Fenomena AFI di Tengah Pusaran Limbah Intoleransi

Kategori Opini Oleh

Nama Afi (Afi Nihaya Faradisa) belakangan ini mendadak jadi fenomena. Popularitas gadis 18 tahun yang masih menimba ilmu di SMA Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur ini melesat bak meteor. Pamornya menaburkan pesona banyak kalangan. Ia laris diundang untuk berbicara dalam berbagai forum, termasuk talkshow di layar gelas. Tak kurang Presiden Joko Widodo pun memberikan perhatian khusus dengan mengundangnya ke istana dalam rangka memeringati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2017.

Menurut hemat saya, Afi tak akan begitu fenomenal seandainya nilai-nilai toleransi di negeri ini aman-aman saja dan cukup terjaga. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang, seseorang dibesarkan oleh zamannya. Diakui atau tidak, negeri kita belakangan ini tengah terperangkap dalam pusaran limbah intoleransi. Hujatan dan ujaran kebencian beraroma SARA melalui stigma “kafir atau PKI” yang ditujukan kepada sesama warga-bangsa yang tidak sealiran mengarus deras di berbagai media (termasuk media sosial). Ancaman, intimidasi, bahkan persekusi pun tak jarang diusung oleh Ormas tertentu untuk memuaskan naluri purbanya dengan mengatasnamakan agama. Kebhinekaan yang telah menjadi sebuah keniscayaan hendak diingkari melalui perilaku vandal dan kekerasan. Mereka yang memiliki keyakinan dan paham berbeda dianggap sebagai “musuh” yang harus dinistakan dan disingkirkan. Sikap ramah telah berubah menjadi sikap marah dan kalap.

Dalam situasi seperti itu, sosok Afi yang tengah belajar menjadi seorang “pemikir” dengan mengunggah gagasan cerdas, kritis, dan berani tentang persoalan kebhinekaan melalui akun facebook-nya sontak mendapatkan banyak sorotan, baik yang pro maupun yang kontra. Melalui “Warisan” yang ditulisnya, ia dengan lantang dan fasih menggugat: “Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak! Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama. Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana. Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita. Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar ’45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.”

Tulisan “Warisan” ini dinilai mengandung gagasan substantif dan inklusif dalam memperkokoh kebhinekaan di tengah kecamuk sikap intoleran yang membadai (hampir) di setiap ruang dan waktu. Dalam konteks demikian, tak berlebihan jika pihak-pihak yang mendukung gagasan Afi lantas memberikan ruang yang jauh lebih luas, terhormat, dan bermartabat untuk membumikan pemikiran cerdas, berani, dan kritisnya kepada publik.

Meskipun demikian, pemikiran Afi dinilai oleh kelompok yang selama ini telah bergerak melakukan “resistensi bisu” terhadap kebhinekaan sebagai ancaman yang cukup membahayakan. Simak saja berbagai komentar miring yang menyerang Afi di bawah status “Warisan” itu. Afi yang tengah merintis jalan menjadi seorang “pemikir” itu dihujat dan dinistakan dengan kata-kata yang kasar dan vulgar. Mereka yang tidak sependapat dengan Afi sudah terlalu jauh memasung dan hendak memberangus pemikiran-pemikiran cerdas, berani, dan kritisnya. Sungguh berat beban yang mesti ditanggung seorang gadis remaja yang sedang berjuang mengekspresikan pergulatan batin, jiwa, dan pemikirannya.

Tak berhenti sampai di situ. Setiap postingan facebook Afi terus disorot dan dicari-cari cacat dan kesalahannya. Hebohlah para pembencinya ketika Afi memosting “BELAS KASIH DALAM AGAMA KITA” (25 Mei 2017). Postingan ini dianggap menjiplak postingan “Agama Kasih” tulisan Mita Handayani yang diunggah pada Juni 2016 di dinding facebook-nya. Tak ayal lagi, beban Afi makin berat. Pernyataan Afi bahwa dia tidak menjiplak tidak menyurutkan pembencinya untuk menindas gagasan dan pemikirannya hingga akhirnya Mita Handayani “turun tangan” dan merespon kegaduhan itu dengan pernyataan yang sangat bijak dan dewasa.

“Sejak dulu, tulisanku sudah biasa disalin, diproduksi ulang, dan disebar orang lain di grup dan tempat-tempat yang kadang aku sendiri tidak tahu. Aku tidak pernah ambil pusing soal itu. Menulis bagiku adalah soal lain. Meminjam istilah Pram: bekerja untuk keabadian. Dan dalam konteks ini, bukan nama yang ingin kuabadikan.
Aku tidak pernah mengenal dan berkomunikasi dengan Afi Nihaya Faradisa sebelum ramai-ramai ini. Kalau Afi merasa terinspirasi oleh salah satu tulisanku, aku ikut merasa senang. Afi anak yang cerdas, dan aku sudah sering melihat tulisannya bertebaran juga sebelum ini. Kalau ada kesalahan fatal yang Afi lakukan, itu adalah karena belakangan ini dia mulai berani menyentuh isu agama, sehingga mengundang gelombang pembenci baru yang siap mencari-cari dan menguliti semua kesalahannya yang lain.

Terkait tulisan yang ramai diperbincangkan, yang bisa kukatakan adalah, tulisan itu mungkin berangkat dari keprihatinan Afi terkait aksi Bom Kampung Melayu sebelumnya. Tulisan itu ditayangkan Afi dalam niat untuk membela nama agamanya dari tuduhan terorisme dan kebencian. Dia merasa perlu segera menanggapi, dan mungkin berpikir bahwa tulisan itu adalah respons yang tepat.

Aku pernah salah. Kamu pernah salah. Kita semua pernah salah. Jika usaha Afi kali ini dianggap kesalahan, aku mohon dimaafkan. Mungkin kita yang terlalu membebaninya, sehingga Afi merasa memiliki tugas moral untuk terus menginspirasi pembacanya, terutama di waktu-waktu genting ketika justru yang lebih tua tak bisa diandalkan untuk menyejukkan keadaan. Afi merasa harus berbuat sesuatu, dan jika itu salah, mohon dimaafkan.

AKu pernah salah. Kamu pernah salah. Kita semua pernah salah. Tak apa-apa, sayang.. matahari masih terbit esok hari. Kamu akan terbang lebih tinggi lagi, dengan sayap yang lebih kuat lagi, dan pengalaman hidup yang lebih kaya lagi dari kebanyakan manusia.”

Hem, sebuah klarifikasi sekaligus sikap yang menyentuh dan menyejukkan di tengah gelontoran isu plagiasi yang tak henti-hentinya menyerang Afi. Melalui klarifikasi ini, semoga bisa menghentikan para pembenci Afi yang masih gencar menyerang dan menyudutkan dirinya tentang isu plagiasi. Lebih daripada itu, mudah-mudahan Afi makin bersemangat untuk terus bergulat dengan pemikiran-pemikiran genial-nya untuk memperkokoh nilai-nilai kebhinekaan di negeri ini.

Kita sungguh bersyukur, di tengah hiruk-pikuk dan kecamuk sikap intoleran terhadap nilai kebhinekaan, masih ada gadis seusai Afi yang mau bergulat dalam proses pemikiran untuk mengekspresikan gejolak batin dan nuraninya terhadap iklim kebhinekaan negerinya yang terancam. Sungguh disayangkan, sikap kepedulian Afi terhadap nasib negerinya, justru hendak diberangus oleh pihak-pihak tertentu yang tidak sepaham dengan gagasan dan pemikirannya. Sikap Afi seharusnya diapresiasi dan diberikan ruang terhormat untuk membumikan pemikiran-pemikiran inklusif dan toleran ketika generasi milenial negeri ini dinilai abai terhadap masa depan negerinya, bahkan telanjur akrab dengan hal-hal pragmatis, hedonistis, dan konsumtif.

Afi, teruslah berjuang, semoga kelak menjadi seorang pemikir yang menginspirasi Indonesia dan dunia karena sikap toleran dan inklusif-mu terhadap nilai kebhinekaan. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Islam Itu Memang Moderat

Usai shalat tarawih, 21 Juni 2017, saya masih sempat menyaksikan tayangan “Mata
Go to Top