Multikulturalisme Agama, Budaya, dan Sastra dalam Pandangan Prof. Mudjahirin Thohir

Kategori Opini Oleh

Ketika didaulat menjadi salah satu pemantik “Obrolan Buku Remang-remang Kontemplasi karya Setia Naka Andrian” pada Minggu, 5 Februari 2017, di Teras Budaya, Kaliwungu, Kendal (kediaman Prof. Mudjahirin Thohir), saya diberi sebuah buku bertajuk Multi-Kulturalisme Agama, Budaya, dan Sastra, langsung dari tangan Beliau. Tentu saja sangat senang. Bukan hanya lantaran saya memang sangat menyukai tulisan-tulisan renyahnya yang tersaji di rubrik “Gayeng Semarang” Suara Merdeka edisi Minggu, melainkan juga lantaran lewat buku ini –setidaknya– saya bisa menyimak pandangan guru besar Fakultas Ilmu Budaya UNDIP ini dalam menyikapi berbagai persoalan agama, budaya, dan sastra yang terus “berkecamuk” di negeri ini.

Buku terbitan Gigih Pustaka Mandiri tahun 2013 ini memuat 12 bab: (1) Plural Multikultural Masyarakat Indonesia; (2) Kekerasan Sosial Keagamaan; (3) Menuju Pandangan Multikulturalisme; (4) Budi Pekerti dalam Berkehidupan Sosial; (5) Pondok Pesantren; (6) Islam Sufistik dalam Pesantren; (7) Kisah Nabi Yusuf; (8) Maulid Nabi Muhammad; (9) Manaqib Syekh Abdul Qadir Jelani; (10) Sastra Lisan Pesantren; (11) Syi’ir Pesantren; dan (12) Penutup. Untuk membedah 11 substansi kajian dalam buku ini, tak kurang sekitar 200-an buku yang dijadikan sebagai rujukan. Dari sisi ini, kita bisa menakar bagaimana kualitas buku ini secara kelimuan. Tidak hanya mendedahkan pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif dari Prof. Hirin –demikian Beliau akrab disapa– tetapi secara tekstual juga diperkokoh dengan buku rujukan berkelas yang terkait dengan fenomena keniscayaan keberagaman dalam ranah agama, budaya, dan sastra di negeri ini.

Dengan menggunakan “peta pikiran” sebagai model untuk memahami isi buku ini, kita bisa menyimak bagaimana pemikiran-pemikiran sosok Prof. Hirin dalam menguliti setiap persoalan yang diulasnya. Sebagai seorang antropolog, Prof. Hirin tentu sudah sangat akrab dalam pergulatan pemikiran untuk mengkaji manusia dengan segala keberagaman sikap dan perilaku hidupnya. “Habitat” pemikiran Prof. Hirin yang demikian itu, dalam pandangan awam saya, menjadi sangat penting dan strategis dalam melihat Indonesia hari ini yang sarat dengan perilaku kekerasan di tengah keniscayaan multikultural yang menjadi salah satu kekayaan bangsa. Tidak sedikit kelompok tertentu yang mulai mengalami “amnesia” sejarah, bahkan abai terhadap nilai-nilai kemajemukan dan keberagaman sehingga memiliki kecenderungan untuk menunjukkan sikap eksklusif dengan menggunakan agama sebagai simbol identitas untuk “melawan” keniscayaan kemajemukan dan keberagaman.

Dalam situasi demikian, sungguh beralasan jika Prof. Hirin mengingatkan tentang proses “keindonesiaan” kita. Menurutnya, dilihat dari perspektif politik kebangsaan, kemerdekaan Indonesia sesungguhnya terwujud berkat kemenyatuan lima lapis kesadaran anak bangsa: (1) sebagai sesama orang terjajah; (2) anak bangsa yang menghendaki kemerdekaan terdiri atas berbagai suku, etnis, dan agama yang berjuang melalui komunitas kesukuan; (3) lewat identitas keberagaman atau bertolak dari berbagai agama (Hindu, Buddha, Kristen, dan Islam); (4) menjadi Indonesia bagi sesama anak bangsa adalah kesadaran dan kemauan keras untuk menghadirkan identitas keindonesiaan itu sendiri; dan (5) misi dari kehadiran (penciptaan) kita adalah menjadi dan dijadikan khalifah di bumi (hlm. 2-5).

Lima lapis kesadaran anak bangsa itulah yang makin hilang di negeri ini. Idiom “historia magistra vitae” hanya menjadi slogan yang memfosil dan mengerak dalam sejarah peradaban bangsa. Kenyamanan hidup di tengah keberagaman terusik oleh sikap-sikap sektarian, ekstrem, eksklusif, dan intoleran akibat masifnya internalisasi doktrin-doktrin kekerasan dalam mencapai tujuan.

Dalam pandangan Prof. Hirin, kemunculan fenomena keberagamaan –dengan merujuk pendapat Masdar Mas’udi (Kompas, 2009:6)– yang mengarah ke paham-paham sektarianisme dan ekstremisme sudah semestinya diantisipasi untuk kemudian dicegah (hlm. 65). Meruyaknya doktrin sektarian, ekstrem, eksklusif, dan intoleran menggambarkan keberadaan ancaman yang serius bagi Indonesia karena sesungguhnya, Indonesia adalah bangsa yang plural-multikultutal sehingga penganut agama seharusnya juga berpandangan dan menjadi seorang multikulturalis.

Tentu masih banyak padangan kritis Prof. Hirin yang tersaji dalam buku ini yang terkait dengan persoalan agama, budaya, dan sastra. Namun, mustahil bagi saya untuk mengulas buku ini secara utuh dan lengkap. Yang menarik – meski buku ini mengangkat persoalan-persoalan berat dan serius—Prof. Hirin sanggup meng-konkret-kan hal-hal yang abstrak melalui racikan bahasa yang enak, komunikatif, dan mengalir. Makin dibaca makin banyak nilai kebijakan dan kearifan hidup yang ditemukan dalam buku ini sehingga bisa melihat keindonesiaan kita hari ini dengan pikiran yang jernih, jujur, dan kritis.

Sungguh, ini sebuah buku yang wajib dimiliki oleh mahasiswa antropologi atau masyarakat umum yang ingin melihat Indonesia yang multikultur dengan pandangan inklusif dan toleran. Terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Hirin atas hadiah bukunya, semoga kehadiran buku ini bisa memberikan sumbangsih pemikiran untuk bangsa yang besar ini yang dinilai mulai mengalami “amnesia” sejarah tentang nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme.

Salam takzim! ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top