“Perang Sastra” Terus Berlanjut?
Belum mereda imbas “perang sastra” antara Taufiq Ismail dan Hudan Hidayat tentang “Gerakan Syahwat Merdeka”, kini dunia sastra Indonesia mutakhir kembali menabuh genderang perang antara kubu Boemipoetra dan Teater Utan Kayu (TUK). Kubu Boemipoetra yang dikomandani oleh Saut Situmorang (SS) sangat agresif menyerang kubu TUK yang digawangi oleh Goenawan Muhammad (GM). Dengan nada “provokatif”, penyair eksentrik itu bilang bahwa TUK adalah agen imperialisme Liberalisme-Kapitalisme, terutama Amerika Serikat, dalam jagat sastra Indonesia, lewat program-program sastranya. Mudahnya akses bagi orang-orang TUK dan sekutunya ke program-program di Amerika Serikat, seperti program menulis Iowa itu, misalnya, sementara... (Baca lanjutannya!)
Menimbang Bobot Literer “Puisi Blog”
Sekitar tahun 1989, saya pernah terlibat sedikit polemik dengan Kusprihyanto Namma (KN) tentang esensi “Sajak Koran” di harian Suara Merdeka. Dalam tulisannya “Penerbitan Puisi, Sekadar Dokumentasi” itu, KN ingin menggarisbawahi dua hal. Pertama, sajak yang termuat di koran (sajak koran) terpola oleh selera media massa cetak sehingga penyair terjebak dalam sikap hipokrit (kepura-puraan). Dengan demikian, sajak bukan hasil penjelajahan proses kreativitas yang intens. Kedua, sulit menemukan antologi puisi yang mengandung ekspresi-ekspresi berbeda dan keliaran-keliaran yang mencengangkan karena penyair terbentur struktur birokrasi budaya kita yang cenderung “membatasi” daya jelajah dalam menuangkan kebebasan dan kegelisahan. Saat... (Baca lanjutannya!)













