Top

Roy Suryo, Bloger, dan Sikap Hipokrit

Friday, 29 February 2008 | 128 pembaca | 74 komentar
Kategori: Bahasa, Opini, Refleksi

Sang pakar kita, Roy Suryo, kembali bikin ulah. Setelah gagal memperoleh legitimasi atas klaim lagu Indonesia Raya pada Agustus 2007 yang silam, sang pakar kita itu seperti melempari telor busuk ke wajah para bloger. Kita belum tahu, bagaimana respon bloger-bloger sekelas Yusril Ihza Mahendra, Juwono Sudarsono, Wimar Witoelar, atau Enda Nasution. Bisa jadi, bloger-bloger ngetop itu tak akan pernah bereaksi. Mereka sangat paham, siapa sesungguhnya pelempar telor busuk itu. Bisa jadi akan makin bertambah ge-er kalau direspon, hiks. Sebagaimana diberitakan detikinet.com, Roy Suryo menyebut bloger tak lebih dari tukang tipu. Anggap saja blog seperti orang membuang sampah. Saya capek melayani orang kayak gitu. Itulah yang tidak saya sukai dari blog.... (Baca lanjutannya!)

Kehidupan “Wong Cilik” dalam Teks Cerpen

Friday, 22 February 2008 | 418 pembaca | 34 komentar
Kategori: Bahasa, Budaya, Cerpen, Opini, Refleksi, Sastra, Tradisi

Cerpen, bagi saya, adalah upaya penulis untuk mengabadikan berbagai peristiwa kemanusiaan, untuk selanjutnya diwartakan kepada publik dengan menggunakan media bahasa. Dalam konteks demikian, terasa naif apabila cerpen hanya memuja keindahan. Percuma saja apabila cerpen diekspresikan melalui idiom-idiom bahasa yang terlalu njlimet, bahkan bombastis. Sebab, cerpen-cerpen semacam itu tidak akan pernah masuk dalam khazanah pemikiran publik. Ini tidak lantas berarti bahwa cerpen jadi “alergi” dan anti-keindahan. Sebagai teks sastra, dengan sendirinya cerpen jelas mustahil terlahirkan dari rahim sang penulis tanpa medium bahasa. Meski demikian, ada persoalan yang lebih urgen ketimbang itu. Banyak fenomena kemanusiaan yang menarik untuk direnungkan,... (Baca lanjutannya!)