Media Sosial dan “Pion” Pemburu Informasi

Kategori Opini Oleh

Harus diakui, era digital telah mampu membuka sekat dan tabir informasi. Bahkan, hal-hal yang mustahil sekalipun, kini bisa dengan mudah diendus dan dikuak. Ibarat permainan catur, kini makin mudah kita temukan pion-pion bermain zig-zag memburu informasi, kemudian menyebarluaskannya melalui media sosial (medsos), hingga akhirnya berkecambah dan tumbuh subur. Alur permainan makin kabur dan sulit ditebak. Jika tidak cermat, bejibun informasi yang bertaburan itu, kita anggap sebagai informasi berharga yang harus di-share dan disebarluaskan.

Disadari atau tidak, sesungguhnya kita telah menjadi pion pemburu informasi. Hasrat untuk bereksistensi diri melalui medsos, telah mengubah peradaban. Media cetak telah tergantikan perannya oleh lini-masa yang bertebaran di depan mata. Hanya dengan hitungan detik, pengguna medsos demikian mudah mendapatkan bejibun informasi tanpa harus mengeluarkan uang. Lantas, dengan dalih untuk berbagi informasi, kita pun bertindak cekatan. Kita sebarkan tautan informasi itu ke berbagai group medsos, entah itu facebook, twitter, whatsapp, atau telegram, tanpa konfirmasi. Bisa berbagi informasi, lebih-lebih jika menjadi orang pertama, memiliki nilai kepuasan tersendiri. Kita menganggap diri sebagai orang yang telah berjasa sebagai “narasumber” informasi.

Kanal informasi yang terus mengalir melalui medsos, pada satu sisi memang telah berhasil menyingkap kemiskinan literasi yang selama ini dianggap telah lama melilit budaya negeri ini. Namun, pada sisi yang lain, arus deras informasi, disadari atau tidak, juga telah mampu menjajah pikiran pengguna medsos. Informasi, meski jelas-jelas hoax sekalipun, yang digelontorkan secara masif ke ranah kanal medsos, seringkali “diyakini” sebagai sebuah kebenaran. Situasi semacam ini jelas akan sangat membahayakan bagi sang pion itu sendiri. Kuatnya hasrat untuk bereksistensi diri dengan berbagi informasi berubah menjadi gergaji yang menggorok leher diri sendiri.

Saya tidak hendak mengatakan bahwa menyebarluaskan informasi melalui medsos itu tabu. Bahkan, jika dilandasi “kemauan baik” untuk berbagi informasi yang bernilai kebenaran akan memberikan kemaslahatan buat banyak orang. Namun, jika hanya bermotifkan hasrat bereksistensi diri semata, apalagi ikut berperan menyebarluaskan informasi hoax tanpa proses konfirmasi dan tabayyun, hanya akan melahirkan viral negatif yang berujung “kecelakaan”.
***

Kini, kanal informasi di medsos tak ubahnya “bazar gratis”; tinggal pilih dan comot. Keleluasaan mencomot informasi tentu sah-sah saja. Ini menjadi hak setiap pengguna medsos untuk mengumpulkannya ke dalam pundi-pundi informasi. Namun, tidak ada salahnya jika ditindaklanjuti dengan sikap cerdas dan bijak: “konfirmasi, tabayyun, benar, baru share!”

Ada baiknya kita menghindari sikap linear yang memandang informasi dengan menggunakan “kacamata kuda”, lebih-lebih pada era digital ketika bejibun informasi terus mengalir dari lini-masa medsos. Berfikir multidimensional dengan melakukan proses check and re-check dari berbagai sumber informasi jauh lebih menguntungkan ketimbang buru-buru menyebarluaskan info tanpa konfirmasi kebenarannya. Jalan ini juga merupakan salah satu bentuk “tabayyun” agar kita tidak masuk dalam jebakan dari pihak-pihak tertentu yang dengan amat sadar menyebarkan berita-berita hoax dan menyesatkan. Ini artinya, kita mesti bisa memosisikan diri sebagai “pion” pemburu informasi yang cerdas, lincah, dan mampu berkelit dari jebakan-jebakan berita hoax.

Sebenarnya, kita bisa dengan mudah untuk menentukan mana informasi yang benar dan yang hoax dengan mencermati unsur isi dan bahasa yang digunakan. Dua unsur intrinsik informasi ini menjadi hal yang penting dan substansial agar kita tidak terjebak dalam “permainan catur” pihak-pihak tertentu yang sarat dengan kepentingan tertentu pula. Para pengguna akun medsos yang bijak dan cerdas tentu tidak akan gampang terhasut dan terprovokasi.

Dari unsur isi, misalnya, informasi hoax memiliki kelemahan fakta dan data. Mereka seringkali hanya mengandalkan fakta dan data dari sumber yang secara “politik” dan “aliran” memiliki kesamaan mindset. Bahkan, seringkali berita yang seharusnya mengutamakan kebenaran berdasarkan fakta pun dibumbui dan dengan sengaja dipelintir melalui opini pribadi. Sedangkan, dari unsur bahasa, informasi hoax sarat dengan diksi dan idiom vulgar yang bermofif penghasutan dan pembunuhan karakter.

Di tengah derasnya arus informasi seperti saat ini, sudah saatnya kita kembali ke “khittah” kita sebagai “pion” pemburu informasi yang cerdas dan bijak. Tujuannya? Agar kita bisa ikut berperan sebagai “agen perubahan” menuju tatanan peradaban yang jauh lebih beradab dan berbudaya. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top