Seni Rakyat Tidak Akan Pernah Mati

Kategori Budaya Oleh

Tidak sedikit kalangan yang pesimistis bahwa seni rakyat akan punah dan mati di tengah gerusan arus global yang begitu dahsyat pada abad ke-21 ini. Pesimisme semacam itu memang tidak berlebihan ketika proses regenerasi seniman rakyat dinilai berlangsung lamban, jalan di tempat, bahkan stagnan. Imbasnya, pertunjukan seni rakyat yang sarat dengan nilai kearifan lokal jarang muncul, bahkan tidak pernah pentas lagi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Seni pertunjukan rakyat sudah jauh terdesak ke semak-semak peradaban dan hilang ditelan zaman.

Namun, jika kita menengok daerah-daerah pedesaan yang memiliki banyak kantong seni rakyat, pesemisme semacam itu tidak terbukti. Para pelaku seni rakyat dengan kesadaran kulturalnya yang luar biasa masih amat setia berada di “habitat” keseniannya. Mereka dengan amat sadar melakukan regenerasi secara berkelanjutan dan terus-menerus di tengah terpaan angin global yang begitu kencang. Bahkan, mereka mampu melakukan pentas secara rutin dalam berbagai event, baik di daerahnya sendiri maupun ke daerah-daerah lain.

Daerah Kendal, misalnya, merupakan salah satu daerah yang masih menyimpan banyak seniman tradisi yang masih amat setia menjaga “marwah” kesenian rakyatnya. Para seniman tradisi begitu setia melakukan proses regenerasi dengan merangkul seniman-seniman muda untuk melestarikan sekaligus mengembangkan seni rakyat yang sesuai dengan tuntutan “selera” zaman. Sesekali, group seni rakyat dari Kendal mengemban misi kesenian untuk mewakili Jawa Tengah dalam event bergengi di tingkat nasional, khususnya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Yang mengagumkan, setiap kali ada pentas seni rakyat, masyarakat dari berbagai lapisan usia berbondong-bondong untuk menikmatinya.

Dalam situasi demikian, yang layak diapresiasi, bukan hanya seniman tradisi yang masih amat setia menjaga “marwah” keseniannya, melainkan juga apresiasi masyarakat yang luar biasa. Setiap kali ada pentas seni rakyat, masyarakat tak pernah ketinggalan untuk memadati arena pentas.

Dalam amatan awam saya, fenomena semacam itu menunjukkan bahwa seni rakyat tidak akan pernah mati selama para pemangku seni rakyat, termasuk masyarakatnya, masih memiliki kesadaran kultural untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya. Agaknya, masyarakat yang kini berada di tengah pusaran arus globalisasi, mulai jenuh dengan seni modern, lengkap dengan berbagai atribut gemerlap dan glamour-nya. Masyarakat mulai rindu dengan kehadiran seni rakyat yang dianggap tidak hanya sekadar menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang mampu memperkuat “kesejatian diri”. Tidak berlebihan apabila setiap kali ada pentas seni pertunjukan rakyat, arena pentas selalu penuh dengan penonton dari berbagai lapisan usia. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

9 Comments

  1. Soal bahasa aja sudah nampak kok pak. Saat ini, anak kecil sudah diajari bahasa Indonesia semua, dulu ketika aku kecil, anak2 diajari boso kromo kalau beli di warung.

    Sekarang ortunya aja ngomong pakai bahasa Indonesia ke anaknya. Yah, memang akan punah sih boso kromo inggil dalam 10 tahun ke depan mungkin..

    • Bener banget, Mas Ndop. Gejala semacam itu hampir merata terjadi di berbagai tempat dan derah. Padahal, UNESCO sendiri sudah menetapkan Hari Bahasa Ibu yang mengingatkan agar setiap warga di negaranya masing-masing jangan lupa bahasa ibu alias bahasa daerah sebagai salah satu penyangga budaya lokal.

  2. agak memilukan kalau saja yang menjaga seni rakyat bukan lagi seniman dan juga masyarakat kita, melainkan orang luar yang begitu tertarik untuk memperlajari dan melestarikannya. Memang benar pak, bahwa seni rakyat tidak akan pernah mati, tapi relakah kita menyaksikan bukan kita yang melestarikan dan menjaganya 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top