Home » Blog » Enam Purnama Tanpa Jejak » 21482 views

Enam Purnama Tanpa Jejak

Kategori Blog Oleh

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam bulan dalam kalkulasi aktivitas di dunia nyata bukanlah waktu yang terbilang lama. Namun, dalam kalkulasi kalender ngeblog, enam purnama tanpa jejak bisa dibilang telah “mati suri”. Betapa tidak, di tengah kencangnya arus informasi pada peradaban digital ini, dalam kurun waktu sepanjang itu, seorang blogger dianggap telah gagal menghimpun kekuatan untuk bisa terus bertahan dalam bereksistensi diri.

revAda apa? Tanpa bermaksud berapologi, ngeblog memang memiliki dinamika tersendiri. “Mulur-mungkret”, begitulah kata orang tua kita. Sebagai aktivitas kedua, ngeblog memang tidak selalu bisa berada di depan secara konsisten. Dulu, ketika aktivitas menulis masih mengandalkan media cetak sebagai media mainstream untuk berekspresi, kreativitas menulis, mesti diakui, justru makin menemukan bentuknya dalam bereksistensi diri. Namun, ketika kejayaan media cetak memasuki situasi senjakala, jejak kepenulisan saya ikut menyurut. Kalau toh ada, tulisan yang tersaji, baik melalui blog maupun sekadar tumpahan unek-unek di jejaring sosial, kualitasnya tak bisa dibandingkan dengan tulisan yang berhasil menembus ketatnya barikade redaksi media cetak.

Tambahan lagi, aktivitas pertama sebagai seorang guru seringkali juga tidak bisa sepenuhnya menyisihkan waktu untuk bisa terus menulis dan menulis. Dalam situasi demikian, jujur saja, saya sangat kagum dengan blogger guru –bukan guru blogger loh ya—yang mampu menjaga “adrenalin”-nya untuk bisa terus ngeblog dan ngeblog. Sungguh!

Sebagai dunia yang penuh dinamika, ngeblog memang tidak dibatasi kurun waktu. Blogger memiliki hak “prerogatif” untuk mengelola aktivitasnya. Sepanjang rumah “maya”-nya masih “hidup”, seorang blogger masih memiliki banyak kemungkinan untuk bisa menjaga semangat dan adrenalinnya dalam ngeblog. Kecuali, kalau memang niat dan minatnya sudah terbang jauh ke dunia lain. Nah, salam kreatif! ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

20 Comments

  1. Semangat menulis lagi Pak, masih teringat saya pada saat sekolah disaat SMP kalo ga salah disuruh mencari cerpen pada media cetak (saat itu masih jarang warnet). Nah disitu saya akhirnya menemukan cerpen yang penulisnya bapak sendiri (Pak Sawali Tuhusetya).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,
Go to Top