<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Sawali Tuhusetya &#187; Tradisi</title>
	<atom:link href="http://sawali.info/category/budaya/tradisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sawali.info</link>
	<description>Tentang Dunia Pendidikan, Bahasa, dan Sastra</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 22:53:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender</title>
		<link>http://sawali.info/2010/08/05/pelatihan-pendidikan-sekolah-berwawasan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/08/05/pelatihan-pendidikan-sekolah-berwawasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 17:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kesetaraan gender]]></category>
		<category><![CDATA[kultur patriarkhi]]></category>
		<category><![CDATA[peran kaum perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4485</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 3 Agustus 2010, saya didaulat untuk menyajikan materi Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender bagi guru se-Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Yayasan Bina Dharma, Jalan Bukit Sawo, Bugel, Salatiga. Dalam pelatihan yang berlangsung selama empat hari itu, saya “ketiban sampur&#8221; untuk menyajikan materi Pembelajaran Berwawasan Gender yang diikuti sekitar 40 guru dari mata pelajaran PKn, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>elasa, 3 Agustus 2010, saya didaulat untuk menyajikan materi Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender bagi guru se-Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Yayasan Bina Dharma, Jalan Bukit Sawo, Bugel, Salatiga. Dalam pelatihan yang berlangsung selama empat hari itu, saya “ketiban sampur&#8221; untuk menyajikan materi Pembelajaran Berwawasan Gender yang diikuti sekitar 40 guru dari mata pelajaran PKn, PAI, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Penjas, dan pengembangan diri (BK). </p>
<p>Interpretasi dan kesan rekan-rekan sejawat memang beragam. Ada yang sudah berkali-kali mengikuti kegiatan serupa, tetapi tidak sedikit juga yang baru pertama kali mengikuti pelatihan semacam ini. Pengarusutamaan Gender (PUG) bidang Pendidikan sudah memiliki “payung hukum” yang jelas seiring dengan dikeluarkannya Peraturan Mendagri No. 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah dan Permendiknas No. 84 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Selain itu, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga sudah menjadikan kesetaraan gender sebagai salah satu ranah yang perlu dijadikan sebagai acuan operasional penyusunan kurikulum. Ini artinya, dari sisi legal-formal, PUG bidang Pendidikan tak perlu disangsikan lagi untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.  </p>
<p><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi8L1sZljI/AAAAAAAABjk/7kOywYAyKxw/P7150001.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi8MLuWtNI/AAAAAAAABjo/yO2ADK6rGXQ/materi%20pelatihan.png" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi8MH3b0aI/AAAAAAAABjs/mMCoXFcmkP4/P7150003.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi8MQf7hQI/AAAAAAAABjw/GgrofSgoxPE/P7150004.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi8MZfX08I/AAAAAAAABj0/rI1ATv63ZWg/P7150005.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><br />
<img class="expando" src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi88uZv6MI/AAAAAAAABj4/Lqmzp_a8ecQ/P7150006.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi88gqAh9I/AAAAAAAABj8/Yh7hYVv-ot8/P7150007.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /><img class="expando" src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TFi884T7nII/AAAAAAAABkA/F8LLGccgPTg/P7150008.jpg" alt="kesetaraan gender" width="275" /></p>
<p>Namun, secara jujur harus diakui, implementasi PUG dalam proses pembelajaran masih terkendala banyak faktor. Selain kultur masyarakat kita sudah demikian lama dicengkeram oleh kokohnya budaya patriarki yang memandang kaum perempuan sebagai “makhluk kelas dua”, dukungan anggaran dan fasilitas sekolah yang memberikan ruang gerak yang memadai terhadap implementasi PUG bidang pendidikan juga belum berlangsung seperti yang diharapkan. Dalam konteks demikian, sangat beralasan kalau implementasinya dalam proses pembelajaran di kelas belum bisa berlangsung mulus dan kondusif.</p>
<blockquote><p>Meski demikian, tidak lantas berarti PUG bidang pendidikan gagal teraplikasikan. Untuk melepaskan kuatnya mitos dan akar patriarki yang melilit kultur masyarakat kita memang membutuhkan proses dan tahapan yang cukup lama. Sejak dini, anak-anak yang kini tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan, mulai TK, SD, SMP, hingga SMA/MA/SMK, perlu diubah mind-set-nya tentang keadilan dan kesetaraan gender. Secara bertahap, anak-anak masa depan negeri ini perlu diperkenalkan dan diajak untuk berpikir kritis dan visioner dalam memandang posisi dan peran kaum perempuan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Jangan sampai terjadi, anak-anak yang notabene menjadi pewaris sah masa depan negeri ini masih terus dihinggapi mitos “serba laki-laki” sehingga peran kaum perempuan makin terpinggirkan. </p></blockquote>
<p>Salah satu strategi yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Jika dilakukan secara simultan dan berkelanjutan, perubahan mind-set anak-anak akan terus berlangsung dari generasi ke generasi, hingga akhirnya pada kurun waktu beberapa tahun mendatang, mitos dan kultur patrarkhi akan bisa terbebaskan. Peran dan posisi kaum perempuan di ranah publik juga makin diakui, hingga tak muncul lagi peristiwa bias gender, baik dalam bentuk marginalisasi (peminggiran), double burden (peran ganda), kekerasan (violence), stereo-type (citra baku/pelabelan), maupun subordinasi (penomorduaan) yang menimpa kaum perempuan. </p>
<p>Semoga situasi seperti itu bisa segera terwujud! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/08/05/pelatihan-pendidikan-sekolah-berwawasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>77</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Kendal Mandiri: Refleksi Hari Jadi Ke-405</title>
		<link>http://sawali.info/2010/07/27/menuju-kendal-mandiri-hari-jadi-2/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/07/27/menuju-kendal-mandiri-hari-jadi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jul 2010 08:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Jadi Kendal]]></category>
		<category><![CDATA[seni dan budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=4438</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui ﻿perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah menjadi 28 Juli setiap tahunnya. Hal itu disampaikan oleh Prof. Juliati Suroyo ketika menyampaikan pemaparan hasil seminar hari jadi yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float:right;padding-left:5px;padding-top:20px;margin:0px -10px 0px 5px"><img src="http://www.kendalkab.go.id/images/stories/logo_hj_benner.jpg" alt="hari Jadi Kendal" /></span><br />
<span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">T</span>anggal 28 Juli 2010, Kendal telah berusia 405 tahun. Penetapan Hari Jadi Kendal tidak serta-merta lahir begitu saja, tetapi melalui ﻿perdebatan yang panjang. Hari Jadi Kabupaten Kendal yang biasanya diperingati setiap 26 Agustus akhirnya diubah menjadi 28 Juli setiap tahunnya. Hal itu disampaikan oleh Prof. Juliati Suroyo ketika menyampaikan pemaparan hasil seminar hari jadi yang di lakukan pada 6 Agustus 2006 yang silam. Perubahan momen tersebut didasarkan pada pengangkatan Tumenggung Bahurekso sebagai Bupati Kendal pada 12 Robiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605 M. Hari atau tanggal tersebut dalam penanggalan Jawa jatuh pada hari Kamis legi malam Jumat pahing 1527 Saka. Jadi, bukan didasarkan pada penyerangan Tumenggung Bahurekso ke Batavia pada tanggal 26 Agustus 1626. Sejarah Kabupaten Kendal selengkapnya bisa buka pada tab berikut ini!</p>
<div style="margin: 0px;">
<div style="margin-bottom: 0px;">
<input style="margin: 0px; padding: 0px; width: 300px; text-transform: uppercase; font: bold 12px arial;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Sejarah Kabupaten Kendal'; }" type="button" value="Sejarah Kabupaten Kendal" /></div>
<div class="alt2" style="margin: 0px; padding: 0px;">
<div style="display: none;">
<p><strong>Sejarah Kabupaten Kendal </strong><br />
Nama Kendal diambil dari nama sebuah pohon yakni Pohon Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 &#8211; 1546 M yaitu pada masa Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka kepada Pakuwojo.</p>
<p>Peristiwa yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan pertentangan dan mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak &#8220;sari&#8221; itu, Beliau menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut &#8220;Kendalsari&#8221;. Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir Jln Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena batangnya berlubang atau growong.</p>
<p>Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu memiliki yang arti sangat penting. Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal</p>
<p>Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di Daerah Kesesi Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.</p>
<p>Perkembangan lebih lanjut dengan momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah &#8220;gagal dan gugur&#8221; dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.</p>
<p>Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo ( guru besar Fakultas sastra Undip Semarang ), Dr. Wasino, M.Hum ( dosen Pasca Sarjana Unnes ) H. Moenadi ( Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono. serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. Tangal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527 Caka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan Daerah ( PERDA ) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan Hari Jadi Kabupaten Kendal ( Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E nomor 15 ).</p>
<p><strong>Pemerintahan Kabupaten Kendal Sekarang dan Zaman Doeloe</strong><br />
Kaliwungu pernah berjaya sebagai pusat pemerintahan sejak awal berdirinya Kabupaten Kendal. Namun karena kondisi perpolitikan di pusat Mataram pada waktu itu dan adanya pertimbangan untuk perkembangan pemerintahan, menyebabkan pusat pemerintahan tersebut pindah ke kota Kendal hingga sekarang. Sehingga akhirnya Kaliwungu hanya digunakan untuk tempat tinggal kerabat Ayahanda Bupati yang sering disebut sebagai Kasepuhan. Sedangkan pemerintahannya dijadikan sebagai daerah administrasi yaitu Distrik Kaliwungu.</p>
<p><strong>Bupati Kendal dan Pusat Pemerintahan dari Masa ke Masa</strong></p>
<ol>
<li> Pangeran Ario Prawirodiningrat II Putra Bupati Pangeran Ario Prawirodiningrat I (Bupati terakhir Kendal dengan Pusat Pemerintahan masih di Kaliwungu) 1813 -1830</li>
<li> Raden Tumenggung Purbodiningrat Menantu Bupati P. Ario Prawirodingrat II 1832 -1850.</li>
<li> Kyai Tumenggung Purbodiningrat Asal Gresik. 1832 -1850.</li>
<li> Pangeran Ario Notohamiprojo 1857 -1891.</li>
<li> Raden Mas Ario Notonegoro Putra Bupati Pangeran Ario Notohamiprojo 1891-1911</li>
<li> Patih Raden Cokro Hadisastro Menantu Bupati Jepara Sosrodiningrat / Ipar R.A. Kartini (menjalankan pemerintahan sementara karena Bupati meninggal dunia) 1911-1914.</li>
<li> Raden Mas Adipati Ario Notohamijoyo atau Raden Mohammad Putra RM. Ario Notonegoro 1914 -1938</li>
<li> Raden Patih Notomudigdo memegang jabatan sementara karena Bupati Raden Mas Adipati Ario Notohamijoyo memasuki masa pensiun. 1938.</li>
<li> Raden Mas Zarwits Purbonegoro asal Kutoharjo 1939 -1942</li>
<li> Patih Raden Mas Kusuma Hudoyo 1942 -1945</li>
<li> Sukarmo Putra Lurah Ketapang Kendal. (Anggota Sanggiin diangkat dalam masa Revolusi Rakyat Kendal. 1945 -1949</li>
<li> R. Ruslan Masa Agresi Belanda 1949</li>
<li> R. Prayitno Partodijoyo Patih dari Pekalongan 1950 -1956</li>
<li> R. Soedjono Bupati Blora 1957-1960</li>
<li> Staf Kantor Gubernur &#8211; R. Abdul Rahman &#8211; R. Gondo Pranoto</li>
<li> R. Salatun Wedono Weleri Kendal 1960 -1966</li>
<li> Mayor Sunardi 1966 -1967</li>
<li> Letkol RM. Suryo Suseno 1967 &#8211; 1972</li>
<li> Drs. Abdus Saleh Ronowidjoyo Asal Madura 1972 &#8211; 1979</li>
<li> Drs. Herman Sumarmo Sekwilda Ka. Tegal 1979 &#8211; 1984</li>
<li> Sudono Yusuf, BA 1984 -1989</li>
<li> Sumojo Hadiwinoto, SH 1989 &#8211; 1998</li>
<li> Drs. Djoemadi 1999</li>
<li> Hendy Boedoro, SH. M.Si 2000 &#8211; 2009</li>
<li> Dra. Hj. Siti Nurmarkesi 22 JUli 2009 s/d Sekarang</li>
</ol>
</div>
</div>
</div>
<p>Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Kendal juga tak lupa merayakan hari jadi-nya. Untuk tahun ini, tema yang diusung adalah <strong>“Dengan Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal, Kita Bangun Semangat Kebersamaan, Persatuan dan Kesatuan, Guna Mewujudkan Kendal yang Beribadat”</strong> dengan subtema:</p>
<ol>
<li> Melalui Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal, Kita Tingkatkan Sumberdaya Manusia Mandiri untuk Terwujudnya Masyarakat Sejahtera.</li>
<li> Melalui Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal, Kita Wujudkan Pemerataan Pelayanan Prima untuk Masyarakat di Segala Bidang.</li>
<li> Melalui Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal, Kita Tingkat mantapkan Kondusivitas Lingkungan untuk Kelancaran Pembangunan di Segala Bidang.</li>
<li> Melalui Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal, Kita Teruskan Reformasi Birokrasi untuk Terwujudnya Pemerintahan Yang Dipercaya.</li>
</ol>
<blockquote><p>Sebagai wilayah kabupaten yang telah melampaui batas usia di atas empat abad, Kendal jelas telah merasakan pahit-getirnya gelombang peradaban yang terus bergerak dan berubah menembus dimensi ruang dan waktu. Ada romantika pasang-surut yang hadir mewarnai wilayah seluas ﻿1.002,27 km² ini. Pergantian kepemimpinan terus terjadi mengikuti siklus dan kehendak “sang waktu&#8221;. Penduduknya juga terus bergerak mengikuti derap dan desain zaman. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kendal, sampai dengan pertengahan tahun 2009, data jumlah penduduk di Kabupaten Kendal telah mencapai 1.058.493 jiwa yang terdiri dari laki &#8211; laki 527.224 jiwa (49.81%) dan perempuan 531.269 jiwa (50.19%), dengan kepadatan rata &#8211; rata 1.056 jiwa/km². Kini, jumlah penduduk kabupaten yang memiliki slogan Beribadat (Bersih, Indah, Barokah, Damai, Aman, dan Tertib) ini pasti juga telah bertambah.</p></blockquote>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://www.kendalkab.go.id/images/phocagallery/harijadi404/thumbs/phoca_thumb_l_DSC03662.JPG" width="300" alt="hari jadi kendal" /><br /><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.kendalkab.go.id/" title="hari jadi Kendal">Prosesi Hari Jadi Kendal</a></span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://www.kendalkab.go.id/images/phocagallery/PentasTMII/thumbs/phoca_thumb_l_dsc09396.jpg" width="300" alt="hari jadi kendal" /><br /><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.kendalkab.go.id/" title="hari jadi Kendal">Pentas Duta Seni Kendal di TMII</a></span><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img class="expando" src="http://www.kendalkab.go.id/images/phocagallery/PentasTMII/thumbs/phoca_thumb_l_dsc09410.jpg" width="300" alt="hari jadi kendal" /><br /><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.kendalkab.go.id/" title="duta seni">Pentas Duta Seni Kendal di TMII</a></span>Seiring dengan itu, sentuhan perhatian di bidang industri, pariwisata, perkebunan dan kehutanan, pertanian, peternakan, kawasan ekonomi khusus, pertambangan, dan jaringan infrastruktur pendukungnya juga terus diberdayakan dari tahun ke tahun untuk mendinamiskan kawasan pesisir ini menuju kawasan mandiri. Meski demikian, sentuhan perhatian tak cukup hanya diarahkan ke ranah fisik semata. Untuk mendukung terwujudnya Kendal Mandiri, ranah non-fisik, seperti pendidikan serta seni dan budaya, menjadi penting dan urgen untuk diperhatikan.</p>
<p>Pada ranah pendidikan, misalnya, selain masih banyak terdapat sarana dan prasarana yang kurang layak pakai, juga masih terjadi ketimpangan antara ketersediaan guru dan jumlah mata pelajaran yang tersedia. Pada satu sisi ada guru yang kelebihan jam mengajar, sementara pada sisi yang lain, tidak sedikit juga guru yang mengalami kekurangan jam mengajar. Proses rekruitmen dan penempatan formasi guru yang kurang sesuai dengan kebutuhan nyata di sekolah telah menyebabkan atmosfer pembelajaran mengalami stagnasi. Situasi seperti ini makin krusial ketika guru yang dinyatakan telah lulus sertifikasi guru dituntut untuk memenuhi beban mengajar 24 jam. Tentu saja, masih banyak persoalan pendidikan yang belum tergarap secara optimal. Jaringan internet yang memungkinkan sekolah mampu memanfaatkannya sebagai salah satu pusat sumber belajar juga masih jauh dari standar kelayakan. Demikian juga buku-buku yang ber-&#8221;nutrisi&#8221; tinggi yang mampu membuat anak-anak cerdas, masih belum tersedia secara memadai di perpustakaan-perpustakaan sekolah.</p>
<p>Pada ranah seni dan budaya, Kendal layak berbangga. Beberapa kali, kelompok seni rakyat Kendal dipercaya untuk menjadi Duta Jawa Tengah dalam ajang pentas yang cukup bergengsi di TMII. Melalui Dewan Kesenian Kendal (DK2), 20 komisariat kecamatan yang membidangi ranah kesenian juga telah terbentuk. Jelas, ini menjadi nilai tambah buat para “Laskar Seni Bahureksa” yang berada di kantong dan komunitas seni yang tersebar di berbagai kecamatan untuk bisa tampil lebih eksis dan berdaya. Sayangnya, hingga saat ini Kendal belum memiliki seni rakyat khas Kendal yang bisa diangkat sekaligus dijadikan sebagai sebuah ikon kesenian, padahal potensi untuk mengarah ke sana sangat terbuka. Banyak kesenian rakyat Kendal yang bisa direvitalisasi, dimodifikasi, dieksplorasi, dielaborasi, atau dikolaborasi hingga menjadi sebuah ikon kesenian rakyat Kendal.</p>
<p>Semoga momen Hari Jadi Kendal tahun ini bisa dijadikan sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi semua pihak agar Kendal benar-benar menjadi daerah yang maju, dinamis, mandiri, semakin arif dan bijak dalam menghadapi setiap tantangan dan peluang yang ada.</p>
<p><strong>Dirgahayu Kendal-ku tercinta!</strong></p>
<p><img src="http://www.kendalkab.go.id/images/header/aktif/coba2.jpg" alt="hari jadi kendal" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/07/27/menuju-kendal-mandiri-hari-jadi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Dunia Maya Menuju ke Pelaminan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/07/03/dari-dunia-maya-menuju-ke-pelaminan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/07/03/dari-dunia-maya-menuju-ke-pelaminan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 16:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[blogger menikah]]></category>
		<category><![CDATA[kemaslahatan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat internet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3634</guid>
		<description><![CDATA[Siapa bilang dunia maya tidak bisa mempertemukan dua insan berbeda jenis menuju ke pelaminan? Siapa pula yang berani bilang kalau internet tak sanggup menjalankan fungsinya untuk mendekatkan hati dan emosi dua makhluk Tuhan yang sedang menjalankan fitrah percintaannya? Jika ada waktu, datanglah ke kampung Teluk Wetan RT 22/03 Welahan, Jepara, Jawa Tengah, pada hari Senin, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>iapa bilang dunia maya tidak bisa mempertemukan dua insan berbeda jenis menuju ke pelaminan? Siapa pula yang berani bilang kalau internet tak sanggup menjalankan fungsinya untuk mendekatkan hati dan emosi dua makhluk Tuhan yang sedang menjalankan fitrah percintaannya? Jika ada waktu, datanglah ke kampung Teluk Wetan RT 22/03 Welahan, Jepara, Jawa Tengah, pada hari Senin, 19 Juli 2010 (pukul 10.00 WIB). Sampeyan pasti akan menemukan jawabannya. Di sana, Sampeyan akan menyaksikan sebuah pesta pernikahan yang mempertemukan dua bloger di atas tahta perkawinan sebagai bukti kepada khalayak bahwa mereka telah menyatukan hati, cinta, jiwa, dan raganya menjadi sepasang suami-isteri.</p>
<p><img class="expando" src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TC8xjHMkmqI/AAAAAAAABfQ/pPCj6No8tps/s512/jupriok1.jpg" alt="Al Jupri, Hibah, dan saya" width="300" /><span><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TC8xjtJrQSI/AAAAAAAABfU/q6McTPMY_g0/s512/jupriok3.jpg" alt="Al Jupri dan Hibah" width="300" /></span><span><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/TC8xj4iTvOI/AAAAAAAABfY/PeOdk9Tz7Mk/s512/jupriok4.jpg" alt="Hibah dan istriku" width="300" /></span>Ya, ya, mereka adalah <a rel="nofollow" target="_blank" title="Al Jupri" href="http://mathematicse.wordpress.com/about/">Al Jupri, S.Pd., M.Sc.</a> dan <a rel="nofollow" target="_blank" title="Rohma Mauhibah" href="http://mezzalena.wordpress.com/">Rohma Mauhibah, S.Pd.</a>, dua bloger yang selama hampir lebih dari 3 tahun lamanya telah menjalin cinta dan kesetiaan melalui dunia maya. Sungguh, sebuah pertaruhan cinta yang layak diapresiasi. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang, kalau sudah jodoh, tak kan lari gunung dikejar. Begitulah dinamika pra-pernikahan yang mesti dilalui kedua bloger itu. Mereka mesti bersabar merajut keutuhan benih-benih cinta di tengah tantangan dan godaan ketika mereka masih harus bersikutat memburu ilmu. Al Jupri menempuh S2 di Freudenthal Institute, Utrecht University, Belanda, sedangkan Rohma Mauhibah menempuh S1 di IAIN Wali Songo, Semarang. Awalnya, mereka –mungkin kebetulan saja memiliki basis keilmuan yang sama, yakni Matematika—hanya sekadar berkunjung melalui blog. Namun, mungkin itulah salah satu “skenario” Tuhan yang telah dirancang sebagai bagian dari alur kehidupan yang mesti mereka tempuh. Dari tradisi saling berkunjung di blog, komunikasi pun meningkat lebih intens. Namun, jauhnya jarak diakui menjadi salah satu kendala buat mereka untuk serius menjalin hubungan. Saya yang kebetulan saat itu berada di “luar jalur” hanya sebatas bisa memberikan suntikan semangat bahwa jodoh itu menjadi “hak prerogatif” Tuhan semata. Kalau memang berjodoh, cinta tak lagi mengenal sekat-sekat geografis, perbedaan status, atau nilai-nilai priomordial yang lain. “Gegarane wong akrami, dudu bandha dudu rupa, amung ati pawitane &#8230;,” (modal orang hidup berumah tangga itu bukan harta, bukan wajah, melainkan hanya hati), begitulah adagium yang sering saya lontarkan ketika mereka berdua tengah diselimuti kegelisahan menentukan sikap. *sok tahu, hehe &#8230; * Selebihnya, mereka berdualah yang mesti menentukan sikap di tengah jalinan percintaan jarak jauh yang memang sarat tantangan dan godaan. </p>
<p>Alhamdulillah, kesabaran dan kesetiaan mereka dalam menjalin cinta jarak jauh akhirnya membuahkan hasil yang manis. Kamis, 1 Juli 2010, sekitar pukul 14.00 WIB, mereka berdua bersilaturahmi dengan membawa kabar gembira itu. Wajah mereka tampak sumringah, mengekspresikan kebahagiaan yang tak terkatakan, sambil menyodorkan sebuah surat undangan:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: center;"><strong>Menikah:</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #333399;">Al Jupri, S.Pd., M.Sc.</span></span><br />
Putra Bp. Azhari – Ibu Tuhiyah<br />
Cilegon Banten</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>dengan</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span style="color: #ff0000;">Rohma Mauhibah, S.Pd.</span></span><br />
Putri Bp. Ahmad Rifa’i – Ibu Salwati<br />
Jepara Jawa Tengah</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Akad Nikah:<br />
Hari: Senin, 19 Juli 2010<br />
Jam: 10.00 WIB<br />
di rumah mempelai putri</strong></p>
</blockquote>
<p>Alhamdulillah, kami sekeluarga benar-benar ikut merasakan kebahagiaan itu. Mereka memang sudah kami kenal, karena sekitar dua tahunan yang lalu, mereka berdua juga pernah hadir di gubug kami. Tak lupa, kami sekeluarga turut berdoa semoga mereka berdua mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, selalu “antut-runtut kadya mimi lan mintuna”, amiiin.</p>
<blockquote><p>Pasangan Al Jupri-Rohma Mauhibah bisa jadi hanyalah satu di antara sekian pasangan suami-isteri yang mampu memanfaatkan media virtual untuk membangun kemaslahatan hidup. Ini artinya, di tengah peradaban informasi dan teknologi global seperti saat ini, piranti apa pun bisa mendekatkan komunikasi antarumat manusia berbasiskan hati dan emosi.</p></blockquote>
<p>Nah, selamat menempuh hidup baru buat Pak Al Jupri dan Mbak Rohma Mauhibah, semoga bahagia. Ayo, siapa menyusul? **</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/07/03/dari-dunia-maya-menuju-ke-pelaminan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>177</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Siskamling hingga Pak Susno</title>
		<link>http://sawali.info/2010/05/30/dari-siskamling-hingga-pak-susno/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/05/30/dari-siskamling-hingga-pak-susno/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 07:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[mafia hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Maklar kasus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3478</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini, Kang Sukri kena giliran ronda. Bersama Lik Sukadi dan Kang Sandimin, dia –sesuai kesepakatan dalam rapat RT— harus mengambili jimpitan dan berjaga-jaga hingga lepas dini hari. Bagi Kang Sukri, ronda Siskamling bukanlah pekerjaan berat. Sambil wedangan, ngobrol, main catur, bahkan gaple pun jadi. Meski demikian, toh tak jarang yang mangkir dari kewajibannya. Boro-boro [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">M</span>alam ini, Kang Sukri kena giliran ronda. Bersama Lik Sukadi dan Kang Sandimin, dia –sesuai kesepakatan dalam rapat RT— harus mengambili jimpitan dan berjaga-jaga hingga lepas dini hari. Bagi Kang Sukri, ronda Siskamling bukanlah pekerjaan berat. Sambil wedangan, ngobrol, main catur, bahkan gaple pun jadi. Meski demikian, toh tak jarang yang mangkir dari kewajibannya. Boro-boro berjaga-jaga hingga lepas dini hari, mengambili jimpitan pun sering kali absen. Duwit 500-an perak masih sering ngendon di dalam cepuk hingga rombongan siskamling bertugas pada malam berikutnya. </p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://4.bp.blogspot.com/" title="poskamling"><img src="http://4.bp.blogspot.com/_y42CVQYzh_0/SddFmL1CADI/AAAAAAAAAIw/d6B4T00VtdY/s320/posronda-400.jpg" width="287" alt="poskamling" /></a></span>“Itulah kenyataan hidup, Kang. Ndak perlulah itu dibahas panjang lebar. Yang penting, kita bisa rutin menjalankan kewajiban sesuai jadwal,” sahut Lik Sukadi sambil mengerutkan jidatnya. Kang Sukri terdiam.</p>
<p>“Lagian, siapa tahu suatu saat kita juga lupa. Kalau kita terlalu serius membahasnya, apa ndak sama saja Sampeyan meludah ke langit yang akhirnya malah kena ke wajah sendiri, hehe &#8230;,” seloroh Kang Sandimin sembari cengengesan. </p>
<p>“Hehehe &#8230; bener juga, ya? Baru inget kalau kita juga pernah absen! Bener, bener, hidup di tengah-tengah masyarakat memang <em>kudu tepa slira</em>, saling memaklumi, gitu, ya?” sahut Kang Supri seperti ada yang mengingatkannya. </p>
<p>Jam dinding di Poskamling tepat menunjuk angka 11. Kampung seperti tersekap dalam lorong kesunyian. Hanya sesekali terdengar deru kendaraan dari arah jalan raya sana. Untung saja ada siaran wayang kulit dari sebuah radio swasta yang sedari tadi mengalun rancak, hingga bisa membunuh kejenuhan dan kesepian. Sambil mendengarkan siaran wayang kulit, mereka bertiga mengobral pergunjingan ngalor-ngidul sekenanya. </p>
<p>“Sampeyan berdua mengikuti perkembangan kasus Pak Susno?” pancing Kang Sukri.</p>
<p>“Sedikit-sedikit, Kang. Memangnya kenapa? Apa Kang Sukri mau ikut-ikutan jadi pengamat hukum?” sahut Kang Sandimin.</p>
<p>“Bukan, hanya untuk bahan ngobrol aja, hehe &#8230; ketimbang sepi!”</p>
<p><span style="float:right;width:287;margin:0px 0px 5px 5px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://inilah.com/kartun/rubrik_editorial.php" title="korupsi"><img src="http://inilah.com/data/berita/foto/565411.jpg" width="287" alt="korupsi" /></a></span>“Yah, menurutku kasus Pak Susno makin tak jelas. Dia itu <em>whistle blower</em>, sang peniup peluit, yang pertama kali mengungkap maklar kasus korupsi dan mafia hukum di Ditjen Pajak dan Kepolisian. Akhirnya terbukti, apa yang diungkap Pak Susno bukan isapan jempol. Seharusnya dia itu dirangkul agar mau membuka semua jaringan mafia yang dia ketahui. Sebagai mantan Kabareskrim, dia pasti mengantongi banyak data yang melibatkan orang-orang penting,” sergah Lik Sukadi.</p>
<p>“Walah, komentar Sampeyan kok seperti pembela Pak Susno aja, hehe &#8230; Begitu getolnya membela Pak Susno,” sergah Kang Sukri.</p>
<p>“Bukan, itu hanya pandangan awam saya aja. Saya melihat, Pak Susno sengaja diincar dan dicari-cari kesalahannya. Luput dari kasus yang satu, dicari kasus yang lain dan yang lainnya lagi. <em>Sing penting</em>, Pak Susno harus tutup mulut. Banyak pihak yang khawatir, kalau Pak Susno dibiarkan terus menyanyi, pasti akan banyak orang penting yang kena. Karena itu, dia harus ditahan,” sergah Lik Sukadi. Kang Sandimin mengernyitkan jidatnya.</p>
<p>“Alaaah, itu kan penafsiran Sampeyan toh, Lik. Polri pasti punya alasan yang kuat kenapa Pak Susno mesti ditahan. Status dia kan sebagai tersangka. Tempat mana yang layak buat tersangka kalau bukan di tahanan, hmm &#8230;? Yang lucu, LPSK kok jadi ikut-ikutan turun tangan untuk melindunginya di “rumah aman”. Menurut keterangan para saksi, Pak Susno kan memang terlibat dalam kasus Arowana. Piye, jal? Biarlah hukum yang membuktikan. Dan langkah para pembela Pak Susno dengan mem-praperadilan-kan Polri kan sudah langkah bagus. Kita tunggu aja perkembangannya,” sergah Kang Sandimin sengit. </p>
<blockquote><p>“Bukan semata-mata itu persoalannya, Kang. Kalau Pak Susno tetap ditahan, akhirnya banyak orang ndak punya nyali untuk menjadi saksi pelapor perkara korupsi kalau ujung-ujungnya justru malah jadi tersangka. Repot! Saya malah curiga, jangan-jangan Pak Susno sengaja diincar dan dikorbankan dengan berbagai macam cara untuk menyelamatkan orang-orang penting di balik jaringan mafia hukum terkait dengan masalah korupsi. Kalau memang benar, doh, sampai kiamat pun negeri ini tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan mafia hukum dan korupsi,” sahut Lik Sukadi tak kalah sengit. </p></blockquote>
<p>“Eit, kalau ngomong hati-hati, lho, Lik! Omongan Sampeyan terlalu paranoid! Mereka orang yang paham hukum dan sudah menghitung-hitung risikonya. Lagian, Pak Susno itu kan jenderal bintang tiga. Jadi, ndak mungkinlah ditahan kalau memang ndak terbukti bersalah. Negara kita kan negara hukum. Jangan sampai menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum! Itu kata kuncinya!” </p>
<p>“Nah, ini yang membuat saya makin ndak ngerti. Orang selalu ngomong seperti itu. Apa hukum itu harus melukai rasa keadilan masyarakat? Masak orang melapor malah dijadikan tersangka! Apalagi ditengarai belum ada bukti awal yang cukup untuk menjeratnya sebagai tersangka!”</p>
<p>“Walah, Sampeyan makin ngelantur! Kita sama-sama ndak tahu masalah hukum, kenapa bicara <em>pethenthang-pethentheng</em> seperti ini?”</p>
<p>“Karena Sampeyan yang ngeyel!”</p>
<p>“Wew &#8230; lha &#8230;”</p>
<p>“Eit! Debatnya ditunda dulu aja, ya?” seloroh Kang Sukri tiba-tiba. “Lihat, saya tadi melihat ada sosok bayangan yang mencurigakan dari arah sana!” lanjutnya sambil menunjuk ke pojok kampung.</p>
<p>“Siapa?” sahut Lik Suhadi.</p>
<p>“Mana saya tahu? Ayo, kita selidiki!” ajak Kang Sukri.</p>
<p>Dengan langkah serempak, mereka bertiga berjingkat meninggalkan gardu Poskamling menuju ke tempat yang ditunjuk Kang Sukri. Sampai di pojok kampung, mereka menyaksikan sosok bayangan yang berjalan lurus meninggalkan kampung menuju ke pematang sawah. Kang Sukri yang mengendap-endap paling depan, langsung menangkap sosok bayangan yang mencurigakan itu. Lik Sukadi dan Kang Sandimin bersiap-siap membuntutinya dari belakang. </p>
<p>“Siapa Sampeyan? Ayo, ikut kami ke gardu Poskamling!” teriak Kang Sukri. Aneh! Sosok bayangan yang tertangkap itu hanya terdiam dan mengikuti saja kehendak Kang Sukri tanpa melakukan perlawanan. Tiba-tiba lubang hidung Kang Sukri mendengus. Kepekaan daya penciumannya menangkap bau tak sedap dari tubuh sosok yang ditangkapnya. Sambil menahan napas, mereka bertiga terus menggelandang sosok mencurigakan itu menuju gardu Poskamling. Mereka bertiga tersentak setelah sosok bayangan itu tertimpa sinar lampu neon yang terang benderang di pojok kampung. Mulut sosok bayangan itu menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang ompong. </p>
<p>“Hah! Tenyata Sampeyan toh? Dasar wong gendeng! Wong edan! Saya kira pencuri!” teriak Kang Sukri sambil melepas sosok mencurigakan itu. Lik Sukadi dan Kang Sandimin tertawa ngakak. Sosok yang ditangkap Kang Sukri ternyata Lik Suman yang memang sudah lama dikenal sebagai orang gila yang suka wira-wiri di kampung.</p>
<p>“Wakaka &#8230;. makanya jangan suka main tangkap, Kang, hehe &#8230; begini ini akibatnya!” seloroh Lik Sukadi sembari manahan tawa. </p>
<p>“Tuh lihat, buron Sampeyan malah ndak mau pergi!” sahut Kang Sandimin sembari melihat Lik Suman yang kumal dan dekil yang tak mau beranjak dari tempatnya.</p>
<p>“Tapi tunggu dulu! Dengan cara begini, debat Sampeyan kan terselesaikan dengan cara yang damai dan tanpa kekerasan, hihihihi &#8230;.,” sergah Kang Sukri tak mau kalah!</p>
<p>“Huh! Dasar!” teriak Lik Suhadi dan Kang Sandimin sambil mengacak-acak rambut Kang Sukri. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/05/30/dari-siskamling-hingga-pak-susno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Banjarnegara ke Donohudan: Sebuah Refleksi Pendidikan dan Budaya</title>
		<link>http://sawali.info/2010/05/20/dari-banjarnegara-ke-donohudan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/05/20/dari-banjarnegara-ke-donohudan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 10:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[lomba cipta cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[pelatihan blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3440</guid>
		<description><![CDATA[Selama hampir sepekan ini, aktivitas ngeblog saya agak tersendat. Terhitung mulai 12-16 Mei 2010, saya sedang “melancong” dari Banjarnegara ke Donohudan, Boyolali. 12-13 Mei, saya didaulat untuk mendampingi rekan-rekan sejawat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (FKMGMP) Banjarnegara untuk membuat blog. Usai kegiatan di Banjarnegara, langsung meluncur ke Donohudan, Boyolali, untuk menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">S</span>elama hampir sepekan ini, aktivitas ngeblog saya agak tersendat. Terhitung mulai 12-16 Mei 2010, saya sedang “melancong” dari Banjarnegara ke Donohudan, Boyolali. 12-13 Mei, saya didaulat untuk mendampingi rekan-rekan sejawat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (FKMGMP) Banjarnegara untuk membuat blog. Usai kegiatan di Banjarnegara, langsung meluncur ke Donohudan, Boyolali, untuk menjadi juri Lomba Cipta Cerpen bermuatan kearifan lokal dalam event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP tingkat Jawa Tengah. Saya mohon maaf apabila “update” blog ini terkena imbasnya. Blogwalking pun tidak bisa saya lakukan secara intens. *halah, sok sibuk, hihihi … *</p>
<p>Ya, ya, di Banjarnegara, setidaknya ada sekitar 75 rekan sejawat dari 11 MGMP yang mengikuti pelatihan pembuatan blog yang dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan didampingi oleh Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kab. Banjarnegara itu. Meski agak tersendat lantaran tiga titik hotspot yang disediakan pihak Telkomsel tiba-tiba jebol di hari kedua, pelatihan bisa dibilang lancar. Rekan-rekan sejawat yang diikutkan dalam pelatihan ini memang pengurus harian MGMP yang rata-rata sudah “melek teknologi”, sehingga persoalan-persoalan teknis yang berkaitan dengan pembuatan blog tak banyak mengalami kendala.</p>
<div style="padding:15px;background:#000;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_IsAS7AQgI/AAAAAAAABYk/50zRgDA4SGQ/fblog1.jpg" width="280" height="260" alt="Pelatihan Blog" /><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_IsAkdFQ_I/AAAAAAAABYo/H339ZxHhRhc/fblog2.jpg" width="280" width="280" height="260" alt="Pelatihan Blog" /><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_IsA-FE78I/AAAAAAAABYs/V7ALCrwerFE/s640/fblog3.jpg" width="280" height="260" alt="Pelatihan Blog" /><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_IsBNMIEKI/AAAAAAAABYw/i_IhnqJY4VQ/fblog4.jpg" width="280" height="260" alt="Pelatihan Blog" /></div>
<p><span style="width:560px;margin:5px;text-align:center;font:normal 12px arial;">Suasana ketika pelatihan pembuatan blog berlangsung.</span></p>
<p>Membuat blog memang mudah, semudah orang membuat akun E-mail. Hanya tinggal mengisi form yang disediakan, sign-up, next, next, konfirmasi, yes, akun blog pun sudah jadi. Setelah log in, hanya tinggal memunculkan fitur-fitur –kebetulan yang digunakan engine wordpress.com—yang ada di dasbor sehingga bisa tampil maksimal di blog. Berikut ini adalah beberapa alamat url blog ber-engine wordpress yang dibuat oleh rekan-rekan sejawat di Banjarnegara.</p>
<ol>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://aminnur.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=e78935d37755d21c6c9cfc851c683270&amp;url=http%3A%2F%2Faminnur.wordpress.com%2F" target="_blank">Aminnur</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://ayuwidhi.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=4bc84da3fe7ec170035d725bddbae8ed&amp;url=http%3A%2F%2Fayuwidhi.wordpress.com%2F" target="_blank">Ayuwidhi</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://udroso71.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=e5ab9550e154d92e0cef53a55d0383b8&amp;url=http%3A%2F%2Fudroso71.wordpress.com%2F" target="_blank">Udroso</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://mgmpipabara.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=108874e30a987d9a9c02ade2694564f8&amp;url=http%3A%2F%2Fmgmpipabara.wordpress.com%2F" target="_blank">MGMP IPA</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://juliussuratman.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=7ae1222edde5f907a70db65a89602293&amp;url=http%3A%2F%2Fjuliussuratman.wordpress.com%2F" target="_blank">Julius Suratman</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://sunardi65.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=d8795114508359580a228313566653b3&amp;url=http%3A%2F%2Fsunardi65.wordpress.com%2F" target="_blank">Sunardi</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://tutit65.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=eac60c83f7aa0a41c2badb0c346944cc&amp;url=http%3A%2F%2Ftutit65.wordpress.com%2F" target="_blank">Tuti</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://alimasruri75.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=a77e680e7cb2779cb837e2ac8787ae99&amp;url=http%3A%2F%2Falimasruri75.wordpress.com%2F" target="_blank">Ali Masruri</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://emmawardani.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=6135aa6f6229c8019d4db5e4982529c9&amp;url=http%3A%2F%2Femmawardani.wordpress.com%2F" target="_blank">Emma Wardani</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://suslo68.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=6c26c16ca6aba787dc32dbd36718b829&amp;url=http%3A%2F%2Fsuslo68.wordpress.com%2F" target="_blank">Susilo</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://zaenuringakhidin.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=f5836cc5bb224e5229efa9137ddab8e2&amp;url=http%3A%2F%2Fzaenuringakhidin.wordpress.com%2F" target="_blank">Zaenuri Ngakhidin</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://harunarosid1234.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=be278e545e8e70879654e7204096f88b&amp;url=http%3A%2F%2Fharunarosid1234.wordpress.com%2F" target="_blank">Harun ar Rosid</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://nurfuadb.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=ee00991e8cb91149c6ce9c61e14ae172&amp;url=http%3A%2F%2Fnurfuadb.wordpress.com%2F" target="_blank">Nurfuad</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://romalia85.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=b3384ea5cf3b955b1437e33d9cc4b4f1&amp;url=http%3A%2F%2Fromalia85.wordpress.com%2F" target="_blank">Romalia</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://teguhriyanto.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=8b0548c42e0bee7018fa004c94c55787&amp;url=http%3A%2F%2Fteguhriyanto.wordpress.com%2F" target="_blank">Teguh Riyanto</a></li>
<li><a rel="nofollow" target="_blank" title="http://tiniyes.wordpress.com/" href="http://www.facebook.com/note_redirect.php?note_id=388519423548&amp;h=cd5d5e8b147cf059682e9c32ffd4ec0e&amp;url=http%3A%2F%2Ftiniyes.wordpress.com%2F" target="_blank">Tini</a></li>
</ol>
<p>Memang belum optimal. Tampilannya belum se-keren blog yang sudah lama eksis di dunia virtual. Content-nya juga belum ter-update secara rutin. Tidak masalah. Mengelola blog memang membutuhkan intensitas dan kerutinan untuk terus berlatih, berteman, dan blogwalking agar postingan yang tampil di home-page tak hanya “Hello World” melulu, hihihihi ….. Itulah proses dan dinamika yang mesti dilalui jika ingin menjadi blogger yang “istikomah”, hehe ….</p>
<p>Meski demikian, upaya yang dilakukan oleh FKMGMP Banjarnegara layak diapresiasi dan diacungi jempol. Secara mandiri, mereka sudah maju selangkah untuk mengakrabkan rekan-rekan sejawat pada ranah “Guru Go-Blog” sehingga diharapkan bisa membuat dinamika dunia pendidikan di Banjarnegara lebih eksis dan berdaya.<br />
***</p>
<p>Lantas, bagaimana tentang lomba Cipta Cerpen untuk siswa SMP se-Jawa Tengah yang berlangsung di Donohudan, Boyolali, pada 14-16 Mei 2010? Ya, ya, ya, tema lomba yang diangkat adalah cerpen bermuatan lokal yang berkisar pada kehidupan bermasyarakat yang mengungkapkan dan mempercakapkan nilai-nilai kehidupan tradisional (muatan lokal), seperti mitologi, legenda, fabel, kepercayaan, serta adat-istiadat daerah/etnik setempat dengan “sentuhan baru” atau teknik penyajian yang khas. Tema ini cukup menarik dan menantang di tengah tantangan budaya global yang dinilai mulai menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Melalui tema ini, disadari atau tidak, para peserta berupaya untuk menampilkan “warna-warna lokal” yang khas dan eksotis, sehingga diharapkan bisa memperkaya nilai-nilai budaya nasional yang multikultur dan multietnik. Tema dan subtema, serta ketentuan teknis pun kami sampaikan kepada para peserta dan guru pembimbing pada saat temu teknik yang berlangsung 14 Mei 2010 pukul 20.00 WIB.</p>
<div style="padding:15px;background:#000;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_IsBOnRCaI/AAAAAAAABY0/_9YK4o3AJcE/s640/fls2n1.jpg" width="280" height="260" alt="PFLS2N" /><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_It9DBJGJI/AAAAAAAABY4/pfjCnL-8nBg/fls2n2.jpg" width="280" width="280" height="260" alt="PFLS2N" /><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_It9xu_mQI/AAAAAAAABZI/dZzihRwXFP4/fls2n6.jpg" width="280" height="260" alt="PFLS2N" /><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S_JSp99TljI/AAAAAAAABZg/rQQ31MGnB-0/fls2n7.jpg" width="280" height="260" alt="PFLS2N" /></div>
<p><span style="width:560px;margin:5px;text-align:center;font:normal 12px arial;">Suasana ketika event FLS2N berlangsung.</span></p>
<p>Setidaknya, ada dua catatan menarik berkaitan dengan event lomba bergengsi itu. Pertama, dari sisi kuantitas, belum semua kabupaten/kota se-Jawa Tengah mengirimkan wakilnya. Dari 35 kabupaten/kota, baru 28 daerah yang mengirimkan wakilnya. Mungkin benar, jumlah tak memiliki pengaruh signifikans terhadap mutu karya siswa. Namun, dari sisi kekayaan nilai kearifan lokal, makin banyak daerah yang mengirimkan wakilnya, jelas akan makin memperkaya khazanah budaya lokal yang diangkat ke dalam sebuah teks fiksi, sehingga “warna lokal” Jawa Tengah makin kuat dan ekspresif.</p>
<p>Kedua, dari sisi kualitas, masih ada beberapa kelemahan mendasar yang dilakukan oleh sebagian besar peserta, yakni masih kuatnya intervensi guru pembimbing dalam cerpen peserta, hanya sekadar mengalihkan cerita-cerita rakyat bermuatan lokal ke dalam sebuah teks, dan kreativitas peserta yang “liar” dan “mencengangkan” belum sepenuhnya tergarap. Artinya, teks-teks cerpen yang mereka buat kurang ada sentuhan kreativitas dalam penggarapan cerpen yang khas dan kontekstual.</p>
<p>Sebagai event lomba yang berupaya untuk menjaring siswa SMP yang akan mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional, potensi dan talenta peserta jelas menjadi kriteria utama. Sebagus apa pun karya cerpen peserta secara tekstual, belum tentu layak menjadi kandidat juara apabila intervensi guru pembimbing terlalu kuat. Hal itu tampak jelas ketika juri menentukan sub-tema “legenda” pada babak I. Sebagian besar peserta justru menampilkan tema di luar ketentuan dewan juri. Agaknya, mereka sangat terpengaruh oleh desain dan skenario cerita yang sudah dipersiapkan secara matang dari rumah, sehingga mereka tidak leluasa “berimprovisasi” dan mengembangkan imajinasi ke dalam teks cerpen. Walhasil, cerpen-cerpen lomba yang berada di luar subtema, secara substansial sudah dinyatakan gugur, sehingga tidak bisa masuk sebagai 10 cerpen terbaik yang dinominasikan untuk mengikuti lomba babak II.</p>
<p>Pada babak II, tiga juri: Pak Sarono (Purworejo), Dimas Jimat Kalimasadha (Kudus), dan saya sendiri (Kendal), sepakat untuk menentukan subtema baru, yakni mitologi yang berkaitan dengan kepahlawanan lokal kepada para peserta yang karyanya terpilih sebagai 10 karya terbaik pada babak I. Para peserta diberikan kesempatan untuk menulis cerpen selama 120 menit sesuai subtema yang ditentukan. Meski bukan sebagai salah satu kriteria penilaian, kami sepakat untuk mempertajam unsur penilaian dengan melakukan wawancara kepada para nominator pasca-penilaian teks cerpen. Wawancara ini semata-mata dilakukan untuk menggali tingkat kreativitas dan orisinalitas karya siswa. Kombinasi antara teks cerpen dan wawancara itulah yang kami jadikan sebagai dasar untuk menentukan siapa yang layak mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional. Sayangnya, dewan juri tidak tahu identitas setiap peserta karena hanya mencantumkan nomor peserta ke dalam teks cerpen, sehingga kami tidak tahu peserta dari sekolah dan daerah mana saja yang menjadi Juara I, II, III, harapan I, harapan II, dan harapan III.</p>
<p>Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada di sana-sini, para peserta di bawah gemblengan guru pembimbing masing-masing sudah memberikan karya terbaik untuk mewakili daerahnya. Kiprah mereka layak diapresiasi dan diberikan catatan tersendiri. Soal kalah atau menang bukanlah yang utama, karena memang seperti itulah “hukum” yang berlaku dalam sebuah lomba. Yang penting, bagaimana menjadikan pengalaman berharga dalam event lomba itu untuk memacu diri agar bisa terus berkarya dan berkreavititas. Nah, salam budaya dan salam kreatif! ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/05/20/dari-banjarnegara-ke-donohudan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Karakter Bangsa melalui Festival dan Lomba Seni</title>
		<link>http://sawali.info/2010/04/29/membangun-karakter-bangsa-melalui-festival-dan-lomba-seni/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/04/29/membangun-karakter-bangsa-melalui-festival-dan-lomba-seni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 04:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3363</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba yang digelar secara berjenjang melalui seleksi dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional tersebut memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">T</span>anggal 26-28 April 2010, saya bersama beberapa rekan sejawat didaulat untuk menjadi juri dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010 di Donohudan, Boyolali, Jawa Tengah. Dalam pandangan awam saya, festival dan lomba yang digelar secara berjenjang melalui seleksi dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional tersebut memiliki makna strategis untuk mendekatkan anak-anak ke dalam ranah seni dan budaya. Jika dilakukan secara intens dan berkelanjutan, event semacam ini setidaknya bisa memberikan imaji yang sangat kuat ke dalam memori anak-anak yang akan terus teringat dan tertanam hingga kelak mereka dewasa.</p>
<p><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFDWPDBjI/AAAAAAAABSw/uIIAcBGG0RY/fls1.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Upacara Pembukaan.</span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFDky4k5I/AAAAAAAABS0/T0fFpaC116c/fls2.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Semangat para peserta. </span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFD3DmDTI/AAAAAAAABS4/Tvjmzhgm8V4/fls3.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Pentas Daun Pulus 1.</span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFEAGkwrI/AAAAAAAABS8/VpCKOIOjcNc/fls4.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Pentas Daun Pulus 2.</span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFEH7P2nI/AAAAAAAABTA/uB0UqNp8d-s/fls5.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Motto FLS2N.</span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFgR9veGI/AAAAAAAABTE/8Bg8bAEUG8c/fls6.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Dewan Juri santai sejenak.</span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFgplqjCI/AAAAAAAABTI/botvpJucFsM/fls7.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Suasana Lomba Mengarang. </span><span style="float: left; width: 280px; margin: 0px 5px 5px 0px; text-align: center; font: 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S9kFgh7qb8I/AAAAAAAABTM/UGp04Q2KwHg/fls8.jpg" alt="FLS2N" width="280" /><br />
Suasana Lomba Cipta Puisi.</span></p>
<p>Festival dan lomba seni juga bisa difungsikan untuk membangkitkan ingatan kolektif bangsa terhadap merebaknya kultur kekerasan dan munculnya fenomena degradasi moral serta akhlak bangsa yang belakangan ini dinilai sudah demikian terasa di tengah-tengah masyarakat kita. Seni bisa menjadi media untuk memperhalus budi, meningkatkan kepekaan nilai rasa, membangun pribadi yang jujur, hingga akhirnya mampu membangun kepribadian yang luhur dan berkarakter.</p>
<p>Dalam ajang seni yang diikuti oleh perwakilan dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah itu digelar tujuh cabang festival dan lomba seni, yaitu Cipta Puisi, Kerajinan Tangan, Seni Lukis, Cipta Lagu, Pidato Bahasa Indonesia, Mengarang Bahasa Indonesia, dan Menyanyi Tunggal. Berikut ini saya sampaikan lampiran surat keputusan Dewan Juri.</p>
<p>Lampiran Surat Keputusan Dewan Juri Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010</p>
<p>Nomor: 028/FLS2N-SD/IV/2010</p>
<p>Tanggal 28 April 2010</p>
<p>Tentang Penetapan Hasil Kejuaraan Festival dan Lomba Seni Siswa SD Tingkat Prov. Jawa Tengah Tahun 2010</p>
<p>1. Cipta Puisi</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">6</td>
<td width="149" valign="bottom">Oktavia Nur Rohmawati</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN Kebumen, Kec. Kebumen, Kab. Kebumen</td>
<td width="61" valign="bottom">579</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">16</td>
<td width="149" valign="bottom">Dian Ayu Nirwana Sari</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN 1 Curug Sewu, Kec. Patean, Kab. Kendal</td>
<td width="61" valign="bottom">576</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">11</td>
<td width="149" valign="bottom">Siwi Dwi Hastuti</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN Mlaten 02, Kec. Mijen, Kab. Demak</td>
<td width="61" valign="bottom">521</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">4</td>
<td width="149" valign="bottom">Finna Lestari</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN 4 Purwodadi, Kec. Purwodadi, Kab. Grobogan</td>
<td width="61" valign="bottom">472</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">22</td>
<td width="149" valign="bottom">Norma Dwi Yanti</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN Sokasari 01, Kec. Bumijawa, Kab. Tegal</td>
<td width="61" valign="bottom">467</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">2</td>
<td width="149" valign="bottom">Syafrini Kris Sutanti</td>
<td width="276" valign="bottom">SDN 01 Karanganyar, Kec. Karanganyar, Kab. Karanganyar</td>
<td width="61" valign="bottom">450</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>2. Kerajinan Tangan</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">26</td>
<td width="149" valign="bottom">Dhani Dwi Prayogo</td>
<td width="276" valign="bottom">SD 1 Pucung, Kec. Krismantoro, Kab. Wonogiri</td>
<td width="61" valign="bottom">1388</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">17</td>
<td width="149" valign="bottom">Imam Khoiri Al Fiqri</td>
<td width="276" valign="top">SDN 2 Sale,   Kec. Sale,   Kab. Rembang</td>
<td width="61" valign="bottom">1379</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">34</td>
<td width="149" valign="bottom">Gonggo Nursito</td>
<td width="276" valign="top">SDN Cengkawakrejo, Kec. Banyuurip, Kab. Purworejo</td>
<td width="61" valign="bottom">1370</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">35</td>
<td width="149" valign="bottom">Kiat Ichlasul Amal</td>
<td width="276" valign="top">SDN 1 Godong, Kec. Godong, Kab. Grobogan</td>
<td width="61" valign="bottom">1353</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">11</td>
<td width="149" valign="bottom">Indira Pramudya Wardhani</td>
<td width="276" valign="top">SD IT Ihlasul Fikri, Kec. Magelang Utara, Kota Magelang</td>
<td width="61" valign="bottom">1345</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">21</td>
<td width="149" valign="bottom">Lukman Harun</td>
<td width="276" valign="top">SDN Geneng 2, Kec. Mijen, Kab. Demak</td>
<td width="61" valign="bottom">1331</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>3. Seni Lukis</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">35</td>
<td width="149" valign="bottom">Indigo Daffa Milenar</td>
<td width="276" valign="top">SD Kedung Jenar 1, Kec. Blora, Kab. Blora</td>
<td width="61" valign="bottom">1112</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">13</td>
<td width="149" valign="bottom">Yuliana Subekti</td>
<td width="276" valign="top">SDN Banjareja 03 Kec. Nusawungu, Kab. Cilacap</td>
<td width="61" valign="bottom">1106</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">11</td>
<td width="149" valign="bottom">Eureva Foury Falreza</td>
<td width="276" valign="top">SDN Tegalsari 1, Kec. Tegal Barat, Kota Tegal</td>
<td width="61" valign="bottom">1100</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">29</td>
<td width="149" valign="bottom">Salsa Billa GSW</td>
<td width="276" valign="top">SDN 01 Papahan, Kec. Tasikmadu, Kab. Karanganyar</td>
<td width="61" valign="bottom">1094</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">31</td>
<td width="149" valign="bottom">Farahdhilah DS</td>
<td width="276" valign="top">SDN Tenggulangharjo, Kec. Subah, Kab. Subah</td>
<td width="61" valign="bottom">1088</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">07</td>
<td width="149" valign="bottom">Marta Vidianinda</td>
<td width="276" valign="top">SDN 01 Rowosari, Kec. Ulujami, Kab. Pemalang</td>
<td width="61" valign="bottom">1082</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>4. Cipta Lagu</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">16</td>
<td width="149" valign="bottom">Alfonsus Christ Pratama</td>
<td width="276" valign="top">SD Pius, Kec. Cilacap Selatan, Kab. Cilacap</td>
<td width="61" valign="bottom">244</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">14</td>
<td width="149" valign="bottom">Aurellia Candida Doretha</td>
<td width="276" valign="top">SD Kristen Tri Tunggal, Kec. Semarang   Barat, Kota Semarang</td>
<td width="61" valign="bottom">240</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">05</td>
<td width="149" valign="bottom">Zakiyya Alison Zettylein</td>
<td width="276" valign="top">SD IT Sultan Agung 05, Kec.Kalinyamatan, Kab. Jepara</td>
<td width="61" valign="bottom">236</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">21</td>
<td width="149" valign="bottom">Jovinka Rochendania</td>
<td width="276" valign="top">SDN Purworejo, Kec. Purworejo, Kab. Purworejo</td>
<td width="61" valign="bottom">235</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">27</td>
<td width="149" valign="bottom">Fadia Normalitasari</td>
<td width="276" valign="top">SDN Kemirirejo 3, Kec. Magelang Tengah, Kota Magelang</td>
<td width="61" valign="bottom">213</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">02</td>
<td width="149" valign="bottom">Alenia Agustin</td>
<td width="276" valign="top">SD 2 Banjarkerta, Kec. Karanganyar, Kab. Purbalingga</td>
<td width="61" valign="bottom">212</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>5. Pidato Bahasa Indonesia</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">34</td>
<td width="149" valign="bottom">Alviani Indra Dwi Cahya</td>
<td width="276" valign="top">SDN Karanganyar 1, Kec. Karanganyar, Kab. Demak</td>
<td width="61" valign="bottom">246,5</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">17</td>
<td width="149" valign="bottom">Imam Najibullah HR</td>
<td width="276" valign="top">SDN 1 Ringinlerik, Kec. Musuk, Kab. Boyolali</td>
<td width="61" valign="bottom">237,5</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">01</td>
<td width="149" valign="bottom">Indra Aura Balqis</td>
<td width="276" valign="top">SDN Mangkukusuman 1, Kec. Tegal Timur, Kota Tegal</td>
<td width="61" valign="bottom">228,0</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">23</td>
<td width="149" valign="bottom">Mutiara Khoirunisa</td>
<td width="276" valign="top">SDN 02 Rembul, Kec. Randudongkal, Kab. Pemalang</td>
<td width="61" valign="bottom">227,5</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">25</td>
<td width="149" valign="bottom">Intan Shofia Ervina</td>
<td width="276" valign="top">SDN Grabag 4, Kec. Grabag, Kab. Magelang</td>
<td width="61" valign="bottom">227,0</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">09</td>
<td width="149" valign="bottom">Zefania Regina Ardiani</td>
<td width="276" valign="top">SD Maria Immaculata, Kec. Cilacap Tengah, Kab. Cilacap</td>
<td width="61" valign="bottom">225,5</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>6. Mengarang Bahasa Indonesia</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">29</td>
<td width="149" valign="bottom">Zaima Hilmi</td>
<td width="276" valign="top">SDN 2 Pegulon, Kec. Kendal, Kab. Kendal</td>
<td width="61" valign="bottom">255</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">32</td>
<td width="149" valign="bottom">Evan Putra Pratama</td>
<td width="276" valign="top">SDN Taman Pekunden, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang</td>
<td width="61" valign="bottom">252</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">06</td>
<td width="149" valign="bottom">Maria Anastasya Sekar P</td>
<td width="276" valign="top">SD Tarakanita, Kec. Magelang Tengah, Kota Magelang</td>
<td width="61" valign="bottom">247</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">27</td>
<td width="149" valign="bottom">Rahmah Nur Ananda Gaza</td>
<td width="276" valign="top">SDN Lubanglor, Kec. Butuh, Kab. Purworejo</td>
<td width="61" valign="bottom">242</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">24</td>
<td width="149" valign="bottom">Elfira Melindasari</td>
<td width="276" valign="top">SDN 1 Kutosari, Kec. Kebumen, Kab. Kebumen</td>
<td width="61" valign="bottom">240</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">04</td>
<td width="149" valign="bottom">Uti Novamba</td>
<td width="276" valign="top">SDN 1 Mrayun, Kec. Sale,   Kab. Rembang</td>
<td width="61" valign="bottom">238</td>
<td width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>7. Menyanyi Tunggal</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom"><strong>No.</strong></td>
<td width="48" valign="bottom"><strong>No. Undi</strong></td>
<td width="149" valign="bottom"><strong>Nama Peserta</strong></td>
<td width="276" valign="bottom"><strong>Asal Sekolah</strong></td>
<td width="61" valign="bottom"><strong>Nilai</strong></td>
<td width="58" valign="bottom"><strong>Juara</strong></td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">1</td>
<td width="48" valign="bottom">13</td>
<td width="149" valign="bottom">Safira Nurmalitasari</td>
<td width="276" valign="top">SDN Sompok 01, Kec. Semarang   Selatan, Kota Semarang</td>
<td width="61" valign="bottom">1453</td>
<td width="58" valign="bottom">I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">2</td>
<td width="48" valign="bottom">06</td>
<td width="149" valign="bottom">Martdwitanti Ajeng Kumala N</td>
<td width="276" valign="top">SDN 2 Sokanegara, Kec. Purwokerto Timur, Kab. Banyumas</td>
<td width="61" valign="bottom">1425</td>
<td width="58" valign="bottom">II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">3</td>
<td width="48" valign="bottom">02</td>
<td width="149" valign="bottom">Berlian Gabriel Mongkoginta</td>
<td width="276" valign="top">SD Plus Bakti Utama, Kec. Gombong, Kab. Kebumen</td>
<td width="61" valign="bottom">1344</td>
<td width="58" valign="bottom">III</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">4</td>
<td width="48" valign="bottom">19</td>
<td width="149" valign="bottom">Ferlian Anggi Setyawan</td>
<td width="276" valign="top">SD Kanisius Temanggung, Kec. Temanggung, Kab. Temanggung</td>
<td width="61" valign="bottom">1343</td>
<td width="58" valign="bottom">Harapan I</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">5</td>
<td width="48" valign="bottom">23</td>
<td width="149" valign="bottom">Almira Salsabilla Gita I</td>
<td width="276" valign="top">SDN 15 Surakarta,   Kec. Laweyan, Kota Surakarta</td>
<td width="61" valign="bottom">1337</td>
<td width="58" valign="top">Harapan II</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="41" valign="bottom">6</td>
<td width="48" valign="bottom">31</td>
<td width="149" valign="bottom">Brigitta Orizha Sativa Rosady</td>
<td width="276" valign="top">SD St. Marsudirini 77, Kec. Sidorejo, Kota Salatiga</td>
<td width="61" valign="bottom">1330</td>
<td style="text-align: center;" width="58" valign="top">Harapan III</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selamat kepada para pemenang, semoga prestasi yang diperoleh bisa memberikan nilai tambah buat kemajuan dunia seni dan budaya. Kepada para peserta yang belum beruntung tak perlu berkecil hati, masih ada waktu dan kesempatan untuk mengukir prestasi yang lebih baik. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/04/29/membangun-karakter-bangsa-melalui-festival-dan-lomba-seni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Bangsa Pelupa</title>
		<link>http://sawali.info/2010/04/15/menjadi-bangsa-pelupa/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/04/15/menjadi-bangsa-pelupa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 13:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Mbah Priok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3321</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang bangsa kita tergolong sebagai bangsa pelupa. Jauh sebelum peradaban modern muncul, orang tua kita menciptakan sebuah adagium, “lupa kacang akan kulitnya”, untuk menggambarkan karakter orang yang lupa akan asal-usul dan jati dirinya. Orang tua Jawa bilang, “wong melik nggendhong lali”, untuk menggambarkan karakter orang yang suka mabuk kekuasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">M</span>ungkin ada benarnya kalau ada yang bilang bangsa kita tergolong sebagai bangsa pelupa. Jauh sebelum peradaban modern muncul, orang tua kita menciptakan sebuah adagium, “lupa kacang akan kulitnya”, untuk menggambarkan karakter orang yang lupa akan asal-usul dan jati dirinya. Orang tua Jawa bilang, “wong melik nggendhong lali”, untuk menggambarkan karakter orang yang suka mabuk kekuasaan seperti dalam repertoar “Petruk Dadi Ratu”. Sebuah lakon yang secara simbolik menggambarkan Petruk yang jelata tengah berada di atas tahta kekuasaan dengan memangku perempuan bahenol sembari mencekik botol minuman keras; sebuah ikon jahat betapa kekuasaan, uang, dan perempuan, bisa membuat orang lupa akan kesejatian dirinya. Novelis Cekoslovakia, Millan Kundera, pun pernah bilang bahwa salah satu perjuangan terberat manusia adalah perjuangan melawan lupa. </p>
<p><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://inilah.com/kartun/rubrik_editorial.php" title="inilah.com"><img src="http://inilah.com/data/berita/foto/462681.jpg" width="287" alt="mbah priok" /></a>Berbagai fenomena sendu dan tragis yang mengoyak negeri ini, agaknya juga makin membenarkan kalau kita semua tengah hidup di sebuah negeri pelupa. Lihat saja “Perang Koja” yang menelan ratusan korban luka, bahkan ada yang meninggal. Peristiwa tragis 14 April 2010 itu sesungguhnya tak akan terjadi kalau pihak-pihak yang bersengketa tidak lupa akan keberadaan makam keramat Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara, itu. Mereka lupa kalau di sana ada makam seorang tokoh kharismatik, Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad. Dia diakui  sebagai penyebar agama Islam dan seorang tokoh yang melegenda. Namanya bahkan jadi cikal bakal nama kawasan Tanjung Priok. </p>
<blockquote><p>Kita hampir selalu lupa pada sejarah bangsanya sendiri. Kasus-kasus yang memalukan dan menampar wajah bangsa yang dulu dikenal sangat beradab dan bermartabat semacam itu sejatinya bersumber dari keengganan dan kemalasan bangsa kita secara kolektif untuk bertindak cerdas dan penuh kearifan dalam memandang nilai-nilai historis sebagai media pembelajaran hidup. Kita menjadi begitu gampang melupakan peristiwa-peristiwa masa silam yang seharusnya bisa menjadi “museum peradaban” sebagai salah satu sumber kearifan diri. Yang lebih tragis, situs dan cagar-cagar budaya tak jarang digusur dan dihancurkan dengan dalih demi pembangunan. </p></blockquote>
<p><span style="float:right;width:200;margin:0px 0px 5px 5px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://3.bp.blogspot.com/_pI2cs24I3KU/SGYcWfURKJI/AAAAAAAAAN0/EVzS1Uczl2M/s400/Kompas+-+Petruk+Dadi+Ratu.jpg" width="287" alt="pteruk dadi ratu" /></span>Sindrom pelupa yang sudah kadung akut melekat pada memori bangsa ini diperparah dengan upaya “pencucian otak” anak-anak bangsa atas kesaksian sejarah bangsanya sendiri. Betapa banyaknya tempat dan monumen bersejarah yang telah tergusur demi memuaskan nafsu hedonis kaum pemilik modal. Jika perlu, main gusur tanah-tanah rakyat yang sudah lama mereka huni untuk disulap menjadi super-mall atau tempat-tempat hiburan bergaya aristokrat. Imbasnya, anak-anak negeri ini jadi kehilangan spasi untuk melakukan jeda dan bermain yang sesuai dengan naluri dan dunianya. Anak-anak masa kini sudah lupa pada permainan tradisional yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Anak-anak masa kini telah dicekoki dengan permainan serba canggih dan modern yang melupakan nilai-nilai keuletan, kerja keras, dan mandiri. Semuanya ingin serba cepat dan instant. </p>
<p>Saya bukan antimodernisasi. Seiring dengan derap dan dinamika peradaban yang terus melaju menuju pusaran global, modernisasi mustahil bisa ditolak. Bahkan, bangsa kita perlu terus dipacu untuk melahirkan karya-karya kreatif dan modern yang mampu menjadi master-piece di tingkat dunia. Namun, modernisasi yang sering diidentikkan dengan pembangunan berkelanjutan akan menjadi tidak bermakna apabila harus menggusur dan menghancurkan nilai-nilai kesejarahan yang diyakini menjadi sumber kearifan lokal.</p>
<p>Ya, ya, lakon “Petruk Dadi Ratu” dan “Perang Koja” telah mengingatkan kita, betapa sikap lupa dan mabuk kekuasaan hanya akan melahirkan luka dan tragedi kemanusiaan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/04/15/menjadi-bangsa-pelupa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Episode “Perang Kembang” dan Jalan Kebajikan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/04/09/episode-%e2%80%9cperang-kembang%e2%80%9d-dan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/04/09/episode-%e2%80%9cperang-kembang%e2%80%9d-dan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Apr 2010 06:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pentas]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[gayus tambunan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3314</guid>
		<description><![CDATA[Terkuaknya aroma korupsi dalam skandal perpajakan yang memunculkan nama Gayus Tambunan, bisa jadi baru satu dari sekian mafia yang sempat terendus. Konon, masih banyak aroma busuk penggelapan uang rakyat dan negara yang tak tercium. Berbagai skandal dan mafia yang terjadi itu makin menegaskan bukti kalau korupsi yang berlangsung di negeri ini memang sudah menggurita di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">T</span>erkuaknya aroma korupsi dalam skandal perpajakan yang memunculkan nama Gayus Tambunan, bisa jadi baru satu dari sekian mafia yang sempat terendus. Konon, masih banyak aroma busuk penggelapan uang rakyat dan negara yang tak tercium. Berbagai skandal dan mafia yang terjadi itu makin menegaskan bukti kalau korupsi yang berlangsung di negeri ini memang sudah menggurita di berbagai lapis dan lini birokrasi. Bahkan, aparat penegak hukum yang seharusnya bersih dari limbah korupsi, justru malah berselingkuh dan melakukan persekongkolan jahat dengan para pengemplang harta negara. Mungkin karena itulah ruang penjara di negeri yang sering dijuluki republik korupsi ini hanya dihuni oleh para maling ayam, pencuri kapok randu, dan semacamnya. Sementara, mereka yang nyata-nyata telah berbuat biadab dan korup hingga banyak rakyat miskin yang terampas hak-haknya, justru bebas melenggang di luar tembok penjara. Melalui blantik dan markus, nasib mereka bisa selamat dari jeratan hukum pidana. </p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px 5px 5px 0px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/interesting_links/bambangan-cakil.jpg" width="287" alt="testimage" /><br /><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://www.seasite.niu.edu/Indonesian/interesting_links/bambangan-cakil.jpg">Arjuna dan Buta Cakil</a>.</span>Meski Gayus telah tertangkap, bukan jaminan mafia perpajakan akan bisa cepat terungkap. Banyaknya mata rantai yang harus dirunut dan diurai, bisa jadi malah membuat kasus ini menguap; sama dan sebangun dengan kasus-kasus korup sebelumnya; entah itu kasus Anggoro-Anggodo atau bank century, yang hingga kini masih menimbulkan tanda tanya besar di benak publik. Atau, jangan-jangan kasus yang melibatkan tokoh-tokoh penting sengaja dibuat tanpa ending, melingkar-lingkar, dan mbulet, hingga akhirnya masyarakat jadi capek dan kelelahan sendiri.  </p>
<p>Dalam teks fiksi, kita mengenal istilah never ending-story. Konflik genre teks fiksi bergaya tutur seperti ini sengaja dibuat melingkar-lingar, menegangkan, sekaligus menghanyutkan. Ending cerita juga didesain menggantung dan tanpa akhir. Pembaca diberi ruang tafsir secara bebas untuk menyimpulkan dan menerjemahkan sendiri akhir konflik yang disuguhkan. Tujuannya jelas, agar alur cerita memiliki daya pikat sekaligus mencerdaskan pembaca. Pembaca tidak merasa terpasung dan terdikte. Dalam suasana demikian, khazanah batin pembaca tercerahkan melalui jalinan dan konflik cerita yang menyentuh dan mengharukan. Dengan membaca kisah-kisah fiksi bergaya never ending-story, pembaca akan menemukan pengalaman-pengalaman hidup yang baru dan unik, yang belum tentu bisa dengan mudah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. </p>
<p>Namun, di negeri ini, skandal dan mafia perpajakan, maklar hukum, atau blantik pengadilan, bukan lagi sebuah fiksi. Fakta-fakta anomali semacam itu sudah tampak telanjang dan nyata di depan mata. Dampaknya pun sudah makin terasa. Rakyat kecil yang seharusnya bisa menikmati remahan kue pembangunan, hanya bisa gigit jari, lantaran uang pajak yang seharusnya masuk ke kas negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, justru dimanipulasi, dikemplang, dan digelapkan untuk kepentingan segelintir orang bersama kroni-kroninya. Ketaatan rakyat terhadap hukum pun makin luntur lantaran tak ada lagi figur yang bisa dijadikan teladan dan anutan sosial dalam bersikap dan bertingkah laku. </p>
<p>Ibarat episode “Perang Kembang” dalam sebuah pakeliran wayang, negeri agaknya sedang berada dalam suasana pertarungan antara kebajikan melawan kejahatan; keluhuran budi melawan angkara murka. Dalam pakem wayang, Arjuna sebagai simbol kebajikan pasti akan keluar sebagai pemenang setelah mengalami pertempuran dahsyat melawan Buta Cakil sebagai simbol kejahatan. Dalam perang kembang, buta cakil dengan berbagai macam cara berupaya menggoda Arjuna dengan segala kemampuan akrobatik dan hipnotisnya agar Arjuna takluk. Buta Cakil terus bermanuver lewat orasi dan teriakannya yang kencang dan memekakkan telinga. Namun, Arjuna bergeming. Jalan kebajikan yang lurus terbentang di hadapannya sanggup menepis semua godaan, iming-iming, dan tipu muslihat. Karena gagal menggoda Arjuna, Buta Cakil pun akhirnya mati tertusuk kerisnya sendiri. Arjuna berhasil menegakkan nilai-nilai keluhuran budi dan kebajikan hidup. </p>
<p><object width="550" height="300"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/Ycwb4G5HtPk&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/Ycwb4G5HtPk&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="550" height="300"></embed></object></p>
<p>Nah, bagaimana dengan aparat penegak hukum kita? Kalau diibaratkan aparat penegak hukum kita adalah Arjuna, maka sudah jelas, Arjuna kita telah gagal melawan godaan Buta Cakil sebagai representasi dari para koruptor dan maklar kasus. Alih-alih menaklukkan kebatilan, aparat penegak hukum kita malah berselingkuh dan membangun persekongkolan jahat dengan para pengemplang harta negara. Dalam pentas pakeliran konvensional, adegan kekalahan Arjuna ketika melawan Buta Cakil jelas menjadi sebuah anomali dan pasti akan menimbulkan situasi geger dan chaos di kalangan penonton. Bisa-bisa dalangnya ditimpuki batu dan yang tragis kelirnya pasti akan segera dihancurkan. </p>
<p>Haruskah rakyat di negeri ini marah dan nekad menghancurkan peradaban yang telah dibangun dengan susah-payah ketika aparat penegak hukum kita gagal menuju jalan kebajikan? Haruskah kelir ditutup dan membuat lakon baru dengan dalang dan perangkat propertinya yang serba baru? Agaknya, sejarahlah yang akan membuktikan hal itu. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/04/09/episode-%e2%80%9cperang-kembang%e2%80%9d-dan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>136</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dongeng dan Fenomena Kekerasan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/03/31/dongeng-dan-fenomena-kekerasan/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/03/31/dongeng-dan-fenomena-kekerasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Mar 2010 18:49:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Refleksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[korupsi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3302</guid>
		<description><![CDATA[Benarkah bangsa kita telah kehilangan sikap ramah? Benarkah bangsa kita telah kehilangan nilai-nilai kearifan sehingga setiap masalah mesti diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, vulgar, dan vandalistik? Ke manakah nilai-nilai keluhuran budi yang dulu pernah menjadi kenyataan karakter dan kepribadian bangsa yang tak terbantahkan itu? Sudah tak ada ruangkah bagi anak-anak masa depan negeri ini untuk membangun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">B</span>enarkah bangsa kita telah kehilangan sikap ramah? Benarkah bangsa kita telah kehilangan nilai-nilai kearifan sehingga setiap masalah mesti diselesaikan dengan cara-cara kekerasan, vulgar, dan vandalistik? Ke manakah nilai-nilai keluhuran budi yang dulu pernah menjadi kenyataan karakter dan kepribadian bangsa yang tak terbantahkan itu? Sudah tak ada ruangkah bagi anak-anak masa depan negeri ini untuk membangun karakter yang kokoh dan kuat sehingga tak gampang tersulut api amarah dan kalap ketika menghadapi masalah?</p>
<p><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://inilah.com/data/berita/foto/420951.jpg" width="287" alt="testimage" /><br />Kartun cerdas ala <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://inilah.com/kartun/rubrik_editorial.php" title="inilah.com">Inilah.com</a>.</span><span style="float:right;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://inilah.com/data/berita/foto/430202.jpg" width="287" alt="testimage" /><br />Dongeng modern ala <a rel="nofollow" target="_blank" href="http://inilah.com/kartun/rubrik_editorial.php" title="inilah.com">Inilah.com</a>.</span></p>
<p>Lihat saja panggung sosial di negeri ini yang terus berdarah-darah! Nyawa manusia kian termarginalkan oleh nafsu dan keinginan untuk menang sendiri dan saling menyakiti. Entah, sudah berapa nyawa yang melayang menjadi korban mutilasi atau tawuran antarkampung. Juga sudah tak terhitung berapa jengkal tanah yang telah berubah menjadi ladang pembantaian akibat meruyaknya nafsu serakah, dendam, dan kebencian. </p>
<p>Orang-orang kita pada zaman dulu, konon punya cara khas untuk menanamkan nilai-nilai keluhuran budi kepada anak cucu. Menjelang tidur, mereka biasa mendongeng sampai sang anak-cucu benar-benar tertidur pulas. Banyak nilai keteladanan dan kearifan hidup yang bisa dipetik dari rangkaian dan alur cerita dalam dongeng. Tokoh-tokoh yang punya karakter kuat seperti mampu menaburkan pesona dan makna kebajikan hidup ke dalam ruang imajinasi anak-anak. Secara tidak langsung, nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi yang tersirat dari balik dongeng mampu terserap ke dalam alam logika dan nurani anak-cucu hingga terbawa sampai mereka dewasa. Sikap toleran, moderat, rendah hati, kreatif, empati, dan nilai-nilai budi pekerti yang lain sangat kuat mengakar ke dalam memori anak-anak dan diaplikasikan ke dalam tindakan dan perilaku hidup sehari-hari. </p>
<p>Namun, anak-anak zaman sekarang agaknya makin sulit mendapatkan asupan nilai kearifan hidup lewat dongeng. Tingkat persaingan hidup yang makin ketat dan sengit membuat orang tua makin sibuk memburu gebyar materi. Alih-alih mendongeng, komunikasi dan interaksi dengan anak-anak pun tak lagi bisa dilakukan secara intens. Hubungan anak dan orang tua semata-mata hanya tuntutan biologis. Keluarga jadi kehilangan roh dan sentuhan nilai kearifan hidup. Yang lebih menyedihkan, anak-anak dengan mata vulgar dan telanjang menyaksikan dongeng-dongeng modern yang tersaji melalui layar kaca. </p>
<p>Sinetron kita yang tak henti-hentinya mengeksploitasi kekerasan, kemewahan, dendam, dan kebencian, cerita hantu dan horor, bahkan juga berita-berita vulgar tentang mutilasi, mafia peradilan, maklar kasus, atau korupsi, setidaknya telah memiliki andil yang cukup besar terhadap pembentukan karakter anak. Sementara itu, dunia pendidikan yang diharapkan mampu menjadi benteng terakhir dalam mengakarkan nilai-nilai keluhuran budi makin tak berdaya ketika fenomena yang terjadi di tengah-tengah kehidupan sosial secara nyata telah mempraktikkan proses anomali dan kebangkrutan moral yang demikian masif dan telanjang. Maka, makin sempurnalah cekokan dongeng-dongeng modern itu ke dalam ruang imajinasi dan memori anak-anak. </p>
<p>Haruskah situasi seperti itu akan terus berlangsung hingga akhirnya anak-anak masa depan negeri ini benar-benar menjelma menjadi “monster” yang tega memangsa sesamanya dan menjadi penganut kanibalisme? Hmm … hingga tulisan ini saya publikasikan, saya belum bisa menemukan kemungkinan yang paling tepat untuk menjawabnya. ***  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/03/31/dongeng-dan-fenomena-kekerasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>121</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dari Motivasi ESQ ke Temu Forum PUG Bidang Pendidikan</title>
		<link>http://sawali.info/2010/03/27/dari-motivasi-esq-ke-temu-forum/</link>
		<comments>http://sawali.info/2010/03/27/dari-motivasi-esq-ke-temu-forum/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 12:38:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sawali Tuhusetya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kearifan Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Kurikulum]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[doa bersama]]></category>
		<category><![CDATA[ESQ]]></category>
		<category><![CDATA[ujian nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sawali.info/?p=3294</guid>
		<description><![CDATA[Memburu Jati Diri? Ungkapan ini mengingatkan pada artikel saya yang pertama kali dimuat di media cetak lokal. Di rubrik &#8220;Debat Mahasiswa&#8221;, sekitar tahun 1987, nama saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa calon guru di sebuah lembaga pendidikan keguruan, jadi terkenal di lingkungan kampus, hehe &#8230; Karuan saja, saya jadi &#8220;besar kepala&#8221;. Ternyata, saya bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="float: left; font-size: 100px; line-height: 70px; padding-top: 2px; font-family: Times,serif,Georgia; color: #cc0000;">M</span>emburu Jati Diri? Ungkapan ini mengingatkan pada artikel saya yang pertama kali dimuat di media cetak lokal. Di rubrik &#8220;Debat Mahasiswa&#8221;, sekitar tahun 1987, nama saya yang saat itu masih berstatus mahasiswa calon guru di sebuah lembaga pendidikan keguruan, jadi terkenal di lingkungan kampus, hehe &#8230; Karuan saja, saya jadi &#8220;besar kepala&#8221;. Ternyata, saya bisa menjadi seorang penulis. Walhasil, saya pun jadi keranjingan menulis, apalagi dapat honor. Meski demikian, ternyata tidak semua tulisan yang saya kirim bisa langsung dimuat. Sebagian besar masuk ke keranjang sampah dan hanya beberapa di antaranya yang lolos dari otoritas dan kewenangan sang redaksi. </p>
<p>Untuk beberapa saat lamanya, saya vakum menulis. Barikade redaktur yang tak mudah ditembus membuat saya putus asa. Apalagi, untuk menghasilkan sebuah tulisan butuh kerja keras. Saya harus menggunakan mesin ketik manual. Sebuah &#8220;tulisan jadi&#8221; yang hanya terdiri antara 5-6 halaman, prosesnya bisa menghabiskan kertas sampai 30-an halaman karena seringnya salah ketik. </p>
<p>Bagi saya, proses menulis merupakan bagian dari upaya memburu jati diri; sebuah proses yang dalam bahasa Abraham Maslow sering disebut sebagai proses aktualisasi diri. Aktivitas apa pun, dalam konteks demikian, bisa dimaknai sebagai bagian kecil dari proses panjang sebuah pemburuan jati diri. Nah, liku-liku dan proses pahit yang menyertai ranah kepenulisan yang saya alami sejatinya juga merupakan bagian dari proses aktualisasi diri itu. &#8220;Saya menulis, karena itu saya ada,&#8221; demikian kata Rene Descartes. </p>
<p>Nah, anak-anak yang kini tengah gencar mendobrak pintu ujian nasional (UN), pada hakikatnya juga sedang berjuang memburu jati diri. Sesulit apa pun rintangannya, toh mesti dilewati juga. Karena menjadi bagian dari proses memburu jati diri, UN menjadi sebuah &#8220;conditio sine qua non&#8221;. Persoalannya sekarang, kalau pintu UN itu gagal terdobrak alias tidak lulus, bisakah disebut gagal memburu jati diri? </p>
<p>Hmm &#8230; sebagai sebuah proses, ending menjadi sesuatu yang tak pernah mengenal kata finish. Apa pun hasilnya, bukanlah menjadi sesuatu yang menjadi begitu penting dipersoalkan. Yang lebih urgen dan utama dari semua itu adalah kenyamanan menikmati sebuah proses. Ibarat menempuh perjalanan jarak jauh, ukuran jarak bukan lagi menjadi sesuatu yang penting, asalkan bisa menikmati proses perjalanan itu dengan &#8220;enjoy&#8221; dan menyenangkan. UN pun idealnya diposisikan semacam itu. Persoalan hasil menjadi urutan nomor dua. Yang lebih penting dan utama adalah proses pelaksanaan UN itu sendiri. Asalkan dilakukan dengan fair dan jujur, UN akan memberikan nilai tambah tersendiri bagi peserta UN dalam proses memburu jati diri dan aktualisasi diri. </p>
<p>Berikut ini adalah sebagian potret anak-anak SMP 2 Pegandon yang tengah melakukan persiapan memburu jati diri melalui training Emotional and Spiritual Quotient (ESQ). Kegiatan berlangsung di SMP 2 Pegandon pada hari Kamis, 25 Maret 2010 (pukul 16.00-17.30 WIB). </p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S63zhJxZ7xI/AAAAAAAABQ8/EBb4PgOvtFU/P3110001.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Menjelang Motivasi ESQ (1).</span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S63zhUEUsUI/AAAAAAAABRI/9Um9daOoA4w/P3110008.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Menjelang Motivasi ESQ (2).</span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S63zhdX-DMI/AAAAAAAABRE/GnVEA17VcvQ/P3110006.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Kasek didampingi beberapa guru.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S63zhi8-jCI/AAAAAAAABRM/pVF7qxx43RM/P3110013.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Ibu-ibu siap mendukung. </span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S633QzIS9LI/AAAAAAAABRU/3wxxgX-71eM/P3110030.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Lesehan di luar pun jadi.</span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh4.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S63zhKOWlPI/AAAAAAAABRA/-mNwoQl-1p8/P3110058.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Tes kejujuran. </span></p>
<p>Nah, semoga anak-anak bangsa negeri ini sukses memburu jati diri sehingga mampu mengaktualisasikan dirinya secara utuh dan paripurna. </p>
<p>Keesokan harinya, Jumat hingga Sabtu (26-27 Maret 2010), saya bersama dua rekan sejawat (Bu Sari-Boyolali dan Pak Sudarno-Kebumen) didaulat untuk mendampingi teman-teman fasilitator Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan se-Jawa Tengah yang berlangsung di gedung P2PNFI, Ungaran, Jawa Tengah. Kami ketiban sampur untuk menyampaikan materi &#8220;Pengembangan Bahan Ajar&#8221; yang Responsif Gender, sedangkan Pak Fauzi (IAIN Walisongo-Semarang) dan Bu Ismi (UNS Surakarta) didaulat untuk menyampaikan materi &#8220;Pengembangan Karya Tulis Ilmiah&#8221; Bermuatan Gender. </p>
<p>Sekitar 100 fasilitator PUG kabupaten/kota se-Jateng (mulai tingkat TK/SD, SMP, hingga SMA/SMK) hadir dalam Temu Forum ini. Pak Cahyo, Ketua Panitia (Dinas Pendidikan Prov. Jateng), berharap agar kegiatan tersebut mampu menghasilkan produk tulisan, baik berupa bahan ajar maupun karya tulis ilmiah yang responsif gender, yang mampu memperkuat nilai-nilai etika berbasis kearifan lokal. Hal ini dimaksudkan agar pengarusutamaan gender yang mulai gencar diintegrasikan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bisa berlangsung secara wajar dan alamiah, tanpa terkesan adanya paksaan dan indoktrinasi. </p>
<p><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S633RE2F8wI/AAAAAAAABRk/idtvlviDvQo/gender6.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Background. </span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh3.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S633RLENYLI/AAAAAAAABRc/bRdo8gi9XGM/gender3.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Antusiasme peserta. </span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh6.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S633Q6tR6uI/AAAAAAAABRY/6XZOIuCdrAM/gender7.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Pak Sudarno sedang beraksi. </span><span style="float:left;width:287;margin:0px -8px 5px 8px;text-align:center;font:normal 11px trebuchet MS;"><img src="http://lh5.ggpht.com/_NvMphqDkp_A/S633RJyDQ6I/AAAAAAAABRg/A6sv55NQ4pg/gender4.JPG" width="287" alt="testimage" /><br />Bu Sari sedang melayani konsultasi. </span></p>
<p>Ya, ya, PUG memang belum sepenuhnya diterima secara utuh di tengah-tengah masyarakat yang masih demikian kuat budaya patriarkhinya. Fenomena-fenomena bias gender, seperti kekerasan dalam rumah tangga, beban ganda, marginalisasi (peminggiran), dan subordinasi, diakui atau tidak, masih sering terjadi. Korbannya, sebagian besar adalah kaum perempuan yang sejatinya dalam ajaran agama apa pun diberikan tempat yang terhormat dan bermartabat. Meski demikian, upaya PUG tidak harus dilakukan secara frontal dan vulgar. Nah, agaknya dunia pendidikan menjadi tempat yang strategis untuk menananamkan dan mengembangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender, sehingga dalam beberapa tahun mendatang, anak-anak masa depan negeri ini bisa mengimplementasikan dan mengaplikasikan keadilan dan kesetaraan gender itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. </p>
<p>Nah, semoga harapan seperti itu kelak benar-benar bisa terwujud. ***  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sawali.info/2010/03/27/dari-motivasi-esq-ke-temu-forum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>88</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
