Ritual Tapa Nyusup ala Salyapati
Kategori: Budaya, Kearifan Lokal, Pendidikan, Politik, Refleksi, Tradisi
Dalang: Ki Sawali Tuhusetya Di ruang pribadinya yang sejuk ber-ac di lantai V, Prabu Salyapati merasa gerah. Gumpalan-gumpalan peluh dingin sebesar jagung menjebol pori-porinya. Penguasa bercambang lebat itu menahan napas, tak kuasa membendung kegelisahan yang merajam rongga dadanya. Sesekali berjalan mondar-mandir dari satu sudut ruang ke sudut yang lain. Ketika wajahnya nongol di balik jendela, bola matanya menatap ribuan rakyat menyemut di halaman istana. “Demi kelangsungan hidup negeri Mandaraka, Sang Prabu harus kawin lagi! Tiga putri belum cukup menjadi pilar untuk menjaga keutuhan negeri. Dus, Sang Prabu harus punya putra mahkota. Dan itu bisa terwujud jika Sang Prabu melakukan poligami!” teriak seorang pendemo dengan wajah berkilat-kilat... (Baca lanjutannya!)
Dunia Pendidikan Kita Miskin Sentuhan Pembelajaran Elektronik?
Berdasarkan data di Jardiknas, jumlah lembaga pendidikan di negeri ini, mulai SD hingga PT, baik negeri maupun swasta, hingga 15 Juni 2008 tercatat sekitar 200.833. Jumlah ini tentu saja belum termasuk sekolah-sekolah tertentu yang terhadang oleh beberapa kendala teknis. Ribuan lembaga pendidikan tersebut tersebar di 33 provinsi, mulai Nanggroe Aceh Darussalam hingga Irian Jaya Barat. Hitungan kasar, kalau dalam satu lembaga pendidikan mendidik, katakanlah, 100 anak, setidaknya ada sekitar 20.083.300 anak-anak bangsa yang tengah digembleng. Sungguh, bukan jumlah yang sedikit. Jika anak-anak negeri ini terdidik dengan baik, jelas mereka bisa menjadi “investasi” masa depan dan modal sosial yang cukup membanggakan untuk membangun Indonesia... (Baca lanjutannya!)













