Membangun Karakter Anak melalui Buku Cerita

Kategori Sastra Oleh

Judul buku: Seuntai Kalung Emas
Pengarang: Sardono Syarif
Tahun terbit: 2011
Penerbit: Cipta Prima Nusantara Semarang
Tebal: 100 halaman

buku ceritaBeberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman buku cerita anak dari Pak Sardono Syarif, seorang guru, penulis, dan Ketua Agupena Kabupaten Pekalongan. Namun, baru kali ini saya sempat memostingnya. Judul bukunya Seuntai Kalung Emas, sebuah antologi cerita anak yang memuat 14 judul cerita.

Di tengah maraknya fenomena degradasi moral dan hancurnya karakter bangsa belakangan ini, kehadiran buku cerita jelas sangat dibutuhkan. Banyak kandungan nilai kehidupan yang bisa diserap. Secara langsung, sebuah buku cerita memang tidak sekaligus mampu melakukan sebuah perubahan. Namun, secara tidak langsung, sebuah buku cerita menghadirkan kisah-kisah yang menyentuh dan mengharukan sehingga mampu memberikan pencerahan dan asupan gizi rohaniah kepada pembaca, khususnya anak-anak. Ini artinya, kehadiran sebuah buku cerita bisa memberikan sumbangsih yang cukup besar dalam membangun karakter anak.

Melalui cerita “Seuntai Kalung Emas” yang sekaligus menjadi titel buku ini, misalnya, seorang anak akan mendapatkan pengalaman berharga bahwa tidak sepantasnya seorang anak membiasakan diri “pamer kemewahan” dengan mengenakan kalung emas di tempat keramaian. “Sebab, berbagai macam perhiasan tadi bisa mengundang malapetaka bagi anak-anak yang belum dewasa seperti kalian,” kata Pak Gito, seorang guru SD di depan murid-muridnya setelah kalung Wati, sang pelaku cerita, yang hilang, berhasil ditemukan.

Demikian juga ketika membaca cerita “Gara-gara Sinetron”. Pembaca, khususnya anak-akan akan tersadarkan nuraninya betapa tidak ada untungnya ketika mereka teracuni oleh kisah-kisah sinetron di layar kaca yang kurang membumi, apalagi kalau harus melalaikan rutinitas belajarnya. Dari sisi ini, setidaknya anak-anak yang sudah terkena “virus” sinetron secara perlahan-lahan akan mengurangi kebiasaan buruknya itu. Jangan sampai mengalami nasib seperti Laila yang pintar dan cerdas, tetapi harus menerima rapor dengan dua nilai merah.

Masih banyak peristiwa dan kisah menarik yang bisa dijadikan sebagai bahan refleksi buat pembaca ketika menikmati buku cerita ini, seperti “Jera”, “Saat Liburan Panjang Tiba”, “Di Bawah Jemari Hujan”, “Ketulusan Hati Lia”, “Dompet Sakti Papa”, “Gigi Ompong Kakek Odong”, “Bapakku Seorang Pahlawan”, “Masih Ada Jalan”, “Uluran Tangan”, “Bunga-bunga di Halaman Rumah”, “Pelajaran bagi Si Kikir”, atau “Upah Si Raja Jangkrik”. Bagaikan layar hidup, buku ini menyajikan beragam peristiwa keseharian khas anak-anak yang mampu memberikan kekayaan nutrisi batin bagi anak-anak.

Sebagai sebuah buku cerita anak-anak, buku ini memang belum sanggup sepenuhnya menghindar dari kesan menggurui. Alur peristiwanya kadang-kadang mudah ditebak dengan jalinan suspensi yang kurang menggigit. Dialog antartokoh kurang mengalir dan seringkali terjebak pada pengulangan kata sapaan yang cenderung berlebihan. Meski demikian, dari sisi muatan isi, kisah-kisah yang tersaji dalam buku ini cukup menghibur melalui sajian bahasa yang jernih dan subtil. Pak Sardono mampu menyuguhkan jalinan peristiwa yang cukup kontekstual dengan situasi kekinian. Meski sebagian besar latarnya berlangsung di daerah Jawa Tengah, khususnya Pekalongan dan sekitarnya, buku ini sanggup mendedahkan kisah-kisah universal yang bisa dinikmati anak-anak lintas-kultur dan lintas-etnik.

Saya ucapkan selamat kepada Pak Sardono Syarif atas penerbitan buku cerita anaknya yang cukup menarik dan inspiratif. Semoga kehadiran buku ini mampu memacu “adrenalin” Pak Sardono untuk terus menghadirkan cerita-cerita anak yang mencerahkan dan menghibur kepada publik. Negeri ini sangat membutuhkan banyak kisah khas anak-anak yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal untuk mendekatkan mereka kepada kultur bangsanya. Jangan sampai terjadi, anak-anak masa depan negeri ini terus terninabobokan oleh kisah-kisah spektakuler dari luar negeri yang hanya melambungkan mimpi dan kian menjauhkan mereka dari sentuhan kearifan budaya leluhurnya. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

31 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Sastra

Membalas Cerita Ombak

MEMBALAS CERITA OMBAK Ali Syamsudin Arsi Kata-kata ombak: ( 1 ) “Ya
Go to Top