Malam Lebaran: antara Kebahagiaan dan Ketragisan Hidup
Kategori: Bahasa, Budaya, Esai, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi, Sastra
Entah, setiap kali menjelang lebaran, saya selalu diingatkan lirik Sitor Situmorang dalam puisinya “Malam Lebaran”. Puisinya hanya terdiri atas satu larik: “Bulan di atas kuburan”. Meski pendek, puisi ini menawarkan kandungan makna yang “liar” sekaligus juga imajinatif. Dari sisi stylistika, “Malam Lebaran” bisa dibilang sebagai “pembaharu” dalam perpuisian Indonesia di tengah maraknya puisi-puisi naratif kontemporer. Meski demikian, saya tak ingin membedahnya dari sisi stylistika. Saya justru lebih tertarik untuk menelaahnya dari aspek muatan isi yang saya anggap “liar” dan imajinatif itu. Saya juga tak menggunakan pendekatan atau teori sastra tertentu, tetapi lebih pada upaya penafsiran dan pemaknaan dari sudut pandang... (Baca lanjutannya!)
Mengantisipasi Ulah Hacker “Hitam”
Sebenarnya saya kurang begitu paham terhadap dunia para hacker. Konon, mereka adalah orang-orang yang cerdas. Rasa ingin tahunya terhadap dunia komputer dan internet melebihi batas-batas kewajaran, sehingga apa pun mereka lakukan demi “memanjakan” naluri rasa ingin tahunya itu. Untuk membuktikan “kecerdasannya”, para hacker tak henti-hentinya melakukan inovasi dan terobosan baru di dunia IT. Jelas menjadi sebuah kebanggaan jika temuan-temuannya berhasil menjadi ikon kecanggihan dalam dunia komputer dan internet. Dari sisi ini, keberadaan seorang hacker jelas akan membawa peradaban menjadi lebih maju dan modern. Namun, persoalannya menjadi lain ketika kecerdasan yang dimilikinya bukan digunakan untuk memberikan kemaslahatan umat manusia,... (Baca lanjutannya!)













