Home » Cerpen » Sastra » Puisi yang Terjun Bebas dari Lantai 2014 *

Puisi yang Terjun Bebas dari Lantai 2014 *

Cerpen oleh Gus Noy

Puisi terjun bebas dari lantai 2014 Menara Penyair. Begitulah kabar dari Ali Arsy yang kemudian disampaikan oleh Hasan Aspahani.

“Mampus! Terjun bebas dari lantai lima saja bisa mampus, apalagi…”

Catatan Sawali Tuhusetya“Hei, Oji! Kau bukan siapa-siapa, tak usah mikir susah!” potong Hery Latief.

“Yang bukan penyair, dilarang berkomentar!” tambah Saut Situmorang. “Urusan kau adalah bikin kopi dan menyiapkan bir untuk kami setiap datang ke sini. Paham kau?!”

Oji menggaruk-garuk jidatnya yang sudah tandus. Puisi memang belum dikenalnya karena belum pernah singgah di warungnya. Tapi tidak urung kabar itu membuatnya berpikir, meskipun ia bukanlah penyair ataupun pengukir kata-kata indah, bukan pula seorang pemikir sekitar dunia aksara. Hanya saja, kebetulan, perjamuan kata-kata para penyair dan seniman selalu diselenggarakan di warungnya dari malam hingga bulan ludes diseruput subuh.

“Biarkan Oji berpikir,” kata Ragil Sukriwul, “biar botaknya adil-merata.”

“Nanti dia dikira pengikutnya Afrizal Malna lho,” celetuk Mario F. Lawi.

“Biarkan sajalah,” sahut Hasan Aspahani. “Mau jadi pengikut ataukah epigon, suka-suka dia. Toh dia tidak akan pernah mencipta sepucuk sajak.”

“Hahahaha. Dasar bukan siapa-siapa!” Wayan Sunarta terpingkal-pingkal di kursinya.

“Ya, biarkan saja botak total. Soalnya, dia sengaja membunuh anak-anak rambutnya sendiri,” sambung Hasta Indriyana sambil mengepulkan asap rokok kreteknya.

“Ayolah kembali fokus!” sela T.S. Pinang yang sedang asik membuat sketsa situasi obrolan meja bundar. “Puisi yang terjun dari lantai 2104 itu tidak bisa kita biarkan gara-gara Oji dan rambutnya. Ini sangat serius! Harus dicari sumber beritanya alias saksi kuncinya.”

“Ali Arsy, maksudnya?”

“Ya, iya, Hasta. Justru kita yang harus terlebih dulu menanyakannya langsung pada Arsy sebagai saksi mata di tempat kejadian. Kita tidak mau kabar itu hanya hoax. Kita juga tidak mau kabar itu semata-mata suatu manuver kalangan politikus sastra.”

“Di mana dia sekarang, San?”

“Sejak mengabarkan berita itu, Arsy menghilang,” jawab Hasan Aspahani. “Tidak pernah lagi muncul di media jejaring sosial. Nomor ponselnya tidak aktif. Aku cari di tempatnya, tidak ada. Aku sudah hubungi kawan-kawannya tapi kata mereka ‘Arsy menghilang’. Apakah di antara kawan-kawan ada yang pernah melihatnya satu hari ini?”

“Belum.”

“Tapi,” sela Heri Latief, “dengan nekat terjun bebas begitu, kira-kira apa, ya, sebabnya? Adakah yang pernah dengar curhat-nya atau lagi galau akhir-akhir ini?”

“Mungkin frustasi gara-gara dijerumuskan dalam kampanye politik oleh pihak-pihak yang tidak memahami hakikatnya,” jawab Aan Mansyur.

“Malah sangat mungkin! Lantas diterjang peluru, dan dijatuhkan dari lantai 2014!”

“Lho, jangan ‘mungkin’ dong. Kita harus dapatkan faktanya,” ujar Heri Latief.

*

Puisi yang terjun bebas dari lantai 2014, meski baru ‘kabar’, sudah menimbulkan kegaduhan di kalangan penyair serta seniman dan meningkatkan kesibukan Oji di warungnya malam itu.

Mereka mendadak mengadakan pertemuan kilat-darurat saat itu juga. Beberapa di antaranya segera mengirimkan pesan singkat melalui ponsel dan media elektronik lainnya untuk mengajak para penyair dan seniman lainnya datang, diskusi, dan bertindak bersama.

Otomatis Oji harus melayani permintaan tambahan ‘doping’ mereka, khususnya kopi. Tidak banyak yang minum bir tetapi tidaklah demikian dengan kopi, apalagi kopinya asli lokal olahan Sarmun, kawannya sendiri, yang pasti tidak diolah seperti industri massal.

Jadilah malam itu pertemuan tidak seperti biasa. Biasanya mereka, meski hanya dua-tiga penyair, membicarakan perihal perkembangan sastra masa kini, dan ramalan-ramalan masa depan, sampai-sampai ia bisa mengetahui nama-nama seperti Umbu Landu Paringgi, Remy Sylado, Goenawan Moehammad, Rendra, dan seterusnya, selain nama-nama penyair zaman sebelumnya disebut-sebut guru sewaktu di bangku sekolah menengah pertamanya.

“Kita harus membagi tugas, kawan-kawan!” kata Cunong Nunuk Suraja. “Paling tidak, ada tugas besar, dan terbagi dalam tiga rombongan.”

Di warung berbentuk panggung itu mereka membagi tugas. Rombongan pertama, datang langsung ke tempat kejadian, yaitu Menara Penyair. Rombongan ini bertugas menggali data, informasi pelengkap, dan lain-lain.

Rombongan kedua, mencari mayat puisi di manapun. Apakah mayat puisi sedang tersimpan di sebuah rumah sakit, dimakamkan atau malah dibuang entah dimana. Tapi, sebelum dimakamkan, mereka harus menemukan terlebih dulu keberadaan puisi itu. Bagaimana kondisi aslinya supaya mereka bisa mendapatkan fakta, apakah puisi itu bunuh diri, kecelakaan akibat keteledoran, dicelakakan orang lain, atau apa lagi.

“Puisi jangan sampai diotopsi! Berbahaya karena kita bisa dikibulin oleh oknum-oknum!” ujar Heri Latief.

“Berarti kita harus segera bergegas, Bang!” sambut Ciu Cahyono.

“Hasan Aspahani bisa memimpin rombongan investigasi ini. Bagaimana, San?”

“Beres, Meneer!”

Rombongan ketiga, mencari Ali Arsy di tempat-tempat yang sering dikunjunginya. Mereka harus menemukan Arsy karena, selain sebagai saksi mata, juga dikhawatirkan bahwa Arsy akan ‘dihilangkan’ oleh oknum-oknum tertentu.

“Sudah cukup Wiji Thukul yang ‘dihilangkan’, jangan ada lagi penyair yang dihilangkan oleh rezim atau oleh petugas khusus!” kata Saut Situmorang.

Di situ hanya Oji tidak kebagian tugas apa-apa karena ia memang bukan siapa-siapa. Jangankan mendapat tugas baru semacam itu, tugasnya sekarang saja masih belum beres. Logistik khusus kopi, gula, dan bir sudah menipis, kendati belum setipis rambutnya.

“Siap?”

“Siap dong birnya, Bang. Selalu siap untuk Abang dan kawan-kawan Abang.”

“Puisi jauh lebih penting daripada bir kau itu, Oji!” sahut Saut Situmorang. “Tapi, sini, bawa bir dua botol lagi!”

*

Rombongan pertama mendatangi Menara Penyair. Sayangnya, dari gerbang hingga pagar keliling tempat itu sudah dililit tanda larangan dan segel dari polisi. Dijaga ketat pula oleh pamong praja, polisi, tentara, dan organisasi massa yang siap melakukan kekerasan.

“Kalian mau ngapain?”

“Mau…”

“Mau dipentung?! Mata kalian taroh di mana?! Apa tidak bisa membaca tulisan “garis batas polisi” dan “untuk sementara gedung ini disegel” yang banyak ini?!”

“Ah, Bos ini, janganlah terlampau galak.”

“Apa?! Bos?! Mau menjilat pantat kami rupanya!”

“Bukanlah begitu, Bos. Kalau kami sebut ‘Sob’, itu jelas menjilat. Sok akrab, sok bersahabat. Iya, nggak?”

“Sudah! Tidak usah berpura-pura diplomasi! Pergi kalian dari sini, atau pentungan dan peluru akan melayani kalian!”

“Itu pelanggaran, bahkan berat lho.”

“Berat jangan di sini! Berat di toilet umum seberang sana saja!”

“Waduh, kayaknya dia yang justru lagi kebelet tuh, Masbro,” bisik seorang peserta rombongan pada kawannya, “sampai-sampai kebeletnya nutupin lubang telinga.”

“Hus! Dia itu, kan, petugas khusus jaga kotak di toilet itu? Masak sih kamu nggak pernah ke situ?” timpal kawannya.

*

Rombongan kedua mendatangi sebuah rumah sakit, yang terkenal, dan selalu disebut-sebut kalau terjadi penemuan mayat, baik mayat dikenal maupun tidak.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya petugas resepsionis.

“Kami mau bertemu dengan mayat…”

“Namanya?”

“Puisi, Mbak.”

“Sebentar, ya, saya carikan dulu datanya.” Si resepsionis mengetik sesuatu. “Maaf, Mas-mas dan Mbak-mbak dia tidak bisa dikunjungi. Kondisinya sedang tidak mendukung.”

“Ini darurat, Mbak.”

“Ini perintah yang wajib kami jalankan, Mas,” sergap si resepsionis. “Apakah Mas dan rombongan Mas ini wartawan? Boleh saya lihat kartu kewartawanan Mas dan rombongan Mas?”

“Kebetulan kami dari pihak keluarganya.”

“Boleh saya melihat tanda pengenal Mas-mas dan Mbak-mbak?”

“Tanda pengenal, golongan darah, periksa kebenaran golongan darah, DNA, terus?”

“Ada apa ini ramai-ramai?!” bentak seorang pria berambut cepak yang tiba-tiba muncul dari mulut koridor.

“Ini lho, Pak, mereka hendak bertemu dengan…”

“Tidak boleh! Puisi tidak boleh didekati orang-orang di luar petugas khusus!”

*

Rombongan ketiga mencari penyair bernama Ali Arsy. Mereka mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Arsy. Warung kopi biasa hingga kafe berfasilitas teknologi informasi-komunikasi yang bisa diakses secara bebas. Perpustakaan daerah hingga taman buku bacaan milik perorangan. Di padepokan Sapardi Djoko Damono, Bakdi Sumanto, Suminto A. Sayuti, atau taman budaya-taman budaya hingga ke tempat-tempat penangkaran buaya.

“Tiga hari ini Bang Arsy tidak kelihatan. Sudah tiga hari juga tempat kami didatangi wajah-wajah baru,” jawab para penjaga tempat-tempat itu seakan-akan sebuah konspirasi.

“Tidak pernah mendengar apa-apa tentang keberadaan Arsy?”

Boro-boro dengar, Mas. Wajah-wajah baru itu malah membuat kami selalu pura-pura sibuk.”

“Apakah di antara kami ada yang mirip dengan salah seorang di antara mereka?”

“Kami kenal dengan wajah Mas-mas dan Mbak-mbak. Di koran, majalah, dan televisi sering muncul. Siapa sih yang nggak kenal dengan penyair-penyair dan seniman-seniman kondang semacam Mas-mas dan Mbak-mbak ini?”

“Ganteng-ganteng dan cantik-cantik, kan?”

No comment.”

*

Belum juga selesai menata meja dan kursi bambu dan perlengkapannya, melalui pintu setengah terkuak Oji melihat serombongan penyair dan seniman datang. “Lho, sudah pada datang. Jendela pun belum terbuka. Pada lupa, ya, buka jam berapa,” omelnya pada tempat sendok, tisu, tusuk gigi, asbak, dan seterusnya.

“Oji! Woi, Oji!” Heri Latief sudah melongok di pintu. “Seperti biasa. Kloter pertama ada sepuluh orang. Ingat, Oji, jangan kopi produksi kapitalis!”

“Baik, Bang. Kopi lokal, tradisional, sensasional. Sip! Di luar ataukah di dalam?”

“Di luar saja. Kalo di dalam nanti minuman kami kena debu, celaka pula! Warungmu bisa jadi berita heboh di korannya Hasan dan kamu masuk penjara.”

Oji langsung berlari ringan ke dapur, meninggalkan sapu dan serbet. Ia tidak ingin lagi diomeli terus-menerus oleh rombongan penyair dan seniman itu seperti beberapa hari terakhir. Puisi yang, kabarnya, terjun bebas dari lantai 2014 ternyata, selain menimbulkan kegaduhan, juga kegusaran dan kenaikan tensi darah tingkat nasional.

Mendadak ia berhenti di depan pintu dapur. “Mampus!” katanya sembari menempelak jidat. Seingatnya, tadi siang, meski jelas belum buka, demi pelanggan setia ia terpaksa memberikan kesempatan Ali Arsy bersama seorang kawannya ngobrol soal buku antologi barunya kemudian persediaan kopi pun, mungkin, hanya untuk dua cangkir atau malah kurang segitu.

*******

Sabana Kuda Liar, 11 April 2014

 

*) Terinspirasi oleh status FB akun Ali Arsy, 11 April 2014, Puisi yang Terjun Bebas Diduga Bunuh Diri.Bottom of Form

tentang blog iniTulisan berjudul "Puisi yang Terjun Bebas dari Lantai 2014 *" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 Agustus 2014 @ 01:52) pada kategori Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 46 komentar dalam “Puisi yang Terjun Bebas dari Lantai 2014 *

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *