septiningsih, M.Pd. kontak person: 081327648607.</p>
<p>Para pengurus Agupena Provinsi Jawa Tengah, pengurus Agupena kabupaten/kota se-Jawa Tengah, pengurus Agupena Kabupaten Purbalingga, pengurus organisasi profesi dan sosial (FIG, ISPI, PGRI, Pramuka, dll.) Kabupaten Purbalingga, Guru TK, SD, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA Kabupaten Purbalingga, pengelola Lembaga Pendidikan di Kabupaten Purbalingga, pengurus dan anggota MGMP SMP, MTs, SMA/SMK/MA Kab. Purbalingga, dan pengelola website sekolah di Purbalingga dan sekitarnya, diharapkan ikut serta dan berperan aktif dalam workshop tersebut. Informasi selengkapnya bisa dibaca <a href="http://agupenajateng.net/2010/02/22/workshop-nasional-pembuatan-blog-untuk-peningkatan-profesionalitas-guru-dan-eksistensi-organisasi-agupena-purbalingga-2010/" title="agupenajateng.net">di sini</a>. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Monday, 16 February 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/02/16/blog-agregator-agupena-jawa-tengah/" title="Blog Agregator Agupena Jawa Tengah">Blog Agregator Agupena Jawa Tengah</a> (166)</li><li>Thursday, 6 August 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/08/06/kgi-dan-mitos-guru-gaptek/" title="KGI dan Mitos Guru Gaptek">KGI dan Mitos Guru Gaptek</a> (73)</li><li>Friday, 6 February 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/02/06/agupena-jawa-tengah-dan-ranah-pemikiran-guru-kreatif/" title="AGUPENA Jawa Tengah dan Ranah Pemikiran Guru Kreatif">AGUPENA Jawa Tengah dan Ranah Pemikiran Guru Kreatif</a> (125)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/26/workshop-nasional-pembuatan-blog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>246</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Blog Free in Blogdive</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/26/blog-free-in-blogdive/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/26/blog-free-in-blogdive/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Feb 2010 06:23:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3245</guid>
		<description><![CDATA[You want to have a free blog? Blogdive provide attractive services using wordpress platform. The way is easy. You just click register, fill out the form as screenshoot below.
Register at Blogdive
Only in a few minutes, you already have a blog with an interesting design. You can select multiple domains are provided, such as:
wblog.ro
afacere.biz
acasa.info
destept.com
isfast.com
corrupted.biz
dreams.ro
sinners.ro
justpost.com
iubire.info
vedete.info
unixclan.org
cracker.ro
evenimente.com
blogdive.com
Please register in [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">Y</span>ou want to have a free blog? <a href="http://blogdive.com/">Blogdive</a> provide attractive services using wordpress platform. The way is easy. You just click register, fill out the form as screenshoot below.</p>
<p><span style="float:right;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4dnPy4sMtI/AAAAAAAABNI/l4-rCmnlxBY/register.jpg" alt="testimage" /><br />Register at <a href="http://blogdive.com/" title="Blogdive.com">Blogdive</a></span></p>
<p>Only in a few minutes, you already have a blog with an interesting design. You can select multiple domains are provided, such as:</p>
<p>wblog.ro<br />
afacere.biz<br />
acasa.info<br />
destept.com<br />
isfast.com<br />
corrupted.biz<br />
dreams.ro<br />
sinners.ro<br />
justpost.com<br />
iubire.info<br />
vedete.info<br />
unixclan.org<br />
cracker.ro<br />
evenimente.com<br />
blogdive.com</p>
<p>Please register in <a href="http://blogdive.com/">Free Wordpress Blog</a> or <a href="http://blogdive.com/">Free Blogging</a>!</p>
<p>Please register immediately! The opportunity will never come twice! Enjoy!</p>
<p><a href="http://www.buyblogreviews.com" title="buyblogreviews.com"><img src="http://www.buyblogreviews.com/sponsoredImages/sponsoredpost.gif" alt="BuyBlogReviews.com" border="0" /></a></p>
<h4  class="related_post_title">Random Posts</h4><ul class="related_post"><li>Saturday, 12 January 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/01/12/perlukah-kita-menjadi-narcisus/" title="Perlukah Kita Menjadi Narcisus?">Perlukah Kita Menjadi Narcisus?</a> (51)</li><li>Thursday, 24 January 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/01/24/marto-klawung/" title="Marto Klawung">Marto Klawung</a> (31)</li><li>Friday, 21 March 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/03/21/kopdar-dan-sentuhan-nilai-kemanusiaan/" title="Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan">Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan</a> (27)</li><li>Thursday, 16 October 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/10/16/menagih-janji-politisi-di-negeri/" title="Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)">Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1)</a> (163)</li><li>Monday, 6 August 2007 -- <a href="http://sawali.info/2007/08/06/puisi-heroik-dan-kepekaan-akal-budi/" title="Puisi Heroik dan Kepekaan Akal Budi">Puisi Heroik dan Kepekaan Akal Budi</a> (4)</li><li>Thursday, 15 October 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/10/15/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/" title="Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas">Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas</a> (111)</li><li>Tuesday, 23 October 2007 -- <a href="http://sawali.info/2007/10/23/fasisme-dalam-dunia-pendidikan-2/" title="&#8220;Fasisme&#8221; dalam Dunia Pendidikan">&#8220;Fasisme&#8221; dalam Dunia Pendidikan</a> (0)</li><li>Saturday, 12 December 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/12/12/suicide-potret-manusia-global-yang-sarat-konflik/" title="Suicide: Potret Manusia Global yang Sarat Konflik">Suicide: Potret Manusia Global yang Sarat Konflik</a> (138)</li><li>Friday, 7 September 2007 -- <a href="http://sawali.info/2007/09/07/siapa-mau-jadi-bloger-pemberontak/" title="Siapa Mau Jadi Bloger &#8220;Pemberontak&#8221;?">Siapa Mau Jadi Bloger &#8220;Pemberontak&#8221;?</a> (17)</li><li>Sunday, 11 January 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/01/11/perang-dan-anak-anak/" title="Perang dan Anak-anak">Perang dan Anak-anak</a> (26)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/26/blog-free-in-blogdive/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari LCC hingga Bedah SKL UN 2010</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/22/dari-lcc-hingga-bedah-skl-2010/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/22/dari-lcc-hingga-bedah-skl-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Feb 2010 02:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[bedah SKL UN]]></category>
		<category><![CDATA[silaturahmi]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3240</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 18 Februari 2010, bertempat di SMP 3 Patebon, Kendal, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi yuri Lomba Cerdas-Cermat (LCC) Tingkat SMP Kabupaten Kendal. LCC dimaksudkan sebagai ajang seleksi untuk memilih satu regu terbaik yang akan mewakili Kab. Kendal di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Enam regu yang masuk final (SMP 1 Boja, SMP [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">K</span>amis, 18 Februari 2010, bertempat di SMP 3 Patebon, Kendal, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi yuri Lomba Cerdas-Cermat (LCC) Tingkat SMP Kabupaten Kendal. LCC dimaksudkan sebagai ajang seleksi untuk memilih satu regu terbaik yang akan mewakili Kab. Kendal di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Enam regu yang masuk final (SMP 1 Boja, SMP 1 Weleri, SMP 1 Plantungan, SMP 3 Patebon, SMP 2 Kendal, dan SMP 1 Sukorejo), merupakan regu terbaik yang telah mengikuti seleksi di tingkat subrayon masing-masing. Ini artinya, dari sisi kapasitas dan kemampuan, anak-anak yang tampil di final merupakan anak-anak pilihan.</p>
<p><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnGwpJ-sI/AAAAAAAABLw/8hDC2I1PjgU/P2040001.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Suasana LCC berlangsung (2).</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnHNTpDiI/AAAAAAAABL0/jq_20kdJI-w/P2040002.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Suasana LCC berlangsung (1). </span></p>
<p>LCC digelar melalui tiga babak, yakni wajib, lemparan, dan pilihan. Suasana LCC memang berbeda dengan ajang kompetisi yang lain. Suasana persaingan yang terbangun mampu menciptakan adrenalin persaingan untuk menjadi yang terbaik. Hal itu tampak jelas dari raut wajah setiap regu yang menampakkan semangat persaingan berbaur dengan perasaan nervous. Setelah tiga babak terlewati diperoleh skor sebagai berikut:</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="199" valign="top">Nama Regu/Sekolah</td>
<td width="60" valign="top">Skor</td>
<td width="84" valign="top">Keterangan</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu A: SMP 1 Sukorejo</td>
<td width="60" valign="top">1300</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu E: SMP 1 Weleri</td>
<td width="60" valign="top">1200</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu F: SMP 1 Boja</td>
<td width="60" valign="top">1200</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu C: SMP 3 Patebon</td>
<td width="60" valign="top">1100</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu B: SMP 2 Kendal</td>
<td width="60" valign="top">1075</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu D: SMP 1 Plantungan</td>
<td width="60" valign="top">600</td>
<td width="84" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Berdasarkan skor final, ada dua regu yang memiliki skor sama, yakni SMP 1 Weleri dan SMP 1 Boja. Sesuai dengan tata tertib, dua regu yang memiliki skor sama harus mengikuti kompetisi ulang melalui pertanyaan rebutan. Setelah melalui kompetisi ulang, akhirnya SMP 1 Weleri yang memiliki skor lebih tinggi daripada SMP 1 Boja. Berikut urutan kejuaraan dalam LCC Tingkat SMP Kabupaten Kendal Tahun 2010.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="199" valign="top">Nama Regu/Sekolah</td>
<td width="108" valign="top">Skor</td>
<td width="120" valign="top">Juara</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu A: SMP 1 Sukorejo</td>
<td width="108" valign="top">1300</td>
<td width="120" valign="top">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu E: SMP 1 Weleri</td>
<td width="108" valign="top">1200 + 100</td>
<td width="120" valign="top">2</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu F: SMP 1 Boja</td>
<td width="108" valign="top">1200</td>
<td width="120" valign="top">3</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu C: SMP 3 Patebon</td>
<td width="108" valign="top">1100</td>
<td width="120" valign="top">4</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu B: SMP 2 Kendal</td>
<td width="108" valign="top">1075</td>
<td width="120" valign="top">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="199" valign="top">Regu D: SMP 1 Plantungan</td>
<td width="108" valign="top">600</td>
<td width="120" valign="top">6</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dengan demikian, SMP 1 Sukorejo berhak mewakili Kabupaten Kendal untuk mengikuti LCC Tingkat Provinsi Jawa Tengah.</p>
<p>***</p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>abtu, 20 Februari 2010, saya diundang Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo untuk mengisi acara Bedah SKL UN Bahasa Indonesia SMP Tahun 2010 di SMA 7 Purworejo. Melalui Pak Riyadi, saya bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan sejawat di Kabupaten Purworejo. Ada sekitar 126 guru Bahasa Indonesia yang mengikuti acara itu. Meski datang terlambat karena perjalanan Magelang-Purworejo yang agak padat-merayap, acara tetap berlangsung dengan baik dan lancar.</p>
<p><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnHJabuBI/AAAAAAAABL4/9SjBDW5NBa4/skl1.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Baca puisi sebelum acara.</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnHcjytkI/AAAAAAAABL8/DQ_FZ1fklow/skl2.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Semangat Guru Purworejo. </span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnHX3eUZI/AAAAAAAABMA/oJRI7MbmBg0/skl3.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Diskusi dan dialog.</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S4HnTG0h21I/AAAAAAAABME/6IAN_dQhcbg/skl4.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Buka contekan. </span>Usai melakukan analisis dan bedah SKL, saya lebih banyak berdiskusi dan berdialog dengan rekan-rekan sejawat tentang kompetensi yang diujikan dalam UN sesuai dengan SKL (Standar Kompetensi Lulusan). Dari substansi materi, saya sangat yakin bahwa guru sudah menguasai konsep materi UN. Yang diperlukan adalah teknik yang tepat agar materi yang memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan tertinggi bisa dipahami dan dimengerti anak-anak dengan baik.</p>
<p>Yang tidak kalah penting adalah bagaimana menyiapkan mental anak-anak agar benar-benar dalam kondisi siap untuk menempuh UN, tanpa harus terbebani oleh harapan berlebihan untuk lulus dengan pretasi terbaik. Pengalaman menunjukkan, beban yang berlebihan justru membuat rasa percaya diri anak-anak cenderung menurun sehingga menghalalkan segala cara untuk bisa lulus.</p>
<p>Berdasarkan diskusi dan dialog dengan rekan-rekan sejawat, ditemukan beberapa soal UN, yang memiliki tingkat kerumitan tersendiri jika dikaji berdasarkan telaah soal, baik dari segi materi, konstruksi, bahasa/budaya, maupun kebenaran kunci jawaban/pedoman penskorannya. Ada soal yang memiliki pilihan jawaban benar ganda, ada juga soal, khususnya sastra, yang mereduksi pengetahuan anak tentang kegiatan berapresiasi sastra. Dalam konteks demikian, dibutuhkan penyusun soal UN yang benar-benar andal sehingga soal yang dihasilkan benar-benar memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.</p>
<p>Kita semua berharap UN berlangsung sukses, baik dari sisi penyelenggaraan maupun hasilnya. Setidaknya, kecurangan demi kecurangan yang terus terjadi tiap tahun bisa ditiadakan. Hal itu bisa terwujud apabila UN bukan menjadi satu-satunya penentu kelulusan, melainkan sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Friday, 27 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/27/dari-bedah-skl-un-hingga-koordinasi-agupena/" title="Dari Bedah SKL UN hingga Koordinasi Agupena">Dari Bedah SKL UN hingga Koordinasi Agupena</a> (37)</li><li>Tuesday, 9 March 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/03/09/ujian-nasional-mengebiri-potensi/" title="Ujian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik">Ujian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik</a> (120)</li><li>Friday, 5 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/05/ujian-nasional-dan-robotisasi/" title="Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik">Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik</a> (147)</li><li>Monday, 1 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/01/blogwalking-jalan-menuju-sehat/" title="Blogwalking: Jalan Menuju Sehat">Blogwalking: Jalan Menuju Sehat</a> (210)</li><li>Saturday, 19 December 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/12/19/pentas-seni-dan-malam-tahun-baru/" title="Pentas Seni dan Malam Tahun Baru 1431 Hijrah">Pentas Seni dan Malam Tahun Baru 1431 Hijrah</a> (129)</li><li>Friday, 4 December 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/12/04/ujian-nasional-pasca-keputusan-ma/" title="Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA">Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA</a> (144)</li><li>Monday, 30 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/30/ulang-tahun-ke-2-tpc-dan-martil-uu-ite-sebuah-refleksi/" title="Ulang Tahun ke-2 TPC dan Martil UU ITE: Sebuah Refleksi">Ulang Tahun ke-2 TPC dan Martil UU ITE: Sebuah Refleksi</a> (149)</li><li>Friday, 20 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/20/ujian-nasional-quovadis/" title="Ujian Nasional, Quo Vadis?">Ujian Nasional, Quo Vadis?</a> (116)</li><li>Saturday, 14 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/14/buku-tali-asih-dari-pakdhe-cholik/" title="Buku Tali Asih dari Pakdhe Cholik">Buku Tali Asih dari Pakdhe Cholik</a> (142)</li><li>Wednesday, 30 September 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/09/30/dari-halal-bihalal-hingga-bela-negara/" title="Dari Halal Bihalal hingga Bela Negara">Dari Halal Bihalal hingga Bela Negara</a> (147)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/22/dari-lcc-hingga-bedah-skl-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/18/pelantikan-pengurus-agupena-cabang/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/18/pelantikan-pengurus-agupena-cabang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 20:28:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[agupena]]></category>
		<category><![CDATA[dunia kepenulisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3235</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya mohon maaf karena lebih dari sepekan blog ini tidak ter-update. Bahkan, saya juga tak sempat merespon komentar atau blogwalking. Ada beberapa pekerjaan offline yang mesti harus saya sentuh dan selesaikan, hehe &#8230; Janji saya untuk memosting kegiatan Pelatikan Pengurus Agupena Cabang Kab. Cilacap, Kab. Semarang, dan Kota Semarang, serta Diskusi Kepenulisan yang telah berlangsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelumnya mohon maaf karena lebih dari sepekan blog ini tidak ter-update. Bahkan, saya juga tak sempat merespon komentar atau blogwalking. Ada beberapa pekerjaan offline yang mesti harus saya sentuh dan selesaikan, hehe &#8230; Janji saya untuk memosting kegiatan Pelatikan Pengurus Agupena Cabang Kab. Cilacap, Kab. Semarang, dan Kota Semarang, serta Diskusi Kepenulisan yang telah berlangsung Minggu, 14 Februari 2010 di LPMP Semarang pun baru sekarang bisa saya publikasikan.</p>
<p><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S3xMF-LwydI/AAAAAAAABKc/oSnTYWynsuw/diskusi5.JPG" width="287" alt="agupena" /><br />Menjelang Pelantikan</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S3xOf4Lng7I/AAAAAAAABK0/AFU9Cv_hzCQ/diskusi12.JPG" width="287" alt="agupena" /><br />Pengurus yang terlantik.</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S3xMF0-0dyI/AAAAAAAABKk/7epidHeTu9A/diskusi9.JPG" width="287" alt="agupena" /><br />Johan W, Wardjito S, dan Zulkarnaen SL. </span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S3xMGLkIGMI/AAAAAAAABKs/8L76k0miBSc/diskusi11.JPG" width="287" alt="agupena" /><br />Pemberian penghargaan.</span>Acara yang diikuti sekitar 50 peserta yang terdiri dari unsur calon pengurus Agupena Kota Semarang, calon pengurus Agupena Kabupaten Semarang, calon pengurus Agupena Kabupaten Cilacap, Pengurus Agupena Jawa Tengah,  dua perwakilan pengurus/anggota Agupena tingkat kabupaten/kota se-Jawa tengah, dan beberapa tamu undangan lainnya itu juga dihadiri oleh Sekretaris Umum Agupena Pusat, Bapak Naijan. Pada kesempatan tersebut, selain memberikan motivasi kepada segenap pengurus Agupena agar organisasi menjadi lebih eksis dalam membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru, secara khusus Bapak Naijan juga mohon kepada para pengurus untuk mendoakan Pak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, agar segera sembuh dari penyakit yang dideritanya.</p>
<p>Pelantikan pengurus cabang tersebut melengkapi 12 kepengurusan Agupena cabang yang telah terbentuk sebelumnya, yakni Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga,<a href="http://www.agupenakendal.co.cc/"> Kabupaten Kendal</a>, Kabupaten Kebumen, <a href="http://riyadi.purworejo.asia/">Kabupaten Purworejo</a>, Kabupaten Kebumen, <a href="http://agupenatmg.wordpress.com/">Kabupaten Temanggung</a>, Kabupaten Pekalongan, Kab dan Kota Magelang, Kabupaten Blora, <a href="http://agupena-banjarnegara.webs.com/">Kabupaten Banjarnegara</a>, dan  Kabupaten Pemalang. Semoga kelahiran Agupena cabang makin membuat Agupena jadi lebih berdaya dan mampu mendimaiskan aktivitas guru dalam ranah kepenulisan, sehingga kegelisahan guru dalam melakukan aktivitas menulis yang selama ini terhambat oleh berbagai alasan bisa terjembatani.</p>
