Top

Mampukah Sekolah Menjadi “Benteng” Utama Apresiasi Sastra?

Wednesday, 26 March 2008 | 698 pembaca | 49 komentar
Kategori: Budaya, Opini, Refleksi, Sastra

Rendahnya tingkat apresiasi masyarakat (publik) terhadap sastra hingga kini masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan pengamat dan pemerhati sastra. Acara baca puisi, cerpen atau teater, apalagi seminar/diskusi, sering luput dari perhatian publik; hanya dihadiri oleh beberapa gelintir orang saja. Keadaan semacam itu diperparah dengan rendahnya minat baca publik terhadap buku-buku sastra. Lihat saja di perpustakaan atau toko-toko buku. Buku-buku sastra hanya sekadar jadi pelengkap dan pajangan; dibiarkan terpuruk tak tersentuh. Tidak heran jika Taufiq Ismail pernah mengatakan bahwa masyarakat kita telah dihinggapi gejala “rabun sastra”, sehingga gagal menikmati keindahan nilai yang terkandung dalam karya sastra. Padahal,... (Baca lanjutannya!)

Gatutkaca Memburu Teroris

Sunday, 23 March 2008 | 209 pembaca | 33 komentar
Kategori: Budaya, Refleksi, Tradisi

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Suasana sidang kabinet di Balai Paseban Negeri Hastina terasa tegang dan panas. Berkali-kali Prabu Duryudana menggebrak meja. Sorot matanya liar. “Bagaimana tanggung jawab Sampeyan, Mahapatih Sengkuni? Masak ngurus pekerjaan sepele saja nggak becus!” cerocos Suryudana dengan nada tinggi. “Maaf, Nanda Prabu, jangan cepat main tuduh di tengah sidang yang mulia ini. Tanya juga Penasihat Durna yang menolak operasi militer di Plongkowati. Coba kalau siasat saya tidak dijegal, Wahyu Cakraningrat pasti sudah ada di tangan kita! Nah, itu artinya, Penasihat Durna juga punya andil besar di balik kegagalan misi ini!” sahut Sengkuni membela diri. “Betul, Kanda Prabu! Bapa Durna tak ubahnya musuh... (Baca lanjutannya!)