Perlukah Pengarang Melakukan “Pemberontakan”?
Kategori: Bahasa, Budaya, Opini, Refleksi, Sastra
Pertanyaan yang tersirat dalam judul tulisan ini seringkali mengusik kegelisahan penulis atau calon penulis yang tengah memburu jatidiri. Dalam sebuah obrolan, banyak teman yang –entah sebagai pernyataan sikap minder atau rendah hati– bilang bahwa mereka tak punya bakat menulis. *Halah* Seperti biasanya, saya selalu “alergi” setiap kali mendengar pernyataan semacam itu. Banyak orang yang demikian “mendewakan” bakat dalam dunia kepenulisan. Padahal, sebenarnya nonsense saja. Siapakah sebenarnya yang tahu bakat seseorang? Bukankah bakat itu baru bisa dikenali setelah seseorang mampu melahirkan karya-karya hebat? “Triyanto Triwikromo, Gus Tf. Sakai, atau Ayu Utami memang berbakat besar sebagai seorang... (Baca lanjutannya!)
Memburu Cinta yang Hilang di Rimba Sastra
Mohon maaf, saya tidak sedang sok romantis, apalagi sentimentil, hehehe Judul tersebut sengaja saya pilih untuk menumpahkan kegelisahan saya yang selama ini hampir jarang menemukan cinta yang sesungguhnya di komunitas sastra. Jujur saja, saya memang seringkali menulis cerpen atau esai di blog. Namun, semua itu terasa belum cukup untuk menemukan cinta saya yang sesungguhnya di dunia sastra. Saya ingin sekali menikmati perdebatan di komunitas sastra yang sesekali memanas dan menegangkan, seperti yang pernah saya saksikan di UNDIP Semarang ketika acara “Nurdien Kembali” (1996) atau Temu Sastrawan Jawa Tengah di Purwokerto (2000) berlangsung. Alhamdulillah, kalau tak ada aral melintang, saya mendapatkan kesempatan untuk memburu cinta... (Baca lanjutannya!)













