Sabtu, 25 Oktober 2014

Wednesday, 5 December 2012 (02:12) | Pendidikan | 34639 pembaca | 80 komentar

Bahasa

Oleh: Sawali Tuhusetya

Senin sore, 3 Desember 2012, @guraruID kembali mendaulat saya untuk menjadi narasumber dalam diskusi #GuraruTalk. Topik yang diangkat cukup hangat dan menarik, yakni mencermati Draft Uji Publik Kurikulum 2013 yang telah dipublikasikan Kemdiknas melalui laman Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013. Untuk pertama kalinya, seingat saya dalam sejarah penyusunan draft kurikulum, Kemdiknas melakukan uji publik dengan melibatkan banyak kalangan, khususnya para pemangku kepentingan (stakeholder) pendidikan.

Melalui uji publik, saran dan masukan dari berbagai kalangan diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum mencapai tahap finalisasi, sehingga produk kurikulum yang dihasilkan bisa lebih representatif dan mengakomodasi harapan semua pihak. Kebijakan semacam ini jelas layak diapresiasi. Jadi, draft kurikulum tak hanya dirumuskan dari belakang meja secara top-down yang kemudian dipaksakan pelaksanaannya oleh para pelaku dan praktisi pendidikan. Akan tetapi, setidaknya bisa menyentuh harapan arus bawah secara bottom-up, sehingga implemetasinya bisa lebih jelas, terarah, dan aplikatif.

draft kurikulum 2013Dari diskusi lewat akun twitter yang dimoderasi oleh @guraruID itu, setidaknya ada tiga butir penting yang mencuat ke permukaan. Pertama, kebiasaan bongkar-pasang kurikulum yang dilakukan pemerintah. Kedua, dihilangkannya TIK sebagai mata pelajaran di SMP dan digunakan sebagai media dalam setiap mata pelajaran. Ketiga, munculnya kekhawatiran dan pesimisme ketidaksiapan guru dalam menyongsong sebuah perubahan.

“Perubahan kurikulum menunjukkan bahwa dunia pendidikan itu dinamis”, begitulah tweet pertama yang saya munculkan untuk memantik “aura” diskusi. Jika dunia pendidikan tidak ingin terjebak dalam stagnasi, semangat perubahan perlu terus dihembuskan. Kita berharap, perubahan kurikulum tak hanya perampingan materi ajar semata, tetapi juga harus mampu menjawab tantangan.

Jujur saja, saya termasuk orang yang setuju dengan perubahan kurikulum. Sejak diluncurkan tahun 2006 melalui Permendiknas No. 22, 23, dan 24, Standar Isi yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), capaian kompetensi peserta didik makin tak jelas dan terarah. Beragamnya kompetensi guru di berbagai daerah dan wilayah, membuat implementasi Kurikulum 2006 menjadi sangat rentan terhadap multitafsir, sehingga mutu kompetensi peserta didik sulit terstandarisasi. Dengan diserahkannya penyusunan dan pengembangan kurikulum kepada satuan pendidikan, kopi-paste kurikulum, baik Dokumen I maupun Dokumen II (Silabus dan RPP), menjadi “budaya” baru yang menggejala di kalangan guru dan kepala sekolah. Akibatnya, potensi genius lokal yang seharusnya muncul seiring dengan diterapkannya Kurikulum 2006 justru “mati suri” karena menggunakan kurikulum sekolah atau daerah lain tanpa melalui proses adaptasi.

Ketika Kurikulum 2006 sudah memasuki usia ke-7, memang sudah saatnya diubah dan dan direvisi agar selaras dengan semangat dan tantangan zaman. Jika Kurikulum 2006 terus dipaksakan pelaksanaannya, kita tak tahu pasti bagaimana mutu pendidikan dan kualitas out-put-nya. Imbas yang pasti muncul, out-come-nya juga makin diragukan lantaran para lulusan yang lahir dari “rahim” dunia pendidikan “miskin” kompetensi dan gagap budaya.

Rencana dihilangkannya TIK sebagai mata pelajaran tersendiri di SMP juga memancing banyak respon. Tak hanya dalam diskusi #GuraruTalk, melainkan juga berbagai komentar yang muncul di laman Uji Publik Pengembangan Kurikulum 2013. Rekan-rekan sejawat dari ranah TIK tak sedikit yang mempertanyakan nasib mereka jika Kurikulum 2013 nanti benar-benar dilaksanakan. Rencana penghilangan mapel TIK di SMP yang kemudian harus digunakan sebagai media dalam setiap mapel pada satu sisi memang menunjukkan sebuah terobosan yang menarik, tetapi pada sisi yang lain juga menimbulkan pesimisme. Sudahkah semua guru disiapkan untuk mampu menggunakan TIK pada setiap mata pelajaran yang diampunya? Kalau guru tidak siap, jangan-jangan hanya akan memutar lagu lama yang membuat implementasi kurikulum jadi tersaruk-saruk.

Guru, sebagai “aktor” utama dalam implementasi kurikulum memang harus benar-benar disiapkan. Jauh sebelum Kurikulum 2013 “diketok palu” untuk dilaksanakan, semua guru yang tersebar di seluruh penjuru nusantara mesti benar-benar diberdayakan. Mereka harus paham benar tentang substansi kurikulum dan bagaimana mengimplementasikannya dalam proses pembelajaran. Pengalaman membuktikan, sikap abai terhadap upaya pemberdayaan guru berdampak serius terhadap kemajuan dunia pendidikan. Jika pengalaman pahit itu terulang, bukan tidak mungkin Kurikulum 2013 akan mengalami stagnasi untuk kemudian terpuruk di tengah dinamika peradaban dunia.

Sebagai gambaran, berikut saya kutipkan beberapa perubahan yang tampak mencolok dalam draft Kurikulum 2013.

Elemen Perubahan

Deskripsi

SD

SMP

SMA

SMK

Struktur Kurikulum (Mata pelajaran dan alokasi waktu)

(ISI)

Holistik dan integratif berfokus kepada alam, sosial dan budaya

Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan sains

Jumlah matapelajaran dari 10 menjadi 6

Jumlah jam bertambah 4 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

TIK menjadi media semua matapelajaran

Pengembangan diri terintegrasi pada setiap matapelajaran dan ekstrakurikuler

Jumlah matapelajaran dari 12 menjadi 10

Jumlah jam bertambah 6 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

Perubahan sistem: ada matapelajaran wajib dan ada matapelajaran pilihan

Terjadi pengurangan matapelajaran yang harus diikuti siswa

Jumlah jam bertambah 2 JP/minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

Penyesuaian jenis keahlian berdasarkan spektrum kebutuhan saat ini

Penyeragaman mata pelajaran dasar umum

Produktif disesuaikan dengan tren perkembangan Industri

Pengelompokan mata pelajarann produktif sehingga tidak terlau rinci pembagiannya

 
Dasar Pemikiran Perancangan Struktur Kurikulum SD

No Komponen Rancangan
1 Berbasis tematik-integratif sampai kelas VI
2 Menggunakan kompetensi lulusan untuk merumuskan kompetensi inti pada tiap kelas
3 Menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran [mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, mencipta] semua mata pelajaran
4 Menggunakan IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua mata pelajaran
5 Meminimumkan jumlah mata pelajaran dengan hasil dari 10 dapat dikurangai menjadi 6 melalui pengintegrasian beberapa mata pelajaran:
- IPA menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dll
- IPS menjadi materi pembahasan pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, dll
- Muatan lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
- Mata pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran
6 Menempatkan IPA dan IPS pada posisi sewajarnya bagi anak SD yaitu bukan sebagai disiplin ilmu melainkan sebagai sumber kompetensi untuk membentuk sikap ilmuwan dan kepedulian dalam berinteraksi sosial dan dengan alam secara bertanggung jawab.
7 Perbedaan antara IPA/IPS dipisah atau diintegrasikan hanyalah pada apakah buku teksnya terpisah atau jadi satu. Tetapi bila dipisah dapat berakibat beratnya beban guru, kesulitan bagi bahasa Indonesia untuk mencari materi pembahasan yang kontekstual, berjalan sendiri melampaui kemampuan berbahasa peserta didiknya seperti yang terjadi saat ini, dll
8 Menambah 4 jam pelajaran per minggu akibat perubahan proses pembelajaran dan penilaian

 
Usulan Rancangan Struktur Kurikulum SMP

No Komponen Rancangan
1 Sama dengan SD, akan disusun berdasarkan kompetensi yang harus dimiliki peserta didik SMP dalam ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan
2 Menggunakan mata pelajaran sebagai sumber kompetensi dan substansi pelajaran
3 Menggunakan pendekatan sains dalam proses pembelajaran [mengamati, menanya, menalar, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, mencipta] semua mata pelajaran
5 Meminimumkan jumlah mata pelajaran dengan hasil dari 12 dapat dikurangai menjadi 10 melalui pengintegrasian beberapa mata pelajaran:
- TIK menjadi sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran, tidak berdiri sendiri
- Muatan lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya dan Prakarya
- Mata pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran
6 IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan
integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan alam.
7 Bahasa Inggris diajarkan untuk membentuk keterampilan berbahasa
8 Menambah 6 jam pelajaran per minggu sebagai akibat dari perubahan pendekatan proses pembelajaran dan proses penilaian

 
Isu Terkait Rancangan Struktur Kurikulum SMA

No Komponen Rancangan
1 Apakah masih perlu penjurusan di SMA mengingat:
- Sudah tidak ada lagi negara yang menganut sistem penjurusan di SMA
- Kesulitan dalam penyetaraan ijazah
- Dapat melanjutkan ke semua jurusan di perguruan tinggi
2 Tanpa penjurusan akan menyebabkan mata pelajaran menjadi terlalu banyak seperti pada SMA Kelas X saat ini, sehingga diperlukan mata pelajaran pilihan dan mata pelajaran wajib
3 Perlunya memberi kesempatan bagi mereka yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk menyelesaikan lebih cepat atau belajar lebih banyak melalui mata pelajaran pilihan
5 Perlunya ujian nasional yang lebih fleksibel [dapat diambil di kelas XI]
6 Perlunya integrasi vertikal dengan perguruan tinggi
7 Perlunya memperkuat pelajaran bahasa Indonesia, termasuk sastra, terutama menulis dan membaca dengan cepat dan paham
8 Perlunya meningkatkan tingkat abstraksi mata pelajaran
9 Perlunya membentuk kultur sekolah yang kondusif

 
Isu Terkait Rancangan Struktur Kurikulum SMA

No. Alternatif Kelebihan Kekurangan
1 Penjurusan Mulai Kelas X Ada pengurangan pelajaran di Kelas X yang dianggap memberatkan

Implementasi mudah karena tidak banyak berbeda dengan yang ada

Peserta didik dapat berkonsentrasi penuh mempelajari bidang tertentu

 

Peminatan ditetapkan berdasarkan hasil belajar sebelumnya (Rapor/UN SMP, Tes Penempatan/Tes Bakat)

Menimbulkan stigma jurusan tertentu lebih unggul

Masih ada Penjurusan yang sudah tidak ada padanannya di dunia

2 Berdasarkan Minat pada Pendidikan Lanjutan Pemilihan mata pelajaran berdasarkan minat ke pendidikan lanjutan

Memungkinkan untuk memilih mata pelajaran pada bidang yang berbeda

Tidak harus mengambil mata pelajaran yang tidak disukai

Perlunya membedakan mata pelajaran untuk persiapan ke perguruan tnggi dan untuk memenuhi rasa ingin tahu saja

Memerlukan administrasi akademik yang baik

Proses bimbingan harus efektif.

Sistem UN harus diubah

3 Non penjurusan (SKS) Siswa belajar mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya

Tersedia pilihan mata pelajaran untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau untuk sekedar ingin tahu

 
Idem diatas [tetapi lebih kompleks lagi]

 

Isu Terkait Kurikulum SMK

No Isu
1 Ujian nasional sebaiknya tahun ke XI sehingga tahun ke XII konsentrasi ke ujian sertifikasi keahlian
2 Bidang keahlian yang belum sesuai lagi dengan kebutuhan global
3 Penambahan life and career skills [bukan sebagai mata pelajaran]
4 Perlunya melibatkan pengguna [industri terkait] dalam penyusunan kurikulum
5 Pembelajaran SMK berbasis proyek dan sekolah terbuka bagi siswa untuk waktu yang lebih lama dari jam pelajaran.
6 Kesimbangan hard skill/competence dan soft skill/competence
7 Perlunya membentuk kultur sekolah yang kondusif.
8 Pembagian keahlian yang terlalu rinci sehingga mempersulit pelaksanaannya di lapangan

 

Dari sisi konsep, draft Kurikulum 2013 cukup ideal untuk mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga cerdas emosi, sosial, dan spiritualnya. Hal itu tampak dengan terintegrasikannya nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran, bukan lagi menjadi sebuah tempelan seperti dalam Kurikulum 2006. Pendekatan pembelajaran yang digunakan dengan mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalaman belajar yang mereka dapatkan dari kelas, lingkungan sekolah, dan masyarakat juga akan mampu mendekatkan peserta didik pada kultur masyarakat dan bangsanya. Sekali lagi, dari aras konsep, draft Kurikulum 2013 sangat tepat diterapkan ketika dunia pendidikan kita tengah mengalami “gagap budaya”.

Meskipun demikian, draft yang bagus hanya akan berada pada tataran konsep apabila tidak diimbangi dengan pemberdayaan para pemangku kepentingan pendidikan, khususnya guru. Kita sudah memiliki pengalaman yang cukup pahit ketika KBK diterapkan. Guru yang selama ini diabaikan benar-benar tak berdaya ketika harus menafsirkan standar isi ke dalam rencana pembelajaran untuk kemudian diimplementasikan ke dalam pembelajaran. Akibatnya, mutu pendidikan tidak bisa terstandarkan. Model kopi-paste pun menjadi budaya baru di kalangan guru akibat ketidaksiapan mereka dalam menerapkan standar isi.

Berkaca dari pengalaman itu, idealnya guru harus dijadikan sebagai “aktor utama” dalam implementasi Kurikulum 2013. Mereka harus benar-benar disiapkan secara matang, mulai dari penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian, analisis, hingga tindak lanjutnya. Hanya dengan memberdayakan pemangku kepentingan utama implementasi kurikulum dapat berlangsung seperti yang diharapkan. Saya pribadi berharap, draf Kurikulum 2013 yang cukup ideal ini bisa melalui uji publik yang representatif sehingga mampu mengakomodasi kehendak dan harapan banyak pihak.

Nah, selamat menyongsong perubahan! ***

Tags:

Tulisan berjudul "Mencermati Draft Uji Publik Kurikulum 2013" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 December 2012 @ 02:12) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Ujian Nasional, Kurikulum Baru, dan Pendidikan Budi Pekerti (Monday, 30 December 2013, 255373 pembaca, 11 respon) (Refleksi Akhir Tahun 2013) Oleh: Sawali Tuhusetya Sepanjang 2013, Kurikulum Baru dan Ujian Nasional menjadi dua isu sentral dalam dunia...

Aroma Politik dalam Perubahan Kurikulum 2013? (Sunday, 31 March 2013, 100845 pembaca, 25 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Banyak kalangan menilai, perubahan kurikulum 2013 sarat dengan aroma dan intervensi politik. Pasalnya, proses yang...

Posisi Buku Teks dalam Rancangan Kurikulum 2013 (Friday, 7 December 2012, 74263 pembaca, 29 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun buku pegangan untuk Kurikulum 2013. Rencananya, tanggung jawab buku...

Guru Tidak Siap Melaksanakan Kurikulum 2006 sebagai Alasan Perubahan? (Thursday, 6 December 2012, 44847 pembaca, 20 respon) Seorang rekan sejawat yang kebetulan menjadi salah satu tim penyusun draft Kurikulum 2013 menyatakan bahwa ketidaksiapan guru dalam melaksanakan...

Pendampingan Penyusunan Silabus dan RPP SMP Responsif Gender (Monday, 3 December 2012, 51242 pembaca, 12 respon) Tanggal 22 November dan 1 Desember 2012 yang lalu, saya didaulat oleh Dinas Pendidikan Kab. Wonogiri, Jateng, untuk mendampingi 20 rekan sejawat,...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
1 G+s
1 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

80 komentar pada "Mencermati Draft Uji Publik Kurikulum 2013"

  1. m rosmiati says:

    inti nya segala sesuatu juga pembelajaran bukan hanya murid yang siap belajar guru nya juga harus selalu siap dengan perubahan karena sebagus apapun kurikulum yang di buat tetap saja tidak akan berjalan lancar tanpa kesiapan seorang guru untuk mengarahkan anak ketika belajar naah mari kita sambut kurikulum 2013 dengan semangat dan mencari rhido Allh..amiin

  2. ola says:

    Bila memang benar diberlakukan kurikulum 2013 kita senang saja, apalagi melihat draftnya sangat bagus sekali. Nah sekarang yg kita perlu pikirkan adalah andai kebanyakan siswa hanya memilih atau condong pada salah satu jurusan saja mis. sains atau sosial atau bahasa,tentunya berakibat akan mempengaruhi jumlah jam mengajar guru yg 24 jam. sbgmana contoh jurusan bahasa tetapi tdak ada siswa yg minat dg jurusan tsbt, wah banyak sekali dong guru bahasa yg kurang jam nya trus mau dikemanakan itu guru wah jd repot kan. Cobahlah dicarikan solusinya sebelum diterapkan. Sementara kasus pemenuhan 24 jam saja masih berceceran apalagi ditambah peraturan kurikulum baru lg. ya kita doakan saja de biar siswa berminat kemana saja.

  3. terkait berbagai kehawatiran disini, ada solusi dan trobosan spetakuler jika para pratisi IT mampu mebuatkan software e-teaching dan e-learning seperti yang sdh dilakukan oleh mts dan ma Ibnuhusain ( lihat di http://www.mts-ma-ibnuhusain.sch.id
    bahkan saat ini kami telah menemukan e-simolator ujian (pertama di indonesia ) sebagai akibat dari tuntutan kurikulum baru ini karna kami bekerja sama dengan pihak ketiga yaitu alumni IITS surabaya dalam hal mengantisipasi kurikulum baru ini

Leave a Reply