Home » Sastra » Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi

Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi: Teriakan Paling Lantang Dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan
Oleh : Esti Ismawati

Jejak Batu Sebelum Cahaya karya Ali Syamsudin Arsy adalah buku puisi ketujuh (paling akhir) terbitan Framepublishing Yogyakarta, Oktober 2014, dari serial ‘Gumam Asa’, yang dimulai dari tahun 2009 (‘Negeri Benang pada Sekeping Papan’), dan (‘Tubuh di Hutan-Hutan’), 2010 (‘Istana Daun Retak’), 2011 (‘Bungkam Mata Gergaji’), 2013 (‘Gumam Desau dan Esai’), 2014 (‘Cau-Cau Cua-Cau’) dan terkhir ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’. Meski dikatakan sebagai gumam, yang dalam kamus berarti sesuatu yang ingin disampaikan tetapi masih tertahan di dalam mulut, saya katakan bahwa buku ini merupakan teriakan paling lantang dari seorang Ali Syamsudin Arsy dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan tentang kegelisahan dan keprihatinan saat ia meneroka alam sekitarnya.

AsaDitulis dalam gaya yang unik dengan judul yang menyatu dalam tubuh puisi, membuat buku ini lain daripada yang lain. Ada puisi yang demikian pendek bahkan lebih pendek dari judulnya, ada puisi yang begitu panjang, yang jika pembaca tak bisa menyiasatinya niscaya akan kehabisan oksigen tatkala membacanya. Puisi yang sangat pendek seperti puisi yang berjudul ‘BICARA DARI BATU KE BATU’, isinya hanya tiga kata : sudahkah wahai luka (halaman 9). Dan puisi yang panjang bahkan sampai tiga halaman penuh, seperti pada puisi yang berjudul ‘POLITIK-HUKUM-PUISI DALAM GUMAMKU’ di halaman 4 sampai dengan 6, puisi berjudul HALAMAN DARAH, yang panjangnya sampai empat lembar full di halaman 32 sampai dengan halaman 35.

Dengan menyimak puisi sesungguhnya seseorang terlibat dalam proses berpikir yang memungkinkan secara mandiri mampu membaca dengan baik sehingga ia mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh puisi tersebut, betapa pun sederhananya. Untuk itu tentu perlu pemahaman tentang anatomi puisi, sebab dalam menangkap makna dan keindahan puisi sampai batas-batas tertentu kita harus mampu menampilkan hal-hal yang tak terlihat. Secara sederhana, Marjorie Boulton membagi anatomi puisi ke dalam dua bagian, yakni bentuk fisik puisi, yang terdiri atas irama, sajak, intonasi, dan berbagai gema serta pengulangan-pengulangan; dan bentuk mental puisi yang di dalamnya terkandung struktur kaidah, urutan logis, pola-pola asosiasi, pemanfaatan citra, pola-pola citra dan emosi. Sudah tentu kita tidak dapat memilah secara tegas antara bentuk fisik dan mental puisi ketika kita menikmati sebuah puisi. Yang jelas, kombinasi yang baik antara bentuk fisik dan mental puisi akan memantulkan kekuatan pada imajinasi pembaca.

Marilah saya ajak pembaca menikmati puisi-puisi berikut ini (saya pilihkan yang pendek).

SEDANG HATIMU, masihkah jejak ke depan, sementara aku jauh di belakang menggiring sampai kabut mengaburkan. (halaman 7).

TERKEPUNG RINDU, sungguh tak mampu aku hindarkan jerat matamu dalam lingkup mendayu-serbu. (halaman 3).

TERIMALAH KARENA AKU SUNGGUH MERINDU, antara daun-daun dihembus sehembus-hembusnya (halaman 21).

Tiga buah puisi pendek dengan metafor-metafor yang indah ini menyampaikan pesan kepada pembaca bahwa sang kreator tengah disergap rasa cinta yang mendalam. Awalnya adalah rasa kemanusiaan. Cinta antara sepasang kekasih. Cinta selaku manusia. Aku lirik rupa-rupanya tak mendapatkan respon yang memadai (hahaha) sehingga ia pun terluka, sebagaimana tertulis dalam puisi di bawah ini :

BICARA DARI BATU KE BATU, sudahkah wahai luka. (halaman 9). Namun benarkah luka itu disebabkan oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan tadi?. ternyata bukan. Luka itu disebabkan karena suasana kehidupan di sini tak lagi nyaman, dengan berbagai perubahan yang merusak ekosistem, merusak pola budaya setempat, sebagaimana dikatakan di halaman 20, ‘di dinding-dinding gelap hampa udara ada yang masih tak mampu menerima bahwa nenek moyangnya dahulu telanjang dada telanjang kaki telanjang tanpa busana kulit kayu dan daun pembungkus bulu dan seterusnya, kini berlapis kemeja berlapis warna-warna.

Di akhir puisi ‘JEJAK BATU SEBELUM CAHAYA’ itu tahulah kita bahwa sesungguhnya luka itu disebabkan oleh kehidupan yang semakin sulit karena penguasa, sebagaimana tampak dalam kutipan berikut ini :

“batu menjadi tajam batu menjadi api batu menjadi istana batu dalam remah-remah kata tersusun rapi tersusun rapi sebagai puisi menari-nari di antara rimbun puing-puing asmara dosa dan reruntuhan sepi atas sunyi bertumpuk saling menindih senyap atas getir bagi para penulis di jalan-jalan entah adakah istana yang sejatinya menggaungkan bunyi demi bunyi selain jerit dan sakit gemerlap emas sebagai puing demi puing di remah nasi para telapak tangan tengadah dan membungkuk badan karena hidup semakin disulitkan oleh para penguasa, penguasa atas atas batu dan debu-debu”…. duh, alangkah nestapanya.

Diksi yang dipilih dalam puisi ini sungguh-sungguh tepat dan sangat mengena untuk menggambarkan betapa penderitaan atau luka hidup itu bukan hanya dimuliki oleh pengemis, peminta-minta (tangan tengadah dan membungkuk badan), melainkan para penulis (profesi terhormat pun) juga mengalami hidup yang tidak enak atau hidup yang sulit. celakanya, bukan karena alam yang menyebabkan ini semua terjadi, melainkan karena hidup semakin disulitkan oleh para penguasa. Ini bukan sekedar gumam. Ini adalah sebuah terikan yang sangat keras dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Hidup semakin disulitkan oleh para penguasa, sungguh merupakan sebuah kalimat dengan diksi menawan, disulitkan, bukan sulit. Jadilah sebuah kritik yang tajam kepada para birokrat, yang seharusnya mereka bertugas melayani, memudahkan hidup tetapi justru sebaliknya, menyulitkan hidup.

Ungkapan lain dari teriakan Ali Syamsudin Arsy dapat dibaca di halaman 31 dalam puisi yang bertajuk NOVEL DAN PENJINAK BOM. Di sini dikatakan “engkau semakin lincah dalam tari seindah liuk dan gemulai wahai novel yang menggeliat di genggam tanganmu berdebu sedebu-debu mengupas catatan darah di halaman sejarah karena sebuah negeri yang tak mau tahu asal-usul penulisnya sendiri – itu menjadi penjinak bom atas kesadaran yang dibungkam – novel pun melayah-layah di semak dan hutan bakau meremas keheningannya pada pucuk-pucuk capaian sementara darah mengalir terus sama dengan tragedi pada lorong jalan dan gang sempit bernama ruang-ruang – seorang penjinak bom terkapar di kamarnya sendiri – orang-orang di luar sibuk membaca berita kapan terbit novel terbaru atas sejarah hidup dari penjinak bom yang meledak tubuh terberai antara gemuruh dan cakar-cakar”.

Sebuah teriakan yang melengking tajam dengan ironi-ironi yang memesona. Orang tak lagi peduli lingkungannya, sebuah bentuk egoisme sektoral (seorang penjinak bom terkapar di kamarnya sendiri) sementara orang-orang di luar sibuk membaca berita kapan terbit novel terbaru atas sejarah hidup dari penjinak bom yang meledak. Dan ironisnya lagi tergambar dalam puisi berikut ini :

MONOLOG LUMUT DI BATU-BATU, para penonton sudah lama pergi sedang aku masih berdiri di batas titik sembilan panggung sunyi tanpa tepuk tangan hanya ada moncong senjata dan kilau belati. (halaman 8).

SUNGGUH JEJAK LANGKAH, batu-batu tajam berserak aku kadang tak dapat bergerak ada senyap menghentak-hentak. (halaman 22).

Suasana yang sangat miris. Bahkan dalam arena kebudayaan pun digunakan pendekatan kekuasaan, kekerasan (panggung sunyi tanpa tepuk tangan hanya ada moncong senjata dan kilau belati), sebuah gambaran suasana yang mencekam, yang tidak menenteramkan hati. Ada batu-batu tajam berserak aku kadang tak dapat bergerak ada senyap menghentak-hentak. Kondisi ini diperparah lagi dengan kerusakan lingkungan yang disebabkan juga oleh tangan manusia, sebagaimana tampak dalam puisi berikut ini :

JALAN CERPEN MENUNGGU WAJAHMU SEPI, serasa arus menuju lorong dan sungai-sungai sangat sungai tersumbat arus dalam derasnya. (halaman 30).

Sungai-sungai yang tersumbat adalah sebuah fore shadowing untuk munculnya musibah yang dasyat, yakni banjir bandang. Mestinya pencegahan atau pendekatan preventif lebih dikedepankan daripada kuratif, penyembuhan setelah luka. Pendekatan itu bisa menggunakan local wisdom sebagaimana tampak dalam puisi berikut ini :

ENGKAU, sehelai bulu lembut dalam sayap-sayap, dan sayap pun merayap-rayap. (halaman 14).

RINDU MENGALIR, ADA ANGIN SEMILIR, di saat datang bayangmu kekasih. (halaman 23).

Bahwa pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan kemanusiaan. Memanusiakan manusia, dengan memberikan suasana yang sejuk yang memungkinkan kehidupan ini berjalan penuh harmoni. Tidak perlu menggunakan jalan kekerasan, karena pada hakikatnya manusia itu memiliki hati nurani yang bersih, yang cepat tersentuh oleh kelembutan semilir angin, yang terbuka dengan iklim yang sejuk, karena sesungguhnya kita adalah bangsa yang penuh rasa, yang berorientasi pada rasa, karena kita bukanlah bangsa barbar. Perasaan kita halus seperti angin yang perlahan masuk ke jiwa putih kita, karena

PEMBATAS TUBUH, tipis setipis angin. (halaman 28).

Demikianlah ulasan singkat atas puisi-puisi unik karya Ali Syamsudin Arsy. Keunikan paling nyata terletak pada bentuk fisiknya yang tak lazim sebagaimana puisi-puisi biasanya. Hal ini memerlukan kecerdikan tersendiri untuk menyikapinya. Kendala lain adalah sempitnya jarak antara tulisan dengan batas penjilidan, sehingga terkadang harus diruda-paksa agar bisa terbaca semuanya. Bagian akhir dari buku ini berkisah tentang Palestina, yang kiranya lebih pedih lagi dirasakan penderitaan rakyatnya, karena arogansi Israel yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Dilihat dari kaca mata itu, kesulitan hidup kita agak lebih kecil dibandingkan mereka. Oleh karena itu kita perlu bersyukur. Bukankah jika kita bersyukur Allah akan menambah nikmatnya kepada kita semua? Wallohualam bisawab.

Klaten, 9 Desember 2014
Esti Ismawati, dosen di salah satu Universitas Tegal

Komentar dari : Bapak Soediro Satoto

Puisi, sebagai salah satu genre Seni Sastra (bukan sekadar wujud bahasa) bersifat ‘interpretable’, multi tafsir dan multi makna. Setiap penikmat sastra, pemerhati sastra, guru/dosen sastra, pakar sastra, kritikus sastra, bahkan penulis sastra yang bersangkutan, sama-sama punya hak melakukan ‘pembacaan’ , pengamatan , pengkajian atau penganalisisan, dan pemahaman (makna) sastra sebagai objek kajian dengan rujukan teori, metode, pendekatan, atau teknik dan strategi pengkajian/penganalisisan yang dipahami (tidak sekadar diketahui atau dimengerti), dipilih dan dipergunakan — Setiap Puisi, sebagai karya seni, adalah bersifat unikum. Tidak bisa digeneralisasi. Sebuah puisi, dikaji, dianalisis, ditafsirkan, kemudian dimaknai oleh, misalnya, 100 kritikus satra puisi (bukan 100 kritikus sastra umum), hasilnya akan 100 macam pula. Hasil penafsiran, pemahaman, dan hasil pemaknaannya. wajar jika bisa berbeda-beda. Tidak ada kebenaran tunggal dalam penafsiran dan pemaknaan wacana apa dan mana pun, apalagi wacana seni (dalam hal ini Seni Puisi). Tidak ada kebenaran tunggal dan paling benar serta paling tepat dalam hal teori, metode, atau pendekatan yang dipakai sebagai rujukan analisisnya. Seni Sastra yang sedang dijadikan objek kajian perwujudannya adalah sebuah teks. Sebagai tebuah teks, ia adalah memiliki kategori atau genre wacana tertentu, ialah wacana Seni Sastra. Sebagai teks seni sastra ia bisa berkonstruksi dengan teks-teks lain secara intra teks, antar teks, atau interteks dengan teks-teks lain, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik, baik secara implisit maupun eksplisit — dan jangan lupa, juga berkonstruksi dengan berbagai jenis konteksnya. Teks – Konteks, dalam wacana apa Seni Sastra jenis Puisi yang dikaji itu diposisikan? Itulah sebabnya baik dalam proses mencipta dan mengkaji wacana puisi tidaklah semudah mengkaji, menafsirkan, dan memahami wacana lain (non-sastra). Perhatikan, memahami arti dan makna wacana politik dan hukum di Indonesia akhir-akhir ini tidaklah mudah, bukan? — Apalagi memahami Seni Sastra, dalam hal ini puisi. Mengapa upaya apa pun untuk share dalam memahami Puisi di media digital atau fiber seperti ini adalah positih. Perlu diapresiasi. Selama ini ada kesan terjadi ‘pembodohan sastra’ di Lembaga Sekolah Formal. Perlu kita coba proses ,pencerdasan sastra’ di luar sekolah formal seperti yang terjadi di media sosial seperti pada ‘sastra digital’ dan ‘sastra fiber’ seperti ini. Kita tidak perlu ada ragu-ragu atau suudhon bahwa fenomena pengembangan sastra dengan sentuhan tegnologi digital atau tegnologi fiber, seni sastra akan kehilangan kreatifitas dan imaginitas. Jangan-jangan bahkan akan sebalinya. Perlu kita coba dan amati perkembangannya. Akhir kata, saya sangat-sangat mengapresiasi kreatifitas Ibu Esti Ismawati, baik yang dilakukan di lembaga Sekolah Formal (budaya ‘Sastra Ensiklopedi – Kamus’, dan budaya ‘Sastra Alabetis/Buku), maupun via media digital dan fiber, berkat sentuhan tegnologi semakin canggih — secanggih proses imaginasi dan apresiasi sastra, termasuk puisi. Budaua ‘urun angan’ harus diubah ke budaya ‘turun tangan’ (menyomot istilah Mendikbud Anies Baswedan). ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (20 Desember 2014 @ 21:33) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 1 komentar dalam “Membaca ‘Jejak Batu Sebelum Cahaya’ Karya Ali Syamsudin Arsi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *