Menghidupkan Spirit Ngeblog di Bulan Ramadhan

Kategori Blog Oleh

Sudah hampir enam bulan, blog ini tidak lagi terurus. Mohon maaf kepada sahabat-sahabat blogger dan para pengunjung yang seringkali harus menelan kekecewaan lantaran “suwung” setiap kali berkunjung ke rumah maya ini. Tidak ada lagi tulisan-tulisan terbaru. Juga tak ada lagi respon terhadap berbagai komentar yang masuk. Ya, secara jujur saya harus mengakui bahwa selama hampir enam bulan itu, “adrenalin” ngeblog saya sedang “drop” alias terjun bebas.

RamadhanKetika memasuki Ramadhan 1436 H ini, saya tiba-tiba kembali terusik untuk “menghidupkan” kembali spirit dan semangat ngeblog. “Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya kembali juga ke sarangnya”, begitulah kata orang tua kita. Sejauh apa pun saya melangkah dan berlari, toh pada akhirnya saya harus kembali ke “habitat” saya di kompleks blogsphere. Apa pun yang terjadi, ngeblog sudah menjadi bagian dari “kebutuhan” untuk bereksistensi diri. Sungguh akan semakin naif apabila spirit ngeblog yang sudah terbangun sejak 2007 itu terus-terusan terjun bebas dan tiarap, hingga akhirnya terkubur dalam deraan sang waktu.

Ngeblog, dalam pandangan awam saya, merupakan cara paling sederhana bagi seorang blogger untuk berekspresi. Berbagai persoalan hidup bisa ditulis dalam berbagai gaya dan selera. Tak ada sortir dan tak butuh redaktur. Blogger sejatinya juga seorang redaktur bagi karyanya sendiri. Sepanjang tak meniup-niupkan konflik dan perpecahan, apalagi yang sensitif terhadap persoalan SARA, tulisan seorang blogger akan tetap eksis sebagai salah satu kekayaan perpustakaan virtual yang bisa dibaca setiap penunjung, kapan dan di mana pun.

Itulah sebabnya, meski sudah terlalu jauh masa-masa “subur” ngeblog meninggalkan jejak saya, spirit dan semangat ngeblog tak pernah bisa dibunuh dan dimatikan. Selalu saja ada alasan untuk mengekspresikan berbagai suara yang hanya bergaung di gendang nurani kepada publik. Sejauh itu pula, ada banyak persoalan pendidikan, bahasa, sastra, budaya, politik, sosial, dan berbagai thethek-bengek persoalan hidup yang lain yang berjumpalitan dan terekam dalam memori saya. Sungguh, akan sangat menyesal apabila saya terus membiarkan suara-suara itu hanya berserakan dan menggerogoti naluri saya berekspresi.

Itulah pula sebabnya, bertepatan dengan momentum Ramadhan 1436 H ini, saya ingin kembali ke “habitat” kepenulisan saya. Saya masih belum terlalu rela apabila suara-suara nurani yang butuh diekpresikan itu hanya menggelinjang di dinding angan-angan belaka. Nah, selamat menjalankan ibadah puasa yang penuh berkah, mohon maaf lahir dan batin. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

23 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,

Enam Purnama Tanpa Jejak

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam
Go to Top