Top

Perlukah Kita Menjadi Narcisus?

Saturday, 12 January 2008 | 76 pembaca | 51 komentar
Kategori: Bahasa, Budaya, Opini, Refleksi, Sastra

Pernahkah Sampeyan mengikuti diskusi sastra yang panas dan menegangkan? Ya, forum-forum diskusi sastra memang acapkali diwarnai situasi semacam itu. Hal itu cukup beralasan, sebab umumnya dihadiri oleh para kreator yang selama ini dikenal sebagai orang-orang “gila” dan “keras kepala” dalam beradu argumen. Bahkan, cenderung menjadi seorang narcisus; berapologi secara berlebihan dalam menjustifikasi kebenaran-kebenaran nilai kreativitas yang dianutnya. Tiba-tiba saja saya teringat peristiwa diskusi sastra 11 tahun yang silam. Bermula dari diskusi dalam acara “Nurdien Kembali” (17/7/1996) di aula Fakultas Sastra Undip, Semarang, Jawa Tengah. Bambang Supranoto, seorang penyair yang didaulat sebagai pembicara, mulai membedah... (Baca lanjutannya!)

Guru Bahasa, Sastra, dan KTSP

Sunday, 6 January 2008 | 479 pembaca | 29 komentar
Kategori: Bahasa, Opini, Refleksi, Sastra

Jika dibandingkan dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya, muatan sastra dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tampak lebih utuh dan komprehensif. Ada keterampilan reseptif (mendengarkan dan membaca) dan produktif (berbicara dan menulis) sekaligus di dalamnya. Dengan kata lain, ada aktivitas siswa untuk mendengarkan sastra, membaca sastra, berbicara sastra, dan menulis sastra selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Kalau muatan sastra dalam KTSP ini disajikan dengan baik, fenomena “rabun sastra” yang konon sudah menggejala di kalangan pelajar itu, saya yakin akan dapat teratasi. Persoalannya sekarang, sudah benar-benar dalam kondisi siapkah para guru bahasa menyajikan muatan sastra dalam KTSP itu kepada siswa didik?... (Baca lanjutannya!)