Setia Naka Andrian, Kegelisahan, dan Realitas Sosial-Budaya yang “Sakit” *)

Kategori Opini Oleh

Catatan atas Bunga Rampai Esai Remang-Remang Kontemplasi
Oleh: Sawali Tuhusetya

Setia Naka Andrian termasuk salah satu penulis muda Kendal yang cukup produktif. Pemuda kelahiran 1989 itu tergolong multitalenta dalam dunia kepenulisan. Ia tidak hanya sekadar menulis esai yang belakangan ini bertebaran di berbagai media cetak, tetapi juga puisi dan cerpen. Opini-opini pribadinya yang terkait dengan persoalan Seni Budaya, Sastra, dan Pendidikan ia kompilasikan ke dalam sebuah bunga rampai bertajuk “Remang-remang Kontemplasi” yang menggambarkan produktivitasnya selama 2009-2016. Dilihat dari muatan isinya, ia tergolong sangat sensitif sekaligus responsif terhadap persoalan-persoalan kekinian yang menggelisahkan nuraninya. Melalui gaya tuturnya yang khas; santun, runtut, dan mengalir, ia kuliti setiap persoalan yang menggelisahkan itu melalui sudut pandang pribadinya dengan sentuhan yang halus, meski sesekali terkesan nakal.

Mengingat usianya yang masih sangat muda, Naka –kalau boleh menyapanya demikian— masih sangat terbuka banyak ruang yang memungkinkan baginya untuk bersentuhan dengan berbagai pemikiran dan gagasan kreatif melalui esai. Esai, bagi saya, adalah mengabadikan pemikiran dan gagasan kreatif ke ruang publik dalam genre teks untuk membahas berbagai persoalan kekinian yang tengah menjadi sorotan publik sekaligus menggelisahkan nurani sang penulis. Dalam konteks demikian, menulis esai tak bisa dipisahkan kaitannya dengan pergulatan pemikiran dan gagasan, sekaligus juga persentuhannya dengan persoalan-persoalan riil yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Penulis esai tak hanya sekadar merekam berbagai peristiwa kekinian, lantas mendeskripsikannya dengan menggunakan media bahasa ke ruang publik. Namun, lebih daripada itu, menulis esai lebih banyak bergulat dengan –sekali lagi—pemikiran-pemikiran kreatif; bukan sekadar normatif. Seorang penulis esai tentu saja mesti berani melakukan “pemberontakan” terhadap pemikiran-pemikiran mainstream yang cenderung normatif sehingga gagal memberikan sumbangsih pemikiran dalam menawarkan solusi terhadap persoalan yang tengah menjadi sorotan publik. Ini tidak lantas berarti bahwa seorang penulis esai mesti “wajib” memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan keseharian. Ia –dengan gaya tutur dan segenap pemikirannya yang menyesak di tempurung kepala—bisa tetap nyaman dengan teks-teksnya tanpa harus menanggung beban sebagai “juru kunci” persoalan. Soal kritik, pemikiran, atau bahkan solusi yang ditawarkan lewat teks ternyata mampu mengilhami para “pemangku kepentingan” persoalan untuk melakukan sebuah perubahan, itu perkara lain.

Kepekaan, Kegelisahan, dan Bahasa
Kepekaan dan kegelisahan merupakan dua matra kepenulisan yang wajib dimiliki seorang penulis esai. Ia tidak akan pernah membiarkan berbagai realitas sosial yang “sakit” menjadi sesuatu yang akut hingga akhirnya menjadi onggokan “sampah” dalam peradaban yang terluka. Ia akan senantiasa didera kegelisahan sepanjang realitas sosial yang “sakit” itu terpampang di depan mata. Ia tidak akan pernah rela membiarkan gagasan dan pemikirannya mengerak dalam gendang nuraninya setiap kali menyaksikan berbagai fenomena peradaban yang sakit dan terluka. Ini artinya, seorang penulis esai sesungguhnya juga seorang “penjaga peradaban”. Kegelisahan, dalam konteks demikian, akan menjadi perangsang adrenalin bagi seorang penulis esai untuk terus bergulat dan bersentuhan dengan gagasan dan pemikiran kreatif.

Tidak mudah untuk merawat sebuah kegelisahan. Seorang penulis esai mesti memiliki perangkat kepekaan untuk menangkap berbagai geliat dan fenomena sosial-budaya yang mencuat ke permukaan. Melalui perangkat kepekaan ini, seorang penulis esai akan mampu meneropong setiap fenomena sosial-budaya dari sudut pandang yang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Ketidakadilan, ketidakjujuran, kemunafikan, persekongkolan jahat, berita hoax, rasuah pejabat, arogansi kekuasaan, ketimpangan sosial, kastanisasi pendidikan, pelacuran intelektual, degradasi moral, intoleransi, atau involusi budaya adalah beberapa contoh fenomena peradaban yang senantiasa hadir dalam setiap zaman. Melalui perangkat kepekaannya, seorang penulis esai akan terus bersikutat dalam alur pemikiran dan gagasan kreatif tanpa henti untuk senantiasa “bergelisah” hingga mendorongnya bermain-main dengan media bahasa untuk berkomunikasi dengan publik.

Kemampuan merawat kepekaan, kegelisahan, dan bahasa itulah yang akan menjadi penanda seorang penulis esai dalam bereksistensi diri. Bukan perkara mudah memang. Untuk mendedahkan gagasan dan pemikiran kreatifnya kepada publik, ia juga mesti banyak bersentuhan dengan ranah pemikiran banyak tokoh terkait melalui berbagai rujukan. Aktivitas membaca, dengan demikian, bisa menjadi perangkat pemerkaya untuk menguatkan gagasan dan pemikiran kreatifnya itu. Kemalasan membaca bisa menjadi “sumber penyakit” bagi seorang penulis esai dalam bereksistensi diri di jagat kepenulisan. Rujukan tidak hanya sekadar jadi perangkat pemerkaya teks, tetapi sekaligus juga menjadi sumber inspirasi yang menantang untuk dikaji dan dikembangkan lebih lanjut.

Dekonstruksi dan Pleonastis Bahasa
Peradaban akan terus berkembang seiring dengan dinamika masyarakatnya. Hal ini tentu bisa menjadi “syurga” bagi seorang penulis esai dalam mengokohkan aktivitas literasinya. Realitas sosial-budaya yang “sakit” dan berbagai fenomena peradaban yang “terluka” akan terus menjadi sumber kegelisahan bagi seorang penulis, bahkan bisa menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah kering untuk diulas dan dibedah.

Persoalannya sekarang, mampukah Naka merawat dan menjaga perangkat kepekaan, kegelisahan, dan bahasa yang ada dalam dirinya? Apakah ia bisa terus bereksistensi diri untuk terus menulis esai di tengah godaan dan tantangan hidup yang makin rumit dan kompleks pada era yang makin memuja gaya hidup instan sebagaimana yang kerap kali ia gelisahkan dalam esai-esainya? Tentu saja, retorika ini hanya Naka yang bisa mmenjawabnya.

Meski demikian, menyimak sejumlah esainya yang terkompilasi dalam Remang-remang Kontemplasi (RRK), Naka memiliki passion dan semangat besar untuk menjadi penulis esai yang mampu bertahan, bereksistensi, dan mengembangkan kemampuan dirinya di tengah gempuran zaman. Bahkan, ia sangat potensial menjadi penulis “pemberontak” yang sanggup menawarkan pemikiran-pemikiran “anti-maintream” yang sangat dibutuhkan di tengah peradaban yang “sakit”. 50 esai yang tersaji dalam RRK setidaknya bisa menjadi bagian dari profil seorang Naka dalam menikmati dunia esainya. Kesan “nakal” yang tersembunyi di balik diksi dan narasinya yang “santun”, setidaknya bisa menjadi bukti betapa seorang Naka bisa sangat potensial menjadi seorang penulis “pemberontak”.  Bahasanya mengalir dan enak dibaca dalam menguliti setiap realitas sosial-budaya yang menggelisahkannya melalui gagasan dan pemikiran kreatifnya.

Simak saja tiga matra kehidupan dan kemanusiaan melalui esai seni-budaya, sastra, dan pendidikan yang dibidiknya. Ini bisa menjadi penanda ke mana dan di mana dunia Naka berada, berpijak, dan berkutat. Dengan sangat cerdik, Naka “membela” anak muda kuliahan yang sering membolos akibat didera kesibukan beraksi di luar kampus melalui esai seni-budaya “Mati Suri Sastrawan (Kampus)” (hal. 13-16). Naka juga sukses berparodi dalam “Lawak Teater dan Distrosi Ingatan Papua” (hal. 23-28) yang menggambarkan ketidakberdayaan masyarakat Papua dalam menghadapi realitas hidup yang menggencetnya. Naka juga piawai menggelontorkan kritik dalam “Tradisi Instan” (hal. 29-35) terhadap gaya hidup instan generasi kekinian yang abai terhadap proses dan kerja keras.

Pada matra “Sastra”, Naka tak luput membidik teks novel, cerpen, puisi, dan teater. Dalam “Roh Spiritual di Jagat Fiksi” (hal. 135-137), misalnya, secara intertekstualitas, dengan amat sadar mengkritik novel Tarian Dua Wajah karya S. Prasetyo Utomo yang dinilai mengulang kegetiran hidup tokoh seperti pada novel sebelumnya, Tangis Rembulan di Hutan Berkabut. Esai-esai sastra (termasuk resensi) Naka atas teks-teks sastra, cukup berhasil dalam menyisipkan sentilan kritik tajam tanpa harus menyakiti, seperti dalam “Kisah Drama Kampung Berfilosofi Jawa”, “Pengakuan Kecil untuk Penjagal Itu Telah Mati”, atau  “Puisi, Muara Individu Beragama”.

Demikian juga dalam matra “Pendidikan”, ia dedahkan sentilan-sentilan kritik halusnya melalui teks esai yang bernas dan mengalir. Dengan gayanya yang khas, Naka mengkritik “Mental Plagiarisme” yang berlangsung di dunia akademis yang seharusnya steril dari “penyakit” ini dan berbagai kebijakan penguasa yang belum sepenuhnya menjadikan pendidikan sebagai “panglima”.

Tiga kekuatan matra ini, menurut hemat saya, akan menjadikan dunia kepenulisan Naka tidak akan pernah mengalami kemiskinan gagasan dan pemikiran kreatif dalam teks esai. Pilihan tiga matra ini akan sangat menguntungkan baginya untuk terus mengalirkan gagasan dan pemikiran kreatif karena sejatinya tiga matra inilah yang sanggup menjadi “penggerak” peradaban yang jauh lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Melalui RRK, Naka berhasil mengangkat gagasan dan pemikiran kreatif dengan gaya tuturnya yang khas; santun, runtut, dan mengalir dengan diksi yang cukup menarik.

Meski demikian, Naka masih perlu terus berproses untuk menemukan “kesejatian” dirinya sebagai penulis esai. Dalam RRK, saya menemukan proses munculnya dekonstruksi dan pleonastis bahasa dalam sebagian besar esainya. Dekonstruksi dan pleonastis bahasa tampak pada penggunaan unsur-unsur kebahasaan yang menyimpang dari kaidah kebahasaan. Banyak kita temukan penggunaan kata yang sia-sia sebagai gejala pleonastis bahasa yang seharusnya bisa dihindari. Yang paling sering muncul adalah penggunaan penunjuk jamak, seperti “banyak”, “tidak sedikit”, atau konjungsi antarklausa yang sering kali muncul pada awal kalimat, seperti “sehingga”, “dan”, “karena”, dan semacamnya.

Memang bukan sebuah kekeliruan fatal sepanjang tak menimbulkan tafsir keliru bagi pembaca. Namun, sebagai penulis esai yang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi penulis besar, Naka sejauh mungkin perlu menghindari kesia-siaan semacam itu. Kalimat-kalimat pendek yang efektif dengan meminimalkan pola dekonstruksi dan pleonastis bahasa, saya pikir, justru akan membuat Naka makin “disegani” dan mudah menggapai “kesejatian” dirinya sebagai seorang penulis esai.

Terlepas dari persoalan dekonstruksi dan pleonastis bahasa yang masih membayang dalam teks-teks esainya, saya memiliki harapan besar pada seorang Naka dalam menggeliatkan proses kreatifnya. RRK merupakan momentum awal baginya dalam sebuah proses panjang menemukan “kesejatian” diri. Ia memiliki talenta sebagai penulis “pemberontak” yang santun yang tidak dimiliki oleh setiap orang yang sangat dibutuhkan di tengah realitas sosial-budaya yang “sakit”.

Nah, salam kreatif! ***
———————————————————

*) Disajikan dalam “Obrolan Buku Remang-remang Kontemplasi karya Setia Naka Andrian” pada Minggu, 5 Februari 2017, di Teras Budaya, Kaliwungu, Kendal.

Tags:

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

2 Comments

  1. Saya tak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi, Pak Sawali Tuhusetya ini lah yang kerap mendampingi setiap obrolan buku saya, selain buku Remang-Remang Kontemplasi ini, ada pula buku kumpulan puisi saya pertama, Perayaan Laut….

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Islam Itu Memang Moderat

Usai shalat tarawih, 21 Juni 2017, saya masih sempat menyaksikan tayangan “Mata
Go to Top