Home » Esai » Sastra » Sastra Kita Miskin Kritik? » 35242 views

Sastra Kita Miskin Kritik?

Kategori Esai/Sastra Oleh

kritik sastraDalam beberapa dekade terakhir ini, sastra kita “seolah-olah” berjalan tanpa kritik. Hampir setiap minggu berbagai teks kreatif bertebaran di berbagai media cetak. Bahkan, jika kita sedikit cermat, hampir setiap saat, teks-teks kreatif bermunculan di media virtual. Diakui atau tidak, sastra cyber telah menjadi sebuah fenomena baru dalam jagad sastra mutakhir kita. Tidak sedikit pengarang bertalenta besar yang lahir dari dunia cyber. Banyak web kolaboratif dan blog yang dimanfaatkan banyak pengarang (era baru) sebagai “branding” personal untuk beraktualisasi diri dan berekspresi. Tulisan-tulisan mereka yang terpublikasikan di sebuah web atau blog tak jarang diterbitkan menjadi sebuah buku yang kemudian dibedah beramai-ramai melalui berbagai komunitas.

Persoalannya sekarang, apa yang akan terjadi jika sastra kita “seolah-olah” berjalan tanpa kritik? Bisa jadi, para pengarang yang telah menahbiskan dirinya sebagai pengarang “papan atas” yang sudah memiliki tradisi kepengarangan yang khas akan memandang kritik sastra sebagai omong-kosong. Ada atau tidak ada kritik, sastra akan jalan terus. Namun, bagi pengarang yang tengah meniti karir dan masih membutuhkan “legitimasi” kepengarangan, bisa jadi kritik sastra akan dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Mereka amat membutuhkan asupan kritik untuk menjaga atmosfer dan “adrenalin” kepengarangannya. Melalui kritik, seorang pengarang bisa mengetahui derajat kreativitas kepengarangannya sehingga akan terus terpacu untuk mengasah dan menajamkan pena kepengarangannya. Selain itu, kritik sastra juga akan sangat bermakna untuk kepentingan apresiasi. Melalui kritik sastra, kepentingan pembaca bisa terjembatani melalui model pendekatan yang digunakan sang kritikus.

Di tengah derasnya arus produktivitas teks sastra yang terus mengalir, baik melalui media cetak maupun virtual, sejatinya sastra kita sangat membutuhkan kritik. Kita sangat merindukan sosok kritikus semacam alm. H.B. Jassin yang dengan telaten dan cermat memberikan kritik terhadap teks-teks sastra yang lahir pada zamannya sehingga dinamika sastra benar-benar terjaga. Di tengah minusnya produktivitas karya sastra, sang “paus sastra” Indonesia itu memburunya dari berbagai media untuk kemudian didokumentasikan dan dikritik. Para pengarang pun merasa amat terhormat dan bangga ketika karyanya mendapatkan sentuhan kritik H.B. Jassin.

Kini, ketika karya sastra tumbuh dengan suburnya di berbagai media, sastra kita justru mengalami krisis kritik. Bisa jadi, munculnya kantong-kantong dan komunitas sastra untuk melakukan bedah karya atau bedah buku –atas kolaborasi antara sang pengarang dan networker kesenian– merupakan salah satu upaya untuk menemukan ruang kritik yang dianggap bisa menjaga dinamika sastra itu. Siapa pun yang datang berhak untuk menjadi “juru bicara” karya sang pengarang. Bisa jadi, kritik yang terlontar dalam berbagai forum semacam itu tak bisa dikategorikan sebagai kritik sastra “kanon”, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga “gawang” kritik sastra yang selama ini miskin penghuni. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

37 Comments

  1. persoalannya mas, mungkin apakah penyair-penyair yang lahir pada abad digital ini sering dikategorikan “penyair instan” ?, sehingga keenganan kritikus sastra yang ingin mengapresiasi “sastra instan”. Jadi perlu mendefinisikan dulu apakah persoalan ini, sehingga karya sastra bisa diterima oleh semua kalangan. Atau mungkin di zaman digital ini dibutuhkan pertarungan yang makin ketat dalam hal – “branding” personal untuk beraktualisasi diri dan berekspresi – seperti pada saat jargon-jargon sastra tempo dulu pun mengalami hal yang sama kan??….
    Seharusnya juga, kita memberi apresiasi setiap karya kritik sastra yang sudah mulai jarang karena untuk bisa mengkritisi sastra dibutuhkan inteletualitas, pengetahuan, wawasan dan kemampuan “membaca” pikiran penyair sehingga memberi pencerahan buat pembacanya.

    • ada benarnya juga, mas bud. justru karena itu, saya sok usil bertanya, ke mana saja ya para alumni fakultas sastra kita sehingga produktivitas karya sastra yang terus mengalir tak pernah kena sentuhan kritiknya? saya kok kurang begitu yakin kalau mereka kurang memiliki inteletualitas, pengetahuan, wawasan dan kemampuan “membaca” pikiran penyair, hehe …

  2. Dulu, saat masih mencoba menjadi “sastrawan”, saya sudah membaca masalah ini di majalah Horison kalau gak salah. Lucu saja, gimana mau berkembang kalau tak ada yang kritik-mengeritik. Apakah ini sebabnya sastra kita seperti kerakap di atas batu?

  3. Walaupun bukan sastrawan tetapi saya dulu juga senang baca kritik sastra. Maklum, dulu saya pengin juga jadi sastrawan, hehehe. Coba saya dulu dikasih nama Sastra, tentu saya nggak butuh kritik seperti sastra yang dimaksud Pak Sawali…

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tulisan terbaru tentang Esai

Go to Top