Home » Pendidikan » Kurikulum dan Dunia Pendidikan sebagai “Katalisator” Perubahan

Kurikulum dan Dunia Pendidikan sebagai “Katalisator” Perubahan

Sejak awal, Kurikulum 2013 (K-13) memang bermasalah. Tidak hanya uji publik yang mentah, tetapi juga substansi materi pembelajaran yang tidak tergradasi secara runtut dan sistematis. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, misalnya, materi pembelajaran jenjang SMP justru jauh lebih rumit dan kompleks ketimbang SMA. Belum lagi pembelajaran di SD yang harus menggunakan pendekatan tematik-integratif. Tidak ada keterkaitan materi secara linear antarjenjang sekolah yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam sebuah konsep kurikulum. Yang lebih menyedihkan adalah kehadiran Pedoman Mata Pelajaran (PMP), yang menjadi lampiran III Permendikbud No. 58 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 SMP/MTs. PMP ini bukannya meringankan beban guru mata pelajaran, melainkan justru makin membuat guru bingung. Tidak hanya soal ejaan yang kacau, tetapi juga muatan isi yang tidak kohesif dan koherensif, baik antarkalimat maupun antarparagraf. Kesan yang muncul, PMP dibuat dalam suasana ketergesa-gesaan dan keterpaksaan tingkat tinggi untuk memburu “deadline”.

K13Namun, lantaran dipaksakan untuk diimplementasikan secara serentak sejak 2014/2015, mau atau tidak, institusi pendidikan mesti “sendika dhawuh”. Belum lagi pada tataran teknisnya. Selain pelatihan guru yang tidak optimal, pendampingan di sekolah sasaran yang seadanya, atau pendistribusian buku yang amburadul, juga aspek penilaian yang terlalu rumit dan njlimet dengan menggunakan model konversi dan predikat nilai kualitatif yang hingga saat ini masih sering dipertanyakan rasionalitasnya.

Meskipun demikian, tidak lantas berarti K-13 miskin kelebihan. Nuansa saintifik yang dijadikan sebagai pendekatan pembelajaran, setidaknya mampu menjadi salah satu pemicu bagi guru untuk mengubah mindset-nya. Siswa tidak lagi diperlakukan bak “tong sampah keilmuan” yang hanya menerima suapan dari guru, tetapi diposisikan sebagai subjek didik yang aktif mengamati, menanya, mengumpulkan data, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan, (serta mencipta). Dalam situasi pembelajaran semacam ini akan terjadi suasana dialogis dan interaktif antara guru dan siswa sehingga akan terbangun budaya keilmuan di ruang-ruang belajar. Harapannya, kemampuan berpikir dan bernalar siswa yang selama ini nyaris tak pernah disentuh para guru, setidaknya akan terpicu “adrenalin”-nya untuk mengembangkan potensi intelektualnya secara optimal.

Di tengah suasana global yang kian kompetitif seperti saat ini, negeri ini membutuhkan sosok generasi masa depan yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya. Melahirkan sosok generasi semacam itu jelas bukan persoalan mudah. Apalagi, situasi sosial kita belakangan ini acapkali menyuguhkan perilaku chaos, vandalistik, agresif, dan koruptif yang justru sering dipertontonkan secara vulgar oleh orang-orang yang secara sosial seharusnya menjadi sosok anutan. Dalam situasi demikian, dunia pendidikan mesti mengambil peran untuk menjadi “katalisator” perubahan. Ibarat sebuah padepokan, dunia pendidikan harus mampu menggembleng para “cantrik” menjadi sosok generasi pinunjul melalui sentuhan tangan para “resi” yang arif, cerdas, kreatif, inovatif, dan penuh rasa cinta.

Dunia pendidikan akan sanggup menjadi “katalisator” perubahan apabila desain kurikulumnya benar-benar disusun secara cermat dan matang sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Terkait dengan revisi total terhadap K-13, menurut hemat saya, memang menjadi sebuah keniscayaan. Sungguh konyol apabila harus melakukan moratorium K-13 dan kembali ke KTSP. Tidak hanya berkaitan dengan besarnya anggaran negara yang telah digelontorkan, tetapi juga persoalan nasib anak-anak yang sudah mulai “menikmati” nuansa saintifik yang ada dalam pembelajaran K-13. Haruskah budaya keilmuan yang sudah mulai terbangun di ruang-ruang belajar kembali dirobohkan? Bukankah KTSP dulu juga pernah menimbulkan pro dan kontra karena hanya menyuburkan budaya copy-paste di kalangan guru?

Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana melakukan revisi total terhadap K-13 agar benar-benar menjadi desain kurikulum yang sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman. Jika konsep kurikulumnya benar-benar cermat dan matang dengan gradasi materi yang runtut dan sistematis (baik antarjenjang maupun antarkelas) –tentu saja harus melibatkan para pemangku kepentingan pendidikan,  selanjutnya melangkah ke persoalan teknis implementasi. Selain penyederhanaan aspek penilaian –tanpa mencederai prinsip utuh dan komprehensif, juga pelatihan guru harus benar-benar optimal dan mencerahkan, distribusi buku tepat waktu, dan berbagai persoalan teknis implementasi lainnya. Jika persoalan ini teratasi, secara bertahap dan berkelanjutan, dunia pendidikan kita akan benar-benar mampu menjalankan perannya sebagai “katalisator” perubahan. Nah, itu saja. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kurikulum dan Dunia Pendidikan sebagai “Katalisator” Perubahan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 Desember 2014 @ 13:37) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 6 komentar dalam “Kurikulum dan Dunia Pendidikan sebagai “Katalisator” Perubahan

  1. K13 walau saya sendiri belum menerapkan dalam pembelajaran, tapi sya sudah pernah dikirim untuk mengikuti diklatnya. Memang pembelajaran bisa lebih menyenangkan tetapi penilaiannya lah yang benar-benar membuat bingung, demikian juga keluh rekan guru yg telah menerapkan K13

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *