Top

Yang Tersisa Setelah “Pesta” Karnaval

Tuesday, 19 August 2008 | 339 pembaca | 57 komentar
Kategori: Bahasa, Budaya, Kearifan Lokal, Opini, Pendidikan, Politik, Refleksi

Sudah jadi “ritual”, 17 Agustus-an tanpa karnaval, agaknya seperti ijab kabul tanpa dilanjutkan makan-makan. Entah sejak kapan bangsa kita memulainya. Yang jelas, karnaval seperti telah menjelma jadi sebuah “pesta”. Rakyat jadi gegap-gempita menyambutnya. Begitulah yang terjadi di Kendal, 18 Agustus 2008 kemarin. Matahari yang memanggang bumi, agaknya tak menyurutkan semangat para peserta maupun penonton untuk menuntaskan kemeriahan “pesta” itu. Jalur Pantura yang memang sudah biasa padat-merayap jadi makin macet total sejak pukul 13.00 s.d. pukul 18.00 WIB. Hampir tak ada sejengkal pun badan jalan yang tersisa untuk bisa membuat kaki melangkah dengan leluasa. Sungguh merepotkan bagi pengguna jalan yang kebetulan harus bisa... (Baca lanjutannya!)

Dirgahayu dan HUT Ke-63 RI

Friday, 1 August 2008 | 1,872 pembaca | 58 komentar
Kategori: Bahasa, Pendidikan, Refleksi

Suasana heroik itu kembali tercium di sekeliling kita. Sosok pahlawan seperti terpampang jelas dalam layar memori kita. Betapa untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan butuh pengorbanan; air mata dan darah. Sudah tak terhitung roh para pendahulu negeri yang telah bersemayam dalam pundi-pundi sejarah keabadian. Setahun sekali, ya, seolah-olah hanya setahun sekali, roh mereka kembali kita hadirkan, untuk memberikan sugesti dan membangkitkan etos kebangsaan di tengah tumpukan persoalan yang multikompleks dan super-rumit. Padahal, sejatinya pahlawan tak pernah mati. Roh mereka akan selalu hadir di setiap ranah ruang dan waktu. Terlepas dari kompleks dan rumitnya persoalan-persoalan kebangsaan, agaknya memang kita masih butuh mewujudkan nilai-nilai... (Baca lanjutannya!)