“Jarimu Harimaumu!” dan Generasi Milenial

Kategori Opini Oleh

Jauh sebelum era media sosial (Medsos) menjamur, nenek moyang kita mewariskan idiom “Mulutmu Harimaumu!”. Idiom ini mengandung tafsir pragmatik bahwa lisan alias mulut bisa menimbulkan efek sosial yang luar biasa. Gagal menjaga lisan dari ujaran-ujaran bermotif kebencian, keangkuhan, kemunafikan, ancaman, permusuhan, fitnah, dan berbagai ungkapan verbal negatif yang lain bisa menggorok leher diri sendiri. Idiom warisan ini hingga sekarang saya kira masih cukup kontekstual. Jerat hukum bisa menjadi pemantik untuk menimbulkan efek jera bagi mereka yang gagal membendung hasrat jahatnya untuk menista, mencela, atau memfitnah orang lain.

Idiom warisan itu kini agaknya mengalami perluasan makna yang jauh lebih rumit ketika era medsos hadir di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Dengan piranti gawai, para pemilik akun medsos bisa dengan mudah menggelontorkan bejibun teks lewat jari-jarinya hanya dalam hitungan detik. Untuk menghujat, mencela, atau mencaci-maki orang atau kelompok yang tidak disukai tak harus teriak-teriak, tetapi cukup hanya dengan menekan tombol-tombol gawai. Di etalase medsos, sudah cukup banyak corong yang siap pakai untuk meneriakkan ujaran-ujaran provokatif dan intimidatif. Kita simak saja dering pemberitahuan gawai yang (nyaris) tak pernah diam. Lini masa facebook, twitter, instagram, line, BBM, atau whatsapp, misalnya, dalam hitungan detik mengalami proses update tanpa henti.

Zaman agaknya sudah jauh melompati masa-masa perubahan yang linear. Tak hanya generasi milenial sebagai “penduduk asli” dunia digital yang menjadi “penghuni” era medsos, para “digital imigran” pun tak mau kalah bersaing. Era medsos tak ubahnya “bazar sosial” yang menyajikan beragam gengsi, keyakinan, dan jati diri.

Era medsos yang sarat dengan gengsi, keyakinan, dan jati diri semacam itu, disadari atau tidak, juga ibarat “pisau bermata dua”. Jika tak hati-hati menggunakannya bisa melukai diri sendiri. Tidak sedikit pengguna medsos yang terperangkap dalam jerat hukum akibat abai dalam memainkan jari di atas tombol gawainya secara bijak.

Nah, dalam situasi semacam itu, para penyusun kamus idiom (ungkapan) agaknya perlu buru-buru memasukkan “Jarimu Harimaumu” sebagai salah satu “entri” tambahan untuk mendampingi “Mulutmu Harimaumu” yang lebih dahulu lahir. Tujuannya? Sebagai pengingat sekaligus pembelajaran buat generasi pasca-milenial bahwa di negeri ini jari-jari –yang pernah menjadi tagline almarhum Pepeng dalam acara kuisnya– bisa menyeret seseorang ke ruang penjara. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Islam Itu Memang Moderat

Usai shalat tarawih, 21 Juni 2017, saya masih sempat menyaksikan tayangan “Mata
Go to Top