Tragedi Pasca-Pesta Karnaval
Kategori: Budaya, Kearifan Lokal, Pendidikan, Politik, Refleksi, Tradisi
Dalang: Ki sawali Tuhusetya Sesuai sumpahnya, Bhisma tak akan terusik persoalan duniawi. Harta, tahta, dan wanita, sudah tak ada lagi dalam kamus hidupnya. Kecintaannya pada Hastina, negeri besar yang telah melahirkan dan membesarkannya, melebihi kecintaannya pada diri sendiri. Sebagai lelaki normal, sesekali dia ingin juga mencium aroma ketiak perempuan yang sanggup merangsang naluri kelelakiannya. Lantas, menuntaskan gairah asmara yang berlipat-lipat di dalam keremangan sebuah bilik bertaburkan bunga-bunga narwastu dari syurga. Namun, keteguhan hatinya dalam memegang prinsip telah berhasil menaklukkan godaan yang tak jarang menjerumuskan umat wayang (manusia) ke dalam kubangan nafsu dan kemanjaan selera rendah. Sementara itu, suasana jantung... (Baca lanjutannya!)
Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval
Kategori: Bahasa, Budaya, Kearifan Lokal, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi
Sudah jadi “ritual”, 17 Agustus-an tanpa karnaval, agaknya seperti ijab kabul tanpa dilanjutkan makan-makan. Entah sejak kapan bangsa kita memulainya. Yang jelas, karnaval seperti telah menjelma jadi sebuah “pesta”. Rakyat jadi gegap-gempita menyambutnya. Begitulah yang terjadi di Kendal, 18 Agustus 2008 kemarin. Matahari yang memanggang bumi, agaknya tak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk menuntaskan kemeriahan “pesta” itu. Jalur Pantura yang memang sudah biasa padat-merayap jadi makin macet total sejak pukul 13.00 s.d. pukul 18.00 WIB. Hampir tak ada sejengkal pun badan jalan yang tersisa untuk bisa membuat kaki melangkah dengan leluasa. Sungguh merepotkan bagi pengguna jalan yang kebetulan harus bisa... (Baca lanjutannya!)













