Home » Esai » Sastra » Sastra Kita Miskin Kritik? » 31719 views

Sastra Kita Miskin Kritik?

Kategori Esai/Sastra Oleh

kritik sastraDalam beberapa dekade terakhir ini, sastra kita “seolah-olah” berjalan tanpa kritik. Hampir setiap minggu berbagai teks kreatif bertebaran di berbagai media cetak. Bahkan, jika kita sedikit cermat, hampir setiap saat, teks-teks kreatif bermunculan di media virtual. Diakui atau tidak, sastra cyber telah menjadi sebuah fenomena baru dalam jagad sastra mutakhir kita. Tidak sedikit pengarang bertalenta besar yang lahir dari dunia cyber. Banyak web kolaboratif dan blog yang dimanfaatkan banyak pengarang (era baru) sebagai “branding” personal untuk beraktualisasi diri dan berekspresi. Tulisan-tulisan mereka yang terpublikasikan di sebuah web atau blog tak jarang diterbitkan menjadi sebuah buku yang kemudian dibedah beramai-ramai melalui berbagai komunitas.

Persoalannya sekarang, apa yang akan terjadi jika sastra kita “seolah-olah” berjalan tanpa kritik? Bisa jadi, para pengarang yang telah menahbiskan dirinya sebagai pengarang “papan atas” yang sudah memiliki tradisi kepengarangan yang khas akan memandang kritik sastra sebagai omong-kosong. Ada atau tidak ada kritik, sastra akan jalan terus. Namun, bagi pengarang yang tengah meniti karir dan masih membutuhkan “legitimasi” kepengarangan, bisa jadi kritik sastra akan dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Mereka amat membutuhkan asupan kritik untuk menjaga atmosfer dan “adrenalin” kepengarangannya. Melalui kritik, seorang pengarang bisa mengetahui derajat kreativitas kepengarangannya sehingga akan terus terpacu untuk mengasah dan menajamkan pena kepengarangannya. Selain itu, kritik sastra juga akan sangat bermakna untuk kepentingan apresiasi. Melalui kritik sastra, kepentingan pembaca bisa terjembatani melalui model pendekatan yang digunakan sang kritikus.

Di tengah derasnya arus produktivitas teks sastra yang terus mengalir, baik melalui media cetak maupun virtual, sejatinya sastra kita sangat membutuhkan kritik. Kita sangat merindukan sosok kritikus semacam alm. H.B. Jassin yang dengan telaten dan cermat memberikan kritik terhadap teks-teks sastra yang lahir pada zamannya sehingga dinamika sastra benar-benar terjaga. Di tengah minusnya produktivitas karya sastra, sang “paus sastra” Indonesia itu memburunya dari berbagai media untuk kemudian didokumentasikan dan dikritik. Para pengarang pun merasa amat terhormat dan bangga ketika karyanya mendapatkan sentuhan kritik H.B. Jassin.

Kini, ketika karya sastra tumbuh dengan suburnya di berbagai media, sastra kita justru mengalami krisis kritik. Bisa jadi, munculnya kantong-kantong dan komunitas sastra untuk melakukan bedah karya atau bedah buku –atas kolaborasi antara sang pengarang dan networker kesenian– merupakan salah satu upaya untuk menemukan ruang kritik yang dianggap bisa menjaga dinamika sastra itu. Siapa pun yang datang berhak untuk menjadi “juru bicara” karya sang pengarang. Bisa jadi, kritik yang terlontar dalam berbagai forum semacam itu tak bisa dikategorikan sebagai kritik sastra “kanon”, tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk menjaga “gawang” kritik sastra yang selama ini miskin penghuni. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

37 Comments

  1. Sebenarnya kritik itu ada tapi kritiknya yang bagaimana dulu? Yang saya tahu ada dua kritik yang bisa dikategorikan. Pertama kritik sastra akademik dan kritik sastra umum. → http://zakiiaydia.com/2010/12/21/menyimak-peran-kritik-sastra-akademis/

    Mungkin yang kritik sastra umum banyak dijumpai meliputi “Ih bagus benar puisinya, aku suka deh” ataupun seperti ini “Puisinya kurang dipadati alur yang pas”

    Apabila benar hanya kritik itu yang banyak didapati, tak ayal lah tak ada pengembangan. Yang seharusnya menjadi pionir adalah kritik sastra yang berbasik akademik itu.

    Salam hangat mas 😀

    • Salam hangat juga, Mas Zaki. Kritik memang masih ada dan tak akan pernah mati. Namun, masa2 kritik yang subur seperti eranya HB Jassin agaknya sudah “mati”. Kini jumlah karya kreatif sangat timpang dengan jumlah karya kritik yang muncul.

  2. Saya termasuk peminat sastra, meski belum menjadi penggiat sastra seperti Pak Syawali.
    Bagi saya sastra ibarat dosis, ada kadar tingkatannya.
    Mohon kiranya Pak Sawali mengulas tingkatan sastra itu sendiri.
    😛
    Salam,
    Roni Yusron – Belajar Tanpa Batas

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Esai

Go to Top