Home » Bahasa » Tafsir Pragmatik tentang Guyonan Gus Dur

Tafsir Pragmatik tentang Guyonan Gus Dur

Semasa hidupnya, Kyai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dikenal sebagai tokoh kharismatik dan inspiratif. Pemikirannya tentang keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan, telah menginspirasi banyak kalangan untuk mewujudkan sebuah Indonesia yang demokratis, ramah, damai, dan toleran. Meski telah bersemayam di alam keabadian sejak 30 Desember 2009 silam, beliau meninggalkan banyak “warisan” berharga. Tak hanya di kalangan para nahdliyin, tetapi juga buat anak-anak bangsa dalam mewujudkan peradaban yang demokratis, beradab, dan berbudaya. Salah satu “warisan” yang saya anggap cukup menarik disimak adalah joke-joke jenakanya.  Ringan dan segar, sekaligus mengundang banyak tafsir.

Coba simak dua joke segarnya berikut ini!

Humor Gus DurGus Dur coba cari suasana di pesawat RI-01. Kali ini dia mengundang Presiden AS dan Prancis terbang bersama buat keliling dunia. Seperti biasa, setiap presiden selalu ingin memamerkan apa yang menjadi kebanggaan negerinya.

Tidak lama terbang, Presiden Amerika, Clinton mengeluarkan tangannya dan sesaat kemudian dia berkata: “Wah kita sedang berada di atas New York!”

Presiden Indonesia ( Gus Dur): “Lho kok bisa tau sih?”

“Itu, patung Liberty kepegang!”, jawab Clinton dengan bangganya.

Tidak mau kalah, Presiden Prancis Jacques Chirac, ikut menjulurkan tangannya keluar. “Tahu nggak? Kita sedang berada di atas kota Paris!”, katanya dengan sombongnya.

Presiden Indonesia: “Wah, kok bisa tau juga?”

“Itu… menara Eiffel kepegang!”, sahut presiden Prancis tersebut.

Giliran Gus Dur yang menjulurkan tangannya keluar pesawat. “Wah… kita sedang berada di atas Tanah Abang!” teriak Gus Dur.

“Lho kok bisa tau sih?” tanya Clinton dan Chirac heran.

“Ini, jam tangan saya ilang,” jawab Gus Dur kalem.

Apa yang menarik dari joke tersebut? Ya, ya, secara pragmatik, Gus Dur mencoba melakukan komparasi peradaban antara negara maju dan negara berkembang. Ketika negara maju semacam Amerika atau Perancis telah memiliki ikon-ikon kemajuan peradaban yang disimbolisasikan melalui patung Liberty di Amerika atau menara Eiffel di Perancis, Indonesia justru masih direpotkan dengan persoalan kemiskinan dan keterbelakangan yang disimbolisasikan melalui kawasan Tanah Abang yang setiap hari bergelut dengan tindak premanisme, seperti pencopetan, pemalakakan, dan berbagai perilaku vandalistis lainnya. Joke “Ini, jam tangan saya ilang,” ketika pesawat kepresidenan RI melintas di kawasan Tanah Abang, sungguh mengena untuk menggambarkan situasi Indonesia yang masih sarat dengan perilaku kriminal dan kekerasan.

Demikian juga joke berikut!

Ini humor Gus Dur. Ceritanya para presiden dan pemimpin negara berdialog dengan Tuhan.

Presiden AS Ronald Reagen: ” Tuhan, kapan negara kami makmur?” Tuhan menjawab, “20 tahun lagi”. Presiden AS menangis.

Presiden Prancis Sarkozy: “Tuhan, kapan negara Prancis makmur?” Tuhan menjawab, “25 tahun lagi.” Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

PM Inggris Tony Blair: “Tuhan, kapan negara Inggris bisa makmur?” Tuhan menjawab, “20 tahun lagi.” PM Tony Blair ikut juga menangis.

Presiden Gus Dur: “Tuhan, kapan negara Indonesia bisa makmur?” Tuhan tidak menjawab, gantian Tuhan yang menangis.

Sungguh, secara pragmatik, ini joke cerdas yang tidak hanya sarat sindiran, tetapi juga menohok ulu hati penguasa. Kalau penguasa Amerika, Perancis, dan Inggris menangis karena kemakmuran negerinya baru akan terwujud antara 20-25 tahun, lantas kemakmuran Indonesia? Bukan penguasanya yang menangis, melainkan Tuhan yang menangis. Ini sebuah “parodi”. Sedemikian rumit dan kompleksnya persoalan yang menelikung Indonesia, hingga tak jelas kapan kemakmuran yang adil dan merata bisa terwujud di negeri yang “gemah ripah loh jinawi” ini.

Sungguh, tidak mudah menemukan tokoh sekaliber Gus Dur yang bisa memahami situasi keindonesiaan melalui joke-joke segarnya. Butuh kecerdasan dan kemurnian nurani tersendiri. Tentu masih banyak joke-joke Gus Dur yang membuat kening dan nurani kita berkerutan. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Tafsir Pragmatik tentang Guyonan Gus Dur" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 Juni 2015 @ 22:54) pada kategori Bahasa. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 37 komentar dalam “Tafsir Pragmatik tentang Guyonan Gus Dur

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *