Spiritualitas Puntadewa dan Sorga Kekuasaan

Kategori Opini Oleh

Alkisah, dalam perjalanan menuju kediaman Batara Indra di puncak Gunung Himalaya yang suci, seekor anjing menyertai pengembaraaan para Pandawa (Puntadewa, Bimasena, Arjuna, Nakula, Sadewa) dan Dewi Drupadi. Dalam perjalanan yang melelahkan itu, mereka berziarah ke tempat-tempat suci dan melintasi hutan belantara yang serba wingit dan angker.

Ketika tiba di kaki Gunung Himalaya, mereka mulai mendaki dengan susah payah. Dalam pendakian ke puncak, satu persatu mereka jatuh ke dalam jurang, lantas lenyap ditelan bumi. Yang pertama kali jatuh adalah Drupadi. Ia dianggap berbuat tidak adil dalam membagi cinta kepada lima suaminya. Ia lebih mencintai Arjuna ketimbang keempat saudaranya. Setelah Drupadi, menyusul Sadewa. Ia dinilai terlalu percaya diri dan terlalu yakin akan kesaktiannya hingga meremehkan para dewa dan orang lain. Selanjutnya, Nakula yang tergelincir dan jatuh ke dalam jurang. Ksatria ini terlalu memuja ketampanannya sendiri dan merasa bahwa keyakinan dan pandangannyalah yang paling benar.

Setelah itu, Arjuna jatuh ke jurang. Arjuna terlalu yakin akan kemampuannya untuk menghancurkan semua musuhnya. Demikian besar keyakinannya, hingga ketika jatuh, ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia terus berusaha bangkit, sampai-sampai turun sabda dari sorga bahwa ia mustahil bersikeras memegang keyakinannya selama ia masih ada di dunia. Setelah Arjuna giliran Bimasena menyusulnya. Ia merasa kekuatannya bagaikan angin topan yang mampu menghancurkan bumi.

Meskipun Drupadi dan keempat saudaranya sudah hilang ditelan bumi, Puntadewa terus mendaki bersama anjingnya. Ia tahan rasa duka di hatinya sambil memanjatkan doa atas kematian istri dan keempat saudaranya. Ia terus mendaki, makin lama makin tinggi, hingga tiba di sebuah tanah datar yang cukup luas. Di hadapannya terbentang nyala api kebenaran, menerangi jalan yang ditempuhnya. Di kanan kiri jalan itu tebing dan jurang menganga dalam kegelapan. Ia bisa membedakan dengan jelas, mana kegelapan, mana bayangan, dan mana kebenaran sejati. Ia berjalan terus ditemani anjing kesayangannya yang setia dan tak pernah sesaat pun lepas dari sisinya.

Akhirnya, Puntadewa tiba di pintu gerbang sorga. Ia disambut Batara Indra dan mempersilakannya naik ke keretanya. Namun, Puntadewa menolak sebelum ia mengetahui keadaan Drupadi dan saudara-saudaranya.

“Aku berterima kasih kau sambut masuk ke sorgamu. Tetapi aku tidak mau jika istri dan saudara-saudaraku tidak ada di sana,” kata Puntadewa. Batara Indra meyakinkan bahwa istri dan saudara-saudaranya telah mendahuluinya. Ia juga menjelaskan bahwa Puntadewa paling akhir “dipanggil” karena ia memikul tanggung jawab raga yang terakhir. Ketika naik ke kereta Batara Indra bersama anjingnya, ia ditolak.

“Ini sorgamu, sorganya manusia. Anjing dilarang masuk,” kata Batara Indra.

“Kalau begitu lebih baik aku tak memperoleh sorga.”

“Kau harus, Nak. Ini takdirmu,” kata Batara Indra.

“Tapi aku tak bisa membiarkannya menunggu di luar sambil menderita haus dan lapar saat aku bermewah diri di sorgaku.”

“Dia cuma anjing. Lupakan Saja!”

“Aku tak bisa mengkhianatinya hanya demi sekeping sorgaloka.”

Mendadak sontak anjing itu lenyap dalam kerdipan mata Puntadewa. Di sana hadir Dewa Dharma. Tanpa salam pendahuluan apa pun ia langsung memeluk Puntadewa. Pelukan tanpa kata-kata itu tanda bahwa Puntadewa lulus ujian kesetiaan tingkat akhir. Kesetiaan perlu diuji dan dibuktikan ulang. Di sana ada pesan simbolik: “Jangan khianati anjing sekalipun, semata demi sekeping sorga yang dijanjikan.”

Ringkasnya, Puntadewa pun kemudian melangkah masuk ke taman sorgaloka, dan di sana keempat saudaranya dan sang permaisuri Drupadi ternyata sudah menantinya. Puntadewa membuat para dewa sendiri malu atas kesetiaannya. Mereka pun cemburu. Rupanya benar Puntadewa, tak ada sorga yang gratis.
***

Ya, ya, anjing –alias “asu” dalam bahasa Jawa– identik dengan umpatan kasar untuk menggambarkan perilaku seseorang yang dianggap “cacat sosial” dan tidak berkeadaban. Meski diperhalus dengan kata “segawon” dalam bahasa krama sekalipun, konotasi “anjing” tetap negatif. Walau demikian, anjing juga dikenal sebagai binatang piaraan yang sangat setia kepada tuannya.

Nilai kesetiaan yang tergambar dalam relasi Puntadewa dan anjingnya bisa jadi bermakna simbolik yang menyiratkan makna spiritual betapa kesetiaan menjadi sebuah conditio sine qua non dalam menggapai kearifan dan kemuliaan hidup. Dengan kata lain, tanpa sebuah kesetiaan mustahil seseorang mampu menggapai kearifan dan kemuliaan hidup. Sepasang suami-istri, misalnya, jelas akan mengalami sebuah kerapuhan rumah tangga apabila kesetiaan sudah ditinggalkan dalam kamus hidupnya. Seorang pelayan yang sudah menanggalkan kesetiaan kepada sang majikan, jelas akan sulit mewujudkan atmosfer “jumbuhing kawula-gusti” dalam tataran sosial. Dalam ranah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, rakyat yang tidak lagi setia kepada pemimpinnya atau sebaliknya, jelas akan menumbuhkan keretakan hubungan patron-client dalam relasi kekuasaan.

Nah, dalam relasi kekuasaan saat ini, spiritualitas Puntadewa agaknya sudah mulai dilupakan dan disingkirkan. Pesona demokrasi yang diagungkan lewat jargon “vox populi vox dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan) hanya bergaung dalam ruang kampanye yang mengoarkan janji-janji yang membuai harapan dan perubahan. Rakyat diposisikan secara terhormat dan bermartabat dalam singgasana demokrasi. Namun, ketika “sorga kekuasaan” berada dalam genggaman tangan sang penguasa, rakyat hanya bisa meratap dan menghiba di luar pintu “sorgaloka kekuasaan”.

Kita sangat berharap praktik kekuasaan yang diraih melalui proses demokrasi transaksional dengan berbagai jargon yang “agung” dan “mulia” selama musim kampanye itu tidak melupakan Spiritualitas Puntadewa. Bahkan, jika memiliki “kemauan dan kearifan politik” untuk memosisisikan rakyat sebagaimana yang dikoarkan dalam mimbar kampanye, hal itu bisa dengan mudah dilakukan ketika sorga kekuasaan berada dalam genggamannya. Sungguh ironis apabila adagium “vox populi vox dei” hanya sekadar dijadikan slogan demokrasi untuk memburu “sorga kekuasaan” dengan mengabaikan jutaan rakyat yang menggapai-gapaikan tangannya yang lunglai untuk bisa ikut menikmati sorgaloka. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top