Home » Opini » Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional

Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional

Negeri ini agaknya tengah mengalami krisis kepemimpinan. Mereka yang tengah berada dalam lingkaran elite kekuasaan bukannya berjuang untuk menyejahterakan rakyat, melainkan justru terlena dan tenggelam dalam labirin kekuasan yang korup. Aset negara yang seharusnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat makin tak jelas rimbanya. Rakyat hidup dalam jeratan kemiskinan dan keterbelakangan. Kesenjangan sosial pun makin menganga lebar akibat kekayaan yang hanya dinikmati beberapa gelintir orang saja. Selebihnya, rakyat dibiarkan menikmati kelaparan dalam keseharian hidup mereka.

Dalam situasi seperti itu, ada juga yang nyeletuk, “Siapa suruh jadi orang miskin?” Hem … mereka lupa bahwa kemiskinan struktural yang menjerat nasib rakyat sejatinya lahir akibat sistem kekuasaan berbasis politik transaksional yang abai terhadap nasib rakyat. Negara yang seharusnya hadir di tengah-tengah rakyat yang hidup sengsara, tak pernah menunjukkan “kemauan politik” untuk dekat dan menyatu bersama mereka. “Manunggaling kawula-Gusti” sebagai salah satu pengejawantahan nilai kepemimpinan kian mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika. Penguasa kian jauh dan berjarak dengan rakyat. Rakyat hanya dibutuhkan ketika calon-calon pemimpin bertarung untuk merebut kursi kekuasaan. Setelah itu, rakyat dilempar ke dalam lembah kemiskinan dan keterbelakangan agar tak mampu bangkit untuk melawan dan memberontak terhadap karakter penguasa yang zalim.

Berkali-kali negeri ini memutar ulang siklus lima tahunan untuk memilih sosok negarawan yang mampu membuat bangsa ini menjadi bangsa besar, terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Namun, diakui atau tidak, kita belum juga menemukan sosok negarawan yang visioner dalam mengelola negara. Seorang presiden yang seharusnya menanggalkan “atribut” politiknya, justru malah disibukkan mengurusi persoalan-persoalan politik secara masif. Telinga rakyat dengan jelas menyimak suara sang presiden yang begitu masif meneriakkan yel-yel politik “primordial” dan “sektarian”. Mata rakyat dengan kasat mata menyaksikan jaket kebesaran politik sang presiden yang begitu mencolok di atas mimbar politik. Padahal, rakyat di negeri ini sangat plural dan majemuk pilihan politiknya. Sungguh tidak elok kalau seorang presiden yang tengah berkuasa justru disibukkan untuk mengurus persoalan-persoalan politik ketimbang mengurus rakyat.

Parpol

Sesungguhnya rakyat tidak “alergi” politik. Kalau dioptimalkan untuk menyejahterakan rakyat, politik akan mampu memuliakan martabat manusia. Namun, sebaliknya, jika hanya dimanfaatkan untuk memburu ambisi dan kepentingan kelompok tertentu, politik mampu merontokkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Dalam konteks demikian, para elite negara seharusnya meneladani sifat-sifat Rasulullah yang shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter shiddiq yang senantiasa berkata benar. “Sabda pandhita ratu”, begitu kata orang Jawa. Apa yang dikatakan harus senantiasa terjaga kebenarannya untuk menumbuhkan kepercayaan rakyat. Seorang pemimpin juga mesti berkarakter amanah, yang sanggup menjalankan tugas-tugas kenegaraan yang telah dipercayakan kepadanya dengan baik. Rakyat mesti lebih diutamakan ketimbang kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, lebih-lebih kepentingan politik. Sosok seorang pemimpin juga harus berkarakter fathonah; yang cerdas, visioner, kreatif, dan memiliki “nyali” besar dalam menghadapi setiap masalah. Yang tidak kalah penting, seorang pemimpin juga mesti berkarakter tabliqh yang senantiasa terbuka dan transparan dalam mengelola negara di depan rakyatnya.

Memang tidak mudah, bahkan mustahil, menemukan sosok pemimpin yang memiliki basis empat karakter secara sempurna sebagaimana tercermin dalam sosok kepemimpinan Rasulullah. Meski demikian, kita masih sangat berharap keteladanan Rasulullah bisa dijadikan sebagai kiblat bagi para pemimpin negeri ini dalam mengelola dan mengurus negara. Apa pun alasannya, karakter seorang pemimpin negara akan menjadi penentu nasib bangsa. Sebagus apa pun sebuah sistem perundang-undangan, peraturan, dan perangkat ketatanegaraan yang lain kalau karakter pemimpinnya makin jauh dari kiblat kepemimpinan Rasulullah, bangsa ini akan makin sulit untuk bangkit dari lembah keterpurukan. Sudah terlalu lama rakyat di negeri ini merindukan sosok pemimpin yang shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh sebagaimana tercermin dalam pribadi Rasululluh Muhammad SAW. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 Januari 2014 @ 02:03) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 19 komentar dalam “Keteladanan Rasulullah di Tengah Krisis Kepemimpinan Nasional

  1. Sama Sob, saya juga merindukan sosok pemimpin yang meneladani sifat Rasulullah. Sosok pemimpin sejati yang ‘mengabdi’ kepada rakyat dan berjuang mensejahterakan rakyatnya.
    Pemilu legislatif sebentar lagi, saya belum tahu apa yang akan saya pilih. Sulit sekali memilih partai yang bisa kita percaya sekarang 🙁

  2. baguslah partainya makin sedikit. betul begitu. seleksi parpol harus disedikitkan biar fookus dan suaranya banyak. dulu parpol2 itu gila. masak 48 parpol.
    sekarang dengan 15 parpol kelihatannya lebih kuat.
    tentang kepemimpinan, meniru akhlak rasul lewat al-qur’an dan hadist bisa dijadikan pedoman kepemimpinan. cuma hukumnya juga harus islam agar akhlak islam bisa hidup. akhlak islam tidak bisa hidup dalam lingkungan sekuler, materialis, pragmatis dan individualis.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *