Sebuah Telaga, Menjangan, dan Keterasingan

Kategori Wayang Oleh

Dalang: Sawali Tuhusetya

Sungguh, bukan hal yang mudah bagi Pandawa untuk melalui masa-masa pembuangan. Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mampu melawan kesengsaraan dan penderitaan dalam pengasingan. Sedemikian dahsyatnya kesengsaraan dan penderitaan itu mengurung mereka, sampai-sampai rimba dan seisinya tak sanggup menyembunyikan dukanya. Tanah gersang dan retak-retak. Pepohonan layu dan meranggas. Satwa hanya mampu menyanyikan irama elegi yang perih dan tragis.

Kini, 12 tahun (nyaris) terlewati. Itu artinya, setahun lagi, para Pandawa akan terbebas dari perangkap licik para Kurawa yang dengan amat sengaja hendak menyingkirkannya dari Negeri Hastinapura. Meski demikian, kelima putra Pandu yang selalu diikuti Drupadi dengan penuh kesetiaan itu mesti pandai-pandai menyamar. Kalau sampai pihak Kurawa berhasil membuka kedok penyamaran mereka, maka malapetaka itu akan terulang.

Dengan langkah gontai dan tersaruk-saruk, Yudistira dan keempat adiknya berlindung di bawah pepohonan yang kering dan layu. Terik matahari memanggang. Belum sempat mereka melepas lelah, mendadak seorang lelaki tua berteriak minta tolong.

“Tuan-tuan, tolonglah aku! Seekor menjangan telah berbuat kurang ajar. Tungku tempat memasak isteriku dibawa kabur!” teriak lelaki tua itu sembari menahan napas. Para Pandawa saling berpadangan. “Tolonglah, Tuan! Tangkap menjangan itu dan bawa tungku itu kemari!” sambung lelaki tua itu menghiba.

Karena tidak tega, kelima bersaudara itu segera memburu ke arah yang ditunjuk lelaki tua itu sepenuh tenaga. Namun, usaha mereka gagal membuahkan hasil. Menjangan itu seperti tertelan perut bumi, tak jelas lagi jejaknya. Akibat rasa haus yang mencekik leher dan kelaparan yang melilit perut memaksa para Pandawa menghentikan pengejaran. Mereka sudah tak punya daya dan kekuatan untuk mampu menolong lelaki tua itu. Mereka beristirahat di bawah beringin tua dengan napas sengal.

“Saat ini kita benar-benar telah menjadi manusia tak berguna! Bagaimana tidak? Menolong seorang kakek yang kehilangan tungku saja kita sudah gagal melakukannya, apalagi menghadapi persoalan berat?” seloroh Nakula dengan wajah memelas.

“Seandainya kita dulu menghabisi Kurawa yang telah mempermalukan di depan banyak orang itu, nasib kita tentu tak akan sehina ini! Sekarang, kita benar-benar sudah kehilangan segalanya akibat sikap lembek dan sok rendah hati,” sahut Bima dengan bola mata membelalak.

“Tapi kita mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi! Aku pun juga hanya bisa diam ketika di-bully dan dihina habis-habisan oleh Karna, anak sais kereta kuda itu. Oh, dasar nasib!” keluh Arjuna.

Yudistira tertunduk. Ia merasa bersalah dan bisa merasakan kesedihan hati adik-adiknya. Rasa putus asa mulai menggerayangi jiwa mereka. Untuk mengalihkan perhatian, Yudistira minta tolong kepada Nakula untuk mencari air sebagai pengobat dahaga.

“Nakula, adikku, coba kamu panjat pohon itu! Perhatikan sekeliling! Kalau ada sungai atau telaga, ambillah air untuk kita minum bersama!” pinta Arjuna. Tanpa menyahut, Nakula bergagas memanjat pohon yang cukup tinggi. Matanya berbinar ketika dari kejauhan dilihatnya ada sebuah telaga dan segerombolan bangau yang terbang melintas.

Nakula segera turun dan berjingkat menuju ke arah telaga itu. Namun, ketika hendak mengambil air dari dalam telaga itu, tiba-tiba gendang telinganya menangkap suara yang sangat berwibawa.

“Hai, putra Madrim! Jangan mengambil hak milik orang lain. Telaga itu milikku! Kalau mau ambil, izin dulu! Itu pun kalau aku mengizinkannya!” gertak suara tanpa wujud itu. Nakula tersentak. Karena sudah tak sanggup menahan rasa haus, Nakula tak memedulikan suara itu. Ia langsung mengambil air dan meminumnya. Namun, aneh! Nakula pingsan seketika.

Lantaran sudah cukup lama Nakula tidak muncul, Yudistira meminta Sadewa untuk mencarinya. Setiba di dekat telaga, Sadewa terperangah begitu menyaksikan tubuh Nakula terbaring tak berdaya. Namun, rasa haus yang benar-benar telah mencekik leher, Sadewa pun segera mengambil air dan meminumnya. Namun, belum sampai tetesan air itu jatuh ke dalam kerongkongannya itu, suara aneh tanpa wujud itu kembali membahana; memekakkan telinganya. Sadewa tak peduli, hingga akhirnya bernasib tragis seperti kakaknya.

Yudistira mulai cemas. Kedua adiknya tak kunjung datang membawakan air untuknya. Dengan bibir gemetar, ia meminta Arjuna untuk menyusul kedua adiknya. Ketika tiba di tepi telaga, bola matanya membelalak menyaksikan tubuh kedua adiknya tak berdaya. Sama seperti kedua adiknya, telinga Arjuna juga menangkap suara tanpa wujud.

“Hai, putra Kunti! Jangan asal ambil air telaga milikku tanpa izin. Itu pun kalau aku mengizinkannya. Jika nekad, kamu akan bernasib sama seperti kedua adikmu!” suara tanpa wujud itu menggema di gendang telinga Arjuna. Pengenah Pandawa itu geram. Giginya gemeletuk.

“Dasar pengecut! Tunjukkan dirimu yang sebenarnya! Akan kuhabisi kau!” teriak Arjuna sembari membidikkan panah ke arah suara tanpa wujud itu.

“Hahaha … Panahmu hanya akan menerpa angin, putra Kunti! Tak usahlah pakai kekerasan segala, jawab saja pertanyaanku! Kalau bisa menjawab, silakan kamu ambil air telaga sesukamu! Beneran ini! Suer!” sahut suara tanpa wujud hingga membuat Arjuna semakin geram. Meskipun demikian, rasa haus telah mengalahkan segalanya. Ia tak kuasa lagi menahan cekikan rasa rasa hausnya. Dengan cepat, Arjuna segera mengambil air telaga dan meminumnya. Tak lama kemudian, Arjuna pun kelimpungan tak berdaya.

Rasa cemas dan khawatir benar-benar menghinggapi wajah Yudistira. Nakula, Sadewa, dan Arjuna tidak juga menampakkan batang hidungnya.

“Dimas Bima, agaknya belakangan ini keberuntungan tidak berpihak kepada kita. Nakula, Sadewa, dan Arjuna belum juga kembali. Tolong kamu cari sampai ketemu, ada apa sebenarnya?” kata Yudistira terbata-bata.

Dengan kekuatan tenaga yang masih tersisa, Bima segera bangkit dan bergegas menuju ke arah telaga. Sampai di tepi telaga, ia sedih melihat ketiga saudaranya tak berdaya.

“Ini pasti ulah makhluk-makhluk sewaan berwatak jahat. Hem… pakai strategi perang proxy segala. Dasar gendeng!” gumam Bima. Tiba-tiba saja, seperti ketiga saudaranya, telinga Bima menangkap suara tanpa wujud.

“Hai Bimasena yang perkasa, kamu boleh minum dan ambil air telaga sesukamu setelah berhasil menjawab pertanyaanku! Jika nekad, kamu akan bernasib sama seperti ketiga saudaramu!”

“Kurang ajar! Beranin-beraninya mengancamku! Memangnya siapa dirimu? Kalau memang berani, tampakkan wujudmu! Sudah lama kukuku tidak merobek-robek perut manusia!” sahut Bima sambil mengambil air telaga dan meminumnya. Tak ayal lagi, tubuh Bima yang kekar itu pun menggelosor tak berdaya di tepi telaga.

Yudistira yang termangu di bawah pohon beringin tua benar-benar dicekam rasa cemas dan khawatir ketika keempat saudaranya tak juga kembali. Ia bergegas menuju ke arah telaga. Rasa sakit dan perih benar-benar menohok ulu hatinya ketika menyaksikan tubuh keempat adiknya tak berdaya di tepi telaga. Bola matanya bergerak mengelilingi telaga. Tak ada sedikit pun jejak-jejak kekerasan.

“Semuanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lantas, perbuatan siapakah ini hingga membuat keempat saudaraku tak berdaya?” tanya Yudistira pada dirinya sendiri.

“Aduh, putra Kunti, kamu tidak perlu heran dan bertanya-tanya pada dirimu sendiri! Saudara-saudaramu telah mati karena tak menghiraukan kata-kataku. Jangan ikuti mereka! Jawab saja pertanyaanku, kalau berhasil, silakan minum dan ambil air telaga sepuasmu!” kata suara tanpa wujud. Yudistira yakin, suara tanpa wujud itulah yang menyebabkan saudara-saudaranya kelimpungan.

“Baiklah, silakan ajukan pertanyaanmu, wahai suara tanpa wujud!” sahut Yudistira.

“Apa yang menyebabkan matahari bersinar setiap hari?”

“Kekuatan Sang Pencipta!”

“Apa yang bisa membebaskan semua marabahaya?”

“Keberanian adalah pembebas manusia dari marabahaya.”

“Ilmu apakah yang bisa membuat manusia menjadi bijaksana?”

”Orang tidak menjadi bijaksana hanya karena mempelajari kitab-kitab suci. Orang menjadi bijaksana karena bergaul dan berkumpul dengan para cendekiawan besar!”

“Apa yang lebih mulia dan lebih menghidupi manusia daripada bumi?”

“Ibu yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.”

“Apa yang lebih tinggi daripada langit?”

“Ayah!”

“Apa yang lebih kencang daripada angin?”

“Pikiran!”

“Apa yang lebih berbahaya daripada jerami kering di musim panas?”

“Hati yang menderita duka nestapa.”

“Apa yang menjadi teman seorang pengembara?”

“Kemauan belajar.”

“Siapakah teman seorang lelaki yang tinggal di rumah?”

“Isteri.”

“Siapakah yang menemani manusia dalam kematian?”

“Amal baik dan kebajikan hidup. Merekalah yang menemani jiwa dalam kesunyian perjalanan setelah kematian.”

“Perahu apakah yang terbesar?”

“Bumi dan segala isinya adalah perahu terbesar di jagad ini.”

“Apakah kebahagiaan itu?”

“Kebahagiaan adalah buah dari tingkah laku dan perbuatan baik.”

“Apakah itu, jika orang meninggalkannya akan dicintai sesamanya?”

“Keangkuhan. Dengan meninggalkan keangkuhan orang akan dicintai sesamanya.”

“Kehilangan apakah yang menyebabkan orang bahagia dan tidak sedih?”

“Amarah. Kehilangan amarah membuat kita tidak lagi diburu oleh kesedihan.”

“Apakah itu, jika orang membuangnya jauh-jauh, ia menjadi kaya?”

“Hawa nafsu. Dengan membuang hawa nafsu orang menjadi kaya.”

“Apakah yang membuat orang benar-benar menjadi bijak-bestari? Apakah kelahiran, kelakuan baik atau pendidikan sempurna? Jawab dengan tegas!”

“Kelahiran dan pendidikan tidak membuat orang menjadi bijak-bestari; hanya kelakuan baik yang membuatnya demikian. Betapapun pandainya seseorang, ia tidak akan menjadi bijak-bestari jika ia menjadi budak kebiasaan jeleknya. Betapapun dalamnya penguasaannya akan kitab-kitab suci, tetapi jika kelakuannya buruk, ia akan jatuh ke kasta yang lebih rendah.”

“Keajaiban apakah yang terbesar di dunia ini?”

“Setiap orang mampu melihat orang lain pergi menghadap Izrail. Namun, mereka yang masih hidup terus berusaha untuk hidup lebih lama lagi. Itulah keajaiban terbesar.”

Dialog Yudistira dengan suara tanpa wujud itu terus berlangsung. Banyak persoalan yang dikupas dan Yudistira menjawab semuanya tanpa ragu. Pertanyaan terakhir yang diajukan suara tanpa wujud itu langsung berkaitan dengan saudara-saudaranya.

“Wahai putra Kunti, seandainya salah satu saudaramu boleh tinggal denganmu sekarang, siapakah yang engkau pilih? Dia akan hidup kembali.”

Yudistira termenung sebentar. Berpikir dengan menggunakan olah rasa dan nuraninya. “Kupilih Nakula, saudaraku yang kulitnya bersih bagai awan berarak, matanya indah bagai bunga teratai, dadanya bidang, dan lengannya ramping. Tetapi kini ia terbujur kaku bagai sebatang kayu jati,” jawabnya.

“Kenapa engkau memilih Nakula, bukan Bima yang kekuatan raganya enam belas ribu kali kekuatan gajah? Lagi pula, kudengar engkau sangat mengasihi Bima. Atau, mengapa bukan Arjuna yang mahir menggunakan segala macam senjata, terampil olah bela diri dan jelas dapat melindungimu? Jelaskan, mengapa engkau memilih Nakula?”

“Wahai suara tanpa wujud, kebajikan hidup adalah satu-satunya pelindung manusia, bukan Bima, bukan Arjuna. Apabila kebajikan hidup tidak diindahkan, manusia akan menemui kehancuran. Dewi Kunti dan Dewi Madrim adalah istri ayahku dan mereka adalah ibuku. Aku, anak Kunti, masih hidup. Jadi, Dewi Kunti tidak kehilangan keturunan. Dengan pertimbangan yang sama dan demi keadilan, biarkan Nakula, putra Dewi Madrim, hidup bersamaku.”

Suara tanpa wujud itu merasa puas mendengar jawaban Yudistira yang membuktikan bahwa ia adil dan berjiwa besar. Akhirnya, suara tanpa wujud itu menghidupkan kembali semua saudara Yudistira.

Usut punya usut, menjangan dan suara tanpa wujud itu adalah reinkarnasi Batara Yama, Dewa Kematian, yang ingin menguji kekuatan batin dan darma Yudistira. Batara Yama berdiri di depan Yudistira, lalu memeluknya dengan penuh rasa haru, disaksikan keempat saudaranya yang tiba-tiba telah berada di sampingnya dalam keadaan segar-bugar.

“Beberapa hari lagi masa pengasinganmu di hutan rimba akan selesai. Di tahun ketiga belas, kalian harus hidup dengan menyamar. Yakinlah, masa itu pun akan dapat kalian lewati dengan baik. Tidak seorang musuh pun akan mengetahui keberadaan kalian. Kalian pasti lulus dalam ujian yang berat ini. Perilaku dan kebajikan hidup akan selalu menyertaimu, Yudistira!” kata Batara Yama sebelum akhirnya menghilang di balik rimba.

Sungguh, 12 tahun lebih menjalani hidup dalam pengasingan dan terisolir dari segala bentuk kenikmatan duniawi, telah mematangkan, bahkan “menyempurkan” laku lahir dan batin para Pandawa dalam menghadapi tantangan hidup yang makin rumit dan kompleks. Pengalaman Arjuna dalam mencari senjata yang supercanggih, pengalaman Bima bertemu dengan Anoman dan Dewa Ruci, dan pengalaman Yudistira bertemu dengan Batara Yama, kian menambah kekuatan lahiriah, keyakinan batiniah, serta kemuliaan rohani para putra Pandu. Mereka semakin tenggelam dalam mengagungkan nilai kearifan dan kebajikan hidup, serta sejauh mungkin menghindari perilaku jahat, apalagi menyebarkan berita-berita hoax yang sarat fitnah untuk merontokkan wibawa musuh-musuh politiknya di jagat pewayangan. *** (Tancep kayon)

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Wayang

TEROR DI NEGERI WIRATHA

Dalang: Sawali Tuhusetya Akibat kebencian Kurawa yang telah mengilusumsum melalui aksi tipu
Go to Top