<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Sawali Tuhusetya &#187; Open Source</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/category/pendidikan/open-source/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 21:42:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Lima Alasan Sederhana Saya Menggunakan Open Source</title>
		<link>http://sawali.info/2010/07/30/lima-alasan-sederhana-saya-menggunakan-open-source/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/07/30/lima-alasan-sederhana-saya-menggunakan-open-source/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 20:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[sistem operasi]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4457</guid>
		<description><![CDATA[Sejak ﻿12 September 2009 saya memutuskan untuk menggunakan sistem operasi open-source, khususnya Ubuntu, pada netbook yang saya pakai. Sebenarnya keinginan untuk migrasi ke OS per-linux-an sudah lama muncul. Setidaknya, saya pernah mencoba menggunakan ubuntu versi gutsy-gibbon sejak ﻿27 Februari 2008. Namun, lantaran ke-gaptek-an dan minimnya informasi seputar ubuntu, membuat saya melepaskannya dan kembali “menghamba” pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: right;margin:0px -10px -5px 5px;"><script type="text/javascript" src="http://www.ubuntu.com/files/countdown/display1.js"></script></span><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>ejak <a href="http://sawali.info/2009/09/12/jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu/" title="ubuntu netbook">﻿12 September 2009</a> saya memutuskan untuk menggunakan sistem operasi open-source, khususnya Ubuntu, pada netbook yang saya pakai. Sebenarnya keinginan untuk migrasi ke OS per-linux-an sudah lama muncul. Setidaknya, saya pernah mencoba menggunakan ubuntu versi gutsy-gibbon sejak <a href="http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/" title="ubuntu gutsy gibbon">﻿27 Februari 2008</a>. Namun, lantaran ke-gaptek-an dan minimnya informasi seputar ubuntu, membuat saya melepaskannya dan kembali “menghamba” pada si Jendela. Kini, setelah informasi penggunaan OS open-source makin bertaburan dan gampang didapat, langkah saya untuk menggunakannya makin mantab.</p>
<p>Berikut lima alasan sederhana, mengapa saya menggunakan open-source: <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/thinking.gif' alt='(thinking)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFGS-WjRnGI/AAAAAAAABh4/8EP0clj6S5g/theme%20ubuntu.png" alt="theme" width="300" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFGS-VWo2hI/AAAAAAAABhw/YjPPox2j8Mo/background.png" alt="background" width="300" /><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFGS-bkxTgI/AAAAAAAABh0/xamT6sRWLw4/terminal.png" alt="terminal" width="300" /><img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFGS-rpOWaI/AAAAAAAABh8/O1T0FVrlMKc/ubuntu%20center.png" alt="software" width="300" /><strong>Pertama, </strong>ingin terlepas dari bayang-bayang mitos “kebesaran” sang kapitalis Bill Gates. Dalam tulisannya <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://itempoeti.com/2010/07/windows-7-dosa-terhadap-kemanusiaan/" title="dosa windows">di sini</a>, Mas Itempoeti mengungkap tentang 7 dosa yang telah dilakukan Windows 7, yakni meracuni pendidikan, melanggar privasi, perilaku monopoli, lock-in (terkunci di dalam?), pelecehan standar, pemaksaan <em>Digital Restrictions Management</em> (DRM), dan mengancam keamanan pengguna. Saya setuju dengan pernyataan semacam itu. Makanya, saya bertekad untuk melakukan “pertobatan” dengan menggunakan Free Open Source Software agar bisa terlepas dari bayang-bayang mitos “kebesaran” sang kapitalis, Bill Gates, pencetus dan pengembang microsoft yang bertahun-tahun lamanya “bertahta” di atas “kerajaan” komputer dunia. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/lmao.gif' alt='(lmao)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Kedua,</strong> saatnya menggunakan OS (Operating System) yang halal. Dengan nada berkelakar, Onno W. Purbo, dalam sebuah <a href="http://sawali.info/2009/09/06/onno-w-purbo-linux-dan-penguatan-arus-bawah/" title="linux untuk pendidikan">Workshop Nasional Linux untuk Pendidikan</a> beberapa waktu yang silam di Kendal, menyatakan, ﻿“Kita ini negara miskin, tapi software yang kita gunakan keluaran microsoft yang mahal. Kalau tak bisa pakai yang asli, lantas kita membajaknya. Berapa dosa saja yang harus kita tanggung jika hal ini tidak segera diakhiri? Hehe …..”. Meski dengan nada kelakar, ada muatan serius. Pernyataan tersebut bisa juga diubah menjadi sebuah retorik: “Kalau ada software yang halal, mengapa mesti menggunakan yang “haram”? <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/wave.gif' alt='(highfive)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Ketiga,</strong> membebaskan data dari serangan virus. Bertahun-tahun saya terninabobokan oleh software windows, entah itu yang asli atau yang bajakan. Meski demikian, bertahun-tahun pula saya harus menelan kekecewaan. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/doh.gif' alt='(doh)' class='wp-smiley' /> Data yang saya buat seringkali raib dan gagal terselamatkan lantaran tak sanggup menangkal serangan virus yang ganas dan mematikan. Memang windows menyediakan banyak antivirus, tetapi rata-rata harus membeli dengan harga yang lumayan mahal. Nah, dengan menggunakan open source, data yang kita miliki tak gampang dijebol virus. Dengan open source, saya bisa lebih enjoy dan merdeka. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/dance.gif' alt='(dance)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Keempat,</strong> speed koneksi internet jauh lebih lancar dan cepat. Saya tak tahu pasti benar tidaknya tesis ini. Namun, berdasarkan pengalaman saya selama ini, dengan menggunakan media koneksi internet yang sama, open source memberikan kenyamanan dan speed koneksi yang jauh lebih baik ketimbang si jendela. Saya juga tidak tahu, bagaimana kesan teman-teman yang lain dalam soal koneksi internet ini. Yang jelas, suara batin saya mengatakan bahwa koneksi ubuntu jauh lebih cepat dan nyaman ketimbang saya menggunakan sistem operasi windows. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/applause.gif' alt='(applause)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>Kelima, </strong>perangkat lunak jauh lebih lengkap dan serba gratis. Dalam soal perangkat lunak, open source, termasuk ubuntu 10.04 yang saya gunakan, menyediakan software yang lebih lengkap. Yang menggembirakan, semua bisa didapat dengan cara gratis. Saya biasa menggunakan ubuntu software center untuk memburu perangkat lunak yang saya butuhkan. Hanya dengan mengetikkan kata kunci tertentu, open source menyediakan banyak pilihan yang bisa kita aplikasikan. <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/dance_moves.gif' alt='(funkydance)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Itulah lima alasan sederhana, mengapa saya menjatuhkan pilihan pada sistem operasi open source dalam komputer saya. Dari sisi kuantitas, jumlah pengguna sistem operasi open source bisa jadi jauh lebih kecil ketimbang pengguna windows atau sistem operasi yang lain. Namun, saya punya keyakinan bahwa suatu ketika makin banyak pula pengguna komputer di negeri ini yang mulai melirik open source sebagai media komputer “mainstraim”. Pengembangan software open source yang serba dinamis, cepat, dan akomodatif terhadap perubahan, agaknya membuat para pengguna makin nyaman dan enjoy. Nah!  <img src='http://sawali.info/wp-content/plugins/smilies-themer/plurk/worship.gif' alt='(worship)' class='wp-smiley' />   ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/07/30/lima-alasan-sederhana-saya-menggunakan-open-source/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>109</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Virtual Host Berbasis Open Source untuk Pembelajaran Interaktif dan Mencerdaskan</title>
		<link>http://sawali.info/2009/10/19/virtual-host-berbasis-open-source-untuk-pembelajaran-interaktif-dan-mencerdaskan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2009/10/19/virtual-host-berbasis-open-source-untuk-pembelajaran-interaktif-dan-mencerdaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 04:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=2616</guid>
		<description><![CDATA[Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang menghadirkan Mas Reza Ervani dari Rumah Ilmu Indonesia sebagai instruktur. Sekitar 15 peserta –sebagian besar guru Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) SMA/SMK&#8211; tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung di SMA [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama dua hari (Sabtu dan Minggu, 17-18 Oktober 2009), saya mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Berbasis Open Source Tanpa Internet” di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, yang  menghadirkan Mas <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://aku.rezaervani.com/" title="reza ervani">Reza Ervani</a> dari <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.rumahilmuindonesia.or.id/" title="Rumah Ilmu Indonesia">Rumah Ilmu Indonesia</a> sebagai instruktur.  Sekitar 15 peserta –sebagian besar guru Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) SMA/SMK&#8211; tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung di SMA Muhammadiyah Weleri yang juga dihadiri oleh Mas Agus Muhajir, sang pencetus Sisfokol berbasis Open Source, dan diikuti oleh Pak Sigid Haryadi dan Pak Setyo Purnomo itu. </p>
<p><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/os1.png?t=1256034361" alt="SS" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/os2.png?t=1256034435" alt="SS" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/os3.png?t=1256034484" alt="SS" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/os4.png?t=1256034534" alt="SS" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/os5.png?t=1256034563" alt="SS" width="300" />Sesungguhnya, apa yang menarik dari pelatihan semacam ini? Bagi pengguna baru software open source seperti saya, pelatihan semacam ini jelas memberikan kesan tersendiri setelah sekian lama “dimanjakan” oleh penggunaan perangkat lunak yang “siap pakai”. Saya seperti berada dalam sebuah rumah hunian dengan karakter penghuninya yang sama-sama memiliki keinginan kuat untuk terbebas dan merdeka dari cengkeraman perangkat lunak bajakan. Banyak persoalan yang terlontar dan didiskusikan secara akrab, meski belum semuanya bisa terjawab dengan tuntas; mulai proses instalasi, update perangkat lunak (secara offline), hingga membuat virtual-host untuk kepentingan pembelajaran. </p>
<p>Dari sekian persoalan yang terlontar, agaknya pembuatan virtual host berbasis open source yang paling banyak menyita perhatian. Hal ini memang tidak berlebihan. Kenyataan menunjukkan, kendala utama yang dihadapi para guru dalam memanfaatkan internet untuk kepentingan pembelajaran adalah terbatasnya koneksi dan akses internet. Akibatnya, pembelajaran di sekolah gagal menciptakan atmosfer yang menarik dan memikat bagi siswa didik. Dengan membuat virtual host, bisa jadi beban kegelisahan guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif dan mencerdaskan bisa dikurangi. Maka, sangat beralasan ketika rekan sejawat dari Kuningan, Jawa Barat, Ungaran (Semarang), dan Surakarta pun memerlukan hadir untuk mengikuti kegiatan ini.</p>
<p>Namun, lantaran terbatasnya waktu, pembuatan virtual host belum bisa tuntas diselesaikan dalam pelatihan. Meski demikian, dalam pandangan awam saya, secara garis besar –mohon diluruskan kalau ada yang salah&#8211; virtual host bisa saya ibaratkan seperti rumah besar dalam sebuah perkampungan. Rumah besar inilah yang akan menjadi server untuk mengendalikan jaringan dan interaksi dengan beberapa penghuni rumah di sekelilingnya. Tentu saja, agar bisa diakses dan dihubungi, rumah besar alias virtual host tersebut harus memiliki alamat alias domain offline, sehingga bisa diakses dengan mudah oleh para penghuni rumah yang ada di sekitarnya. </p>
<p>Keberadaan sebuah virtual host jelas tak akan banyak maknanya apabila tidak didukung oleh content yang bagus dan menarik. Oleh karena itu, dibutuhkan engine open source yang bisa digunakan untuk mengatur dan mendesain letak content agar memudahkan siswa didik dalam mengakses isinya. Ada beberapa engine yang bisa digunakan secara offline, misalnya wordpress, joomla, atau moodle. </p>
<p>Saya membayangkan, seandainya setiap institusi pendidikan memiliki jaringan virtual host, bisa jadi setiap penghuninya mampu melakukan interaksi secara optimal sehingga pengetahuan mereka akan bisa terus ter-update dan ter-upgrade setiap saat dan setiap kesempatan. Mereka bisa melakukan dialog dan interaksi secara intens sehingga bisa menghilangkan kebuntuan komunikasi yang kerap kali terjadi dalam dunia persekolahan. Ini artinya, virtual host tak hanya bermanfaat untuk kepentingan pembelajaran, tetapi juga untuk kepentingan segenap konponen pendidikan yang bernaung di bawah satuan pendidikan yang bersangkutan.</p>
<p>Memang bukan hal yang mudah untuk bisa memanfaatkan virtual host bagi kepentingan pembelajaran di sekolah, apalagi menggunakan software open source sebagai basisnya. Selain komitmen, dibutuhkan keseriusan segenap komponen pendidikan untuk mewujudkan idealisme semacam ini. Sudah saatnya dunia pendidikan negeri ini melakukan perubahan mind-set pembelajaran dari situasi konvensional menuju situasi inovatif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia virtual untuk melahirkan gerenasi masa depan yang cerdas, kreatif, dan luhur budi.</p>
<p>Saya masih sangat berharap bisa mengikuti pelatihan “Pembelajaran Internet Tanpa Internet” jilid II, meski dengan basis keterampilan TIK pas-pasan. Hal ini juga termasuk bagian dari “mimpi-mimpi” saya untuk mengakrabkan generasi masa depan ini pada software open source yang sarat dengan tantangan-tantangan kreatif. Sebuah paduan pembelajaran yang harmonis dan sinergis apabila nilai-nilai humaniora dan kultural bisa disemaikan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dunia virtual berbasis open source. Akankah mimpi-mimpi itu bisa terwujud? *** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2009/10/19/virtual-host-berbasis-open-source-untuk-pembelajaran-interaktif-dan-mencerdaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>134</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aksi-aksi Pendekar Open Source di Lembah Google</title>
		<link>http://sawali.info/2009/10/11/aksi-aksi-pendekar-open-source-di-lembah-google/</link>
		<comments>http://sawali.info/2009/10/11/aksi-aksi-pendekar-open-source-di-lembah-google/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 20:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[system operasi]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=2590</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang software open source sulit diaplikasikan sebagai sistem operasi komputer kita? Siapa pula bilang driver-driver pendukung operasi sulit diinstal? Cobalah sesekali pergi ke lembah google! Masukkan kata kunci semacam open source, linux, ubuntu, dan sejenisnya di search engine! Di sana, kita akan menyaksikan kiprah para pendekar open source yang siap berbagi dengan berbagai jurus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>iapa bilang software open source sulit diaplikasikan sebagai sistem operasi komputer kita? Siapa pula bilang driver-driver pendukung operasi sulit diinstal? Cobalah sesekali pergi ke lembah google! Masukkan kata kunci semacam open source, linux, ubuntu, dan sejenisnya di search engine! Di sana, kita akan menyaksikan kiprah para pendekar open source yang siap berbagi dengan berbagai jurus jitu dalam mengoptimalkan penggunaan software yang bebas dan terbuka itu. Jurus apa pun bisa kita adaptasi dan kita terapkan untuk mengoptimalkan kinerja komputer yang berbasis open source.</p>
<p><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/Screenshot.png?t=1256035111" alt="screenshoot" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/Screenshot-1.png?t=1256034771" alt="screenshoot" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/Screenshot-2.png?t=1256034779" alt="screenshoot" width="300" />Terhitung sudah lebih dari tiga pekan saya <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://sawali.info/2009/09/12/jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu/" title="jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu">menikmati ubuntu 9.04</a>. Dengan menggunakan ext4 sebagai file system-nya, kinerja netbook jadi lebih cepat loadingnya. Saya hampir tidak menemukan kendala yang cukup berarti dalam mengupdate fitur dan software yang ada. Dengan menggunakan fitur update manager, semua software mutakhir bisa kita nikmati dengan mudah dan nyaman, tanpa dirisaukan ancaman virus yang selama ini masih menjadi hambatan bagi pengguna windows. Atau, bagi pengguna ubuntu yang suka menggunakan papan terminal bisa merapal –meminjam istilah <a href="http://www.suryaden.com/" title="Suryaden">Mas Suryaden</a>&#8211; mantra-mantra jitu untuk menginstal maupun meng-update software. </p>
<p>Demikian nyamannya menggunakan ubuntu, sampai-sampai saya telah nekad memutuskan untuk menggunakan 100% booting open source. Kendala driver sound, video, atau printer yang selama ini saya rasakan, kini sudah tak ada lagi. Dengan mengadaptasi jurus-jurus sakti para pendekar open source di lembah google, saya bisa melepaskan diri dari cengkeraman software OS berharga mahal. Saya bisa dengan mudah dan nyaman menikmati koleksi video dan MP3 lewat Movie Player. Untuk memodifikasi gambar, saya bisa menggunakan GIMP Image Editor. Hmmm &#8230; apalagi yang kurang, ya, untuk aplikasi sederhana yang selama ini saya pakai? </p>
<p>Memang harus diakui, menggunakan software open source butuh tekad dan kemauan untuk belajar. Ia tidak sama dengan windows yang semuanya sudah siap pakai. Oleh karena itu, saya juga telah nyantrik di komunitas <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://solvewithit.com/" title="Solve With IT">Solve With IT</a>, tempat nongkrong para pendekar perlinukan, semacam <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://pojokpradna.wordpress.com/" title="Pradna">Mas Pradna</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://andy.web.id/" title=" Andy MSE">Mas Andy MSE</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.suryaden.com/" title="Suryaden">Mas Suryaden</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://itempoeti.wordpress.com/" title="Mahendra">Mas Mahendra</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://kaumbiasa.com/" title="Ciwir">Mas Ciwir</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://felani.info/" title="Felani">Mas Felani</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://omagus.com/" title="omagus">Mas Agus</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://gedeblog.net/" title="gedeblog">Mas Dwi</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://masiqbal.net/" title="igbal">Mas Iqbal</a>,<a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.endarfitrianto.blogspot.com/" title="endar"> Mas Endar</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://blog.babeh.net/" title="luky">Mas Luky</a>, <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://nuruli12.wordpress.com/" title="nuruli">Mas Nuruli</a>, atau teman-teman pengguna open source yang lain, untuk ngangsu kawruh dalam merapal mantra dan menerapkan jurus-jurus jitu perlinukan. Di padepokan inilah saya bisa leluasa memelototi jurus-jurus sakti sang pendekar, meski saya harus menahan rasa malu, karena sekali pun belum pernah bisa mengembangkan jurus-jurus sakti yang mereka ajarkan.</p>
<p>Ayo, siapa lagi mau menyusul? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2009/10/11/aksi-aksi-pendekar-open-source-di-lembah-google/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>216</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membumikan Software Open Source: Mimpi Indonesia Masa Depan</title>
		<link>http://sawali.info/2009/09/27/membumikan-software-open-source-mimpi-indonesia-masa-depan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2009/09/27/membumikan-software-open-source-mimpi-indonesia-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 22:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kurikulum pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[LIPI]]></category>
		<category><![CDATA[lomba blog open source]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=2531</guid>
		<description><![CDATA[Monopoli Microsoft harus diakui telah mencengkeram ranah teknologi dan informasi (TI). Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tahun 1975 itu agaknya telah memberikan pengaruh dahsyat dan menggurita dalam penggunaan komputer di berbagai belahan dunia. Demikian kuat pengaruh Microsoft dalam dunia TI, sampai-sampai orang mengindentikkan komputer dengan windows. Namun, seiring dengan perkembangan peradaban, kehadiran Microsoft dianggap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="nofollow" target="_blank" title="lomba blog" href="http://www.informatika.lipi.go.id/seminar/main.php?feature=webnav&amp;key=lomba_blog"><img class="aligncenter" src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/seminaropensource.png?t=1256057320" alt="lomba blog" width="580" /></a></p>
<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">M</span>onopoli Microsoft harus diakui telah mencengkeram ranah teknologi dan informasi (TI). Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates tahun 1975 itu agaknya telah memberikan pengaruh dahsyat dan menggurita dalam penggunaan komputer di berbagai belahan dunia. Demikian kuat pengaruh Microsoft dalam dunia TI, sampai-sampai orang mengindentikkan komputer dengan windows.</p>
<p>Namun, seiring dengan perkembangan peradaban, kehadiran Microsoft dianggap sebagai “penjajah” yang tak pernah berhenti mengibarkan bendera kaum kapitalis dengan memproduksi software berharga mahal. Coba tengok saja daftar harga software microsoft asli di <a rel="nofollow" target="_blank" title="software-asli-microsoft" href="http://www.pvidia.com/software-asli-microsoft.php">www.pvidia.com</a> yang dipromosikan dengan harga murah dan bersaing! Untuk Windows Vista Ultimate SP1, misalnya, harganya masih mencapai US$211. Belum lagi jika kita memerlukan software operasional yang lain. Kita mesti merogoh kocek lebih dalam.</p>
<p><strong>Dampak Sosial</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://amadeo.blog.com/repository/1592217/3496970.jpg" alt="logo-opensource" width="205" />Dalam konteks Indonesia, mahalnya harga software asli Microsoft, dalam pandangan awam saya, telah melahirkan dampak sosial yang begitu luas dan kompleks. <em>Pertama,</em> mereka yang berduwit cenderung sekadar menjadi konsumen siap pakai yang tak pernah memiliki greget kreativitas untuk mengembangkan software yang sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Kondisi semacam ini, disadari atau tidak, telah membuat bangsa kita “tiarap” dalam soal TI. Kita cukup puas menjadi bangsa pengguna, tanpa memiliki “kemauan baik” untuk menjadi bangsa unggulan dalam soal TI, meski kesempatan untuk itu sangat terbuka lebar.</p>
<p><em>Kedua</em>, mereka yang tak sanggup membeli software asli Microsoft cenderung menggunakan software-software bajakan yang dengan mudah bisa ditemukan di berbagai tempat. Inilah kenyataan sosial yang tak terbantahkan. Berdasarkan catatan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2008 mencapai sekitar 10 juta orang. Sekarang, angka itu pasti sudah jauh merangkak. Belum lagi para pengguna komputer untuk keperluan sehari-hari, baik untuk kepentingan institusi maupun pribadi. Jika mau jujur, jumlah pengguna software microsoft bajakan jauh lebih banyak ketimbang pengguna software Microsoft asli. Tak berlebihan kalau ada yang mengatakan bahwa bangsa kita dikenal sebagai “bangsa pembajak” yang minim apresiasinya terhadap hak cipta.</p>
<p>Stigma sebagai “bangsa pembajak” jelas bisa menjadi “aib” buat bangsa kita yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang santun dan beradab. Dari sisi ini, perlu ada upaya serius untuk menghapuskan stigma semacam itu. Memang, selama ini pemerintah sudah mengampanyekan penggunaan software legal, khususnya kepada perusahaan. Namun, kampanye semacam itu akan menjadi sia-sia jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang berpihak kepada para pengguna software. Tidak sedikit perusahaan yang masih mengeluhkan mahalnya harga software microsoft sehingga terpaksa harus menggunakan produk-produk bajakan.</p>
<blockquote><p>Ketika menerima kunjungan Tim Nasional Penanggulangan Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (Timnas PPHKI), sebagaimana dilansir <a rel="nofollow" target="_blank" title="teknologi.vivanews" href="http://teknologi.vivanews.com/news/read/43498-perusahaan_keluhkan_mahalnya_software_asli">www.teknologi.vivanews.com</a>, Direktur PT Asuransi Jaya Proteksi, Andy Wijaya, misalnya, juga mengeluhkan mahalnya software asli yang beredar di pasaran.  &#8220;Seharusnya ada perspektif bisnis di sini. Kalau harga software murah, pasti banyak yang akan membeli,&#8221; ujar Wijaya ketika berdialog dengan Timnas PPHKI dan Business Software Alliance, sekitar bulan Maret 2009 yang lalu. Apalagi, dari sisi kualitas dan fungsionalitas, lanjut Wijaya, tak ada bedanya antara software asli dan software bajakan. Oleh karenanya, kendala yang dirasakan oleh perusahaan kecil dan menengah, menurut Wijaya adalah harga yang terlalu mahal.</p></blockquote>
<p>Ini artinya, selama software berharga murah tidak mampu disediakan oleh pemerintah melalui kebijakan regulasi yang berpihak kepada pengguna komputer, aksi pembajakan software orisinal sulit dihindarkan. Razia yang dilakukan pemerintah pun tidak akan menguntungkan buat rakyat, bahkan bisa menjadi bumerang bagi pemerintah sendiri.</p>
<p><strong>Membumikan Software Open Source</strong><br />
<img class="alignleft" src="http://almadinahsalatiga.files.wordpress.com/2008/03/logo-opensource.jpg" alt="logo-opensource" width="208" />Berkaitan dengan penggunaan software komputer yang makin berkembang pesat, terobosan penggunaan software open source bisa menjadi langkah bijak yang layak ditempuh untuk memerdekakan negeri ini dari “penjajahan” kaum kapitalis di bidang software. Terobosan semacam ini bisa menjadi langkah jitu dan visioner dalam upaya mewujudkan mimpi Indonesia masa depan terhadap penggunaan software bebas pakai.</p>
<p>Setidaknya, ada dua manfaat besar yang bisa diperoleh bangsa kita jika setiap pengguna komputer memanfaatkan software open source. <em>Pertama</em>, software open source yang bersifat terbuka dan bebas untuk dikembangkan akan merangsang bangsa ini menjadi lebih cerdas dan kreatif dalam mengakrabi dunia TI. Ini artinya, penggunaan software open source akan memiliki sumbangsih yang sangat besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanat Pembukaan UUD 1945. Dengan demikian, bangsa kita bisa menjadi pioner pengembangan perangkat lunak berbasis open source yang akan sangat diperhitungkan dalam kancah global.</p>
<p><em>Kedua</em>, membangun kemandirian bangsa di bidang TI. Diakui atau tidak, bertahun-tahun lamanya bangsa kita hidup dalam ketergantungan terhadap bangsa lain di ranah TI. Imbasnya, bangsa kita belum bisa sepenuhnya hidup merdeka dan berdaulat dalam penggunaan piranti TI karena harus selalu berkiblat dan menjadi penganut “mazab-microsoftiyah” ber-genre bajakan. Jika penggunaan software open source terus dibumikan, anak-anak bangsa negeri ini akan tercerahkan <em>mind-set</em>-nya dalam pengembangan TI sehingga bangsa kita bisa lebih mandiri, bermartabat, dan berdaulat.</p>
<p><strong>Tiga Agenda</strong><br />
Persoalannya sekarang, agenda apa saja yang perlu dilakukan agar mimpi penggunaan software open source bisa terwujud?</p>
<p>Memang bukan hal yang mudah untuk mengubah<em> mind-set </em>masyarakat kita yang telanjur terninabobokan oleh perangkat lunak bajakan. Meskipun demikian, apabila ada agenda serius untuk terus-menerus membumikan penggunaan perangkat lunak bebas pakai, bukan hal yang mustahil apabila generasi masa depan negeri ini akan terus tertantang kreativitasnya untuk mengembangkan perangkat lunak berbasis open source. Dengan kata lain, perlu ada gerakan nasional yang jelas dan visioner agar masyarakat pengguna perangkat lunak mencintai produk-produk open source.</p>
<p>Paling tidak, ada tiga agenda yang perlu segera digarap dalam upaya membumikan penggunaan software open source.</p>
<p><em>Pertama,</em> perlu ada gerakan keteladanan masif secara top-down. Pemerintah sebagai pemegang kendali kebijakan perlu memberikan keteladanan dalam menggunakan software open source. Setiap kali menyampaikan sosialisasi dan internalisasi program dan kebijakan kepada publik, pemerintah perlu menggunakan perangkat komputer dengan software berbasis open source. Jika langkah ini diikuti oleh aparat di bawahnya secara simultan dan berkelanjutan, rakyat di lapisan bawah secara tidak langsung akan berupaya mengakrabi dan bersahabat dengan software open source. Bukankah ini sebuah tindakan efektif yang benar-benar akan memberikan citraan positif kepada masyarakat luas?</p>
<p><em>Kedua,</em> memasukkan materi software berbasis open source ke dalam kurikulum pendidikan. Sejak diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), jenjang pendidikan dasar dan menengah sudah memasukan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran ke dalam kurikulum. Namun, sepanjang pengamatan saya, materi TIK yang diadopsi ke dalam buku teks masih sangat “microsoft-minded”. Ilustrasi dan materi dalam buku ajar masih sangat kuat dipengaruhi oleh perangkat lunak yang diproduksi oleh Bill Gates itu. Akibatnya, keluaran pendidikan kita lebih mengenal microsoft windows ketimbang open source. Untuk membumikan penggunaan software open source melalui dunia pendidikan, perlu ada upaya serius untuk memberdayakan guru yang berdiri di garda depan dalam dunia pendidikan. Mereka perlu terus digembleng dan diubah <em>mind-set</em>-nya melalui berbagai workshop dan pelatihan sehingga benar-benar akrab dan bersahabat dengan software open source. Jika guru benar-benar menguasai sekaligus mampu mengembangkan software open source secara kreatif, jelas akan memberikan sumbangsih yang sangat besar dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas dan kreatif dalam menggunakan software berbasis open source.</p>
<p><em>Ketiga</em>, merangkul para pengembang software open source untuk melakukan asistensi dan pelatihan di berbagai institusi. Fakta menunjukkan bahwa selama ini (hampir) semua institusi di berbagai lapis dan lini birokrasi sudah menggunakan perangkat komputer dalam membuat, mengolah, dan menyimpan berbagai data untuk kepentingan institusi yang bersangkutan. Jika para operatornya terus dilatih dan dibimbing secara intensif oleh pengembang software open source yang benar-benar andal dan mumpuni, mimpi untuk mewujudkan Indonesia masa depan yang akrab dengan software open source, saya kira bukan hal yang mustahil untuk bisa diwujudkan.</p>
<p>Pelaksanaan ketiga agenda tersebut jelas membutuhkan sinergi dan kerja keras semua pihak. Pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan, organisasi, pengembang software open source, dan segenap komponen bangsa yang lain perlu membangun kesadaran kolektif untuk mewujudkan mimpi Indonesia masa depan yang akrab dengan penggunaan software open source yang terbuka dan bebas dikembangkan sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Dengan cara demikian, bangsa kita akan sanggup menghapus stigma sebagai “bangsa pembajak”, bahkan akan mampu berdaulat dan mandiri sepenuhnya dalam menggunakan perangkat lunak di bidang TI, sehingga tidak lagi terninabobokan dan terus bergantung pada software komputer berharga mahal.</p>
<p>Sudah saatnya negeri ini berubah. Jangan biarkan bangsa kita yang besar, merdeka, dan berdaulat penuh ini terus-terusan menjadi ladang kaum kapitalis dalam mengembangkan “imperium kekuasaan”-nya di bidang TI. Mari, kita hancurkan stigma “bangsa pembajak” dan kita buka<em> mind-set</em> kita untuk menggunakan dan mengembangkan software open source yang lebih mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kalau tidak kita mulai dari sekarang, lalu kapan?  ***</p>
<p align="left">Tulisan ini dibuat untuk menyukseskan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.informatika.lipi.go.id/seminar/lombablog/">Lomba Blog Open Source</a> P2I-LIPI dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.informatika.lipi.go.id/seminar/">Seminar Open Source</a> P2I-LIPI 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2009/09/27/membumikan-software-open-source-mimpi-indonesia-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>164</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta dan Merdeka Bersama Ubuntu</title>
		<link>http://sawali.info/2009/09/12/jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu/</link>
		<comments>http://sawali.info/2009/09/12/jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 19:42:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[netbook]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>
		<category><![CDATA[windows]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=2441</guid>
		<description><![CDATA[Keinginan untuk menggunakan software per-linux-an sebenarnya sudah berlangsung amat lama. Bahkan, saya dulu pernah mencoba menginstal ubuntu versi gutsy gibbon yang saya dapatkan secara gratis dari negerinya orang bule. Namun, agaknya masih banyak software yang tidak kompatibel, sehingga saya terpaksa kembali mengakrabi produk microsoft windows. Jujur saja, pertemuan saya dengan Mas Andy MSE dan Mas Abied secara tidak langsung telah memprovokasi saya untuk meninggalkan sofware-software microsoft, lebih-lebih yang versi bajakan. Keinginan itu makin menguat ketika sempat berbincang-bincang lebih jauh dengan Mas Suryaden di rumah Mas Abied (Ngawi) dalam perjalanan pulang dari Ponorogo.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.ubuntu.com/"><img src="http://www.ubuntu.com/files/countdown/904/countdown-9.04-1/00.png" alt="Ubuntu 9.04 - on desktops, netbooks, servers and in the cloud" width="180" height="150" border="0" /></a><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">K</span>einginan untuk migrasi ke software ubuntu akhirnya terpenuhi juga setelah berjuang keras *halah* mengunduhnya sambil menahan napas, hehe &#8230; Maklum, saya menggunakan netbook remix yang tidak dilengkapi dengan drive CD/DVD sehingga mesti berjuang untuk mendapatkan software bebas pakai itu. Seperti diketahui, Netbook Remix masih menggunakan master operating system Windows XP Home Edition yang dikeluarkan sang kapitalis Bill Gates. Lewat bantuan Om Google, saya bisa mendapatkan panduan bagaimana menginstal Ubuntu 9.04 Netbook Remix yang cocok dengan netbook yang saya gunakan.</p>
<p>Berikut ini langkah-langkahnya:</p>
<ol>
<li>Download file image di <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.ubuntu.com/getubuntu/download-netbook" target="_blank">http://www.ubuntu.com/getubuntu/download-netbook</a></li>
<li>Download Disk Imager dari <a rel="nofollow" target="_blank" href="https://launchpad.net/win32-image-writer/+download">https://launchpad.net/win32-image-writer/+download</a></li>
<li>Masukkan flashdsik  (1 GB ke atas)</li>
<li>Jalankan Disk Imager</li>
<li>Pilih posisi file image dan posisi flashdisk kemudian klik “Write”</li>
<li>Restart melalui flashdisk</li>
<li>Untuk install ubuntu langkah tinggal mengikuti step by step</li>
</ol>
<p>Setelah langkah-langkah tersebut saya ikuti, akhirnya terinstal juga ubuntu 9.04 itu. Namun, untuk koneksi internet, ternyata saya gagal, meski telah berulang-ulang mencobanya. Tiba-tiba, saya jadi ingat waktu ngobrol bareng <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://andy.web.id/" title="andy mse">Mas Andy MSE</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://jauhdimata.com/" title="mas abied">Mas Abied</a>, beserta teman-teman bloger yang lain dalam acara Ambalwarsa I kotareyog.com di Ponorogo beberapa waktu yang lalu. Saat itu, dua sahabat bloger yang sudah amat <em>friendly </em>dengan software open-source itu demikian fasih berbicara soal per-linux-an. Akhirnya, berkat bantuan Sang Bayang, saya bisa kontak langsung ke Mas Abied.  Lewat HP, Mas Abied menuntun saya bagaimana men-set-up koneksi internet di ubuntu. Hmm&#8230; akhirnya bisa juga terkoneksi lewat internet. Terima kasih, Mas Abied.</p>
<p>Namun, ke-gaptek-an saya tak berhenti sampai di situ. Saya belum bisa menginstalasi driver sound dan video-nya. Ketika fitur update manager pada menu administration saya hidupkan, ubuntu melakukan pengecekan secara otomatis. Ternyata, masih banyak software yang belum terinstal secara baik. Ketika saya instal ulang, wah, ternyata terjadi kesalahan pada penataan partisi hardisk. Software yang berukuran besar gagal terinstal karena space hardisk telah limit. Berkali-kali saya instal, selalu muncul permasalahan yang sama. Walhasil, saya terpaksa harus melakukan partisi ulang. Alhamdulillah, pada instalasi kedua, prosesnya berlangsung sukses. Setelah saya cek lewat update manager, semua software bisa terinstal dengan baik. Sekarang saya bisa lebih merdeka dari cengkeraman sang kapitalis di bidang IT itu, bahkan makin jatuh cinta pada ubuntu, hehe &#8230;</p>
<p><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/CatatanSawaliTuhusetya_125268862673.png?t=1256057846" alt="ubuntu2" width="350" />Keinginan untuk menggunakan software per-linux-an sebenarnya sudah berlangsung amat lama. Bahkan, saya dulu pernah mencoba menginstal <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/" title="gutsy gibbon">ubuntu versi gutsy gibbon</a> yang saya dapatkan secara gratis dari negerinya orang bule. Namun, agaknya masih banyak software yang tidak kompatibel, sehingga saya terpaksa kembali mengakrabi produk microsoft windows. Jujur saja, pertemuan saya dengan <a href="http://andy.web.id/" title="andy mse">Mas Andy MSE</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://jauhdimata.com/" title="mas abied">Mas Abied</a> secara tidak langsung telah memprovokasi saya untuk meninggalkan sofware-software microsoft, lebih-lebih yang versi bajakan. Keinginan itu makin menguat ketika sempat berbincang-bincang lebih jauh dengan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.suryaden.com/" title="suryaden">Mas Suryaden</a> di rumah Mas Abied (Ngawi) dalam perjalanan pulang dari Ponorogo.</p>
<p>Keinginan untuk segera beralih ke ubuntu makin kuat ketika beberapa waktu yang lalu sempat ngobrol dengan Pak Onno W. Purbo dengan beberapa teman guru yang mengikuti “Workshop Nasional Linux untuk Pendidikan” di SMA Muhammadiyah Weleri Kendal.</p>
<p>Kini, setelah beberapa hari menggunakan ubuntu, keinginan untuk belajar mengakrabi software-software open-source jadi makin menggila. Sekarang, saya masih mencari software printer Canon Pixma 1700 dan beberapa software lain yang mendukung kinerja ubuntu. Ada saran? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2009/09/12/jatuh-cinta-dan-merdeka-bersama-ubuntu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>251</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Onno W. Purbo, Linux, dan Penguatan Arus Bawah</title>
		<link>http://sawali.info/2009/09/06/onno-w-purbo-linux-dan-penguatan-arus-bawah/</link>
		<comments>http://sawali.info/2009/09/06/onno-w-purbo-linux-dan-penguatan-arus-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 06:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=2427</guid>
		<description><![CDATA[Para penggiat komputer dan internet sudah pasti akrab dengan nama Onno W Purbo. Lelaki kelahiran Bandung, 17 Agustus 1962 ini agaknya telah tertahbiskan sebagai “profesor internet” yang punya mimpi besar untuk memintarkan Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">P</span>ara penggiat komputer dan internet sudah pasti akrab dengan nama Onno W Purbo.  Lelaki kelahiran Bandung, 17 Agustus 1962 ini agaknya telah tertahbiskan sebagai “profesor internet” yang punya mimpi besar untuk memintarkan Indonesia. Meminjam istilah <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://asopian.blogspot.com/2001_09_01_asopian_archive.html" title="Onno W Purbo">Agus Sopian</a>, Purbo bukanlah anonim dalam jagat telematika. Bersama <em>Asia Internet Interconnection Intiatives (AI3) Project</em>, organ riset internet paling berpengaruh di Asia, dan <em>Computer Network Research Group (CNRG)</em>, lembaga yang diprakarsainya, Purbo ikut memberikan cetak biru terhadap pengembangan internet di Indonesia. </p>
<p><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/linux1.jpg?t=1256057478" alt="workshop 1" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/linux3.jpg?t=1256057536" alt="workshop 1" width="300" /><img src="http://i935.photobucket.com/albums/ad198/sawali64/linux1.jpg?t=1256057649" alt="workshop 1" width="300" />Untuk ketekunan dan kepakarannya, sederet penghargaan telah diraihnya. Sebut saja <em>Golden Award for Indonesian Telematika Figure</em> dari Kamar Dagang Indonesia (2000),<em> ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award dari ASEAN Federation of Engineering Organization</em> (1997), atau Penghargaan Pemenang Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia, selain tercatat dalam buku <em>American Men and Women of Science</em> (1992). Masyarakat internet, bahkan menggelarinya &#8216;profesor internet&#8217;, sebagian mendaulatnya jadi &#8216;menteri internet&#8217;-suatu penghargaan yang acap membuat Purbo merasa geli.</p>
<p>&#8220;Modal saya,&#8221; kata pria yang biasa menuliskan namanya Onno W. Purbo ini, &#8220;betul-betul modal dengkul. Saya tidak pernah belajar formal tentang teknologi informasi, tidak pernah belajar formal tentang internet. Saya jelas lebih bodoh daripada adik-adik mahasiswa di ITB. Lha wong sering nanya ke mereka kok saya ini. Terus terangnya, saya praktis tidak punya apa-apa secara formal.&#8221;</p>
<p>Purbo agaknya telah memperkaya khazanah humor dunia, melengkapi dongeng Albert Einstein yang mampu menciptakan teori relativitas yang terkenal itu, padahal ia pernah mendapat nilai D untuk fisika; atau kisah pemikir ekonomi kaliber doktor sekelas Karl Marx yang justru hidup dalam lembah kemiskinan.</p>
<p><strong>Tampil Bersahaja</strong><br />
Begitulah gambaran sekilas tentang sosok Onno W Purbo. Selalu tampil bersahaja dan friendly dengan siapa saja. Dia juga selalu konsisten untuk memberikan penguatan arus bawah dengan menyuarakan komputer dan internet murah bagi rakyat. Kesan ini yang bisa saya tangkap ketika bersama beberapa teman yang hadir dalam acara “Workshop Nasional Linux untuk Pendidikan” yang digelar di SMA Muhammadiyah Weleri, Kendal, pada tanggal 5-6 September 2009. </p>
<p>Sungguh, saya tak menduga kalau Onno W Purbo yang baru saya kenali sebatas lewat tulisan-tulisannya di Kompas, ternyata sosok yang ramah dan merakyat. Ia tak segan-segan untuk lesehan bareng dengan peserta workshop nasional yang datang dari berbagai daerah itu. Dalam upaya memperkenalkan software opensource pada dunia, Onno W Purbo, biasa bergaul dengan orang dari berbagai kalangan, mulai tingkat lokal hingga dunia. Ketika didaulat berbicara tentang penggunaan linux untuk pendidikan, Onno W Purbo tak henti-hentinya menyuarakan betapa pentingnya membudayakan penggunaan software opensource ini kepada seluruh anak bangsa. </p>
<p>“Kita ini negara miskin, tapi software yang kita gunakan keluaran microsoft yang mahal. Kalau tak bisa pakai yang asli, lantas kita membajaknya. Berapa dosa saja yang harus kita tanggung jika hal ini tidak segera diakhiri? Hehe …..” kelakarnya disambut gerrr dari segenap yang hadir. Rupanya, kelakar Onno W Purbo menjadi pemicu adrenalin para peserta workshop untuk makin “keranjingan” pada Linux. Beragam opini pun tumpah dalam forum. Utomo, Kabid Pendidikan Menengah, Dinas Dikpora Kab. Kendal, misalnya, telah tergerak untuk membudayakan penggunaan linux dalam dunia pendidikan di Kab. Kendal. </p>
<p>“Nanti, kami akan membentuk tim pengembang Linux di tingkat kabupaten. Fungsi tim ini adalah untuk membantu dan memfasilitasi sekolah yang ingin menggunakan Linux. Bahkan, kami nanti juga akan membuat software aplikasi yang hanya bisa dibuka oleh Linux. Langkah ini sekaligus untuk “memaksa” sekolah-sekolah di Kab. Kendal agar belajar menggunakan Linux,” tegasnya disambut aplaus hadirin. </p>
<p><strong>Perintis Linux</strong><br />
Diskusi dan dialog yang dipandu Kepala SMA Rowosari, Sunarto, ini berlangsung hangat dan akrab. Para peserta yang sebagian besar sudah menjadi pengguna Linux makin bersemangat untuk membantu dan mendampingi tekad Kab. Kendal sebagai salah satu kabupaten perintis penggunaan Linux dalam dunia pendidikan. “Begitu Linux disebut, maka nama Kendal dengan sendirinya akan include di situ,” lanjut Pak Utomo. Hal ini diamini oleh Agus Muhajir, seorang penggiat Linux Kendal yang telah melahirkan banyak software aplikatif dalam dunia pendidikan berbasis opensource (Sisfokol). Diskusi pun melebar hingga ke persoalan KGI Kendal yang menurut Sigid Haryadi, Ketua Panitia Workshop, belum juga di-launching. </p>
<p>“Padahal, KGI sendiri kan sudah punya program Sagusala. Ini akan menjadi momen yang tepat bagi KGI Kendal untuk mengenalkan Linux kepada rekan-rekan guru,” sela Purnomo, guru SMK Muhammadiyah, Weleri, Kendal. “Dengan laptop yang sudah ter-remaster Linux, mau atau tidak, para peserta program Sagusala dengan sendirinya akan menjadi pengguna Linux,” lanjutnya. </p>
<p>“Wah, namakan saja programnya jadi Sagusala BOS, Sagusala Berbasis Opensource, hehe &#8230;” sergah Onno W Purba disambung gerrr hadirin untuk ke sekian kalinya, termasuk bloger <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://ekspresihati.info/" title="ahmad sholeh">Ahmad Sholeh</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://rochmaniac.blogspot.com/" title="jaitoe">Jaitoe Rohman</a>, serta Ibnu Darmawan, PNS yang kini memperkuat jajaran birokrasi RS Soewondo Kendal, tetapi kecintaan dan perhatiannya terhadap dunia pendidikan tak pernah luntur. </p>
<p>Begitulah diskusi dan bincang-bincang akrab dengan Onno W Purba, “profesor internet” yang tak pernah lelah memberikan penguatan arus bawah dalam menggunakan komputer dan internet yang murah dan merakyat itu. Dalam pandangan awam saya, sosok Onno telah memberikan banyak inspirasi, tak hanya untuk Indonesia, tetapi juga kepada dunia, agar tidak terus-terusan menjadi bangsa pembajak. Saya juga yakin, Onno W Purba juga akan menyuarakan hal yang sama ketika pada 22 September 2009 nanti diundang  sebagai salah satu narasumber dalam sebuah seminar internasional di Harvard University. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2009/09/06/onno-w-purbo-linux-dan-penguatan-arus-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>142</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ubuntu? Ufh….</title>
		<link>http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Feb 2008 09:51:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[inovasi]]></category>
		<category><![CDATA[linux]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[ubuntu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/</guid>
		<description><![CDATA[Gara-gara sentilan dan “provokasi” Pak deking, hehehehehe :mrgreen: dalam sebuah obrolan lewat YM sekitar 3 bulan yang lalu, akhirnya saya iseng mengajukan permohonan untuk dikirimi CD Ubuntu 7.10 (Gutsy Gibbon) gratis di sini. Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk bermigrasi dari windows ke linux. Windows yang saya gunakan sebagai sistem operasi di PC sudah terlalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Gara-gara sentilan dan “provokasi” <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://deking.wordpress.com/" target="_blank">Pak deking</a>, hehehehehe :mrgreen: dalam sebuah obrolan lewat YM sekitar 3 bulan yang lalu, akhirnya saya iseng mengajukan permohonan untuk dikirimi CD <a rel="nofollow" target="_blank" href="https://shipit.ubuntu.com/" target="_blank">Ubuntu 7.10</a> (Gutsy Gibbon) gratis <a rel="nofollow" target="_blank" href="https://shipit.ubuntu.com/">di sini</a>. Sebenarnya sudah lama saya berkeinginan untuk bermigrasi dari windows ke linux. Windows yang saya gunakan sebagai sistem operasi di PC sudah terlalu lama dan sudah terinfeksi bejibun virus sehingga gerakan jadi lamban dan berat. Konek net pun jadi makin payah. Apalagi, ketika membaca postingan <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.rumahair.com/2008/02/18/ubuntu-linux-keren/" target="_blank">Mashair</a> yang juga baru saja bermigrasi ke Ubuntu. *Hiks, jadi ngiri* Keinginan untuk segera bisa bersentuhan langsung dengan Ubuntu pun kian menggila.</p>
<p align="justify">Keinginan itu baru bisa terwujud ketika kemarin (Selasa, 26 Februari 2008) saya mendapatkan kiriman CD itu. Maklum, saya tinggal di sebuah kampung yang jauh dari pusat peradaban modern, sehingga bukan hal yang mudah untuk mendapatkan software yang up to date. Setelah menunggu sekitar 3 bulan, CD itu pun akhirnya terkirim juga.</p>
<p align="center"><img src="http://sawali64.googlepages.com/cover.gif" align="left" height="172" width="197" /><img src="http://sawali64.googlepages.com/cd.gif" height="172" width="197" /></p>
<p align="justify">Hanya dengan membaca petunjuk yang ada di balik kemasan CD, saya pun langsung memasukkan CD dan booting lewat dos. Software ubuntu pun segera jalan. Saya hanya tinggal menunggu proses selanjutnya. Berdasarkan sharing dengan beberapa teman, agaknya instalasi ubuntu itu amat mudah, sehingga saya pun pede saja untuk melakukannya. Walhasil, saya pun terus mengikuti perintah-perintah yang tertulis di layar. Memang benar, instalasi ubuntu ternyata teramat mudah.</p>
<p align="justify">Namun, saking gembiranya, saya telah melakukan proses intalasi yang gegabah. Ketika proses partisi hardisk berlangsung, saya tidak pernah memperhatikan kalau saya punya banyak file di windows. Kapasitasnya hingga mencapai 20 GB, berupa file yang saya buat, soft copy, atau software yang saya kumpulkan sejak mengenal komputer (sekitar 1998). Saya pun hanya meng-klik perintah yang ada di layar tanpa berusaha memahami maksudnya, hingga proses instalasi selesai.</p>
<p align="justify">Hal yang tak pernah kuduga pun terjadilah. Ketika saya cek, file-file di windows rupanya telah tersapu bersih pada saat instalasi berlangsung. Satu huruf pun tak tersisa, hiks. Sedih! Argghhh … Kenapa saya bisa demikian tolol dan membiarkan file-file berharga tersebut tersapu ubuntu? Ubuntu .. ufh…. Sistem operasi open-source ini telah memberikan pelajaran berharga betapa kita tidak boleh gegabah dalam melakukan pekerjaan apa pun, termasuk menginstalasi program komputer.  *Baru nyadar, hiks* Masih bisakah file-file itu saya lacak? Bagaimana ya caranya? Beruntung *pernyataan klasik untuk tidak terlalu larut dalam kesedihan, hehehehe :lol: * beberapa waktu sebelumnya saya sempat mem-back up sebagian file-file saya ke-CD sehingga masih bisa sedikit bernapas.</p>
<p align="justify">Yups, sudahlah. Semua telah usai. Layar windows saya telah tertutup dan telah tergantikan bentangan layar baru yang lebih “liar”, bebas virus, dan familiar. “Ubuntu!” Aku sambut kehadiran Ubuntu sambil *halah* jingkrak-jingkrak sekaligus mengelus dada. Mudah-mudahan Ubuntu memberikan kenyamanan saya dalam memanfaatkan fasilitas PC, baik ketika offline maupun online. Inilah skrinsut blog saya untuk pertama kalinya saya lihat melalui Ubuntu.</p>
<p style="text-align: center"><img src="http://sawali64.googlepages.com/Screenshot.png" height="455" width="580" /></p>
<p align="justify">Memang tampil beda. Saya juga heran ketika gaya font-nya pun berubah. Saya pernah Ngoprek-oprek theme. Font yang saya pakai untuk main body adalah Georgia. Namun, mengapa gaya font-nya jadi berubah? Ini memang ciri khas Ubuntu atau kualitas PC saya yang tidak mendukung?</p>
<p align="justify">Hingga saat ini Ubuntu di PC saya masih belum 100% fix. Banyak software yang tidak familiar diinstal di Ubuntu. Saya terpaksa masih harus banyak googling untuk melacak dan memburu software yang lebih kompatibel. Adakah teman-teman yang bisa membantu saya yang gaptek, ndesa, dan katrok ini, hiks, menunjukkan situs penyedia software khusus Ubuntu? Ok, terima kasih! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2008/02/27/ubuntu-ufh%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
