Selamat Mewujudkan Resolusi Tahun 2015

Kategori Budaya Oleh

Lembaran pertama tahun 2015 sudah tergelar di depan mata. Suara petasan dan kilatan kembang api yang membubung ke angkasa menandai pergantian tahun yang baru saja lewat. Tentu sudah banyak rencana dan resolusi yang hendak dituliskan untuk mengisi lembar demi lembar di tahun 2015. Bisa jadi, ada sebagian di antara kita yang hidupnya mengalir tanpa resolusi. Toh ada rencana atau tidak, ada resolusi atau tidak, hidup akan senantiasa mengikuti gerak dan garis yang telah ditakdirkan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Budaya pergantian tahun yang sering dirayakan secara berlebihan pun tidak ada bedanya dengan perhelatan-perhelatan pada hari-hari biasanya.

Tahun BaruMeskipun demikian, setahun yang lewat juga sudah banyak memberikan pelajaran berharga buat hidup dan kehidupan. Tidak ada salahnya perjalanan hidup yang setahun lamanya melintasi usia kita dijadikan sebagai momen berharga untuk melakukan sebuah perubahan. Perubahan itulah yang sesungguhnya merupakan resolusi hakiki, tanpa harus ditulis dan digembar-gemborkan. Apa yang akan terjadi setahun mendatang juga seringkali merupakan sebuah misteri. Kata hati, perilaku, sikap, tindakan, dan perbuatan yang menyertai hidup kita dalam memasuki sebuah lorong misteri itu sejatinya juga merupakan sebuah resolusi itu sendiri.

Kata-kata “sok bijak” ini semata-mata sekadar untuk mengisi postingan pertama di awal tahun 2015 setelah semalaman lek-lekan sambil “fokeran” bersama saudara dan tetangga terdekat. Nah, selamat mewujudkan resolusi tahun 2015, semoga setahun mendatang menghadirkan perubahan-perubahan yang sangat bermakna bagi perbaikan dan kemaslahatan hidup, baik untuk diri-sendiri, keluarga, maupun masyarakat. ***

Tags:

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

72 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top