Perang Opini di Bulan Ramadhan

Kategori Opini Oleh

Ramadhan agaknya tidak menyurutkan perang opini di kalangan netizen. Secara kasat mata dan terang-benderang kita tidak bisa lagi menutup-nutupi fakta itu. Mereka terbelah dalam dua kubu alias “klan” yang sangat kontras dan ekstrem. Bisa ditebak, mereka bersikukuh dan memosisikan kubunya sebagai pihak yang paling benar.

Berbagai trik dan cara dilakukan setiap kubu untuk membangun trust dan kebenaran. Tak cukup dengan meng-update status di media sosial yang terang-terangan “menyerang”, tetapi juga “berjibaku” memburu dan menguber sumber dari berbagai media yang dinilai mampu memperkukuh kebenaran versi kubu yang bersangkutan. Sekecil apa pun sebuah berita, sepanjang dianggap menguntungkan dan mengokohkan posisi tawar mereka dalam perang opini, secuil berita itu akan segera disebarluaskan ke jejaring sosial untuk memengaruhi opini publik. Sedemikian menggebu mereka memburu sumber berita yang dianggap mampu memperkokoh posisi tawar, sampai-sampai tak lagi memedulikan antara fakta dan fiksi, kebenaran dan kebohongan, kejujuran dan kemunafikan. Berita-berita hoaks demikian mudah memberondong ruang-ruang lini masa media sosial.

Netizen yang memiliki basis kearifan dan hasrat positif untuk berperan serta dalam mengokohkan nilai-nilai keluhuran budi, tentu tak akan gampang terpengaruh oleh gelontoran berita beraroma fasis, menindas, dan sarat fitnah. Cukuplah diarsipkan dalam kotak memori, tak ikut-ikutan menautkan link ke dalam status media sosialnya. Jika perlu langsung dibuang dari gendang memorinya.

Di tengah situasi “ambigu” dan bertensi tinggi dalam perang opini yang menegangkan, Ramadhan agaknya tak lagi dipandang sebagai jeda yang tepat untuk ber-muhasabah dan memberangus hasrat berselera rendah, tetapi justru kian masif untuk memuaskan kebuasan hati yang memorak-porandakan nilai kearifan dan kebajikan hidup. Padahal, sesungguhnya ikut menyebarluaskan berita beraroma fasis, menindas, dan sarat fitnah sesungguhnya sama saja men-zalimi diri sendiri.

Pertanyaannya, mengapa perang opini yang menegangkan itu mesti dilakukan? Menurut nalar awam saya, hal itu sangat erat kaitannya dengan “pemanasan” menjelang Pilpres 2019. “Pemanasan” atmosfer politik perlu dilakukan untuk mematangkan dan melempangkan jalan dalam perebutan kekuasaan yang sebenarnya jejak-jejaknya sudah terendus pasca-Pilpres 2014. Sedemikian kuatnya hasrat kekuasaan yang amat menguras energi dan membonsai akal sehat itu, sampai-sampai Ramadhan pun tidak lagi “disakralkan” sebagai bulan untuk memartabatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesejatian diri. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Islam Itu Memang Moderat

Usai shalat tarawih, 21 Juni 2017, saya masih sempat menyaksikan tayangan “Mata
Go to Top