Catatan terhadap Cerpen-Cerpen Sawali Tuhusetya *)
Saturday, 24 May 2008 | 142 pembaca | 38 komentar
Oleh: Kurnia Effendi Membaca cerpen-cerpen Sawali, saya teringat syarat yang pernah saya terapkan untuk diri sendiri, agar saya “yang lain”, sebagai “pembaca” sebelum pembaca lain, lebih dulu menikmati cerpen itu. Lalu teringat juga pendapat seorang cerpenis jauh sebelum saya, bahwa cerita pendek adalah kisah yang habis dibaca dalam sekali duduk. Namun sebaliknya saya juga mendapatkan pengalaman luar biasa dengan membaca cerpen-cerpen panjang (yang seolah melawan kaidah istilahnya sendiri) karya Budi Darma. Empat syarat (bisa kurang dan lebih) yang kemudian saya pegang itu adalah sebagai berikut: Kemampuan berbahasa: syarat utama penulis, agar cukup komunikatif, syukur-syukur mengandung estetika Logika fiksi: sekalipun fantastik ada... (Silakan baca lanjutannya!)
Revitalisasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Tuesday, 15 April 2008 | 1,126 pembaca | 25 komentar
Sebagai bahasa nasional dan bahasa resmi (negara), usia bahasa Indonesia sudah lebih separuh abad. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut mestinya sudah mampu mencapai tingkat “kematangan” dan “kesempurnaan” hidup, sebab sudah banyak merasakan liku-liku dan pahit-getirnya perjalanan sejarah. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis pun bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan... (Silakan baca lanjutannya!)
Dimensi Kehidupan Manusia dalam Teks Sastra
Sunday, 30 March 2008 | 608 pembaca | 29 komentar
Hingga sekarang, agaknya belum ada definisi sastra yang benar-benar sahih dan memuaskan. Benarkah sastra bisa menjadi sarana yang tepat untuk menyampaikan ajaran? Benar jugakah kalau orang mendefinisikan bahwa sastra adalah tulisan yang indah dengan menggunakan bahasa sebagai medianya? Tidak salah jugakah kalau orang mengatakan bahwa sastra merupakan tafsir terhadap berbagai peristiwa hidup dan kehidupan manusia pada setiap peradaban? Agaknya, sastra memang tidak perlu didefinisikan. Siapa pun mereka, berhak untuk menafsirkan sastra beserta pernik-perniknya sesuai dengan alur logika dan emosinya masing-masing. Dengan menabukan monotafsir tentang sastra, maka kehidupan dunia sastra justru akan makin berkembang, dinamis, dan luwes sesuai dengan... (Silakan baca lanjutannya!)

















