Home » Wayang » Sumpah Bima dan Mantra Gaib Sang Drupadi

Sumpah Bima dan Mantra Gaib Sang Drupadi

Dalang: Ki Sawali Tuhusetya

Wayang

Dalang: Sawali Tuhusetya

Skenario permainan dadu yang dirancang Sengkuni berjalan sempurna. Licik dan sarat tipu daya. Yudistira, penguasa Indrapasta yang dikenal jujur dan bersih, benar-benar dibuat tak berkutik. Semua harta kekayaannya telah ludes. Judi tak hanya sampai di situ. Sengkuni dan para Kurawa yang telah lama bernafsu untuk menaklukkan putra Dewi Kunti itu benar-benar merasa di atas angin. Mereka terus memasang perangkap licik di tengah meja judi yang panas dan menegangkan.

Yudistira

Yudistira

Ruang judi makin terasa sesak dan menegangkan. Tak hanya pejudi kelas kakap dari berbagai penjuru dunia pewayangan yang hadir, para elite penguasa, guru besar, dan penasihat spiritual juga tumpah di sana, termasuk Prof. Durna, Prof. Kerpa, Begawan Bisma, Widura, dan Sang Raja Destarastra. Sebagian besar yang hadir sangat menyayangkan, mengapa permainan dadu yang licik dan sarat tipu daya itu mesti terjadi. Sejatinya, bukan hanya pihak Pendawa yang akan keok dan ternistakan, tetapi pihak Kurawa pun diprediksi akan mengalami kehancuran yang jauh lebih dahsyat. Namun, apa daya, peristiwa yang mencoreng kehormatan dan wibawa pihak Pendawa itu benar-benar telah terjadi. Segenap yang hadir hanya bisa mengelus dada sembari menahan napas.

Sementara itu, di meja judi, Yudistira tak sanggup menyembunyikan ketegangannya. Setelah uang, harta benda, pengawal, prajurit, dan semua armada perangnya larut di meja judi, dia tak tahu lagi apa yang mesti dipertaruhkan. Bahkan, semua desa di wilayah kerajaannya, lengkap dengan penduduknya, sawah-ladang, dan segala macam ternak, telah ludes tanpa sisa. Setiap kali Sengkuni mengocok dan melemparkan dadu, dadu itu selalu memunculkan angka sesuai kemauan pihak Kurawa. Melihat posisi Yudistira yang makin terpojok, Sengkuni kian bernafsu untuk menghasut dan menghabisinya.

sengkuni

Sengkuni

“Apakah masih ada yang bisa kau pertaruhkan, Yudis?” tanya Sengkuni dengan nada sinis. Duryudana dan para Kurawa yang tengah berkerumun di arena judi saling berpandangan, lantas tertawa bersamaan. Bersambung-sambungan.

“Aku pertaruhkan Nakula, saudaraku yang tampan dan berkulit bersih. Ia adalah salah satu hartaku yang paling berharga!” jawab Yudistira dengan keringat bercucuran di jidatnya yang licin.

“Kau tidak menyesal? Kami akan senang sekali jika berhasil memenangkan taruhan itu,” sahut Sengkuni sambil tertawa sinis.

Maka, permainan judi pun dilanjutkan. Namun, ratusan pasang mata yang hadir kembali membelalak. Ketika dadu diputar, angka yang muncul persis seperti yang dikehendaki Sengkuni dan pihak Kurawa. Yudistira kembali kalah untuk ke sekian kalinya. Meski demikian, dia tak berniat untuk menghentikan permainan yang sarat kelicikan itu. Semakin kalah, dia justru makin tenggelam dalam lubang perangkap kehancuran.

“Ini saudaraku yang lain, Sadewa. Ia seorang seniman yang punya pengetahuan mendalam tentang berbagai macam seni. Aku tahu, sebenarnya aku tidak boleh mempertaruhkan dia. Tetapi … ayo, kita teruskan permainan,” sergah Yudistira.

“Baiklah, kita teruskan permainan, dan … lihat aku menang,” sahut Sengkuni sambil memutar mata dadu. Ekor mata liciknya kembali menjilat-jilat wajah Yudistira yang tegang dan kalap. Sengkuni kemabli memenangkan pertaruhan. Lantaran khawatir kalau-kalau Yudistira memutuskan untuk berhenti bermain, Sengkuni kembali memancingnya.

“Bima dan Arjuna adalah saudara-saudara kandungmu. Kalian terlahir dari satu ibu. Kau tidak akan mempertaruhkan mereka, bukan?” Mendengar kata-kata itu, Yudistira tersinggung. Ia tidak mau dikatakan tega mempertaruhkan saudara-saudara tirinya dan lebih menyayangi saudara-saudaranya sekandung. Ia tidak sanggup menahan perasaan dan gelegak emosinya.

“Engkau sengaja hendak memecah-belah kami. Engkau mengadu domba kami! Engkau yang selalu hidup dikuasai nafsu setan tak akan bisa mengerti bagaimana hidup kami yang sebenarnya,” sahut Yudistira dengan wajah cemas. “Aku akan pertaruhkan Arjuna, pahlawan yang selalu menang di medan pertempuran. Mari kita teruskan permainan,” lanjutnya seraya menahan napas.

“Baiklah, aku lemparkan dadu. Lihat … aku menang!” sahut Sengkuni dingin. Yudistira kalah lagi. Arjuna diambil oleh Kurawa. Kekalahan terus-menerus membuat Yudistira kian gelap mata. Tanpa sadarinya, ia semakin tenggelam dalam tipu daya Sengkuni.

“Ini Bima, saudaraku, panglima tertinggi bala tentara kami. Ia tak kenal menyerah dan keperkasaannya tak tertandingi. Aku jadikan dia taruhanku,” sergah Yudistira dengan air mata berlinang.

Permainan diteruskan. Yudistira kembali kehilangan saudaranya, Bima. Namun, Sengkuni belum merasa puas memperdaya pihak Pendawa. Dengan nada sinis, dia pun bertanya, “Apakah masih ada yang bisa kaujadikan taruhan, Yudis?”

“Ya, diriku sendiri. Kalau kau menang, aku bersedia menjadi budakmu. Awas, perhatikan! Aku pasti menang,” sahut Yudistira. Sengkuni kembali melemparkan dadu dan ia pun menang.

Begitulah, Yudistira telah mempertaruhkan semua miliknya, termasuk saudara-saudara dan dirinya sendiri, lengkap dengan pakaian dan senjata yang selalu lekat pada tubuh para kesatria. Yudistira yang selama ini dikenal jujur, arif, dan rendah hati, ternyata bisa juga termakan hasutan Sengkuni. Ia belum sepenuhnya mampu mengendalikan diri dari pancingan, sindirian, dan ejekan yang sengaja dihembuskan Sengkuni dan pihak Kurawa.

Menjelang permainan usai, Sengkuni berjingkat, lantas berdiri memanggil kelima Pendawa satu per satu. Dengan lantang, ia mengumumkan bahwa secara sah mereka sekarang menjadi budak-budaknya. Segenap yang hadir terpaku dan menahan napas. Namun, agaknya Sengkuni belum juga merasa puas memperdaya Yudistira yang pernah sukses menggelar upacara besar sesaji Rajasuya itu.

drupadi

Drupadi

“Hem, Yudis, masih ada satu permata milikmu yang dapat engkau pertaruhkan. Mungkin kali ini nasib baik berpihak padamu dan engkau yang menang. Apakah kau tidak berani melanjutkan permainan dengan mempertaruhkan Drupadi, istrimu?” tanya Sengkuni dengan sorot mata culasnya.

“Baiklah, aku pertaruhkan dia,” sahut Yudistira dengan suara bergetar dan putus asa. Tak ayal lagi, suasana menjadi ribut. Dari tempat duduk penonton terdengar bisik-bisik tidak setuju. Kemudian, dari segala penjuru terdengar teriakan sikap tidak setuju. Namun, pihak Kurawa tak menggubrisnya. Mereka kembali bersorak untuk ke sekian kalinya. Sengkuni kembali melempar dadu.

“Aku menang! Lihatlah!”

Menyaksikan kemenangan itu, Duryudana segera meminta Widura untuk mengambil Drupadi yang tengah beristirahat di balairung peristirahatan. Namun, Widura menolak.

“Kau gila. Ini berarti kau mengundang kehancuranmu sendiri. Ketahuilah, nasibmu kini ibarat tergantung pada seutas benang. Kalau tak hati-hati, kau akan jatuh ke dalam jurang kenistaan. Kaukira kemenanganmu ini akan membuatmu bahagia. Dengar, sekarang kau sedang mabuk dalam lautan kemenangan yang akan menenggelamkan dirimu,” kata Widura. Tak lama kemudian, Widura menatap Yudistira, lantas berkata, “Yudistira, kau tidak berhak mempertaruhkan Drupadi, sebab dirimu sendiri tidak bebas lagi. Dirimu sudah kaupertaruhkan. Kau telah kehilangan kebebasan dan segala hakmu. Tapi … aku melihat keruntuhan Kurawa semakin dekat. Karena mengabaikan nasihat dan petunjuk para guru, kawan dan pendukung mereka, aku yakin, putra-putra Destarastra kini sedang menuju ke lembah neraka.”

Duryudana murka mendengar kata-kata Widura. Namun, ia tidak peduli dan segera memerintahkan sopir pribadinya untuk segera menjemput Drupadi. Drupadi menolak. Dengan sorot mata penuh amarah, Duryudana meminta Dursasana untuk memaksa dan menyeret Durpadi ke hadapannya. Dursasana yang pongah dan berhati busuk dengan senang hati melakukannya.

Drupadi memberontak. Perasaannya benar-benar sedih, kalut, dan benci. Ke mana pun ia bersembunyi, Dursasana selalu mengejarnya. Ketika Drupadi gagal berkelit, Dursasana berhasil mencengkam rambut perempuan jelita itu, lantas menyeretnya ke ruang judi. Dengan tubuh lunglai, Drupadi melontarkan kata-kata yang menyayat nurani kepada hadirin, terutama kepada mereka yang selama ini dikenal arif dan bijak.

“Bagaimana mungkin Tuan-tuan membiarkan diriku dijadikan taruhan oleh orang yang telah kalah berjudi? Bukankah para penjudi adalah manusia-manusia jahat yang ahli tipu-menipu? Karena suamiku sudah menjadi budak gara-gara kalah berjudi, ia bukan manusia bebas lagi dan karena itu ia tak berhak mempertaruhkan aku,” kata Drupadi dengan linangan air mata membanjiri kedua belah pipinya yang kusut. “Jika kalian memang mencintai dan menghormati kaum ibu yang telah melahirkan dan menyusui kalian, jika penghargaan terhadap istri atau saudara perempuan atau putri kalian benar-benar tulus, jika kalian memang percaya kepada Yang Maha Agung, jangan biarkan aku dihina seperti ini. Penghinaan ini lebih kejam daripada kematian!” lanjutnya.

Bimasena

Bimasena

Mendengar kata-kata Drupadi yang tajam menyayat nurani dan linangan air matanya yang terus bercucuran, sebagian besar penonton menundukkan kepala karena malu dan sedih. Bima tak bisa menahan diri lagi. Dadanya sesak, seakan hendak meledak. Dengan suara menggelegar dan dengan nada pahit ia berkata kepada Yudistira, “Penjudi kawakan yang paling bejat pun tidak akan mempertaruhkan perempuan kotor yang mereka pelihara. Tetapi … lihatlah dirimu yang mengaku sebagai manusia berbudi luhur. Engkau ternyata lebih buruk daripada mereka. Engkau biarkan putri Raja Drupada, permaisurimu, dihina oleh manusia-manusia kurang ajar ini. Aku tak dapat membiarkan tindakan tak susila ini tanpa bertindak. Saudaraku Sadewa, ambilkan api. Akan kubakar tangan manusia-manusia yang merencanakan permainan dadu licik ini.”

Arjuna bangkit, menahan Bima dengan kata-kata penuh kesabaran, “Sejak dulu mereka selalu ingin mengenyahkan kita atau menjerumuskan kita ke dalam jaring-jaring kejahatan agar kita terseret ikut berbuat jahat. Kita tidak boleh mengikuti segala tipu daya, kejahatan dan permainan licik mereka. Waspadalah!” Mendengar peringatan Arjuna, Bima diam dan berusaha menahan perasaannya.

Di tengah suasana batin para Pendawa yang kalut itu, ternyata ada juga putra Destarastra yang jijik menyaksikan perlakuan biadab Sengkuni dan saudara-saudaranya. Wikarna, namanya. Ia masih sangat muda, tetapi tak sanggup menyaksikan derita Drupadi. Ia bangkit berdiri di tengah arena.

“Wahai para kesatria yang hadir di sini, mengapa Tuan-tuan diam saja? Aku tahu, aku masih muda. Tetapi karena kalian diam saja, aku terpaksa bicara. Dengar! Yudistira telah ditipu dalam permainan yang telah direncanakan masak-masak sebelum ia diundang. Karena itu ia tak mungkin menang. Karena terus menerus kalah, ia kehilangan kendali atas dirinya. Ia tega mempertaruhkan permaisurinya. Tetapi, sebenarnya ia tak punya hak untuk mempertaruhkan Drupadi karena putri ini bukan miliknya seorang. Maka taruhan itu tidak sah. Kecuali itu, Yudistira telah kehilangan kebebasannya maka tak punya hak untuk mempertaruhkan putri ini. Ada lagi alasan yang memberatkan bahwa permainan ini tidak sah. Sengkuni-lah yang mengusulkan Drupadi dijadikan taruhan. Ini bertentangan dengan aturan permainan. Siapa pun yang bermain dadu tidak berhak meminta taruhan tertentu kepada lawannya. Kalau kita pertimbangkan hal-hal tersebut, kita harus mengakui bahwa Drupadi telah dipertaruhkan dengan tidak sah, inilah pendapatku,” kata Wikarna tenang.

Sebagian besar hadirin terhenyak menyimak kata-kata Wikarna yang tajam dan sarat nyali itu. Namun, mereka merasa lega dan berteriak mengelu-elukan Wikarna. Para putra Destarastra yang lain geram, bahkan Karna pun tak kalah berang.

“Hai Wikarna, engkau lupa bahwa banyak yang lebih tua darimu hadir di ruangan ini. Lancang benar engkau, berani mempertanyakan aturan-aturan. Engkau masih bocah. Kelancanganmu melukai keluargamu yang telah melahirkan dan membesarkan engkau. Kau ibarat nyala api yang membakar ranting dan akhirnya memusnahkan pohonnya. Kau ibarat seekor burung yang merusak sarangnya sendiri. Sejak semula, ketika Yudistira masih bebas, ia telah mempertaruhkan semua miliknya dan tentu saja itu termasuk Drupadi. Karena itu, sekarang Drupadi menjadi milik Sengkuni. Hal ini tak perlu diperdebatkan. Semua milik Pendawa kini menjadi milik Sengkuni, termasuk pakaian yang mereka kenakan. Hai Dursasana, tanggalkan pakaian Pendawa dan Drupadi. Serahkan semua kepada Sengkuni!” sergah Karna dengan bola mata menyala-nyala.

Karena tak kuasa menolak, Pendawa rela menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakannya hingga tinggal sehelai kain penutup aurat. Tak lama kemudian, Dursasana mendekati Drupadi dan siap merampas busana yang dikenakannya. Drupadi kembali memberontak dan melawan dengan sekuat tenaga. Dursasana terus merangsek dan memaksanya. Sembari terus bertahan, Drupadi mengerahkan kekuatan batin, berdoa, dan memohon pertolongan kepada Sang Maha Pencipta.

“Duh, Gusti, Penguasa Alam Semesta, kepada-Mu kuserahkan segala keyakinanku. Jangan biarkan aku dihina seperti ini. Engkaulah satu-satunya tempatku berlindung. Duh, Gusti, lindungilah aku!” Setelah doa khidmad itu dipanjatkan, Drupadi pingsan. Melihat kejadian itu, Dursasana semakin bernafsu untuk menelanjangi Drupadi. Ia menanggalkan pakaian Drupadi satu per satu. Namun, aneh! Setiap kali ia melepas pakaian Drupadi yang tak sadarkan diri itu, setiap kali pula muncul pakaian baru menutupi tubuhnya yang montok dan jelita. Dursasana terus melakukan pekerjaan nista itu, hingga pakaian Drupadi menumpuk seperti gunungan sampah.

Segenap yang hadir terpana. Dursasana pun tak sanggup lagi melakukan tugasnya. Ia terduduk lemas, tak berdaya. Dengan bibir gemetar Bima mengucapkan sumpahnya, “Semoga aku tidak diterima oleh nenek moyangku di surga sebelum aku remukkan dada Dursasana yang penuh dosa dan aku hisap darah manusia yang telah menodai keluhuran bangsa Bharata,” katanya dengan gigi gemeletuk sembari menahan amarah. Tak lama kemudian, terdengarlah lolongan anjing dan serigala, ringkikan unta, gajah, kuda dan keledai, serta kicauan burung mendendangkan senandung duka di seluruh penjuru negeri. Bisa jadi, fenomena alam itu merupakan pertanda akan datangnya malapetaka yang amat mengerikan entah kapan.

Raja Destarastra sadar, keturunannya akan mengalami kehancuran. Dengan berani ia mengambil keputusan untuk berdamai dengan Pendawa. Ia memanggil Drupadi dan Yudistira. Ia berkata kepada Yudistira, “Engkau tidak bersalah, karena itu engkau bukanlah musuh kami. Maafkan Duryudana demi keagungan budimu dan buanglah kenangan pahit ini dari ingatanmu. Ambil kembali kerajaanmu, kekayaanmu dan semua milikmu. Engkau kubebaskan dan perintahlah kerajaanmu hingga rakyatmu makmur sejahtera. Kembalilah kalian ke Indraprastha.”

Pendawa pun meninggalkan ruang terkutuk itu. Hadirin bingung dan terpaku melihat keajaiban yang tak masuk akal. Pendawa dilepaskan dari malapetaka yang mengerikan dalam tempo yang amat singkat.

Setelah Yudistira dan saudara-saudaranya pergi, di dalam ruangan terjadi perdebatan sengit. Atas hasutan Dursasana dan Sengkuni, Duryudana memaki-maki ayahnya yang telah mengacaukan rencana mereka. Mereka lalu mengutip petuah Brihaspati yang mengatakan bahwa melakukan tipu muslihat untuk menghancurkan musuh bebuyutan adalah tindakan benar. Ia menggambarkan, kebebasan dan kekuatan Pendawa akan membahayakan mereka jika dibiarkan tumbuh. Kata mereka, satu-satunya cara untuk mengalahkan Pendawa yang sakti dan perkasa adalah dengan tipu muslihat dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari tipu muslihat itu untuk melumpuhkan kebanggaan dan kehormatan mereka. Untuk itu, semboyan yang paling tepat adalah “tidak seorang kesatria pun akan menolak undangan bermain dadu.”

Mengetahui betapa besar cinta ayahnya kepada dirinya, Duryudana meminta persetujuan Destarastra untuk mengundang Yudistira bermain dadu sekali lagi. Dengan berat hati karena merasa mendapat firasat buruk, Destarastra memberikan persetujuan. Segera Duryudana mengirim utusan untuk menyusul Yudistira yang belum sampai ke Indraprastha. Utusan itu membawa undangan pribadi dari Raja Destarastra. Setelah menerima undangan itu, Yudistira berkata, “Memang benar, kebaikan dan kejahatan sudah tersurat dan tak dapat dihindari. Kalau kita harus main lagi, kita akan main, demikian jawabanku. Ajakan bermain dadu demi kehormatan tak dapat ditolak. Aku harus menerimanya.”

Yudistira kembali ke Hastinapura dan bersiap-siap untuk bermain dadu lagi melawan Sengkuni. Setiap orang yang berpikiran baik dan berpendirian halus yang hadir dalam pertemuan itu sebenarnya tidak menyetujui permainan itu. Agaknya Yudistira telah ditakdirkan untuk menjadi umpan yang dapat meringankan beban dunia dari segala macam kejahatan.

Sebelum judi dimulai, taruhan ditentukan, “Barangsiapa kalah dalam permainan ini, ia dan saudara-saudaranya harus menjalani hidup dalam pengasingan dan pembuangan di hutan rimba selama dua belas tahun. Pada tahun ketiga belas ia harus hidup menyamar selama setahun penuh. Kalau pada tahun ketiga belas ada yang mengenali mereka, mereka harus dibuang ke pengasingan selama dua belas tahun lagi.”

Walhasil, Sengkuni pun kembali berhasil memperdaya Yudistira melalui tipu-muslihat dan siasat liciknya. Yudistira kalah. Sesuai dengan aturan main, Pendawa harus menjalani hidup dalam pembuangan di hutan rimba. Sebagian hadirin yang masih memiliki nurani dan senantiasa memburu nilai kejujuran dan kemuliaan hidup tak sanggup menyaksikan kekalahan Pendawa. Namun, mereka tak mampu berbuat apa-apa. (Tancep kayon) ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sumpah Bima dan Mantra Gaib Sang Drupadi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 Desember 2012 @ 17:39) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 12 komentar dalam “Sumpah Bima dan Mantra Gaib Sang Drupadi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *