Sebuah Kado Menjelang Hari Guru

Monday, 17 November 2008 | 251 pembaca | 141 komentar | Feed

img

Sudah mengantongi sertifikat pendidik, tetapi belum menikmati tunjangan profesi? Pertanyaan itu sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan bagi saya. Dari sekian puluh guru peserta uji sertifikasi susulan tahun 2007, bisa jadi sayalah satu-satunya guru bersertifikat pendidik yang belum menerima tunjangan 1 x gaji pokok itu. Kok tidak mengejutkan? Ya, karena berdasarkan infomasi yang saya terima, ada juga beberapa rekan sejawat dari angkatan lain yang bernasib sama. Maklum saja, pemerintah mesti mengurusi sekian ribu berkas sehingga kemungkinan “human error” itu pasti ada. Saya baru terkejut setelah mendengar informasi dari seorang teman yang bekerja di Bidang PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan), Dinas P dan K, Kabupaten... (Silakan baca lanjutannya!)

Refleksi Menjelang Hari Guru 2008

Sunday, 16 November 2008 | 209 pembaca | 84 komentar | Feed

img

Kapan sekolah kami lebih baik dari kandang ayam. Kapan pengetahuan kami bukan ilmu kedaluwarsa. Mungkinkah berharap yang terbaik dalam kondisi yang terburuk ….. Bolehkah kami bertanya, apakah artinya bertugas mulia, ketika kami hanya terpinggirkan, tanpa ditanya, tanpa disapa. Di sejuta batu nisan guru tua yang terlupakan oleh sejarah, terbaca torehan darah kering. Di sini berbaring seorang guru, semampu membaca buku usang, sambil belajar menahan lapar, hidup sebulan dengan gaji sehari. Itulah nisan seorang guru tua yang terlupakan oleh sejarah. (Winarno Surahmat dalam apel HUT Ke-60 PGRI di Solo, Jawa Tengah) Masih ingat penggalan lirik yang diucapkan dengan nada pilu oleh Winarno Surahmat tahun 2005 yang silam? Ya, ya, ya! Agaknya,... (Silakan baca lanjutannya!)

Situasi Chaos di Negeri Kelelawar Makin Parah (3)

Wednesday, 12 November 2008 | 198 pembaca | 113 komentar | Feed

img

Kisah ini merupakan lanjutan Menagih Janji Politisi di Negeri Kelelawar (1) dan Ontran-ontran di Negeri Kelelawar (2). Silakan baca dulu! Penculikan para aktivis telah memicu semangat kaum muda untuk menyuarakan suara-suara pemberontakan yang selama ini terbungkam. Semakin banyak aktivis yang digebug, semakin menambah daftar kaum muda yang berempati. Pintu-pintu kampus yang kokoh pun jebol. Para mahasiswa yang selama ini ditabukan terjun ke ranah politik praktis berduyun-duyun keluar kandang. Mereka lebur bersama para aktivis di luar tembok kampus untuk melakukan sebuah perubahan. Maka, gegap-gempitalah negeri Kelelawar. Jalan-jalan protokol di pusat kota selalu padat para pendemo. Saking padatnya, tak jelas lagi dibedakan, mana pendemo yang... (Silakan baca lanjutannya!)



hostguru

View blog authorityView blog reactions
Kontak gmail