Home » Blog » Hasil Wawancara dengan Wartawan KoranSindo Jateng

Hasil Wawancara dengan Wartawan KoranSindo Jateng

Jumat, 31 Januari 2014, pukul 14.00 WIB, Wikha Setiawan, seorang wartawan Koran Sindo Jateng, datang ke rumah. Ia bermaksud mewawancarai saya seputar aktivitas ngeblog yang saya lakukan sejak 2007. Tentu saja saya tak kuasa menolaknya. Hasil wawancara dan testimoni putri sulung saya serta seorang teman sastrawan Kendal dimuat di KoranSindo Jateng edisi Minggu, 2 Februari 2014 (halaman 20) pada rubrik Lebih Dekat dengan ….

Berikut hasil wawancara dan testimoni yang telah diolah oleh Wikha Setiawan.

Sawali Tuhusetya, Guru SMPN 2 Pegandon, Kendal

Taklukkan Internet demi Kemajuan Anak Didik

Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah, apalagi berhadapan dengan kemajuan teknologi yang serba digital. Selain mencerdaskan, guru juga harus bertanggung jawab mempersiapkan mental anak didiknya supaya tangguh di era yang akan datang.

Sawali Tuhusetya, merupakan salah seorang guru yang kerap memberikan opini untuk kemajuan pendidikan Tanah Air melalui blog di internet. Bloggger yang mengabdikan diri sebagai guru di SMPN 2 Pegandon, Kendal ini menerima sejumlah penghargaan atas aktivitasnya itu. Lalu, apa yang sebenarnya ingin dicapai Sawali melalui tulisan-tulisannya di blog untuk dunia pendidikan Indonesia? Berikut ini petikan wawancara KORANSINDO JATENG dengan Sawali.

Koran Sindo JatengKoran Sindo Jateng
 
Internet identik dengan hal negatif. Bagaimana menurut Anda dengan adanya internet?

Internet sekarang ini sudah menjadi media virtual. Jadi, itu tergantung orang yang menggunakannya. Seperti halnya media lain, saya pikir internet ketika dimanfaatkan secara positif akan banyak hal-hal yang kita dapatkan di luar dugaan. Namun, ketika digunakan oleh orang-orang iseng atau digunakan untuk hal yang negatif, internet juga akan menjadi sesuatu yang sangat tidak bermanfaat.

Sejak 1990-an kita ini merupakan generasi digital native, penduduk asli dunia virtual. Tak heran jika generasi sekarang akrab dengan piranti internet seperti facebook, twitter, blog, dan lain sebagainya. Situasi itu tidak mungkin kita tolak. Untuk itu, internet tetap memberikan kita manfaat, melalui internet kita secara cepat mendapatkan informasi.

 

Lalu, apa kaitannya dengan dunia pendidikan di Indonesia?

Nah, seperti yang saya katakan tadi, generasi sekarang adalah digital native sehingga perlu adanya kesadaran bagi pendidik atau guru untuk bisa mengarahkan generasi sekarang supaya bisa memanfaatkan internet dengan baik. Kalau generasi sekarang tidak mendapat arahan secara baik, tentu ke depan generasi kita akan rusak.

Tidak harus dilarang, kalau dilarang justru mereka akan melakukan tindakan-tindakan di luar pengawasan kita sehingga justru tidak baik tadi. Siswa kita arahkan, saya yakin mereka dapat memanfaatkan internet ini demi kebaikan masa depan mereka.

 

Hal itu pula yang membuat Anda aktif menyampaikan gagasan melalui internet?

Awalnya saya ini memang suka menulis. Sering tulisan-tulisan saya itu dimuat di beberapa media cetak, terutama di majalah pendidikan. Namun, banyak juga tulisan saya yang tidak dimuat karena kebijakan redaksi. Padahal, tulisan itu saya buat dengan serius dan banyak menghabiskan stamina. Nah, mulai saat itu saya berpikir tidak mau tergantung dengan kebijakan redaksi. Akhirnya saya memilih menjadi redaksi bagi diri sendiri menuangkan gagasan dengan membuat blog.

 

Sejak kapan Anda nge-blog?

Mulai nge-blog tahun 2007. Saat itu jaringan internet masih terbatas sehingga untuk mencari informasi yang saya butuhkan harus lari ke waret (warung internet) yang jaraknya cukup jauh. Pada 2008, akhirnya saya pasang saluran antena internet sendiri di rumah mengingat kebutuhan untuk menghidupi blog saya. Selain itu, nge-blog merupakan aktivitas saya di sela-sela saya sebagai guru.

 

Apa saja gagasan yang ingin Anda sampaikan lewat blog?

Pada prinsipnya ada tiga hal yang saya bidik, yakni budaya, sastra, dan pendidikan. Namun, memang terkesan lebih banyak untuk perkembangan pendidikan Indonesia. Lewat blog ini, saya ingin bertukar pikiran dengan guru lain untuk memajukan dunia pendidikan. Saya berpikir, menjadi seorang guru harus punya visi dan misi ke depan lebih baik. Selain itu, guru bukan hanya menyampaikan kurikulum, melainkan juga harus bisa menjadi inspirasi bagi generasi sekarang.

 

Bagaimana pandangan Anda tentang pendidikan Indonesia sekarang?

Dunia pendidikan sekarang semakin rumit dan kompleks. Tidak hanya pada persoalan menghadapi dunia digital, tapi juga rentan dimasuki politik. Untuk itu, seorang guru harus update perkembangan dan pengetahuan diri sendiri supaya mampu menghadapi persoalan yang dihadapi. Sudah banyak tulisan yang saya tuangkan di blog, itu wujud saya untuk sharing demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Pada prinsipnya, saya ingin guru harus cerdas, arif, dan matang dalam hal pengetahuan. Nah, kecerdasan guru yang juga harus ditularkan kepada anak didiknya ada empat, yakni kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. Empat kecerdasan ini menjadi penting untuk guru dan pembekalan anak didiknya.

 

Sejauh mana blog Anda mempengaruhi dunia pendidikan di Indonesia?

Blog itu kan menjadi salah satu media virtual. Melalui blog ini tentu ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada publik. Selama ini internet merupakan alat komunikasi yang cepat dan mudah. Nah, blog juga alat komunikasi yang mudah sekaligus jangkauannya sangat luas. Setidaknya, blog yang berisi tulisan-tulisan saya itu mampu memberikan pencerahan dan inspirasi rekan sejawat.

 

Bagaimana dengan keluarga?

Keluarga sangat mendukung sekali. Istri saya sangat tahu kegemaran saya menulis. Selain itu, saya juga masih meluangkan banyak waktu untuk keluarga, terutama, anak-anak.

 

Bagaimana harapan Anda ke depan?

Harapannya, semua guru bisa nge-blog. Ya, karena guru harus memiliki sisi kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Saya juga berharap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa memperhatikan upaya guru membuat blog karena saya pikir ini akan berdampak positif bagi dunia pendidikan.

 

Biodata:

Nama : Sawali
Lahir : Grobogan, 19 Juni 1964
Pekerjaan : Guru SMP Negeri 2 Pegandon, Kendal
Alamat : Perum BTN C-21 RT 03/RW X Langenharjo, Kendal
Website : http://sawali.info
Istri : Sri Wahyu Utami
Anak : Galih Nirmalahesti, Tuhusetia Mahardhika, Yusa Wahid Gifari
Pendidikan : SD Nampu 2 Karangrayung, Grobogan (1977), SMP Pemda Telawah, Karangrayung, Grobogan (1981), SPG Negeri Purwodadi, Grobogan (1984), S1 IKIP Negeri Semarang, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (1988), S2 Universitas Negeri Semarang, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia (2005)
Pekerjaan : Guru Bahasa Indonesia SMA Islam Karangrayung, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, 1990-1995, Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 2 Pegandon-Kendal, 1995 sampai sekarang
Karya Buku : Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SD/MI diterbitkan oleh PT Citra Aji Parama Yogyakarta (2004), Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP/MTs diterbitkan oleh PT Citra Aji Parama Yogyakarta (2005),  Buku kumpulan cerpen Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008)

 

Hobi Wayang Kulit via Radio Streaming

 

Sawali Tuhusetya hampir tidak punya waktu banyak untuk bersantai. Selain sibuk mengabdikan diri sebagai guru SMPN 2 Pegandon, Kendal, dia juga kerap menghabiskan waktu di hadapan laptop untuk menuangkan gagasan yang kemudian di-posting di blog miliknya.

Dia juga punya satu kegemaran yang biasa dilakukan pada malam hari, yakni mendengarkan pertunjukan wayang kulit lewat radio. Menurutnya, wayang kulit dengan musik gamelan mampu me-refresh pikiran dan penat setelah seharian penuh dengan aktivitas. “Ya, saya sangat suka wayang kulit, dengan suara gamelannya. Kebetulan saya punya radio streaming di rumah,” ujar Sawali yang pernah menjadi nominator blog terbaik dari Indonesia dalam Kompetisi Blog Internasional The BOBs 2012 yang dilaksanakan di Berlin, Jerman.

Kegemaran itu juga karena pria kelahiran Grobogan, 19 Juni 1964 ini memang dikenal sebagai sastrawan di Kabupaten Kendal. Jiwa seninya itu membuatnya dipercaya menjadi Ketua Bidang Pengembangan SDM Seniman Dewan Kesenian Kabupaten Kendal (DK-2). “Wayang kulit itu pertunjukan yang sangat berbeda dibanding tontonan sekarang,” ujar peraih penghargaan dari Menteri Pendidikan Nasional sebagai Penulis Artikel Pendidikan Terbaik di Media Cetak dalam rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2004 ini.

Sawali menambahkan, wayang kulit selain memiliki bentuk artistik yang diciptakan dalang, juga memiliki cerita yang penuh dengan nilai moral bagi bangsa ini.  “Banyak ajaran yang baik dalam pertunjukan wayang kulit. Wayang juga merupakan kesenian peninggalan nenek moyang yang harus dilestarikan. Kelebihan lain, wayang kulit terdapat adegan goro-goro, yang pada prinsipnya memberikan pencerahan melalui guyonan,” papar peraih juara I Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan yang digelar Badan bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2012 ini.

 

:: TESTIMONI

SLAMET PRIYATIN (Sastrawan Kendal)

Mumpuni tapi Tak Jumawa

Kenal dengan Pak Sawali sejak terjun ke dunia kesenian di Kabupaten Kendal. Saat ini dia menjabat Ketua Bidang Pengembangan SDM Seniman Dewan Kesenian Kabupaten Kendal (DK-2), sedangkan saya di Komisi Sastra.

Selama ini Pak Sawali dikenal oleh para seniman sebagai orang tua yang dapat memberikan suri teladan yang baik bagi seniman muda Kendal. Meskipun memiliki berbagai pengalaman, dia tidak jumawa dan tetap menghormati yang lebih tua serta membimbing yang lebih muda. Menurut saya, Kendal sangat beruntung memiliki dia. Kepribadian dan pengetahuan yang mumpuni itu, beliau salurkan kepada generasi sekarang, terutama anak didiknya di SMPN 2 Pegandon.

Satu hal yang juga patut dicontoh adalah dia selalu memberikan semangat seniman muda untuk tetap berkarya. Di antaranya sering menghadiri berbagai acara kesenian di Kabupaten Kendal.

 

GALIH NIRMALAHESTI (Putri Sulung Sawali)

Pendidikan Jadi Nomor Satu

Bapak merupakan orang tua yang sangat baik. Dia selalu memberikan kesempatan untuk keluarga dan anak-anaknya berpendapat. Selain itu, selalu mendiskusikan sesuatu untuk menemukan solusi ketika berbeda pendapat.

Pada prinsipnya, bapak merupakan orang tua yang demokratis. Selain itu, bagi bapak, pendidikan adalah hal yang paling utama. Biaya sekolah semahal apa pun akan dipenuhi demi keberhasilan anaknya di dunia pendidikan. Itu karena pendidikan merupakan bekal utama mengarungi kehidupan di masa mendatang.

Keinginan dan semangatnya tersebut selalu disampaikan kepada anak-anaknya sehingga saya dan kedua adik saya sangat termotivasi memberikan yang terbaik bagi keluarga, terutama dalam menempuh pendidikan.

tentang blog iniTulisan berjudul "Hasil Wawancara dengan Wartawan KoranSindo Jateng" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 Februari 2014 @ 16:34) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 40 komentar dalam “Hasil Wawancara dengan Wartawan KoranSindo Jateng

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *