Orang Tua Biologis “versus” Orang Tua Ideologis

Kategori Opini Oleh

Belakangan ini, kita dibuat tersentak oleh meruyaknya beberapa kasus yang menimpa guru di sekolah. Akibat berupaya mendisiplinkan murid, seorang guru harus berurusan dengan hukum. Bahkan, beberapa di antaranya harus mendekam di penjara. Sungguh, perilaku anomali semacam ini tak hanya merusak atmosfer interaksi guru-murid di sekolah, tetapi juga telah mengusik kenyamanan guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Bagaimana seorang pendidik bisa tenang menjalankan tugas kalau sekadar menegur atau mencubit saja mesti berurusan dengan pihak yang berwajib? Bagaimana mungkin seorang guru mampu terbebas dari tekanan dan intimidasi dalam menanamkan dan menyuburkan nilai-nilai karakter di sekolah kalau cara-cara memberikan perhatian dan kasih sayang kepada murid-muridnya terbelenggu oleh otoritas berlebihan dari orang tua atau wali murid? Cukupkah seorang guru hanya memberikan keteladanan ketika anak-anak ideologisnya gagal menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai keluhuran budi dalam perilaku kesehariannya?

Guru, sejatinya adalah orang tua ideologis yang diharapkan mampu berperan dalam mengembangkan kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap seorang anak. Sedangkan, ayah atau ibu si anak adalah orang tua biologis yang berhasrat untuk membekali si anak dengan landasan nilai-nilai keilmuan dan kearifan hidup sehingga mampu hidup bermakna di tengah-tengah masyarakat kelak. Idealnya, kedua sosok “orang tua” ini bisa bersinergi secara harmonis dalam menggembleng seorang anak di tengah kawah “candradimuka” institusi pendidikan. Namun, tekanan, intimidasi, dan perilaku kekerasan yang dilakukan oleh orang tua –bahkan juga si anak– kepada guru yang dinilai berlebihan dalam mendisiplinkan anak, diakui atau tidak, telah meruntuhkan pilar-pilar pendidikan yang seharusnya dijunjung tinggi.

Runtuhnya pilar-pilar pendidikan akibat situasi disharmonis antara orang tua ideologis versus orang tua biologis bisa jadi akibat pola asuh orang tua biologis yang terlalu berlebihan dalam memberikan proteksi terhadap seorang anak. Tidak sedikit orang tua biologis yang beranggapan bahwa anak adalah “foto-copy” orang tuanya, sehingga anak-anak kehilangan kebebasan dalam mengekspresikan hasrat dan nalurinya. Semua perilaku anak-anak selalu berada dalam kontrol yang amat ketat dari orang tua, sehingga anak-anak kehilangan rasa percaya diri.

Anakmu Bukan Anakmu
Dalam situasi demikian, kita diingatkan oleh lirik “Anakmu Bukan Anakmu” karya Kahlil Gibran yang begitu menyentuh dan mengharukan: //Anakmu bukan anakmu/Mereka putra putri yang rindu pada diri sendiri/Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau/Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu//Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu/sebab mereka ada alam pikiran tersendiri/Patut kauberikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya/sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan/yang tiada dapat boleh kaukunjungi sekalipun dalam impian//Kau boleh berusaha menyerupai mereka/Namun, jangan membuat mereka menyerupaimu/sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur/pun idak tenggelam di masa lampau//Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur//Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian//Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya/hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat//Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah/sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap.

Dorothy Law Nolte pun pernah menyajikan “petuah” yang cukup bijak: //Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki//Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar menentang//Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri//Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar jadi penyabar//Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri//Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai//Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia akan terbiasa berpendirian//

Lirik Kahlil Gibran dan “petuah” Dorothy Law Nolte seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi bagi para orang tua biologis dalam memilih pola asuh yang tepat buat anak-anaknya. Anak-anak merupakan bagian dari sebuah siklus kehidupan sebelum mereka akrab dengan peradaban yang menyentuhnya. Mereka memiliki sebuah dunia yang “mandiri” dan “otonom”. Mereka memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk mengekspresikan naluri dan dunianya. Ketika kemerdekaan mereka dirampas, sama saja kita telah berbuat “biadab” kepada mereka; anak-anak zaman yang kelak akan menorehkan tinta sejarah kehidupannya. Respon berlebihan dari orang tua yang menyeret guru yang mendisiplinkan murid ke ruang pengadilan mengindikasikan buruknya pola asuh yang mereka pilih dalam menggembleng anak-anaknya.

Ketika menimba ilmu di bangku kuliah, seorang calon guru jelas sudah dibekali psikologi perkembangan dan berbagai ilmu didaktik-metodik yang sangat relevan untuk diterapkan dalam menangani anak-anak bermasalah. Tempaan pengalaman yang diperoleh setelah menjadi seorang guru (pendidik) pun telah mematangkan “naluri”-nya untuk memberikan cara-cara terbaik dalam membimbing anak-anak ideologis yang menjadi tanggung jawabnya. Teguran dan cubitan yang dilakukan guru bukanlah perilaku fasis yang beraroma kebencian, melainkan sentuhan perhatian dan kasih sayang yang diharapkan mampu menciptakan ruang kesadaran dalam nurani anak agar mampu terasupi nilai-nilai kebajikan hidup.

Dalam menjalankan tugas profesinya, seorang guru pun menggunakan seperangkat peraturan (UU Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang telah dijabarkan ke dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru) sebagai payung hukumnya. Dalam ayat (1) pasal 39 PP Nomor 74 Tahun 2008, misalnya, jelas ditegaskan bahwa guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan Guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya. Pada ayat (1) pasal 41 juga ditegaskan bahwa guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, Masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Ini artinya, seharusnya di negeri ini tidak ada perilaku tekanan, ancaman, intimidasi, atau perilaku kekerasan yang bisa membelenggu guru dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya.

Masyarakat Mini
Namun, kenyataan berbicara lain. Di negeri ini, guru agaknya belum seutuhnya diakui sebagai “resi” yang memiliki kebebasan dan kreativitas penuh dalam menggembleng cantrik-cantriknya. Guru masih cenderung diposisikan sebatas tukang ajar yang tugas-tugasnya dibatasi tembok ruang kelas. Dalam konteks demikian, tidak berlebihan apabila masih ada beberapa orang tua yang belum siap untuk menerima tindakan guru yang berupaya mendisiplinkan murid dengan cara-cara yang ditempuhnya.

Sebagai institusi pendidikan yang menggembleng anak-anak masa depan, sekolah sebenarnya identik dengan masyarakat mini yang menggambarkan situasi sosial-budaya yang beragam. Di sekolah, peserta didik bergaul dan bersosialisasi dengan orang-orang dengan beragam karakter dan latar belakang. Dalam situasi seperti ini, guru tak ubahnya sebagai magnet demokrasi yang diharapkan mampu menumbuhkan kebersamaan dalam perbedaan. Ia (baca: guru) menjadi patron yang mampu memberikan keteladanan bagi peserta didik dalam berdemokrasi. Substansi pembumian nilai-nilai demokrasi bukan lagi dilakukan secara dogmatis dan indoktrinasi melalui ceramah, melainkan sudah dalam bentuk perilaku nyata sebagai perwujudan kultur demokrasi yang sesungguhnya.

Tujuan yang hendak dicapai melalui model pendidikan demokrasi semacam itu adalah tumbuhnya kecerdasan warga sekolah, baik secara spiritual, emosional, maupun sosial, rasa tanggung jawab, dan peran serta segenap komponen dunia persekolahan. Melalui upaya model pendidikan ini diharapkan akan terlahir kualitas generasi masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial sehingga pada gilirannya kelak mampu menopang tumbuhnya iklim civil society (masyarakat madani) di Indonesia.
Seiring dengan berhembusnya iklim demokrasi di negeri ini, sudah saatnya dilakukan upaya serius untuk membumikan nilai-nilai demokrasi di sekolah. Prinsip kebebasan berpendapat, kesamaan hak dan kewajiban, tumbuhnya semangat persaudaraan antara siswa, orang tua/wali murid, dan guru —sebagai orang tua ideologis– harus menjadi “roh” pendidikan.

Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro, mewariskan semangat “ing madya mangun karsa” yang intinya berporos pada proses pemberdayaan. Interaksi guru dan orang tua bukanlah sebagai subjek-objek, melainkan sebagai subjek-subjek yang sama-sama berupaya serius membangun karakter, jatidiri, dan kepribadian peserta didik. Di sekolah, guru senantiasa membangkitkan semangat berekplorasi, berkreasi, dan berprakarsa di kalangan siswa agar kelak tidak menjadi manusia-manusia robot yang hanya tunduk pada komando. Dengan cara demikian, sekolah akan menjadi magnet demokrasi yang mampu menggerakkan gairah siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai demokrasi dan keluhuran budi secara riil dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah bukan zamannya lagi, orang tua biologis tampil fasis bak diktator yang menggorok dan membunuh kreativitas orang tua ideologis (guru) dalam menumbuhkembangkan karakter anak-anak. Berikan ruang dan kesempatan kepada para guru untuk membuktikan perhatian dan kasih sayangnya melalui pendekatan-pendekatan edukatif yang dipilihnya. Dengan cara demikian, hubungan antara orang tua biologis dan orang tua ideologis akan terjalin harmonis dan demokratis. Sementara itu, anak-anak juga tumbuh dan berkembang menjadi sosok masa depan yang cerdas, beradab, berbudaya, dan demokratis.
Jangan sampai dunia pendidikan kita melahirkan manusia-manusia berkarakter oportunis, penjilat, hipokrit, hedonis, besar kepala, tanpa memiliki kecerdasan hati, emosi, dan nurani, hanya karena orang tua biologis berhadap-hadapan secara diametral dengan orang tua ideologis dalam mendidik anak. Hal ini penting digarisbawahi sebab makna pendidikan yang hakiki merujuk pada sebuah kondisi yang mampu memberikan ruang kesadaran kepada peserta didik untuk mengembangkan jatidirinya melalui sebuah proses yang menyenangkan, terbuka, tidak terbelenggu dalam suasana monoton, kaku, dan menegangkan. Kondisi ideal semacam ini tidak terlepas dari peran guru dan orang tua yang secara sinergis mampu menunjukkan kesamaan visi dan misi dalam menggembleng anak-anak.

“Historia magistra vitae”, sejarah adalah guru kehidupan. Pengalaman selama bertahun-tahun telah memberikan pelajaran berharga bahwa pendidikan yang tidak berbasiskan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi hanya akan melahirkan manusia yang cerdas dan terampil, tetapi kehilangan hati nurani dan perasaan. Ini artinya, revitalisasi pendidikan kemanusiaan dan demokrasi semakin urgen dan relevan untuk diimplementasikan di tingkat praksis agar tidak terapung-apung dalam bentangan slogan, retorika, dan jargon belaka.

Sungguh terasa ironis kalau bangsa kita yang selama ini dikenal sebagai bangsa yang berperadaban tinggi, mengagungkan keluhuran budi, dan kesantunan berperilaku, akhirnya terjebak menjadi bangsa bar-bar, “kanibal”, dan pendendam, hanya lantaran pendidikan yang salah urus. Agaknya, sudah sangat mendesak dunia pendidikan kita disentuh oleh hal-hal yang bersifat demokratis, humanistis dan religius. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

6 Comments

  1. Yang namanya orang tua biologis atau guru tetap tidak boleh melakukan kekerasan fisik. Susah kan pak jadi orang tua.

    Setau saya orang tua baik biologis atau guru (lebih cocok akademis) hanya memberikan prasarana dan doa tidak lebih.

    Maaf atas kelancangannya…. 😯

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*