Home | Wayang
Ketika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh
(1 September 2010, 282 pembaca, 34 respon)
Dalang: Sawali Tuhusetya
Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang tak pernah mau “berselingkuh” dengan politik dan kekuasaan. Konon, handphone pemberian sang guru besar itu memiliki jaringan khusus dengan kehidupan para dewa. Hanya dengan menekan... Sayembara Berdarah demi Membangun Kejayaan Pancala
(26 July 2010, 522 pembaca, 65 respon)
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Gandamana tercenung di sudut kamar. Berkali-kali, putra mahkota negeri Pancala yang rela melepaskan tahta demi berguru kepada penguasa Hastina, Pandu Dewanata, ini memukul-mukul jidatnya. Dia tak paham juga dengan kekerasan hati Drupadi, keponakannya, yang juga belum mau hidup berumah tangga ketika usianya sudah menginjak kepala tiga. Sudah ratusan pemuda gagah dan kaya dari negeri Seberang yang melamarnya,... Penafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna
(22 May 2010, 560 pembaca, 106 respon)
Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang kedua bola matanya jalang menatap tajam wajah Kumbakarna dan Wibisana, kedua adiknya yang dianggap telah berkhianat. Jika sudah begini, tak satu pun yang sanggup menatap wajah Rahwana.... Tags: Kearifan Lokal, wayang slengekan
Bhisma pun Menepati Dharmanya
(3 February 2010, 570 pembaca, 124 respon)
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Padang Kurusetra benar-benar menjadi lembah kematian. Bau anyir darah menyeruak ke segala sudut dan penjuru lembah. Mayat-mayat berserakan tak tentu arah bagaikan gugusan bangkai babi hutan yang terjagal para pemburu liar. Moncong burung-burung bangkai berpesta, menerbangkan bau busuk hingga ke pintu-pintu langit, diterbangkan angin kemarau yang kering hingga menjangkau ceruk-ceruk dunia tanpa batas.... Bima Suci: Guru yang Ternistakan
(16 September 2009, 1,455 pembaca, 172 respon)
Suasana negeri Hastina mendadak gerah. Angin kemarau yang meluncur dari Gunung Argakelasa seperti memancarkan aura panas yang membadai dan mengancam. Pepohonan kering dan meranggas. Bumi Hastina seperti dihantam badai panas dan kekeringan yang panjang dan dahsyat. Istana Hastina yang biasanya sejuk dan nyaman pun tak sanggup membendung badai panas yang terus meluncur dari lereng sebuah gunung di perbatasan itu. Presiden Duryudana... Ketika Blok Indraprasta Terlepas
(7 June 2009, 384 pembaca, 94 respon)
Wajah Yudistira memerah seperti kepiting rebus. Sorot kamera para juru foto bagaikan mata kilat yang hendak merobek-robek wajahnya. Pandangan matanya tertunduk. Tak hanya Indraprasta yang kini telah hilang, tetapi juga seluruh prajurit, saudara-saudaranya, dan Drupadi, isteri tercintanya. Perangkap yang dipasang Sengkuni dan Duryudana benar-benar berhasil memperdayai dirinya. Pandawa tak hanya kehilangan harga diri, tetapi juga... Ambika dan Ambalika Menuai Badai
(15 May 2009, 534 pembaca, 83 respon)
Dada Dewi Ambika dan Ambalika yang sintal bergetar setiap kali kedua bola matanya menatap wajah Bhisma. Dua perempuan dari negeri Kasi itu tak juga mengerti kenapa lelaki pujaannya itu tetap bergeming; dingin dan cuek. Jangankan menyentuh, sekadar melirik pun tak pernah mau melakukannya. Padahal, sesungguhnya dialah pewaris sah bangsa Kuru. Kalau dia mau, jangankan dua perempuan, seratus perempuan pun pasti akan saling berebut... Tags: Kearifan Lokal, wayang slengekan
Ketika Bhisma Diburu Bayangan Dewi Amba
(10 January 2009, 1,059 pembaca, 150 respon)
Bhisma menelan ludah. Napasnya tiba-tiba terasa sesak. Dadanya yang bidang turun-naik. Berulang-ulang, lelaki berdarah biru yang telah bersumpah untuk tidak mencium bau ketiak perempuan itu mengernyitkan kening. Wajahnya yang tampan seperti diselimuti kabut. Tiba-tiba saja bayangan Amba berkelebat. Ya, ya, ya, perempuan cantik dan sintal dari negeri Kasi itu tak juga sanggup dia lupakan dari dalam layar memorinya. Semakin dilupakan,... Tragedi Pasca-Pesta Karnaval
(22 August 2008, 554 pembaca, 33 respon)
Dalang: Ki sawali Tuhusetya
Sesuai sumpahnya, Bhisma tak akan terusik persoalan duniawi. Harta, tahta, dan wanita, sudah tak ada lagi dalam kamus hidupnya. Kecintaannya pada Hastina, negeri besar yang telah melahirkan dan membesarkannya, melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Sebagai lelaki normal, sesekali dia ingin juga mencium aroma ketiak perempuan yang sanggup merangsang naluri kelelakiannya. Lantas, menuntaskan gairah asmara... Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati
(17 June 2008, 404 pembaca, 40 respon)
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya
Di ruang pribadinya yang sejuk ber-ac di lantai V, Prabu Salyapati merasa gerah. Gumpalan-gumpalan peluh dingin sebesar jagung menjebol pori-porinya. Penguasa bercambang lebat itu menahan napas, tak kuasa membendung kegelisahan yang merajam rongga dadanya. Sesekali berjalan mondar-mandir dari satu sudut ruang ke sudut yang lain. Ketika wajahnya nongol di balik jendela, bola matanya menatap ribuan rakyat... 