<p>Usai pelantikan, acara dilanjutkan dengan diskusi kepenulisan dengan menampilkan Bapak Drs. Wardjito Soeharso, M.Sc (Pembina Agupena Jateng, Widyaiswara Badiklat Prop. Jateng, Penulis Buku) dan Bapak Johan Wahyudi, S.Pd., M.Pd (Juara 1 Lomba Penulisan Buku Pusbuk Depdiknas RI 2009) sebagai narasumber dengan moderator Bapak Drs. Zulkarnaen Syiri Lokesyawara, M.Eng. (Ketua Divisi Kerjasama Agupena Jateng). Diskusi berlangsung cukup hangat dan menarik. Terbukti dengan banyaknya respon dari para peserta, sehingga acara yang sedianya hanya berlangsung hingga pukul 13.00 WIB pun molor jadi pukul 13.30 WIB. Pada akhir acara, Agupena Jawa Tengah memberikan penghargaan kepada para penulis blog Agupena Jawa Tengah yang tulisannya mendapatkan kunjungan terbanyak dari para pembaca. Salah satu penulis yang mendapatkan penghargaan adalah Bapak Riyadi, salah satu pengurus Agupena Cabang Kab. Purworejo, setelah tulisannya yang berjudul “<a href="http://agupenajateng.net/2009/05/08/peningkatan-keterampilan-mendengarkan-bagian-ii/">Peningkatan Keterampilan Mendengarkan (Bagian II)&#8221;</a> terbaca sekitar 2.543 pembaca. Selamat atas penghargaan yang telah dicapai, semoga Pak Riyadi makin bersemangat dalam melahirkan pemikiran-pemikiran kreatif melalui tulisan.</p>
<p>Saya ucapkan selamat kepada para pengurus Cabang Agupena yang telah terlantik, semoga makin solid dan tak pernah berhenti untuk terus membangun semangat berbagi kepada rekan-rekan sejawat agar dunia pendidikan kita makin berkembang secara dinamis. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Thursday, 15 October 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/10/15/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/" title="Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas">Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas</a> (111)</li><li>Wednesday, 10 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/10/agupena-jawa-tengah-menjelang/" title="Agupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua">Agupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua</a> (143)</li><li>Monday, 29 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/29/mengubah-mind-set-guru-tentang-dunia-kepenulisan/" title="Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan">Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan</a> (115)</li><li>Sunday, 21 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/21/agupena-jawa-tengah-tak-ingin-jadi-asosiasi-guru-eksklusif/" title="Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif">Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif</a> (68)</li><li>Monday, 16 February 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/02/16/blog-agregator-agupena-jawa-tengah/" title="Blog Agregator Agupena Jawa Tengah">Blog Agregator Agupena Jawa Tengah</a> (166)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/18/pelantikan-pengurus-agupena-cabang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>125</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agupena Jawa Tengah: Refleksi Menjelang Tahun Kedua</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/10/agupena-jawa-tengah-menjelang/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/10/agupena-jawa-tengah-menjelang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 17:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[agupena]]></category>
		<category><![CDATA[budaya menulis]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3181</guid>
		<description><![CDATA[4Februari 2010, Agupena Jawa Tengah yang dibentuk oleh 29 (dua puluh sembilan) guru penulis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, genap berusia setahun. Kehadirannya jelas makin meramaikan lahirnya berbagai organisasi guru pasca-reformasi yang terus bermunculan. Setidaknya, ada dua tantangan mendasar yang mesti dihadapi Agupena Jateng dalam upaya menancapkan gerak dan dinamikanya di tengah kerumitan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">4</span>Februari 2010, Agupena Jawa Tengah yang dibentuk oleh 29 (dua puluh sembilan) guru penulis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah, genap berusia setahun. Kehadirannya jelas makin meramaikan lahirnya berbagai organisasi guru pasca-reformasi yang terus bermunculan. Setidaknya, ada dua tantangan mendasar yang mesti dihadapi Agupena Jateng dalam upaya menancapkan gerak dan dinamikanya di tengah kerumitan dan kompleksitas persoalan yang dihadapi dunia pendidikan kita, yakni tantangan internal dan eksternal. </p>
<p><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs109.snc1/4925_95777566218_544986218_2073607_288060_n.jpg" alt="Rakor" width="278" /><br /><a href="http://sawali.info/2009/06/29/mengubah-mind-set-guru-tentang-dunia-kepenulisan/" title="Semnas Penulisan Buku dan Karya Ilmiah">Semnas, 25 Juni 2009.</a></span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs161.snc1/6020_100162511218_544986218_2150777_1788055_n.jpg" alt="Rakor" width="278" /><br />Audiensi pengurus Agupena, 9 Juli 2009.</span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs181.snc1/6020_100162551218_544986218_2150785_1002947_n.jpg" alt="Rakor" width="278" /><br />Rencana Rakernas, 9 Juli 2009.</span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs161.snc1/6020_100162696218_544986218_2150804_6502882_n.jpg" alt="Rakor" width="278" /><br />Audiensi dengan SEAMOLEC.</span></p>
<p>Pada ranah internal, Agupena Jateng masih terus berpacu untuk melakukan konsolidasi organisasi, khususnya berkaitan dengan kesamaan persepsi antarpengurus dalam menjalankan roda organisasi berbasiskan prinsip kolegial dan kolektivitas. Kesamaan persepsi tidak identik dengan penyeragaman. Agupena Jateng justru sangat menghargai perbedaan. Yang perlu dipikirkan dan diimplementasikan adalah bagaimana mengelola perbedaan itu agar menjadi sebuah kekuatan sekaligus nilai tambah organisasi agar tidak sampai terjebak ke dalam stagnasi dan kemandegan.</p>
<p>Prinsip kolegial dan kolektivitas menjadi penting dipersoalkan sebab keberhasilan sebuah organisasi dalam menjalankan program dan aktivitasnya bukan ditentukan oleh satu atau dua orang, melainkan amat ditentukan oleh komitmen dan kesadaran kolektif segenap pengurus dalam mengintensifkan kinerja organisasi agar benar-benar bermakna dan bermanfaat di kalangan rekan-rekan sejawat. Agupena Jateng tidak ingin terjebak ke dalam proses pemburuan popularitas melalui sebuah pencitraan belaka, tetapi ingin beraksi secara nyata; memasuki belantara dunia pendidikan yang selama ini masih digelisahkan oleh kemampuan menulis di kalangan guru yang dinilai masih “jalan di tempat”. Para pengurus yang memiliki kemampuan beragam dalam ranah kepenulisan diharapkan tidak berdiri di puncak menara gading popularitas yang terus “asyik dengan dunianya sendiri”, tetapi justru terus diharapkan siap untuk “membangun semangat berbagi” sehingga kegelisahan guru yang aktivitas menulisnya dianggap “masih jalan di tempat” bisa terjembatani. </p>
<p><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/Sw67KP1kewI/AAAAAAAAAXY/NlZxwedzXnM/skl5.png" alt="Seminar" width="300" /><br /><a href="http://sawali.info/2009/11/27/dari-bedah-skl-un-hingga-koordinasi-agupena/" title="Koordinasi informal">Koordinasi informal, 25 November 2009.</a></span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://sawali64.googlepages.com/rakor.jpg" alt="Silaturahmi" width="300" /><br /><a href="http://sawali.info/2009/10/15/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/" title="Rakor dan silaturahmi">Rakor dan silaturahmi, 11 Oktober 2009.</a></span>Disadari atau tidak, banyak rekan sejawat yang demikian intens menekuni dunia kepenulisan dan menunjukkan prestasi menulis yang luar biasa, tetapi tak memiliki kesempatan untuk “sharing” dan menularkan kemampuannya kepada rekan-rekan sejawat yang lain. Persoalannya bukan semata-mata lantaran tidak mau dan tidak berminat untuk membangun semangat berbagi, melainkan juga lantaran tak memiliki akses dan kesempatan untuk “sharing” dan berdiskusi. Dalam konteks demikian, Agupena menjadi penting dan strategis untuk menjembatani kepentingan itu. Sejak awal, Agupena memang didesain untuk mewadahi teman-teman yang memiliki kemampuan menulis dan memiliki komitmen untuk membangun semangat berbagi sehingga tidak lagi berada di puncak menara gading popularitas dan asyik dengan dunianya sendiri. Melalui Agupena, teman-teman bisa intens berdiskusi dengan membangun wacana dunia kepenulisan melalui program-program yang teragendakan, baik secara rutin maupun insidental. </p>
<p>Dalam setahun ini, atmosfer wacana kepenulisan semacam itu memang belum bisa terwujud secara optimal. Masih banyak kendala internal yang belum sepenuhnya bisa teratasi. Oleh karena itu, Agupena Jateng masih terus berusaha untuk melakukan konsolidasi organisasi, termasuk menjadi mediator dan fasilitator pembentukan pengurus Agupena di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Jika Agupena di setiap kabupaten/kota telah terbentuk, insyaallah konsolidasi organisasi menjadi lebih solid, sehingga siap menggulirkan program-program kepenulisan yang telah teragendakan bisa berjalan seperti yang diharapkan. </p>
<blockquote><p>Kalau muncul kesan bahwa Agupena Jawa Tengah selama ini mandul, bahkan terkesan seperti “macan opong”, kami pikir hal itu sebagai kritik positif dan masukan berharga sehingga bisa memacu semangat kami untuk mengagendakan program-program yang lebih riil dan mencerahkan dalam upaya memberdayakan dan membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru. Agupena Jawa Tengah memang sangat membutuhkan masukan dan kritik agar tidak terjebak sebagai organisasi “papan nama”. Kami sangat menghargai masukan dan kritik itu kalau memang didasari oleh motif dan semangat untuk menjadikan Agupena Jateng lebih punya greget dan “magnet” untuk membudayakan aktivitas menulis di kalangan guru.
</p></blockquote>
<p>Pada ranah eksternal, Agupena Jateng menghadapi persoalan kinerja dan kolaborasi dengan berbagai pihak yang belum optimal. Banyak program yang sudah teragendakan, tetapi belum mendapatkan respon positif dari pihak-pihak tertentu yang seharusnya bisa digandeng untuk bersimbiosis. Suasana kompetitif pasca-reformasi yang ditandai dengan munculnya banyak organisasi guru, pada satu sisi menumbuhkan semangat untuk bisa mengoptimalkan kinerja organisasi dengan melahirkan agenda-agenda pilihan yang bisa digarap secara bersama-sama. Namun, pada sisi yang lain, tak jarang menumbuhkan “sentimen” organisasi yang bisa melunturkan semangat berkiprah di kalangan rekan sejawat. Oleh karena itu, sudah saatnya kita tanggalkan “sentimen” keorganisasian dan terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak sehingga bisa mewujudkan agenda dan program-program kolaboratif yang mencerahkan dan mencerdaskan. </p>
<p>Yang tidak kalah penting, jelas persoalan anggaran yang selama ini masih tertatih-tatih. Pengurus juga telah berupaya secara optimal untuk bisa menggali dana, baik melalui donator perseorangan maupun institusi, agar bisa mendukung program-program yang teragendakan. Namun, agaknya kita belum memiliki banyak referensi kegiatan yang bisa meyakinkan calon donatur untuk mengucurkan dananya ke dalam “pundi-pundi” Agupena Jawa Tengah. Oleh karena itu, agaknya kita perlu terus melakukan aksi-aksi konkret sehingga kita memiliki banyak rujukan kegiatan dan kiprah nyata yang bisa meyakinkan banyak kalangan. </p>
<p>Setahun memang bisa dibilang waktu yang amat pendek untuk bisa melakukan aktivitas dan mengimplementasikan berbagai program secara optimal. Meskipun demikian, waktu setahun juga lebih dari cukup untuk memotret dan mengevaluasi eksistensi Agupena Jawa Tengah dalam menjalankan visi dan misi organisasi. Tagline “Membangun Semangat Berbagi” sebagai “branding” organisasi bisa dijadikan sebagai indikator keberhasilan Agupena Jateng dalam berkiprah di tengah-tengah “kegelisahan” para guru dalam membudayakan aktivitas menulisnya. </p>
<p>Semoga mulai tahun kedua, Agupena Jateng, dengan dukungan berbagai pihak, bisa lebih berkiprah secara nyata di tengah-tengah dinamika dunia pendidikan yang makin kompleks, sehingga bisa ikut menjembatani kepentingan rekan-rekan sejawat yang selama ini masih dihinggapi sikap “inferior” dalam ranah kepenulisan. *** </p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Sunday, 21 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/21/agupena-jawa-tengah-tak-ingin-jadi-asosiasi-guru-eksklusif/" title="Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif">Agupena Jawa Tengah: Tak Ingin Jadi Asosiasi Guru Eksklusif</a> (68)</li><li>Thursday, 18 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/18/pelantikan-pengurus-agupena-cabang/" title="Pelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan">Pelantikan Pengurus Agupena Cabang dan Diskusi Kepenulisan</a> (125)</li><li>Thursday, 15 October 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/10/15/achjar-chalil-agupena-dan-rakernas/" title="Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas">Achjar Chalil, Agupena, dan Rakernas</a> (111)</li><li>Monday, 29 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/29/mengubah-mind-set-guru-tentang-dunia-kepenulisan/" title="Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan">Mengubah Mind-Set Guru tentang Dunia Kepenulisan</a> (115)</li><li>Monday, 16 February 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/02/16/blog-agregator-agupena-jawa-tengah/" title="Blog Agregator Agupena Jawa Tengah">Blog Agregator Agupena Jawa Tengah</a> (166)</li><li>Friday, 6 February 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/02/06/agupena-jawa-tengah-dan-ranah-pemikiran-guru-kreatif/" title="AGUPENA Jawa Tengah dan Ranah Pemikiran Guru Kreatif">AGUPENA Jawa Tengah dan Ranah Pemikiran Guru Kreatif</a> (125)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/10/agupena-jawa-tengah-menjelang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>143</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi Kreatif Kika Syafii dan Undangan &#8220;Amprokan Blogger&#8221;</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/09/gagasan-kreatif-kika-syafii-dan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/09/gagasan-kreatif-kika-syafii-dan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 07:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[nilai kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[solidaritas sosial]]></category>
		<category><![CDATA[temu blogger]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3177</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan email dari Kika Syafii dan Ajeng. Namun, mohon maaf, baru kali ini saya sempat memublikasikannya. Berikut ini email selengkapnya. Yang pertama, email dari Kika Syafii. 
Salam.
Maaf sebelumnya bila di anggap nye-pam, karena permohonan ini yang mendadak. Tidak bermaksud untuk mencampuri urusan isi blog anda masing-masing, namun saya hanya memohon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">B</span>eberapa hari yang lalu, saya mendapatkan email dari <a href="http://kika.web.id" title="kika.web.id">Kika Syafii</a> dan <a href="http://www.muslimah.web.id" title="www.muslimah.web.id">Ajeng</a>. Namun, mohon maaf, baru kali ini saya sempat memublikasikannya. Berikut ini email selengkapnya. Yang pertama, email dari Kika Syafii. </p>
<blockquote><p>Salam.</p>
<p>Maaf sebelumnya bila di anggap nye-pam, karena permohonan ini yang mendadak. Tidak bermaksud untuk mencampuri urusan isi blog anda masing-masing, namun saya hanya memohon bantuan dengan sangat. Semoga anda berkenan.</p>
<p>Saya minta tolong untuk dibantu posting di masing-masing Blog rekan-rekan dengan postingan yang ada di lampiran email ini. Ini dilakukan untuk membantu para korban Lumpur Lapindo yang semakin terlupakan dan ditinggalkan. Dan juga tentunya sekaligus untuk membantu pergerakan sosial yang lebih luas dengan cakupan kemampuan yang saya punya.</p>
<p>Bila tidak berkenan, silahkan tidak usah di posting. Dan mohon dengan sangat untuk tidak menjadikan sebuah masalah.</p>
<p>Gambar Kaos dan CD/DVD bisa diambil di blog saya, http://kika.web.id, dan silahkan juga bagi teman-teman yang mau nitip link di http://kukira.net untuk mengirimkan gambar bannernya dengan ukuran 80&#215;80 px. Terbatas hanya untuk 8 orang, dan nantinya bisa dilihat di footer.</p>
<p>Terima kasih Banyak</p>
<p>Salam.</p>
<p><strong>Lampiran:</strong></p>
<p><strong>Menghidupkan wisata lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo</strong></p>
<p>Setelah 3 tahun ditambah 100 hari pemerintahan yang sekarang, ternyata tidak sedikitpun menyentuh kondisi sosial korban lumpur Lapindo yang ada di Desa Porong, Sidoarjo. Perlahan dan (seperti) pasti, kondisi sosial di Porong dan desa-desa lainnya yang terkena dampak lumpur Lapindo dilupakan bahkan ditinggalkan. Rembug Nasional (National Summit) yang diadakan Presiden setelah pelantikannya juga seperti sengaja untuk tidak mengundang korban lumpur Lapindo. </p>
<p>Masih tercecer saat ini lebih dari 300 KK yang menganggur, hak penghidupan yang semestinya menjadi hak paten manusia hidup masih juga tidak diperjuangkan dengan baik. Bisa dibayangkan, berapa total nyawa yang terancam kelangsungan hidup, pendidikan dan masa depan bila dihitung dari 300 KK. Uang ganti beli (yang jelas-jelas uangnya dari Negara alias Rakyat) juga tidak membantu banyak, karena masih banyak penduduk yang belum menerima uang ganti asset tersebut. </p>
<p>Kebijakan Perpres No. 14/2007 adalah termasuk kebijakan ‘kesopanan’ pemerintah pusat pro Lapindo, tidak tegas dalam memberesi persoalan rakyat akibat kebijakan pengelolaan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) yang tidak berorientasi pada social safety.</p>
<p>Terakhir minggu ketiga bulan pertama tahun ini, saya mencoba melakukan assesment secara nyata ke desa-desa yang terkena dampak lumpur Lapindo. Lokasi pengungsian yang masih semrawut, pengangguran nyata yang terlihat di sisi danau lumpur, hingga wajah-wajah tegang yang berseliweran disekitarnya. Namun terlihat juga beberapa pengunjung yang menikmati danau lumpur ciptaan Lapindo itu. Luas tanggul yang hampir mencapai 1 KM menjadi strategic view untuk menikmatinya. Terlihat sekali minim aktifitas yang terjadi disini. Hampir seperti daerah mati. Sebelum menikmatinya, saya dicegat dan di minta membayar sebesar 5000 rupiah sebagai ganti uang tiket masuk ke lokasi wisata danau lumpur. Tanpa senyum dan tanpa basa basi, terlihat sekali ketegangan yang sudah akut menyelimuti pikiran mereka-mereka yang ada di daerah ini. </p>
<p>Berbekal melihat dan mencermati keadaan, kebutuhan perut para pengungsi yang berjumlah lebih dari 300 KK tersebut sudah tidak bisa lagi dihindarkan. Sudah sangatlah mendesak. Menurut Ipung M Nizar, salah satu koordinator pengungsi, mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Kebanyakan dari mereka sulit untuk diajak keluar dari daerah lumpur tersebut.  Hingga akhirnya dia sebagai koordinator tidak bisa juga meninggalkan rekan-rekan dan beberapa saudaranya yang masih tinggal dan menunggu uang ganti beli dari Pemerintah. Namun mereka berjanji bila ada jaminan penghidupan yang layak, mereka akan berusaha untuk keluar dari lingkungan Lumpur yang jelas-jelas sudah tidak lagi kondusif untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selama ini Ipung dan teman-teman mencoba untuk berkarya dengan membuat CD/DVD dokumenter tentang kejadian Lumpur Lapindo. </p>
<p>Untuk membantu Ipung dan rekan-rekannya, saya beserta teman-teman mencapai pada tahap kesepakatan untuk membantu dengan cara menghidupkan saja sekalian wisata di Danau Lumpur Lapindo. Secara SDM dan kreatifitas, daerah Tanggulangin dan Porong merupakan sentra produksi kerajinan yang sangat dikenal di Indonesia. Di Tanggul pembatas lumpur yang lebar mencapai 15 Meter serta panjang hampir 1 KM itu nantinya akan didirikan pasar wisata dengan berbagai penjualan. Hanya saja dibutuhkan banyak modal untuk orang-orang korban Lapindo ini agar bisa berjualan. </p>
<p>Untuk mensiasatinya, saya secara pribadi akan menggandakan CD/DVD Dokumenter Lumpur Lapindo serta membuat beberapa macam produk yang berhubungan dengan tragedi ini. Yang nantinya hasil penjualan dikurangi modal akan saya kirim ke beberapa koordinator pengungsi disana, entah itu LSM atau personal. Diantaranya Ipung dan LSM yang tergabung dalam http://korbanlumpur.info . Beberapa produknya adalah T-Shirt dan Topi. </p>
<p>Pengadaan konsep Pasar Wisata Danau Lumpur ini juga merupakan sebagai bentuk protes terhadap pemerintah dan mengingatkan kepada khalayak ramai bahwa masih banyak masalah yang diakibatkan oleh Lapindo dan pemerintah secara tidak langsung.  </p>
<p><strong>N.B:</strong><br />
Dan bila ada rekan-rekan yang sanggup memberikan jaminan peminjaman uang kepada para korban untuk digunakan sebagai modal usaha awal, silahkan hubungi saya atau langsung kepada Ipung M Nizar dengan nomor telpon 0817335244.</p></blockquote>
<p>Ya, ya, ya, aksi kreatif yang dikemas Kika Syafii ini merupakan bentuk kiprah nyata sebagai wujud kepekaan sosial terhadap nasib saudara-saudara kita di Sidoarjo yang jelas-jelas ditelantarkan  akibat kebijakan pemerintah yang salah urus. Pemerintah yang seharusnya menjadi pionir untuk menyelamatkan ratusan rakyatnya yang terancam, justru makin tenggelam dalam urusan-urusan pragmatis melalui perselingkuhan dan kongkalingkong politik untuk kepentingan kekuasaan semata. Nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini sudah jelas terdegradasi di depan mata makin termarginalkan akibat karakter pemerintah yang sedang dihinggapi sikap paranoid kekuasaan. </p>
<p>Lihat saja bagaimana kegerahan sikap pemerintah dalam menghadapi aksi-aksi demo simbolik dari berbagai kalangan dengan mengusung satwa ke tengah-tengah aksi. Rakyat yang aspiratif bukannya  ditemui melalui sikap ngemong dan kebapakan, melainkan justru diposisikan sebagai pihak yang harus dicurigai hendak menggoyang kursi kekuasaan. Ironisnya, pemerintah justru terkesan jor-joran dengan memanfaatkan anggaran negara untuk kepentingan-kepentingan sempit yang tidak langsung bersentuhan dengan kebutuhan rakyat. Di tengah nasib ratusan warga Sidoarjo yang terlunta-lunta dan terzalimi, pemerintah dan aparatnya justru bisa demikian bahagia duduk di atas mobil mewah, bahkan berencana untuk melambungkan 20% gaji pejabat negara atau membeli pesawat kepresidenan. </p>
<p>Dalam konteks demikian, aksi kreatif Kika Syafii bisa dimaknai sebagai sentilan khas anak muda terhadap sikap pemerintah yang dinilai telah kehilangan sikap empati dan kepekaan terhadap nasib warganya. Oleh karena itu, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, sangat beralasan kalau kita memberikan apresiasi dan dukungan atas gagasan brilian ini agar bisa menjadi pemicu untuk membangkitkan kembali semangat solidaritas dan kepekaan terhadap nasib sesama. </p>
<p>Email kedua dari <a href="http://www.bloggerbekasi.com/" title="www.bloggerbekasi.com">Komunitas Blogger Bekasi</a> yang disampaikan melalui <a href="http://www.muslimah.web.id" title="www.muslimah.web.id">Ajeng.</a> Berikut ini email selengkapnya.</p>
<blockquote><p>Kota Bekasi, 5 Februari 2010<br />
Ref. No 001/SK-AM/02/10</p>
<p>Kepada Yth,<br />
Di tempat </p>
<p>Lamp : -<br />
Hal	: Undangan Jadi Peserta  ”AMPROKAN BLOGGER” </p>
<p>Dengan Hormat, </p>
<p>Dalam rangka memperkenalkan potensi Bekasi kepada masyarakat luas, baik lewat internet maupun temu muka, serta memperingati Hari Ulang Tahun ke-13 Kota Bekasi (yang jatuh pada tanggal 10 Maret 2010), Komunitas Blogger Bekasi () akan menyelenggarakan Temu Blogger  yang diberi nama AMPROKAN BLOGGER pada tanggal 6-7 Maret 2010.</p>
<p>Acara yang juga diusulkan dan didukung oleh Walikota Bekasi H. Mochtar Mohamad mengambil tema “Melalui Temu Blogger, Kita Gemakan Bekasi yang Hijau, Cerdas, Sehat,  dan Ihsan”. Tema ini sejalan dengan Visi Misi Pemerintah Kota Bekasi serta Program Pemerintah untuk meraih Piagam Adipura. Untuk itu kami bermaksud mengundang perwakilan Blogger agar bisa mengirimkan peserta yang akan diadakan pada :</p>
<p>Hari / Tanggal	: Sabtu-Minggu, 6-7 Maret 2010<br />
Pukul			: 09.00 – Selesai<br />
Tempat		: Asrama Haji, Aula Depsos dan Gedung Pusdiklat Mahkamah Konstitusi<br />
Acara			: Anjangsana, Sarasehan dan Seminar Interaktif<br />
Pembicara		: Tifatul Sembiring (Menkominfo), H. Mochtar Mohamad (Walikota Bekasi), Untung Wiyono (Bupati Sragen),  Romi Satria Wahono (Blogger).</p>
<p>Mohon konfirmasi kesediaan hadir dapat kami terima sebelum tanggal 13 Februari 2010 ke Raden Ajeng dengan menuliskan berasal dari komunitas ……………………… Kota …………………. (yaitu 1. …………………2. ……………. dst). Seluruh akomodasi peserta selama acara berlangsung ditanggung oleh panitia dan perwakilan blogger di luar Jabodetabek akan mendapatkan bantuan transport  ala kadarnya. Selain itu mohon peserta untuk melengkapi pendaftaran di portal http://www.temublogger.com</p>
<p>Demikian undangan ini kami sampaikan, atas partisipasi dan kerjasamanya kami ucapkan banyak terima kasih</p>
<p>Hormat Kami,<br />
Pengurus www.bloggerbekasi.com 				</p>
<p>Aris Heru Utomo, S. H., M. B. A. M.Si.<br />
Ketua  www.bloggerbekasi.com </p></blockquote>
<p>Sahabat-sahabat bloger yang kebetulan tak ada acara bisa beramai-ramai menghadiri undangan ini sesuai dengan ketentuan panitia. Selain bisa menjadi ajang pertemuan dan silaturahmi antarbloger, acara “Amprokan Blogger” juga bisa menjadi media diskusi yang menarik tentang dunia internet dan aktivitas ngeblog bersama narasumber yang tak diragukan lagi kapasitas dan kredibilitasnya di dunia maya. Nah, selamat ber-”Amprokan Blogger”. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Random Posts</h4><ul class="related_post"><li>Sunday, 5 April 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/04/05/ragam-bahasa-media-dalam-perspektif-pembelajaran-bahasa-bagian-i/" title="Ragam Bahasa Media dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa (Bagian I)">Ragam Bahasa Media dalam Perspektif Pembelajaran Bahasa (Bagian I)</a> (93)</li><li>Tuesday, 22 January 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/01/22/menjadi-shi-fu/" title="Menjadi Shi Fu">Menjadi Shi Fu</a> (27)</li><li>Tuesday, 10 June 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/06/10/memanfaatkan-account-gmail-untuk/" title="Memanfaatkan Account Gmail untuk Berlangganan Postingan">Memanfaatkan Account Gmail untuk Berlangganan Postingan</a> (34)</li><li>Friday, 21 March 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/03/21/kopdar-dan-sentuhan-nilai-kemanusiaan/" title="Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan">Kopdar dan Sentuhan Nilai Kemanusiaan</a> (27)</li><li>Monday, 9 March 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/03/09/sepenggal-fragmen-keteladanan/" title="Sepenggal Fragmen Keteladanan Rasulullah">Sepenggal Fragmen Keteladanan Rasulullah</a> (12)</li><li>Tuesday, 25 November 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/11/25/menuai-badai-jual-beli-nilai/" title="Menuai Badai Jual-Beli Nilai">Menuai Badai Jual-Beli Nilai</a> (33)</li><li>Monday, 20 August 2007 -- <a href="http://sawali.info/2007/08/20/reformasi-sekolah-kepemimpinan-feodalistis-dan-ktsp/" title="Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP">Reformasi Sekolah, Kepemimpinan Feodalistis, dan KTSP</a> (21)</li><li>Tuesday, 23 October 2007 -- <a href="http://sawali.info/2007/10/23/fasisme-dalam-dunia-pendidikan-2/" title="&#8220;Fasisme&#8221; dalam Dunia Pendidikan">&#8220;Fasisme&#8221; dalam Dunia Pendidikan</a> (0)</li><li>Friday, 17 July 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/07/17/tradisi-award-di-kompleks-blogosphere/" title="Tradisi Award di Kompleks Blogosphere">Tradisi Award di Kompleks Blogosphere</a> (20)</li><li>Friday, 25 January 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/01/25/reformasi-sekolah-apa-kabar/" title="Reformasi Sekolah, Apa Kabar?">Reformasi Sekolah, Apa Kabar?</a> (25)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/09/gagasan-kreatif-kika-syafii-dan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>87</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Nasional dan Robotisasi Siswa Didik</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/05/ujian-nasional-dan-robotisasi/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/05/ujian-nasional-dan-robotisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 15:16:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[kecurangan UN]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3171</guid>
		<description><![CDATA[Dunia pendidikan kita hanya melahirkan generasi penghafal kelas wahid? Itulah pertanyaan yang selalu mencuat ketika ranah pendidikan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Almarhum Rama Mangunwijaya pernah bilang bahwa dunia pendidikan kita tak lebih dari proses pelatihan binatang sirkus yang dibekuk dan didesain agar menjadi penurut dan selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">D</span>unia pendidikan kita hanya melahirkan generasi penghafal kelas wahid? Itulah pertanyaan yang selalu mencuat ketika ranah pendidikan kita dinilai telah gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, dan kreatif. Almarhum Rama Mangunwijaya pernah bilang bahwa dunia pendidikan kita tak lebih dari proses pelatihan binatang sirkus yang dibekuk dan didesain agar menjadi penurut dan selalu taat komando. Selama mengikuti proses pembelajaran di lembaga pendidikan, anak-anak dikondisikan agar menjadi “anak mami” yang harus selalu selalu patuh dan tunduk kepada komando sang guru. Mereka tak lebih dari robot yang hanya bisa menuruti perintah yang dikendalikan melalui “remote control”, miskin inisiatif, apalagi bersikap kritis. Ruang belajar tak memberikan kesempatan kepada siswa didik untuk berbeda pendapat dan bercurah pikir secara bebas, dialogis, dan interaktif. Jalan pikiran dan hasil-hasilnya telah diseragamkan melalui otoritas  sang guru.   </p>
<p><img src="http://www.diknas.go.id/headline/1231751555.bmp" alt="UN" width="300" />Robotisasi siswa didik makin tampak jelas ketika kebijakan Ujian Nasional (UN) digelontorkan menjadi penentu kelulusan melalui bentuk-bentuk soal pilihan ganda (PG). Anak-anak telah dibudayakan untuk berpikir linear karena hanya ada satu jawaban yang benar. Tak ada ruang untuk menampung pemikiran-pemikiran multidimensi. Sungguh celaka kalau siswa menjawab beda dengan kunci jawaban. Tak perlu heran jika menjelang UN berlangsung, siswa didik digiring ke dalam ruang karantina untuk di-drill melalui trik-trik sirkus agar bisa menjawab soal yang dimungkinkan sesuai dengan kunci jawaban yang selama ini tidak pernah dibeberkan kepada para pemangku kepentingan pendidikan, meski UN sudah lama usai.</p>
<p>Dalam situasi semacam itu, guru yang ingin tampil beda untuk mendesain pembelajaran yang lebih  inovatif dan kreatif tidak mendapatkan ruang. Sungguh konyol kalau menjelang UN masih asyik-masyuk melakukan akrobat pembelajaran melalui eksperimentasi dan inovasi di dalam kelas. Melalui berbagai instruksi, bahkan juga tekanan, baik secara terang-terangan maupun terselubung, para pengambil kebijakan memosisikan guru sebagai “tukang sulap” yang harus menjadikan para siswa didik sebagai penghafal kelas wahid yang bisa dengan jitu menjawab soal-soal PG dalam UN. </p>
<p>Jika pembelajaran hanya didesain dan dikondisikan untuk memburu angka-angka semu yang dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan UN, disadari atau tidak, anak-anak bangsa negeri ini akan mengalami proses pembodohan dan pembebalan secara sistematis. Cara berpikir pragmatis akan menjadi pilihan gaya hidup sehingga gagal mengapresiasi budaya proses dalam menggapai cita-cita dan harapan. Yang lebih menyedihkan, fakta-fakta nilai UN selama ini menunjukkan, anak-anak  berotak cemerlang seringkali terkebiri oleh anak-anak berotak pas-pasan. Siswa yang dalam kesehariannya (nyaris) tak menunjukkan prestasi mengagumkan, justru memperoleh nilai yang jauh lebih baik ketimbang siswa berprestasi menonjol dan berotak brilian. Dengan kata lain, soal-soal PG dalam UN dinilai kurang sahih dalam memotret profil kompetensi siswa didik. </p>
<p>Yang tak kalah memprihatinkan, proses pelaksanaan UN yang “cacat” dan tidak fair semacam itu dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan sekolah. Sekolah yang mampu mendongkrak jumlah lulusan dengan capaian nilai rata-rata UN yang tinggi dianggap sebagai sekolah bermutu. Sebagai penghargaan, sekolah semacam ini diberikan kemudahan-kemudahan dalam mendapatkan subsidi dan berbagai fasilitas pendidikan. Sementara, sekolah yang dianggap bermutu rendah lantaran gagal mencapai target kelulusan dan rata-rata UN yang dipersyaratkan, terstigmatisasi sebagai “sekolah gagal” sehingga tidak berhak untuk mendapatkan subsidi dan fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan. Akibatnya, sekolah yang dianggap bermutu makin “wah”, sedangkan “sekolah gagal” makin terpuruk. </p>
<blockquote><p>Imbas negatif yang muncul dari atmosfer pendidikan yang salah urus semacam itu adalah merebaknya kecurangan massal dalam pelaksanaan UN dari tahun ke tahun dalam upaya memburu citra dan marwah sekolah. Agar mendapatkan legitimasi, pengakuan, dan citra bagus dari atasan dan masyarakat, sekolah cenderung menghalalkan segala cara untuk mendongkrak jumlah lulusan dan rata-rata nilai UN; entah dengan membocorkan kunci jawaban, berkongkalingkong dengan pengawas UN, atau cara-cara curang yang seharusnya tabu dilakukan oleh sebuah institusi yang notabene menjadi agen dan kawah candradimuka peradaban.</p></blockquote>
<p>Jika kondisi semacam itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin anak-anak masa depan yang lahir dari rahim dunia pendidikan kita akan terus mengalami proses pembonsaian kecerdasan dan pengerdilan nilai kepribadian, sehingga gagal menjadi sosok tangguh dan andal yang sesuai dengan kebutuhan dan semangat zamannya. Anak-anak kita makin terjauhkan dari tradisi dan budaya keilmuan karena selama mengikuti proses pendidikan hanya menjadi “anak mami” yang serba penurut, tanpa memiliki ruang dan kesempatan untuk berpikir multidimensional dan komprehensif.</p>
<p>Dalam konteks demikian, perlu ada upaya serius untuk menata ulang sistem penyelenggaraan dan pelaksanaan UN agar jangan sampai menumpulkan, apalagi mematikan, daya kecerdasan dan kreativitas anak-anak bangsa. Pendidikan pada hakikatnya merupakan investasi dan modal besar bangsa kita yang berkehendak untuk membangun peradaban yang lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Sungguh naif apabila UN yang selama ini cenderung menjadikan siswa tak ubahnya seperti robot masih akan terus dipertahankan tanpa ada perubahan kebijakan yang lebih mencerahkan dan visioner. ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Friday, 20 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/20/ujian-nasional-quovadis/" title="Ujian Nasional, Quo Vadis?">Ujian Nasional, Quo Vadis?</a> (116)</li><li>Monday, 1 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/01/prahara-kembali-mengintai-dunia-pendidikan/" title="Prahara Kembali Mengintai Dunia Pendidikan">Prahara Kembali Mengintai Dunia Pendidikan</a> (134)</li><li>Saturday, 2 May 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/05/02/pekik-setengah-merdeka-buat-pendidikan/" title="Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan ">Pekik Setengah Merdeka buat Pendidikan </a> (117)</li><li>Tuesday, 9 March 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/03/09/ujian-nasional-mengebiri-potensi/" title="Ujian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik">Ujian Nasional Mengebiri Potensi Siswa Didik</a> (120)</li><li>Monday, 22 February 2010 -- <a href="http://sawali.info/2010/02/22/dari-lcc-hingga-bedah-skl-2010/" title="Dari LCC hingga Bedah SKL UN 2010">Dari LCC hingga Bedah SKL UN 2010</a> (71)</li><li>Friday, 4 December 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/12/04/ujian-nasional-pasca-keputusan-ma/" title="Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA">Ujian Nasional Pasca-Keputusan MA</a> (144)</li><li>Friday, 27 November 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/11/27/dari-bedah-skl-un-hingga-koordinasi-agupena/" title="Dari Bedah SKL UN hingga Koordinasi Agupena">Dari Bedah SKL UN hingga Koordinasi Agupena</a> (37)</li><li>Friday, 3 July 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/07/03/refleksi-akhir-tahun-pelajaran/" title="Refleksi Akhir Tahun Pelajaran ">Refleksi Akhir Tahun Pelajaran </a> (62)</li><li>Wednesday, 17 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/17/geger-ujian-nasional-di-negeri-kelelawar/" title="Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar">Geger Ujian Nasional di Negeri Kelelawar</a> (108)</li><li>Sunday, 19 April 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/04/19/menjelang-un-anak-anak-butuh-sentuhan-kelembutan-dan-kasih-sayang/" title="Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang">Menjelang UN: Anak-anak Butuh Sentuhan Kelembutan dan Kasih Sayang</a> (10)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/05/ujian-nasional-dan-robotisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>147</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bhisma pun Menepati Dharmanya</title>
		<link>http://sawali.info/2010/02/03/bhisma-pun-menepati-dharmanya/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/02/03/bhisma-pun-menepati-dharmanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 21:40:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Wayang]]></category>
		<category><![CDATA[bharatayuda]]></category>
		<category><![CDATA[perang]]></category>
		<category><![CDATA[wayang slengekan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3153</guid>
		<description><![CDATA[Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Padang Kurusetra benar-benar menjadi lembah kematian. Bau anyir darah menyeruak ke segala sudut dan penjuru lembah. Mayat-mayat berserakan tak tentu arah bagaikan gugusan bangkai babi hutan yang terjagal para pemburu liar. Moncong burung-burung bangkai berpesta, menerbangkan bau busuk hingga ke pintu-pintu langit, diterbangkan angin kemarau yang kering hingga menjangkau ceruk-ceruk dunia tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalang: Ki Sawali Tuhusetya</p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">P</span>adang Kurusetra benar-benar menjadi lembah kematian. Bau anyir darah menyeruak ke segala sudut dan penjuru lembah. Mayat-mayat berserakan tak tentu arah bagaikan gugusan bangkai babi hutan yang terjagal para pemburu liar. Moncong burung-burung bangkai berpesta, menerbangkan bau busuk hingga ke pintu-pintu langit, diterbangkan angin kemarau yang kering hingga menjangkau ceruk-ceruk dunia tanpa batas. Para pengelola stasiun TV tak ubahnya kaum kapitalis yang menjadikan tragedi pewayangan ini sebagai bagian komoditas yang mengalirkan banyak iklan dan kerincing duwit. Sesekali, mereka mengundang para pengamat dan pakar perang untuk menaburkan sensasi opini tentang seluk-beluk perang dan tak lupa “dipaksa” untuk melakukan analisis ilmiah, siapa yang kelak akan keluar sebagai pemenang dari arena yang memilukan dan tragis itu. </p>
<p><img src="http://files.myopera.com/echa2268/albums/639558/Bharata%20Yudha.jpg" alt="wayang" width="300" /><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;width:300px;padding-right:7px;margin-bottom:5px;text-align:center;"><a href="http://files.myopera.com/echa2268/albums/639558/Bharata%20Yudha.jpg">Salah satu adegan Bharatayuda</a></span>“Sudah jelas, Kurawa yang akan keluar sebagai pemenang. Saya berani taruhan! Saya akan membakar kartu identitas saya sebagai pengamat perang, bahkan potong leher saya kalau sampai Kurawa kalah. Dari teori perang yang saya pelajari, Kurawa menang segalanya. Dukungan logistik oke, persenjataan paling mutakhir, prajuritnya juga bejibun. Saya hampir kesulitan menemukan sisi kekalahan dari pihak Kurawa,” kata seorang pengamat perang berapi-api ketika dipancing seorang presenter TV untuk memprediksi pihak mana yang akan memenangkan perang dahsyat itu.</p>
<p>“Wah, sepertinya Bung Mustaka Akbar ini kok tampak memihak benar kepada Kurawa, ya, hehe &#8230; Lantas, bagaimana menurut Bung Lembah Manah sendiri,” sergah sang presenter centil sambil melirik ke wajah seorang pakar perang yang kelihatan santun. </p>
<p>“Hmm &#8230; omong kosong kalau Kurawa yang akan menang. Mereka boleh unggul dalam hal logistik, persenjataan, atau jumlah prajurit. Tapi ingat, Bung Mustaka, kita bicara soal perang! Tak hanya melulu teori yang mesti digunakan untuk membedahnya. Perlu juga pakai akal dan hati nurani. Di mana pun dan kapan pun, kebenaran tak akan pernah bisa dikalahkan atau dimatikan. Sudah jelas-jelas, Pendawa-lah yang berhak atas tahta Hastina. Sepertinya Bung Mustaka tak pernah baca buku-buku sejarah. Kita tahu betapa liciknya Kurawa yang dengan berbagai cara telah menyingkirkan Pendawa dari Indraprasta; mulai permainan dadu di Balai Sigala-gala yang membuat Drupadi dipermalukan di depan umum hingga Pendawa harus diasingkan secara incognito selama puluhan tahun. Dari sisi ini, tak ada dalih apa pun keangkaramurkaan bakal mampu mengalahkan kejujuran,” balas sang pakar.</p>
<p>“He &#8230; he &#8230; Bung Lembah Manah jangan begitu dong! Apa tidak boleh saya &#8230;” </p>
<p>Belum usai Bung Mustaka Akbar mendebatnya, sang presenter buru-buru menyetopnya. “Oke, Anda simpan dulu pendapat Anda, Bung Mustaka. Kita lanjutkan nanti setelah yang satu ini &#8230;” </p>
<p>Usai tayangan iklan, debat pun kian memanas. Sesekali, sang presenter menayangkan penggalan-penggalan perang dahsyat di Kurusetra seakan-akan hendak melakukan konfrontasi terhadap opini-opini yang menyeruak selama talk-show berlangsung. Bung Mustafa Akbar makin yakin atas kebenaran pendapatnya ketika menyaksikan pihak Pendawa makin terdesak. </p>
<p><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://ki-demang.com/gambar_wayang/images/stories/wayang_d/d23_duryudana_bokongan_solo.jpg" alt="wayang" width="278" height="450" /><br /><a href="http://ki-demang.com/gambar_wayang/05-wayang-aksara-d-mainmenu-679/23-duryudana-solo-mainmenu-838.html">Duryudana</a></span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://ki-demang.com/gambar_wayang/images/stories/wayang_k/k30_kresna_surak_yogya.jpg" alt="wayang" width="278" height="450" /><br /><a href="http://ki-demang.com/gambar_wayang/11-wayang-aksara-k-mainmenu-685/30-kresna-surak-solo-mainmenu-926.html">Kresna</a></span>Ya, ya, ya, Pendawa memang sedang menghadapi situasi kritis. Prajuritnya terus terdesak. Maklum, Sang Bhismalah yang didaulat pihak Kurawa untuk menjadi panglimanya. Selain Bisma, Kurawa juga didukung oleh Dorna, mantan guru Pandawa yang ahli menggunakan senjata dan pakar strategi perang, serta prajurit gaek, Salya, yang dikenal memiliki kekuatan Chandra Birawa yang ganas dan mematikan. Siapa tidak gentar menghadapi para prajurit senior yang tampil nggegirisi semacam itu? Sementara, pihak Pendawa hanya memiliki satu penasihat perang, yakni Kresna. Itu pun tak boleh terlibat langsung dalam perang. Kresna hanya boleh memberi petunjuk ketika Pandawa sedang mengalami kesulitan.</p>
<p>Maka, dalam waktu lebih dari sepekan komando Kurawa berada di tangan Bisma, pasukan Pendawa kocar-kacir. Tidak sedikit prajurit yang mati, bahkan para perwira terbaik pun harus gugur di medan yang tragis dan memilukan; menjadi korban keganasan Bisma yang tampil ngedap-edapi. Siasat gunung segara yang diterapkan pihak Kurawa benar-benar bagaikan benteng baja yang sulit ditembus. Arjuna dan Bhisma yang biasanya tampil trengginas pun hanya sekadar bisa bertahan; tanpa memiliki kekuatan untuk melakukan serangan balik. </p>
<p>Melihat situasi perang yang kurang menguntungkan, Pendawa segera mengadakan rapat darurat untuk membahas bagaimana mengatasi situasi yang kritis itu. Dalam suasana hening dan resah, Kresna, sang penasihat Pendawa, dengan gaya yang kalem dan tenang, segera mengambil sikap.</p>
<p>&#8220;Kita memang tengah berhadapan dengan panglima Kurawa yang tangguh. Mustahil rasanya kita bisa memenangkan perang ini,” kata Kresna sambil mengelus-elus dagunya. </p>
<p>“Terus, bagaimana kita mesti bersikap? Haruskah kita membiarkan para prajurit dijadikan bulan-bulanan, atau menyerah begitu saja?” tanya Puntadewa tak sabar. </p>
<p>“Bukan! Kita masih bisa mengalahkan Sang Bisma, dengan satu syarat, dia harus dilawan oleh prajurit perempuan!” </p>
<p>“Hmm &#8230; kenapa bisa begitu?” tanya Bima.</p>
<p>“Ceritanya panjang! Sekarang, kita mesti menyiapkan prajurit perempuan untuk menghadapi ketangguhan Sang Bisma!”</p>
<p>Maka, berdasarkan kesepakatan, Srikandi, istri Arjuna, yang harus menghadapi panglima Kurawa itu. Perang dahsyat pun kembali berkecamuk. Suara dan deru tank serta berondongan senjata seperti menggetarkan pintu langit. Bumi bergoyang seperti dihantam gempa berkekuatan 7,5 skala richter. </p>
<p><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://ki-demang.com/gambar_wayang/images/stories/wayang_b/b40_bisma_solo2.jpg" alt="wayang" width="278" height="450" /><br /><a href="http://ki-demang.com/gambar_wayang/03-wayang-aksara-b-mainmenu-677/40-bisma-solo-mainmenu-781.html">Bisma</a></span><span style="float:left;width:auto;font:normal 12px trebuchet MS;margin:0px 5px 15px 0px;text-align:center;"><img src="http://ki-demang.com/gambar_wayang/images/stories/wayang_s/s58_srikandi_solo.jpg" alt="wayang" width="278" height="450" /><br /><a href="http://ki-demang.com/gambar_wayang/17-wayang-aksara-s-mainmenu-1013/58-srikandi-solo-mainmenu-1071.html">Srikandi</a></span>Dalam situasi perang yang dahsyat, Bisma tersentak ketika melihat Srikandi menuju ke arahnya.  Sementara itu, di angkasa sukma Dewi Amba yang pernah disakiti hatinya oleh Bisma telah siap meraga sukma ke dalam tubuh Srikandi. Bisma sadar bahwa lembaran hidupnya akan segera berakhir. Ia berguman, &#8220;Dewi Amba, aku tak mungkin lari dari sumpahmu. Tapi, sebagai prajurit, aku tak akan membiarkan kemenanganmu dengan mudah kamu dapatkan,&#8221; tegasnya.</p>
<p>Situasi perang pun berbalik. Prajurit Pendawa berhasil merangsek dan mendesak prajurit Kurawa mundur ketika sebuah panah Srikandi berhasil menancap di dada Bisma. Tak lama kemudian, disusul panah Arjuna hingga mendorong panah Srikandi bagaikan sebuah paku yang dipalu panah itu menembus dahsyat ke punggung prajurit yang telah bersumpah untuk tidak menikah itu. Tubuh Bisma pun penuh dengan panah, hingga tubuhnya yang ambruk dan sekarat pun tidak sampai menyentuh tanah. Ia seolah-olah berkasurkan panah dengan kepala terkulai.</p>
<p>Seketika perang pun dihentikan untuk memberikan penghormatan terakhir kepada prajurit agung yang amat besar jasanya pada keturunan bangsa Barata itu. Untuk sementara, pihak Kurawa dan Pendawa sepakat untuk menghentikan peperangan. </p>
<p>Dalam keadaan sakaratul maut, Bisma tersenyum lega karena telah memenuhi darma baktinya; rela gugur di medan Kurusetra di tangan perempuan yang pernah disakitinya, Dewi Amba yang menitis ke dalam tubuh Srikandi. Karena kepalanya terkulai, Bisma minta diganjal dengan tiga anak panah ke tanah. Kepala Bisma pun rebah tersangga oleh tiga anak panah itu. Ketika meminta minum, dia pun tak mau disuguhi arak dan anggur. Bisma cukup diberi air jernih yang memancar dari tanah yang jatuh persis di mulutnya dan dengan nikmatnya minum air langsung dari perut bumi itu.</p>
<p>Sebelum menghembuskan napasnya yang terakhir, Bisma menasihati Duryudana untuk berdamai dengan memberikan separuh negeri Hastina kepada Pendawa dan bisa hidup rukun, karena kepandaian Arjuna menandingi para Dewa. Duryudana mustahil sanggup mengalahkannya. Namun, dengan pongah, Duryudana yakin bakal memenangkan perang dahsyat itu. Walhasil, keesokan harinya perang dashyat pun kembali berkecamuk. Lantaran kekuatan Kurawa sudah jauh berkurang sejak gugurnya sang Bisma, Pendawalah yang diuntungkan. Dari hari ke hari, prajurit Pendawa selalu menyampaikan kabar kemenangan, hingga akhirnya perang yang tragis itu berakhir.</p>
<p>Tak tahu pasti, bagaimana kabar Mustafa Akbar, sang pengamat perang, yang dengan jumawa mengklaim bahwa Kurawalah yang akan keluar sebagai pemenang dalam perang besar Bharatayudha itu. Yang pasti, sejak kabar kemenangan Pendawa disiarkan di berbagai media, dia tak menampakkan batang hidungnya lagi di layar ajaib itu. (Tancep kayon). ***</p>
<h4  class="related_post_title">Tulisan Terkait:</h4><ul class="related_post"><li>Wednesday, 16 September 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/09/16/bima-suci-guru-yang-ternistakan/" title="Bima Suci: Guru yang Ternistakan">Bima Suci: Guru yang Ternistakan</a> (171)</li><li>Sunday, 7 June 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/06/07/ketika-blok-indraprasta-terlepas/" title="Ketika Blok Indraprasta Terlepas">Ketika Blok Indraprasta Terlepas</a> (94)</li><li>Friday, 15 May 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/05/15/ambika-dan-ambalika-menuai-badai/" title="Ambika dan Ambalika Menuai Badai">Ambika dan Ambalika Menuai Badai</a> (80)</li><li>Thursday, 15 January 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/01/15/anak-anak-dan-imajinasi-tentang-perang/" title="Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang">Anak-anak dan Imajinasi tentang Perang</a> (152)</li><li>Saturday, 10 January 2009 -- <a href="http://sawali.info/2009/01/10/ketika-bhisma-diburu-bayangan-dewi-amba/" title="Ketika Bhisma Diburu Bayangan Dewi Amba">Ketika Bhisma Diburu Bayangan Dewi Amba</a> (150)</li><li>Friday, 22 August 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/08/22/tragedi-pasca-pesta-karnaval/" title="Tragedi Pasca-Pesta Karnaval">Tragedi Pasca-Pesta Karnaval</a> (33)</li><li>Saturday, 7 June 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/06/07/ketika-kobaran-api-mengepung-shinta/" title="Ketika Kobaran Api Mengepung Shinta">Ketika Kobaran Api Mengepung Shinta</a> (37)</li><li>Sunday, 13 April 2008 -- <a href="http://sawali.info/2008/04/13/elegi-pasca-perang/" title="Elegi Pasca-Perang">Elegi Pasca-Perang</a> (19)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/02/03/bhisma-pun-menepati-dharmanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>116</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
