Home » Pendidikan » Guru Tidak Siap Melaksanakan Kurikulum 2006 sebagai Alasan Perubahan? » 59245 pembaca

Guru Tidak Siap Melaksanakan Kurikulum 2006 sebagai Alasan Perubahan?

Seorang rekan sejawat yang kebetulan menjadi salah satu tim penyusun draft Kurikulum 2013 menyatakan bahwa ketidaksiapan guru dalam melaksanakan Standar Isi (Kurikulum 2006) menjadi salah satu alasan perubahan kurikulum. Menurutnya, belum semua guru mampu menafsirkan Standar Kompetensi-Kompetensi Dasar (SK-KD) yang terdapat dalam Standar Isi (SI) ke dalam pembelajaran secara benar, mulai penyusunan rencana (Silabus dan RPP), implementasi, hingga penilaiannya. Alih-alih mengimplementasikan SI ke dalam proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, menyusun silabus dan RPP saja sebagian besar guru masih melakukan kopi-paste milik sekolah lain tanpa melalui proses adaptasi.

Kurikulum
pesatnews.com
Pernyataan rekan sejawat itu mengemuka jauh sebelum draf uji publik Kurikulum 2013 dipublikasikan. Ketika draft dipublikasikan, agaknya alasan ketidaksiapan guru dalam melaksanakan SI tidak dicantumkan sebagai permasalahan urgen dalam implementasi Kurikulum 2006. Meskipun tidak dikemukakan secara eksplisit dalam draft uji publik Kurikulum 2013, ada beberapa butir permasalahan Kurikulum 2006 yang berkelindan dengan tugas pokok dan fungsi guru.

Berikut saya kutipkan permasalahan Kurikulum 2006 dalam draft uji publik yang menjadi alasan perlunya dilakukan pengembangan kurikulum.
 

No.

Permasalahan

1 Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan kesukarannya melampaui tingkat perkembangan usia anak.
2 Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional.
3 Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
4 Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5 Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global.
6 Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada pembelajaran yang berpusat pada guru.
7 Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (sikap, keterampilan, dan pengetahuan) dan belum tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
8 Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi tafsir.

 
Dari delapan butir permasalahan yang ada, ketidaksiapan guru dalam melaksanakan Kurikulum 2006 memang tidak disebutkan secara tersurat. Namun, jika dicermati, butir (6) dan (7) bisa ditafsirkan sebagai bentuk ketidaksiapan guru dalam mendesain dan melaksanakan pembelajaran beserta penilaiannya. Kalau penafsiran ini benar, mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah guru menjadi “aktor utama” keberhasilan implementasi kurikulum? Mengapa guru tidak benar-benar dipersiapkan sebelum Kurikulum 2006 diluncurkan?

Pertanyaan semacam itu menyiratkan bahwa Kurikulum 2006 tidak dipersiapkan secara matang, bahkan asal jadi. Meski diawali dengan uji coba Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sejak 2004 di sekolah-sekolah piloting, diseminasinya berlangsung lamban. Guru di wilayah tertentu masih asing dan jauh dari kesan memadai untuk mampu melaksanakan Kurikulum 2006 dengan baik. Tidak berlebihan ketika Kurikulum 2006 sudah memasuki usia ke-6, tidak sedikit guru yang masih payah dalam menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Belum lagi ketika mereka “dipaksa” untuk mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran yang diampunya.

Ibarat pemain sinteron, guru “dipaksa” sang sutradara untuk berakting di depan kamera, tetapi sang pemain tidak tahu siapa sesungguhnya tokoh yang diperankan dan mengapa dia harus berakting seperti itu; miskin penghayatan dan ekspresi. Bagaimana mungkin seorang guru mampu menjalankan fungsinya sebagai sebagai agen pembelajaran dengan baik kalau semua aktingnya di depan kelas serba berpura-pura, bahkan gagap ketika dicecar pertanyaan dari murid-muridnya? Bagaimana mungkin pendidik di negeri ini mampu melahirkan sosok generasi masa depan yang cerdas intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan kinestetikanya kalau mereka masih gagap, bingung, dan sarat ketaksaan dalam mengimplementasikan kurikulumnya sendiri?

Becermin dari pengalaman pahit semacam itu, sungguh naif apabila Kurikulum 2013 hanya memutar “lagu lama” dan sekadar tampil beda. Konsepnya bagus dan ideal, tetapi jika tidak diimbangi dengan proses sosialisasi, diseminasi, dan desain implementasi secara matang, Kurikulum 2013 setali tiga uang.  Negeri ini akan dibayang-bayangi kegagalan yang sama dalam mengimplementasikan kurikulum yang sangat penting peranannya dalam menghadapi tantangan dan dinamika peradaban yang makin rumit dan kompleks. Seperti yang saya tulis di sini beragamnya kompetensi guru di berbagai daerah dan wilayah, membuat implementasi Kurikulum 2006 menjadi sangat rentan terhadap multitafsir, sehingga mutu kompetensi peserta didik sulit terstandarisasi. Dengan diserahkannya penyusunan dan pengembangan kurikulum kepada satuan pendidikan, kopi-paste kurikulum, baik Dokumen I maupun Dokumen II (Silabus dan RPP), menjadi “budaya” baru yang menggejala di kalangan guru dan kepala sekolah. Akibatnya, potensi genius lokal yang seharusnya muncul seiring dengan diterapkannya Kurikulum 2006 justru “mati suri” karena menggunakan kurikulum sekolah atau daerah lain tanpa melalui proses adaptasi.

Kini, ketika proses uji publik masih berlangsung, Kemdikbud harus benar-benar memperhatikan berbagai suara yang menggema dari berbagai pihak sebelum kurikulum benar-benar diterapkan, termasuk suara-suara kritis yang lantang menentang perubahan kurikulum. Makin aspiratif, representatif, dan akomodatif, Kurikulum 2013 makin bagus. Tidak hanya dari ranah konsep, tetapi juga kesiapan para pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan, infrastruktur, dan fasilitas pendukungnya.

Kurikulum akan sangat menentukan wajah peradaban bangsa. Kualitas jutaan generasi masa depan yang lahir dari “rahim” dunia pendidikan akan sangat ditentukan bagaimana desain dan implementasi kurikulum pendidikan yang sesungguhnya. Lebih baik terlambat tetapi benar-benar siap dan matang ketimbang buru-buru diterapkan dan asal “tampil beda” kalau pada akhirnya hanya melahirkan korban-korban “kelinci percobaan” yang membuat wajah generasi masa depan negeri ini makin “galau” dan hanya bisa “koprol” lalu bilang “wow”! ***

Tulisan berjudul "Guru Tidak Siap Melaksanakan Kurikulum 2006 sebagai Alasan Perubahan?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 Desember 2012 @ 10:15) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!
Share to: Twitter Facebook Google+ Linkedin Pinterest

14 Comments

  1. Selama tolok ukur puncaknya adalah Ujian Nasional, maka paling aman memang menggunakan “Perangkat Standar” alias Silabus dan RPP conto Pak.
    Jujur, saya malah hanya “nglirik” garis besarnya saja dari SI, karena “merasa” sudah ndalan…
    Dan kalau mau jujur, mayoritas yg lain juga seperti saya.
    “Kultur” demikian mencengkeram, sehingga mau diuplek-uplek kurikulumnya model apapun, saya masih ragu serragu-ragunya.
    Kita lihat saja…

  2. Ya benar sekali Pak, semua terkesan di dramatisir oleh sang aktor yang ada dibelakang layar. Sedangkan semua harus bergerak cepat dengan penyesuaian yang seadanya. belum tentu fasilitas yang kurang memadai akan sanggup bergerak cepat dengan apa yang telah menjadi suatu ketentuan. Seperti buah simala kama jadinya.

    Sukses selalu
    Salam Wisata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*