Top

Sastra Kita Miskin Pemberontakan?

Sunday, 27 July 2008 | 308 pembaca | 35 komentar
Kategori: Budaya, Pendidikan, Refleksi, Sastra

Sekitar tahun 1983, Budi Darma pernah menyatakan, jika Anda belum dikenal sebagai sastrawan, cobalah memberontak. Katakan sastra hasil karya para sastrawan kita belum berbobot. Atau, tulislah sebuah puisi yang nyentrik. Paling tidak, ada dua kandungan tafsir yang tersirat di balik pernyataan pengarang novel Olenka itu. Pertama, sebagai ”pasemon” terhadap ”tradisi” pengarang yang suka bikin sensasi lewat eksperimentasi penciptaan yang mentah dan konyol, tanpa dibarengi akuntabilitas moral dan etik. Artinya, pemberontakan hanya dilakukan untuk memburu ketenaran nama an sich, tidak berbasisikan kultur penciptaan yang dengan sangat sadar dilakukan untuk melahirkan teks-teks kreatif yang bernilai. Kedua, pemberontakan bisa dimaknai sebagai... (Baca lanjutannya!)

Memberhalakan Ijazah

Monday, 14 July 2008 | 533 pembaca | 81 komentar
Kategori: Budaya, Kurikulum, Opini, Pendidikan, Refleksi

Ijazah di negeri ini agaknya telah menjadi ”berhala” yang dipuja dan diburu banyak orang. Tak melulu dalam dunia kerja. Hampir semua ceruk kehidupan selalu bersentuhan dengan selembar kertas itu. Bahkan, pernikahan yang disakralkan dan disucikan pun secara tak langsung telah menjadikan ijasah sebagai penentu kualitas prosesi. Sebelum ijab kabul berlangsung, calon mertua tak jarang menanyakan kualifikasi ijasah calon menantunya. Ya, ijasah sudah menjadi bagian jatidiri yang menyatu dalam lembar kehidupan. Pencitraan publik pun lantas dengan cepat memosisikan ijasah sebagai penentu kualitas hidup. Sudah demikian parahkah belenggu ijasah di negeri ini sehingga tak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya? Maka, ritual... (Baca lanjutannya!)