Home » Opini » Makin Sempoyongan Memanggul Beban Bangsa

Makin Sempoyongan Memanggul Beban Bangsa

(Refleksi Hari Nusantara Tahun 2012)

…..
Aku menari di sajadah paling sunyi
Meningkahi bongkah batu, tanah
dan larik-larik fondasi. Kedalaman
Gelap dan rindu mengajariku ketabahan
Juga keikhlasan, hingga mesra
Kupeluk siang dan malam
Aku telah jatuh cinta

Mengembara dan mengisap lezat sisa-sisa
Yang diabaikan keriangan manusia.
Kucium wajah bumi yang kelam dan bau.
Namun kucintai pula langit yang gemawan
Sebab kuterima kasihnya lewat rinai hujan
Dan selalu kutitipkan pada bunga untuknya
Sesimpul senyuman.
***

Sengaja saya kutipkan puisi karya Agus Manaji (Yogyakarta) yang pernah dimuat di majalah Horison (Agustus 2005) itu. Lirik yang lembut, tetapi sesungguhnya mengandung kekuatan imajinasi yang luar biasa ketika usia Indonesia sudah semakin tua. Di tengah hiruk-pikuk peradaban fana yang kian abai terhadap teguhnya nilai-nilai kebenaran, kejujuran, fatsoen, dan kearifan hidup, nusantara kita makin sempoyongan memanggul beban. Teror, kekerasan, pelecehan seksual, korupsi, sumpah palsu, dan berbagai perilaku anomali sosial-politik lainnya menjadi adegan tragis yang terus terjadi di atas panggung kehidupan.

Lihatlah perilaku kaum elite negeri ini, baik di ranah politik maupun birokrasi! Mereka yang seharusnya memberikan pelayanan dan pengabdian terbaik buat rakyat, justru berperilaku ala kaum borjuis yang senantiasa minta dilayani, elitis, dan eksklusif. Rakyat hanya sebatas objek yang “dimanjakan” dan dielu-elukan di atas mimbar kampanye politik. Kaum elite kita tampak demikian gagah dan wibawa akibat otoritas kekuasaannya di mata rakyat, tetapi mereka jadi loyo dan tak berdaya ketika berhadapan dengan dunia luar. Sudah berkali-kali bangsa yang besar ini dikebiri dan direndahkan martabatnya, tetapi tak ada upaya serius untuk menegakkan harga dan martabat bangsa dengan cara-cara elegan, terhormat, dan disegani.

Di ranah birokrasi, cengkeraman korupsi demikian kuat bak gurita hingga membuat layanan birokrasi berbiaya tinggi. Hampir semua program yang berkait dengan infrastruktur dan suprastruktur selalu kental dengan aroma korupsi dan manipulasi. Akibatnya, negeri ini tetap saja “stagnan” lantaran anggaran negara yang dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat diduga telah ditilap dan dikemplang oleh beberapa gelintir orang yang serakah dan bernafsu rendah.

Yang tak kalah mencemaskan, bangsa yang besar ini tak henti-hentinya “mengekspor” tenaga kerja yang miskin keahlian di negeri jiran. Nasib saudara-saudara kita yang tengah berjuang mendulang peruntungan seringkali berujung tragis. Kekerasan dan pelecehan seksual menjadi akrab dalam hidup keseharian mereka di negeri orang. Citra dan martabat nusantara sebagai bangsa yang besar dan terhormat pun secara berangsur-angsur mengalami degradasi. Wibawa bangsa kian tercoreng. Ironisnya, pemerintah kita yang seharusnya menjadi pengayom dan pelindung mereka terkesan cuek dan melakukan pembiaran terhadap ketragisan hidup yang tengah dialami oleh saudara-saudara kita yang dengan amat sadar mereka “ekspor” keluar negeri.

Dari sisi ini, tak sedikit warga bangsa yang mulai luntur kebanggaannya terhadap “kemegahan” nusantara dengan segenap beban persoalan yang tengah dipikulnya. Kewibawaan dan kejayaan nusantara hanya sekadar menjadi sejarah dan makin tenggelam dan memfosil dalam ceruk peradaban.

HarnusDalam konteks demikian, kita diingatkan pada momen Hari Nusantara (Harnus) yang diperingati setiap tanggal 13 Desember sejak tahun 1999. Secara resmi Hari Nusantara telah ditetapkan Pemerintah melalui Keppres No.126/2001. Penetapan tanggal Harnus (konon) merujuk pada pernyataan Perdana Menteri H. Djuanda yang disampaikan pada tanggal 13 Desember 1957. Pernyataan yang selanjutnya dikenal dengan nama Deklarasi Djuanda itu berhasil menambah luas teritorial kita menjadi 12 mil dan Zone Economic Exclusive, yaitu bagian perairan internasional, tetapi Indonesia mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam, termasuk yang ada di dasar laut dan di bawahnya serta Landas Kontinen sejauh 300 mil. Deklarasi Djuanda itulah yang diyakini menjadi dasar yang kuat bagi Indonesia menjadi Negara Kepulauan (archipelagic state) untuk mewujudkan konsep Wawasan Nusantara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Peringatan Harnus perlu dimaknai sebagai momentum untuk mendesain ulang kehormatan, kebesaran, dan kewibawaan nusantara sebagai bangsa yang besar yang bisa membuat setiap warga bangsa merasa bangga terhadap negerinya sendiri sebagaimana disitir penyair Agus Manaji: //Aku telah jatuh cinta/Mengembara dan mengisap lezat sisa-sisa/Yang diabaikan keriangan manusia//Kucium wajah bumi yang kelam dan bau/Namun kucintai pula langit yang gemawan/Sebab kuterima kasihnya lewat rinai hujan//

Kita semua berharap kejayaan nusantara jangan hanya menjadi “masa lalu” dan tenggelam dalam ceruk peradaban. Semangat para pendahulu negeri yang “berdarah-darah” dalam mewujudkan kehormatan dan martabat nusantara perlu menjadi sumber spirit dan teladan segenap warga bangsa dalam mendesain elan vital keberbangsaan dan kebernusantaraan. Nah, dirgahayu Nusantara Indonesia! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Makin Sempoyongan Memanggul Beban Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Desember 2012 @ 22:58) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 13 komentar dalam “Makin Sempoyongan Memanggul Beban Bangsa

  1. Salah satu penyakit yang sudah lama mendera bangsa negeri ini adalah KORUPSI, yang entah sampai kapan akan dapat terentaskan.
    Kita cukup berbangga hati dengan kehadiran KPK, tetapi dalam kiprahnya masih banyak gangguan dari sana-sini.
    Selamat Hari Nusantara! Jayalah Indonesiaku, Jayalah Nusantaraku !

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *