Home » Opini » Islam Itu Memang Moderat » 1028 views

Islam Itu Memang Moderat

Kategori Opini Oleh

Usai shalat tarawih, 21 Juni 2017, saya masih sempat menyaksikan tayangan “Mata Najwa” di salah satu stasiun TV yang menghadirkan dua sosok ulama kharismatik, yakni Muhammad Quraish Shihab dan Gus Mus (K.H. Ahmad Musthofa Bisri). Pendapat dua ulama yang dijadikan rujukan dan anutan umat Islam, khususnya kalangan nahdliyin, ini tentu sangat ditunggu-tunggu di tengah “kegaduhan politik” akibat terkontaminasi oleh penafsiran keagamaan secara sempit dan monolitik beraroma kepentingan tertentu.

Diakui atau tidak, menjelang dan Pasca-Pilkada DKI, negeri ini terbelah dalam polarisasi kepentingan dengan beragam motif dan argumen. Secara kasat mata, publik bisa dengan mudah menyaksikan dan merasakan denyut polarisasi itu hingga ke seluruh penjuru tanah air, bahkan dunia. Denyut polarisasi kepentingan itu, bahkan sudah mengarah pada penafsiran nilai keislaman secara sempit dan hanya mengakui kebenaran tunggal. Penafsiran monolitik tentang nilai keislaman hingga muncul stigma “kafir” itu agaknya juga mengusik perhatian dua tokoh ulama kharismatik yang sudah lama bersahabat itu.

Dalam talkshow itu, Gus Mus menyatakan: “Kita sekarang itu mengukur sesuatu dengan diri sendiri, tidak pakai ukuran. Katanya Quran yang dijadikan ukuran, tapi tidak mau perbedaan. Kalau melihat Quran, melihat pemimpin Islam, Kanjeng Rasul Shalallahu ‘alaihi Wassalam, moderat itulah Islam itu. Jadi, bukan Islam moderat, lalu Islam apalagi, bukan Islam itu, moderat itu. Kalau tidak moderat, tidak Islam, gitu aja udah!” tegas Gus Mus disambut gemuruh aplause audiens.

Pernyataan Gus Mus semacam itu jelas bertentangan secara diametral dengan pandangan sempit beberapa gelintir orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai ulama, tetapi menabukan perbedaan. Mereka yang tidak sepaham, meskipun sesama muslim, dianggap kafir.

Sementara itu, merespon maraknya arus kebencian yang mewabah secara masif di tengah-tengah kehidupan sosial, termasuk di medsos, Gus Mus menyatakan:“… Jangan sekali-kali kebencian kepada suatu kaum membuatmu tidak adil. Kebanyakan mufassir, termasuk mungkin mufassir yang di samping saya ini –sambil melirik Quraish Shihab yang dikenal karya monumentalnya, Tafsir Al-Mishbah– kaum itu diartikan kaum orang kafir. Kalau orang kafir saja kalau kita benci, kita tidak boleh tidak adil, apalagi kalau kita sesama mukmin, sesama orang Islam. Kebencian kita tidak boleh menjadikan kita tidak adil. Kalau orang berlebihan, tidak bisa tengah-tengah, saya bisa pastikan, dia tidak akan bisa adil dan tidak bisa istiqomah yang dianjurkan oleh Islam!” tegas pengasuh Pondok Pesantren Raudhatuh Thalibin, Leteh, Rembang itu.

Sungguh, di tengah situasi sosial yang terpolarisasi secara ekstrem sehingga bisa menimbulkan gesekan, bahkan konflik, di kalangan akar rumput, kita sangat membutuhkan sosok ulama yang rendah hati, menyejukkan, menjalankan laku dakwah secara istiqomah melalui keteladanan, dan memberikan pemahaman kepada umat dengan sanad yang jelas seperti sosok Muhammad Quraish Shihab dan Gus Mus (K.H. Ahmad Musthofa); bukan pada sosok yang mengaku ulama, tetapi suka memonopoli kebenaran, takabur, emosional, provokatif, dan menabukan perbedaan. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

3 Comments

  1. Nggih, setuju Gus Mus, Islam itu ya moderat. Kalau suka ngotot memaksakan kehendak sambil ngaku paling Islam, lha itu mungkin pemahaman agamanya kurang mendalam

    Sugeng Riyadin, Pak Guru, nyuwun agunging pangapunten

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top