Home » Pendidikan » Pro-Kontra Penghentian K-13 Belum Juga Berakhir

Pro-Kontra Penghentian K-13 Belum Juga Berakhir

Meskipun Mendikbud, Anies Baswedan telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor: 179342/MPK/KR/2014 tanggal 5 Desember 2014 tentang Pelaksanaan Kurikulum 2013, perdebatan belum juga berakhir. Dalam dua hari terakhir ini sikap pro dan kontra di berbagai media sosial tampil begitu masif. Ada yang setuju dan mengamini penghentian pelaksanaan K-13 di sekolah-sekolah non-piloting, tetapi yang sedih dan kecewa juga tidak sedikit jumlahnya. Konon kabarnya, banyak kepala sekolah yang selama ini sudah merasa “enjoy” dengan K-13, tak sanggup menyembunyikan kekecewaannya. Bahkan, Hendra Intadja, salah seorang guru yang kebetulan menjadi Wakasek Kurikulum di salah satu sekolah di Manado, Sulawesi Utara, dalam statusnya di group Facebook Ikatan Guru Indonesia (IGI) secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya.

Tak kurang, mantan Mendikbud, M. Nuh, dan Wamendikmud, Musliar Kasim –sebagaimana dilansir berbagai media online –pun tak sanggup menutupi kesedihan dan kekecewaannya.

“Terus terang saya sangat kecewa dengan penghentian kurikulum 2013 ini,” ujar M Nuh, Minggu (7/12). Ia menyatakan bahwa dulu saat meluncurkan Kurikulum 2013, banyak pihak yang menganggapnya tergesa-gesa melakukan langkah tersebut. Nah sekarang, dia melihat penghentian Kurikulum 2013 ini tak ubahnya dengan tudingan yang dia dapatkan dulu.

“Kalau dulu kita dibilang tergesa-gesa. Ini kurang dari satu bulan, sudah diambil keputusan. Padahal ini sesuatu yang luar bisa dan menyangkut khalayak banyak,” ujar Nuh. Lebih lanjut, M. Nuh menyatakan bahwa pada tahun 2013, pemerintah sudah mulai menerapkan kurikulum 2013 pada 6.013 sekolah. Dan selama penerapan itu menurutnya tidak ada persoalan substansif yang muncul.

“Kalau memang ada, taruhlah memang menyesatkan begitu. Tentu pada 6.013 sekolah itu juga diberhentikan,” tegasnya.

kurikulum 2013Hal senada juga diungkapkan oleh Mantan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim. Ia menyayangkan keputusan Menteri Pendidikan Anies Baswedan menghentikan Kurikulum 2013. Terlebih, Anies meminta sekolah yang baru menerapkan kurikulum itu kurang dari tiga semester tak melanjutkan pelaksanaannya di semester genap nanti. Lebih lanjut Musliar menyatakan, ada banyak sekolah yang telah siap melanjutkan kurikulum itu meski mereka baru menerapkannya pada tahun ajaran 2014/2015. Menurutnya, banyak kepala sekolah yang menghubunginya saat mereka mendengar Anies menghentikan penerapan kurikulum tersebut. “Banyak yang bilang ‘loh ini kenapa, kami sudah senang’,” kata Musliar menirukan ucapan para kepala sekolah itu.

Musliar mengatakan, para kepala sekolah ini mengaku menyukai kurikulum baru itu. Mereka menilai kurikulum tersebut lebih sederhana dibanding kurikulum sebelumnya. Murid juga bisa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. “Guru-guru juga enak menerapkannya,” ujarnya. Selanjutnya, Musliar menyarankan agar Anies Baswedan tak menghentikan kurikulum itu untuk sekolah yang baru memakainya tahun ini. Anies diminta tetap melanjutkanya untuk sekolah yang mau dan telah siap. “Kalau orang yang arif mestinya mempersilakan sekolah yang sudah siap, jangan melarang,” ujarnya. Terlebih, tegasnya, anggaran untuk menerapkan kurikulum sudah disiapkan.

Ya, ya, begitulah ketika kurikulum yang seharusnya menjadi instrumen untuk melahirkan generasi masa depan yang unggul dan hebat, telah tereduksi secara politis. Kepentingan-kepentingan pragmatis yang sesuai dengan selera dan kepentingan kekuasaan jauh lebih diutamakan ketimbang nasib masa depan anak-anak bangsa. Kalau kita melakukan kilas balik sejenak, Kurikulum 2013 (K-13) boleh dikatakan belum matang benar. Uji publik tidak dilakukan secara komprehensif, baik secara geografis maupun buat para pemangku kepentingan. Kesan yang muncul, uji publik K-13 hanya dilakukan untuk mendapatkan legitimasi dari pihak-pihak tertentu yang dianggap mendukung pelaksanaan dan implementasinya. Sedangkan, suara-suara yang menentang desain dan substansi K-13 tidak terakomodasi sepenuhnya pada saat proses uji publik. Lebih-lebih setelah proses uji publik yang singkat itu dilaksanakan, muncul kebijakan bahwa semua sekolah wajib menerapkan K-13 di dua kelas sekaligus. Kebijakan semacam itu jelas membuat para pihak yang gencar menentang K-13 makin tidak respek dan kehilangan simpati. Akibatnya, suara-suara yang kontra bagaikan “bom waktu”. Ledakan dahsyat itu terjadi pasca-pergantian rezim penguasa. Mereka yang selama ini menentang pelaksanaan K-13 terus mendesak Mendikbud, Anies Baswedan, untuk segera melakukan evaluasi total terhadap K-13, hingga akhirnya terbentuk Tim Evaluasi Implementasi Kurikulum. Tim inilah yang diberi amanat untuk memberikan rekomendasi tentang implementasi K-13 yang dianggap belum matang itu.

Berdasarkan hasil kerja Tim Evaluasi Kurikulum, ada tiga pilihan yang disodorkan kepada Mendikbud. Pertama, menghentikan implementasi Kurikulum 2013 sambil menyempurnakan seluruh komponen dan perangkat Kurikulum 2013. Kedua, meneruskan implementasi Kurikulum 2013 untuk sekolah yang sudah siap melaksanakan sambil melakukan perbaikan. Ketiga, meneruskan implementasi Kurikulum 2013 di seluruh sekolah sambil melakukan perbaikan.

Dari berbagai sudut pertimbangan dan demi mengakomodasi suara-suara yang selama ini gencar menentang implementasi K-13, Mendikbud akhirnya memilih pilihan pertama, yakni menghentikan implementasi Kurikulum 2013 sambil menyempurnakan seluruh komponen dan perangkat Kurikulum 2013. Hanya sekolah yang sudah melaksanakan K-13 selama tiga semester yang dinyatakan tetap melaksanakan K-13. Sedangkan, sekolah-sekolah yang baru melaksanakan K-13 selama 1 semester harus menghentikannya dan kembali menerapkan Kurikulum 2006.

Kebijakan “pahit” itu memang harus diambil oleh Mendikbud dalam menghadapi situasi transisi dalam dunia pendidikan kita. Sekolah sudah mulai meninggalkan Kurikulum 2006 (KTSP), tetapi mereka juga belum siap benar untuk menerapkan K-13. Dalam situasi transisi seperti itu, sangat bisa dipahami kalau kebijakan Mendikbud tidak bisa memuaskan semua pihak.

Meskipun demikian, secara jujur mesti diakui, kebijakan Mendikbud yang “pahit” dalam situasi transisi itu akan memberikan dampak psiko-sosial yang sangat serius, baik bagi peserta didik, guru, maupun sekolah. Peserta didik yang menimba ilmu di sekolah-sekolah non-piloting harus menjadi “korban”. Pembelajaran yang mereka ikuti selama satu semester jadi mubazir. Guru yang selama ini telah “berdarah-darah” mengikuti Diklat dan menyiapkan setumpuk perangkat untuk menyongsong sebuah “perubahan” akhirnya juga harus gigit jari. Demikian juga sekolah yang telah berupaya serius untuk menyiapkan anggaran dan perlengkapan lainnya, terpaksa harus menelan kekecewaan. Belum lagi implikasi sosial yang terjadi ketika dunia pendidikan kita harus menerapkan kurikulum yang berbeda. Apa yang terjadi seandainya nanti sama-sama lulusan SD, SMP, SMA/SMK, tetapi mereka memiliki derajat kompetensi yang berbeda. Apalagi buat lulusan sekolah kejuruan yang sudah siap memasuki dunia kerja. Haruskah mereka nanti akan mendapatkan perlakuan yang berbeda di dunia usaha karena perbedaan kompetensi? Rumit memang kalau sudah berbicara tentang out-put dan out-come lembaga pendidikan yang menerapkan kurikulum yang berbeda.

Begitulah kondisi riil dunia pendidikan kita. Negeri lain sudah melaju mulus di atas jalan tol peradaban dunia, tetapi bangsa kita masih bersikutat di balik semak-semak “kurikulum”. Agaknya, kita perlu “cooling-down” agar situasi transisi itu tidak membuat kita, khususnya para guru yang kembali akan “dimuliakan” dan “dimartabatkan”, terjebak pada ruang perdebatan yang menguras pikiran dan energi. Mari kita kembali merangkul anak-anak kita dengan sentuhan cinta dan kasih sayang yang tulus, apa pun kurikulum yang kita gunakan. Itu saja! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Pro-Kontra Penghentian K-13 Belum Juga Berakhir" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (7 Desember 2014 @ 13:32) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 12 komentar dalam “Pro-Kontra Penghentian K-13 Belum Juga Berakhir

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *