Home » Wayang » TEROR DI NEGERI WIRATHA » 1109 views

TEROR DI NEGERI WIRATHA

Kategori Wayang Oleh

Dalang: Sawali Tuhusetya

Akibat kebencian Kurawa yang telah mengilusumsum melalui aksi tipu daya yang licin dan licik, bahkan terstruktur, sistematis, dan masif, Pendawa benar-benar kelimpungan dan tak berdaya. Mereka terusir dari tanah leluhurnya, Hastinapura, dengan cara yang sangat tidak terhormat dan bermartabat. Para putra Pandu dan sang permaisuri, Drupadi, harus mengalami masa karantina selama 13 tahun dan pada tahun yang terakhir harus menyamar. Jika penyamarannya gagal, mereka harus kembali menjadi pesakitan.

Kabar menyakitkan itu jelas menyentakkan dunia pewayangan. Kalangan media dan netizen segera merespon dengan beragam komentar. Namun, bukan hal yang sulit bagi Kurawa untuk menjinakkan opini publik. Di era media-sosial seperti saat ini, ketika publik dimanjakan syahwat hoax, pihak Kurawa dengan kekuatan kapitalnya yang menggurita, bisa dengan amat gampang mempermainkan remote sejarah di bawah kontrol kekuasaannya. Berbagai media “abal-abal” serentak diciptakan dan disebarkan. Para buzzer pemburu fulus direkrut. Gegerlah jagad digital. Link-link berita hoax mengarus di lini masa. Perdebatan di kalangan netizen memanas, tanpa jeda, dan (nyaris) tanpa akhir.

Sengkuni tertawa nyengir sembari mengelus-elus jenggot panjangnya yang tumbuh jarang-jarang. Mahapatih Hastina yang dikenal amat piawai mengelola dan merekayasa berbagai perkara yang serba rumit dan pelik ini tampak sangat menikmati betul remote permainan yang ada dalam genggaman tangannya. Lelaki tua beruban dan keriput ini selalu hendak mencitrakan dirinya sebagai “pahlawan” di tengah situasi yang serba tak menentu.

Sengkuni memang memiliki dendam akut dan permanen terhadap Pendawa. Dia dengan amat sadar mengelola isu untuk membenturkan perseteruan sesama keturunan bangsa Kuru; Pendawa dan Kurawa. Keberpihakan berlebihan terhadap keponakannya, Kurawa, telah membutakan nuraninya. Berbagai fitnah sengaja digelontorkan untuk menyingkirkan putra Pandu berkuasa di tahta Hastina. Selain menggoreng isu bahwa almarhum Pandu penuh dosa dan “kuwalat” karena pernah membunuh sepasang kijang jelmaan dewa yang sedang memadu asmara, ia juga selalu nyinyir terhadap keberadaan Prof. Durna, mahaguru Hastina yang diimpor dari negeri Atas Angin yang dianggap telah berbuat mesum dengan seekor kuda hingga melahirkan seorang anak bernama Aswatama. Yang lebih menghebohkan, Sengkuni juga pernah meminta Yudistira untuk melakukan tes DNA. Ia meragukan kalau anak sulung Dewi Kunti itu benar-benar benih Pandu.

“Gampang saja untuk membuktikannya! Jangan sampai negeri Hastinapura yang besar ini dipimpin oleh sosok yang tidak jelas asal-usulnya. Tinggal tes darah. Selesai. Kalau memang terbukti, berarti sudah terjadi kebohongan besar di negeri ini. Dan ini sangat berbahaya. Kalau tidak terbukti, ya, nggak apa-apa, tapi masyarakat puas dan tidak lagi dihinggapi keraguan tentang asal-usul seorang pemimpin,” kata Sengkuni berapi-api di tengah kerumunan awak media.

Namun, Yudistira tak mau masuk dalam permainan Sengkuni. Yudistira tak menggubris provokasi Sengkuni. Meski demikian, akal licik Sengkuni terus bermain di wilayah gelap dan jahat. Berbagai provokasi dan taktik licik terus digelontorkan untuk menjegal Pendawa. Dengan berbagai cara, baik secara terang-terangan maupun terselubung, Sengkuni hendak menghabisi Pendawa di Balai Sigala-gala. Pendawa dibakar hidup-hidup dalam sebuah pesta. Namun, rupanya Tuhan masih berpihak pada Pendawa. Mereka berhasil menyelamatkan diri dari kepungan si jago merah yang membara.

Sengkuni stres. Syaraf-syarafnya mulai menegang. Ia terus mencari cara untuk menghentikan langkah Pendawa. Walhasil, digelarlah permainan dadu yang licik sekaligus memabukkan. Dengan berbagai dalih, Sengkuni berhasil menggiring Pendawa dalam perangkap perjudiannya.

Ya, ya, Sengkuni memang politisi ulang. Kelicikannya sukses mengelabui kepolosan Pendawa yang tak begitu peduli pada harta dan tahta. Pendawa benar-benar dipermalukan dalam sebuah permainan judi yang meluluhlantakkan harga diri dan marwah manusia. Pendawa dibuat tak berkutik ketika Drupadi harus melawan kepongahan Dursasana yang menelanjangi Drupadi di tengah geliat mata rakus para lelaki dalam sebuah pertemuan orang-orang mulia dan terhormat.

Tak ayal lagi, permainan judi benar-benar telah menjatuhkan martabat Pendawa sebagai keturunan bangsa Kuru yang luhur. Mereka diusir dari tanah leluhur dan harus hidup terkarantina di tengah hutan belantara yang singup dan wingit selama 13 tahun.

***

Dalam menjalani masa karantina, Pendawa, Drupadi, dan Dewi Kunti mendapatkan berbagai tempaan pengalaman hidup. Di balik pengalaman pahit dan getir itu, mereka justru makin matang, arif, dan dewasa dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Tanpa terasa 12 tahun sudah masa-masa sulit dan menyakitkan itu terlewati. Setahun lagi, mereka akan terlepas dan merdeka dari sekapan hutan yang singup dan wingit. Meski tinggal setahun lagi, bukan hal yang mudah bagi mereka untuk menyembunyikan identitasnya. Apalagi, tim spionase Hastinapura yang dikenal tangguh dan militan telah disebar di berbagai penjuru. Jika tidak hati-hati, penyamaran mereka dalam setahun terakhir akan mudah terbongkar.

Atas bisikan nuraninya yang bersih dan jujur, Pendawa memilih negeri Wiratha sebagai tempat penyamarannya. Selain relatif aman, Wiratha juga dianggap memiliki jalur kekerabatan dan hubungan yang baik dengan bangsa Kuru yang agung. Mereka menyamar dengan rapi. Yudistira mengenakan pakaian sanyasin dengan nama Kangka, Bima menjadi juru masak dengan nama Jagal Abilawa, Arjuna menjadi guru tari sekaligus sopir dengan nama Brihanala, Nakula menjadi pawang kuda dengan nama Darmagranti, Sadewa menjadi pengurus ternak dengan nama Tantripala, sedangkan Drupadi menjadi inang dan pembantu dengan nama Sairandri. Mereka mempersiapkan diri sesuai dengan pekerjaan yang dipilih selama satu tahun masa penyamaran. Mereka berlatih cara berjalan, berbicara, bertingkah laku, dan berbagai kebiasaan lain yang sesuai dengan penyamaran masing-masing, hingga akhirnya diterima sebagai abdi Wiratha setelah melalui proses yang rumit.

Memasuki penyamaran bulan ke-12, prahara membadai di negeri Wiratha. Teror terjadi di mana-mana. Masyarakat Wiratha dicekam kecemasan dan ketakutan. Situasi chaos menumbuhkan syakwasangka dan ketidakpastian. Menurut pengamat, diduga kuat teror dilakukan oleh jaringan Kurawa yang bersekutu dengan kekuatan jahat untuk membuka kedok penyamaran Pendawa. Agaknya, Pendawa sangat menyadari kalau keberadaan mereka di Wiratha sudah mulai tercium oleh pihak Kurawa sehingga harus lebih waspada dan hati-hati.

Suasana Wiratha benar-benar mencekam. Apalagi, saat ini Raja Matswapati sedang melakukan perjalanan diplomasi yang rumit ke Negeri Trigata untuk meredakan konflik dengan Raja Susarma. Mau tak mau, Utara, calon penguasa Wiratha harus menggantikan peran ayahandanya untuk menumpas  jaringan teroris.

Utara geram menyaksikan ulah para teroris. Ia bertekad untuk menumpas gerombolan pengacau itu. Bersama supirnya, Brihanala, Utara bergegas meninggalkan istana. Dari kejauhan, mereka menyaksikan ulah segerombolan pengacau tengah beraksi. Utara cemas. Seumur-umur baru kali ini ia harus berhadapan dengan jaringan teroris yang beringas.

Dugaan para pengamat ternyata tidak salah. Dari jarak yang cukup terjaga, Utara dengan jelas bisa menyaksikan bahwa gembong kekacauan di negerinya memang jaringan Kurawa yang dikenal sangat militan. Di balik kerumunan teroris yang beringas dan berwajah kasar, Utara melihat tokoh-tokoh Hastina yang cukup berpengaruh, seperti Bisma, Durna, Kerpa, Duryudana, dan Karna. Mereka telah berhasil memorak-porandakan perkampungan dan merampas harta penduduk Wiratha. Sudah tak terhitung jumlah rakyat sipil tak berdosa menjadi korban keberingasan para teroris.

Ketika menyaksikan jaringan Kurawa yang cukup tangguh, nyali Utara jadi ciut. Dia meminta Brihanala untuk kembali ke istana. Brihanala mengernyitkan keningnya.

“Tuan, masyarakat menggantungkan nasib negeri Wiratha kepada Tuan. Tuan berangkat dengan semangat berapi-api hendak menghancurkan musuh. Kalau kita kembali sekarang, tanpa hasil, rakyat akan mentertawakan Tuan. Kita harus maju dan bertempur, Tuan! Jangan gentar!” seloroh Brihanala.

“Bagaimana bisa, Brihanala? Kita tidak membawa pasukan. Semua prajurit dibawa ayahku ke Negeri Trigata. Mustahil aku melawan gembong-gembong Kurawa. Brihanala, berbaliklah! Kita pulang,” jawab Utara cemas. Ia benar-benar merasa tak sanggup jika harus menghadapi kekuatan teror Kurawa yang tangguh dan militan.

“Jangan takut, Tuan! Aku yang akan menghadapi Kurawa. Bantu aku, pegang setir ini, selebihnya serahkan padaku. Percayalah padaku, tidak ada gunanya lari dari pertempuran. Akan kita enyahkan musuhmu dan kita dapatkan kembali semua harta benda yang mereka rampas. Kemenangan pasti di pihak kita. Percayalah!”

Brihanala meminta Utara untuk memarkir mobil tempurnya  di balik sebatang pohon besar di dekat kuburan. Sampai di dekat kuburan, Brihanala meminta Utara naik ke pohon besar itu dan mengambil senjata yang disembunyikan di sana. Utara memejamkan mata, tak berani memanjat pohon itu.

“Kata orang di pohon ini pernah tergantung mayat nenek tua yang berubah menjadi setan. Aku tak berani memegang mayat itu. Mengapa kau menyuruhku melakukan ini?” kata Utara.

“Dengar, Tuan, itu tidak benar! Itu bukan mayat. Itu kantong kulit. Di sana tersimpan senjata-senjata mutakhir milik Pendawa. Naiklah dan bawa turun senjata-senjata itu. Cepat! Jangan buang-buang waktu,” kata Brihanala tegas.

Karena Brihanala terus mendesak, Utara terpaksa menurut. Ia memanjat pohon itu, lalu mengambil kantong kulit besar yang disembunyikan di balik daun-daunan. Alangkah kagetnya dia ketika melihat isi kantong itu. Ya, senjata-senjata yang hebat dan mutakhir! Cepat-cepat dibawanya kantong itu turun dan diserahkannya kepada Brihanala.

Brihanala menyuruh Utara meraba senjata-senjata itu. Begitu menyentuh senjata-senjata itu, Utara merasa ada arus kekuatan gaib merasuki tubuhnya dan menguatkan jiwanya. Matanya sekarang berbinar memancarkan semangat baru.

“Alangkah anehnya! Katamu senjata-senjata ini milik Pendawa. Bukankah kerajaan mereka dirampas Kurawa dan mereka diusir ke hutan oleh Kurawa? Bagaimana mungkin Engkau bisa tahu tentang senjata-senjata ini?”

Secara ringkas Brihanala menyatakan bahwa sebenarnya sudah hampir satu tahun Pendawa tinggal di ibukota Negeri Wiratha dan bekerja mengabdi Raja Wiratha. Mereka adalah Kangka, Jagal Abilawa, Darmagranti, Tantripala, dan Sairandri. Brihanala juga bercerita tentang kematian Mahasenapati Kicaka yang berani menghina Drupadi.

“Aku ini Arjuna. Putra Mahkota, jangan takut. Engkau akan melihat bagaimana aku menaklukkan gembong-gembong teroris itu. Biarpun ada Bisma, Durna, Duryudana, dan Aswatama, kita harus rebut kembali harta benda yang mereka rampas. Dan engkau akan menjadi pahlawan. Semua ini akan menjadi pelajaran berharga bagimu,” kata Arjuna. Utara segera mengatupkan kedua telapak tangannya, memberi hormat kepada Arjuna.

“Tak kusangka Engkau adalah Arjuna. Alangkah beruntungnya aku dapat bertemu denganmu. Arjuna, kau kesatria perkasa. Engkau telah menanamkan keberanian dalam jiwaku. Maafkan kesalahanku karena kedunguanku.”

Di atas mobil tempur yang dikemudikan Utara, Arjuna bercerita tentang kisah-kisah kepahlawanan untuk membangkitkan keberanian Utara. Kini, mobil semakin mendekati pertahanan gembong-gembong Kurawa. Arjuna minta agar mobil dihentikan. Kemudian, mereka turun. Perhiasan wanita ditanggalkannya, rambutnya yang panjang diikat, pakaian perempuan ditukarnya dengan pakaian perang, dan senjata-senjatanya disiapkan.

Setelah berdoa, Arjuna berdiri tegak penuh keagungan, membuat Utara terkagum-kagum. Utara bangkit semangatnya. Ia naik ke atas mobil. Arjuna menenteng senjata, memasang anak panah, membidik ke angkasa, menarik tali busur, dan seketika meluncurlah anak panah itu membelah angkasa dengan bunyi mendesing-desing. Lantas, Arjuna meniup terompet kerangnya yang bernama Dewadata. Suaranya menggema ke seluruh penjuru.

Kurawa terkejut. Mereka saling berpandangan. Dengan telinganya yang tajam, Durna memastikan bahwa suara itu berasal dari desingan anak panah Gandiwa dan gema terompet kerang Dewadata milik Arjuna. Durna membisikkan hal itu kepada Karna.

“Mana mungkin itu Arjuna? Apa peduli kita kalaupun ia ada di sini? Apa yang bisa ia lakukan sendirian menghadapi kita jika Pendawa lainnya bersama Wiratha pergi ke Selatan melawan Susarma? Paling-paling ia hanya bersama Utara, Putra Mahkota yang pengecut itu!”

“Kenapa kita mesti pusing-pusing? Walaupun itu Arjuna, paling-paling ia hanya akan menyerahkan diri ke tangan kita untuk ditemukan sebelum waktunya. Dan, karena itu kita bisa mengirim Pendawa ke hutan selama dua belas tahun lagi,” sahut Duryudana menyambung.

Seperti disentakkan oleh sesuatu yang gaib, dari kejauhan muncul gerakan yang begitu cepat. Debu mengepul bagaikan ekor monster ganas. Sekali lagi terdengar desing Gandiwa dan gema Dewadata.

“Pasukan kita diserbu. Itu Arjuna datang menyerbu mereka,” teriak Durna cemas. Duryudana kesal melihat sikap Durna.

“Sumpah Pendawa adalah menerima pengasingan di hutan selama dua belas tahun dan setahun bersembunyi tanpa dikenali. Tahun ketiga belas belum habis, tetapi Arjuna sudah berani muncul. Kenapa kita mesti prihatin? Mereka harus mengembara di hutan selama dua belas tahun lagi. Durna terlalu banyak mempelajari falsafah hingga jadi penakut. Biarlah ia bersembunyi di belakang, kita maju terus!” sahut Duryudana.

“Memang, jika tidak biasa bertempur pasti gemetar. Kalaupun yang datang memang Arjuna, kenapa kita mesti takut? Parasurama sekalipun, aku tidak gentar. Aku akan hadang ia kalau ia berani maju. Bala tentara Wiratha mungkin bisa merebut kembali harta benda mereka, tetapi Arjuna harus berhadapan dengan aku,” Karna menyambung, kemudian membunyikan terompetnya dan meledakkan senjatanya tanda ia siap bertempur.

“Jangan berbuat tolol. Kita harus menyerang Arjuna bersama-sama dan serentak. Hanya dengan cara itu kita akan berhasil. Jangan omong besar dan berperang tanding sendirian,” kata Mahaguru Kerpa menasihati. Karna geram.

“Oh, Mahaguru Kerpa ternyata sudah mulai menyanyikan lagu pujian untuk Arjuna. Apakah karena takut atau karena sayang kepada Pendawa? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, para tetua semua takut dan menasihati agar kita tak usah bertempur. Kalau begitu, sebaiknya kalian tinggal di belakang dan menonton saja. Seharusnya, mereka yang telah makan garam di Hastinapura berani maju bertempur. Aku hanya mengenal cinta kepada kawan dan benci kepada musuh. Aku tak kan mundur! Apa guna mereka mempelajari kitab-kitab suci, jika sampai di sini hanya memuji-muji musuh?”

Aswatama, putra Durna dan kemenakan Mahaguru Kerpa, tak tahan mendengar sindiran tajam Karna.

“Kita belum membawa pulang harta benda rampasan ke Hastinapura. Kita belum memenangkan pertempuran. Omong besarmu tidak ada gunanya. Mungkin kami bukan golongan kesatria. Mungkin kami tergolong orang yang hanya membaca-baca kitab-kitab Sastra. Meski demikian, kami belum pernah menemukan ajaran yang menyatakan bahwa seorang raja dikatakan kesatria jika bisa merampas kerajaan lain dengan tipu daya dalam permainan dadu,” teriak Aswatama.

“Dengarlah, Karna. Mereka yang telah bertempur mati-matian dan menaklukkan banyak kerajaan tidak pernah menyombongkan kemenangan mereka. Tapi, kamu? Aku belum pernah melihat hasil perbuatanmu yang pantas engkau banggakan. Api tidak ribut tetapi membakar. Matahari bersinar bukan untuk dirinya. Bumi memeluk segala yang ada di bahunya tanpa berisik. Pujian apakah yang pantas diberikan kepada kesatria yang merampas kerajaan lain dengan tipu daya dalam permainan dadu? Keberhasilan menipu Pendawa tidak pantas dibanggakan, ibarat menangkap burung piaraan sendiri dengan perangkap yang hebat. Duryudana dan Karna, pertempuran apakah yang telah kalian menangkan melawan Pendawa? Pantaskah kalian merasa bangga karena telah mempermalukan Drupadi? Kalian hampir saja menghancurkan bangsa Kuru, seperti si pandir menebang pohon cendana karena mabuk oleh keharumannya. Melemparkan dadu untuk mendapat angka 4 atau 2 tidak sesulit menghadapi desing Gandiwa Arjuna. Apa kalian kira Sengkuni bisa menyulap jalannya pertempuran agar kita menang? Mungkin kita semua sudah gila,” cerocos Aswatama.

Gembong-gembong Kurawa saling bersilat lidah, mencaci, dan memaki. Bisma hanya bisa mengelus dada, prihatin, dan menasihati agar Duryudana mawas diri dan lebih cermat dalam bertindak. Sesepuh Hastinapura itu juga mengingatkan bahwa waktu tiga belas tahun yang ditetapkan sebagai masa pengasingan dan persembunyian Pendawa telah habis. Pendawa telah bebas.

“Pikirkan baik-baik sebelum memutuskan untuk bertempur. Jika mau berdamai dengan Pendawa, sekaranglah waktunya. Apa yang engkau kehendaki? Perdamaian yang adil dan terhormat, atau kehancuran bersama dalam peperangan? Pertimbangkan baik-baik dan tentukan pilihanmu!” kata Bisma.

Namun, dasar keras kepala. Doktrin kebencian terhadap Pendawa yang ditanamkan sejak kecil oleh Sengkuni agaknya sudah benar-benar mencuci otak Duryudana. Ia tak mau berdamai dan ingin segera menghabisi Pendawa. Sampyuh pun gagal dicegah. Gembong dan jaringan teroris Kurawa yang congkak dan beringas campuh untuk menghabisi Arjuna dan Utara.

Utara tampil trengginas melajukan mobil tempurnya. Ia mengejar gerombolan Kurawa yang berusaha mempertahankan barang rampasan. Arjuna mengamuk memorak-porandakan gerombolan Kurawa hingga babak-belur dan  meninggalkan barang-barang rampasan.

Arjuna memburu Duryudana. Bisma sigap dan mengerahkan pasukan Kurawa untuk membantu Duryudana. Arjuna terkepung dari berbagai sisi. Namun, bukan Arjuna kalau menyerah begitu saja. Petualangan hidup selama menjalani masa karantina membuat nalurinya untuk menaklukkan musuh makin mantab dan teruji. Diserangnya Karna dengan serangan kilat hingga  tak mampu melawan, bahkan terpelanting jatuh. Kemudian, Arjuna menerjang Durna hingga terjengkang. Aswatama bergegas membantu ayahnya. Namun, serangannya berhasil ditangkis Arjuna, bahkan ia pun tidak berkutik akibat serangan Arjuna yang bertubi-tubi.

Mahaguru Kerpa menyerang Arjuna dari belakang dibantu oleh Bisma dan Duryudana. Arjuna ingin melumpuhkan mereka satu persatu. Dipusatkan serangannya kepada Duryudana hingga terbirit-birit. Namun, Arjuna kewalahan ketika menghadapi Mahaguru Kerpa dan Bisma yang terus menyerangnya. Arjuna memutuskan untuk mengeluarkan cairan kimia pembius, lalu membuat kedudukan musuhnya terpusat. Setelah lawan berada dalam posisi yang diinginkannya, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke tengah-tengah pasukan Kurawa. Satu persatu gerombolan Kurawa jatuh pingsan. Dengan mudah Utara dan Arjuna merampas jubah mereka sebagai tanda kemenangan.

“Belokkan arah mobil, harta benda yang dirampas teroris telah kembali kepada rakyat dan musuh sudah kita taklukkan. Wahai Tuan Utara, pulanglah Engkau dan bawalah berita kemenangan ini!” kata Arjuna.

Sebelum sampai ke istana, Arjuna menyimpan kembali senjata-senjatanya di tempat rahasia, membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya kembali seperti Brihanala, sang guru tari. Kemudian, Utara mengirim utusan ke ibukota Wiratha untuk menyampaikan berita kemenangan gemilang Utara kepada Raja Wiratha. Di tempat pertempuran, Duryudana kembali ke induk pasukannya. Dilihatnya Bisma dan gembong-gembong Kurawa baru saja siuman dan jubah mereka tidak ada lagi. Kurawa takluk dan kembali ke Hastinapura.

***

Raja Matswapati kembali ke ibukota Wiratha dan berhasil menangani konflik dengan Raja Susarma dari Negeri Trigata. Namun, ia tak sanggup menyembunyikan kecemasannya terhadap nasib putranya, Utara, yang harus  menumpas jaringan teroris. Ia tahu, anaknya sama sekali tidak memiliki kemampuan tempur, apalagi menghadapi teroris. Kangka mencoba menghiburnya.

“Kekalahan Susarma di Selatan pasti sudah diketahui Kurawa. Mereka pasti gentar dan memilih mundur, Tuanku!” kata Kangka hati-hati. Tak lama kemudian, utusan Utara tiba dan mengabarkan berita kemenangan. Harta benda yang dirampas teroris sudah kembali ke tangan rakyat. Namun, Raja Matswapati tak percaya. Kangka terus berusaha meyakinkan bahwa berita itu memang benar.

“Kemenanganku melawan Susarma tidak berarti apa-apa. Kemenangan yang sebenarnya adalah kemenangan putraku, Utara,” kata Matswapati terharu.

“Putra Mahkota Utara beruntung didampingi Brihanala yang tangkas dan tahu bagaimana mengemudikan mobil tempur!” sahut Kangka. Wiratha merasa tersindir dan marah.

“Kenapa engkau berulang-ulang menyebut nama si banci itu, padahal aku sedang bahagia karena putraku memenangkan pertempuran? Bukankah sudah sepantasnya aku memuji putraku yang gagah perkasa? Kenapa engkau justru menekankan ketangkasan si banci sebagai sopir?”

“Hamba tahu Brihanala bukan orang biasa. Mobil tempur yang dikemudikannya pasti takkan salah arah dan ia pasti pantang menyerah. Brihanala selalu yakin akan bisa memetik kemenangan gemilang siapa pun musuhnya,” jawab Kangka tenang.

Matswapati tidak dapat menahan amarahnya. Ia menganggap kata-kata Kangka sebagai penghinaan terhadap anak dan dirinya sendiri. Ia murka. Dilemparkannya dadu ke wajah Kangka dan melukai pipinya hingga berdarah. Sairandri, yang kebetulan lewat, melihat darah di pipi Kangka. Dengan cepat disekanya wajah Kangka dengan sarinya. Darah Kangka yang jatuh ditampungnya dalam cawan emas. Melihat hal itu, Matswapati semakin geram,  apalagi berlangsung di depan matanya.

“Kurang ajar! Kenapa engkau menadahi darah Kangka dengan cawan emas?” teriak Matswapati.

“Tuanku, darah seorang sanyasin tidak boleh jatuh ke bumi,” jawab Sairandri tenang. “Kalau sampai darahnya menetes ke bumi, hujan tidak akan turun di negeri ini selama beberapa tahun. Tanah akan retak kekeringan dan rakyat akan mati kelaparan. Karena itu, darahnya kutampung dalam cawan emas. Aku khawatir, Tuanku Raja belum mengenal kebesaran Kangka,” lanjutnya.

Tak lama kemudian, Utara datang menghadap. Ia terkejut ketika melihat darah kering di wajah Kangka yang tiada lain adalah Yudistira yang agung.

“Siapa yang telah melukai dia, Ayahanda?” Utara bertanya dengan cemas.

“Kenapa? Aku melempar mukanya dengan dadu karena kelancangan dan kesombongannya. Waktu aku sedang senang dan bangga karena kemenanganmu, dia justru mengecilkan  arti kemenanganmu. Setiap kali aku memuji kesaktian dan keperkasaanmu, ia justru menyebut-nyebut kemahiran si banci, Brihanala. Aku memang telah melukainya, kuakui itu, tapi hal ini tak usah kita bicarakan lagi. Ceritakanlah bagaimana engkau bertempur sampai menang?” jawab Matswapati balik bertanya.

“Ayah telah berbuat kesalahan besar. Berlututlah di hadapannya sekarang juga, Ayah. Mintalah maaf. Kalau tidak, kita akan musnah dari akar sampai ke daun,” jawab Utara sambil menangis sesenggukan. Matswapati tidak mengerti maksud anaknya. Ia hanya duduk diam kebingungan, apalagi ketika menyaksikan Utara berlutut di depan Yudistira dan meminta maaf. Matswapati memeluk anaknya dengan penuh haru.

“Anakku, engkau benar-benar seorang kesatria! Aku tak sabar lagi menunggu ceritamu. Bagaimana engkau menaklukkan gerombolan teroris itu? Bagaimana engkau merebut kembali harta benda kita?” tanya Matswapati. Utara tersipu.

“Bukan aku yang menaklukkan musuh. Bukan aku yang mengambil harta benda yang telah dirampas. Semua itu dilakukan oleh orang yang sangat sakti dan perkasa. Dia yang memukul mundur gembong-gembong teroris dan merebut kembali semua harta kita. Aku tidak berbuat apa-apa,” jawab Utara. Kepala Matswapati serasa terhantam godam. Pusing.

“Di manakah orang perkasa itu sekarang? Aku harus berterima kasih kepadanya karena ia telah menolongmu dan mengusir pengacau. Akan kuberikan anakku, Dewi Utari untuk dipersunting. Panggillah Utari sekarang juga!”

“Dia telah pergi. Mungkin besok atau lusa dia akan datang kemari,” jawab Utara. Kepala Matswapati makin pening. Kebanggaan semu atas kemenangan putranya telah membuat darah sanyasin yang tak berdosa tumpah dari kepalanya. Di atas singgasananya, penguasa Wiratha yang sangat disegani musuh-musuh besarnya itu hanya mampu meraba dadanya yang kencang berdegup. *** (Tancep kayon)

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Wayang

Go to Top