Home » Opini » Pendidikan, Politik, dan Karakter Bangsa

Pendidikan, Politik, dan Karakter Bangsa

(Refleksi dan Catatan Kecil Akhir Tahun 2014)

Sepanjang tahun 2014, negeri ini bagaikan pentas drama yang sarat dengan konflik dan kekerasan. Penonton (baca: rakyat) dari berbagai lini dan lapisan usia menyaksikan drama tragis itu dengan berbagai respon. Para pelaku di atas panggung politik –seperti sikap dan perilaku politisi pada umumnya—sangat apatis, bahkan cenderung mempersetankan teriakan-teriakan penonton. Mereka terus saja bermain dan bermain dengan penuh improvisasi politik yang seringkali tak terduga.

demokrasiDari kacamata politik, bisa jadi perilaku yang penuh improvisasi dengan menghalalkan segala cara untuk memikat perhatian rakyat menjadi “pakem” wajib yang mesti diikuti para politisi untuk mendapatkan kemenangan. Namun, dari sudut pendidikan politik, perilaku ala Machiavelli semacam itu tidak saja melukai nurani rakyat yang sangat mendambakan munculnya politisi elegan dan kesatria, tetapi juga menanamkan perilaku dan karakter anomali kepada generasi muda. Setidaknya, perilaku “jahat” yang menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan akan tertanam kuat dalam memori anak-anak bangsa hingga kelak mereka dewasa. Implikasinya, mereka akan meneladani perilaku jahat yang sarat anomali itu dalam kehidupan mereka kelak.

Dalam situasi demikian, dunia pendidikan kita makin rumit dan kompleks akibat makin meruyaknya perilaku dan karakter “jahat” yang tampil vulgar di depan mata. Nilai-nilai keluhuran budi yang ditumbuhsuburkan di sekolah agaknya makin kering dan layu lantaran terus tergerus oleh fakta-fakta kekerasan yang terjadi secara vulgar, masif, dan terus-menerus di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peristiwa politik yang paling “menggemparkan” sepanjang 2014 tentu saja adalah Pemilihan Umum Presiden (Presiden) yang berlangsung 9 Juli. Meski coblosan hanya berlangsung sehari, peristiwa politik yang menyertainya jauh lebih heboh, baik sebelum maupun sesudah pesta demokrasi lima tahunan itu. Rivalitas yang terjadi –karena hanya ada dua calon presiden dan wakil presiden—terasa jauh lebih kuat hempasan bandul politiknya. Dukung-mendukung antarkedua calon jelas sangat terasa. Kalau tidak mendukung calon A pasti mendukung calon B. Demikian juga halnya dengan partai politik yang tidak memiliki calon. Dengan berbagai siasat dan strategi politik, para elite partai membangun koalisi politik untuk mendukung salah satu pasangan kandidat. Mulai titik inilah rivalitas politik jadi makin keras dan vulgar. Setiap kubu koalisi saling melempar isu, bahkan “fitnah” untuk menjatuhkan lawan politiknya. Tidak ada kekuatan politik lain yang mampu “menetralisir” dan menjadi “katalisator” rivalitas politik itu. Situasi politiknya jelas akan sangat berbeda apabila ada tiga pasangan kandidat yang bersaing. Suasana politik yang terjadi jelas jauh lebih cair dan lentur.

Yang menghebohkan –seperti diduga banyak pengamat— adalah sikap politik pasca-penghitungan suara pilpres. Ternyata tidak mudah menemukan politisi yang memiliki karakter sebagai sosok negarawan. Selalu saja ada apologi politik dan berbagai trik untuk tidak mengakui hasil suara pilpres. Dugaan kecurangan menjadi siasat politik paling “jitu” untuk mementahkan hasil-hasil pilpres. Meski pada akhirnya suasana politik sudah bisa mencair dengan diakuinya hasil pilpres, toh drama politik belum juga berakhir. Koalisi politik masih terus berlanjut di gedung wakil rakyat. Rasa “dendam” dan “sakit hati” akibat kekalahannya dalam rivalitas pilpres terus mengalir ke dalam darah para wakil rakyat, sehingga dalam sidang para wakil rakyat, jutaan pasang mata anak bangsa bisa melihat dengan telanjang bagaimana vulgarnya perilaku politik para wakil rakyat di gedung dewan. Melalui “kekuasaan” dan “wewenang” yang ada dalam genggaman tangannya, mereka dengan mudah mempermainkan suara rakyat untuk memuluskan langkah politik dan kepentingan golongannya.

Namun, peristiwa politik itu sudah menjadi bagian dari literatur sejarah bangsa yang kelak akan dibaca oleh anak-cucu. Persoalannya sekarang adalah bagaimana agar sejarah politik dan demokrasi yang “kelam” itu bisa dijadikan sebagai pelajaran politik yang amat berharga bagi anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi “pelukis” masa depan bangsa yang sesungguhnya. Jangan sampai perilaku politik dan demokrasi yang sarat dengan pembusukan itu mewaris ke dalam darah dan karakter generasi muda.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam ranah kehidupan berbangsa dan bernegara, dunia pendidikan sulit untuk bisa “steril” dari berbagai persoalan sosial dan politik yang terjadi di sekelilingnya. Anak-anak negeri ini tidak hanya belajar hidup dari bangku pendidikan, tetapi mereka juga mendapatkan “asupan” pendidikan berdasarkan peristiwa-peristiwa riil yang terjadi di tengah-tengah kehidupan. Ketika peristiwa sosial-politik yang terjadi sarat dengan kekerasan dan vandalistis, secara tidak langsung anak-anak bangsa negeri ini –disadari atau tidak– juga akan mendapatkan “limbah” yang akan memengaruhi perilaku dan karakter kesehariannya.

Dalam situasi demikian, idealnya para elite dan pelaku politik di negeri ini bisa menjadi anutan sosial bagi anak-anak bangsa. Mereka sangat diharapkan menjadi sosok negarawan yang mampu menunjukkan perilaku politik yang matang, elegan, arif, dan kesatria dalam berbagai pentas demokrasi di negeri ini. Jika tidak, mata rantai kekerasan dan vandalisme yang sudah lama melilit negeri ini akan terus membelenggu karakter bangsa yang sudah lama dikenal sebagai bahasa yang memiliki keluhuran akal-budi. Haruskah bangsa yang besar dan ramah ini berubah perangai menjadi bangsa kalap dan pemarah akibat perilaku politik para elite negara yang gagal memberikan keteladanan? ***

(Sebagai catatan akhir, saya ikut berempati dan berduka cita atas meninggalnya saudara-saudara kita yang menjadi korban musibah tanah longsor di Banjarnegara dan korban pesawat AirAsia QZ8501 yang terjadi di penghujung 2014 ini. Semoga saudara-saudara kita yang telah menjadi korban mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya dan para keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian yang berat ini). ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Pendidikan, Politik, dan Karakter Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (30 Desember 2014 @ 21:51) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 24 komentar dalam “Pendidikan, Politik, dan Karakter Bangsa

  1. Pingback: bramy łódź

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *